Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 28 Desember 2016

Patutkah Ada Acara Sungkem Saat Sembahyang

Belakangan ini muncul fenomena baru dalam aktivitas persembahyangan umat Hindu, yaitu melakukan sungkem atau sujud di hadapan pelinggih atau patung di pura tertentu setelah selesai melakukan kramaning sembah. Bagaimanakah menyikapi fenomena yng selama ini tidak lazim dilakukan di pura?

Selanjutnya......

Media Sosial, Caci Maki, Memudarnya Jati Diri Bangsa

Oleh I Nyoman Tika
Teknologi  maju  membuat manusia menyendiri, asyik dalam kesunyian, sehingga kerap manusia  tanpa rasa malu memamerkan kekasaran ke ruang publik. Dalam benak pikiran mereka, bahwa rasa malu dicerna tanpa kehadiran wajah seseorang, sebab dunia maya kerap masih memungkinkan untuk menyembunyikan sebagian identitas. Akibatnya, telekomunikasi seluler juga mengubah manusia dari semula guyub, bermasyarakat, menjadi makin introvert, menyendiri. Di tataran itu, umat Hindu harus tetap waspada,  berpegang pada kaidah moral agama, sehingga tidak  seyogyanya  kebencian  terpapar ke publik, yang kian ganas merusak persatuan bangsa.

Selanjutnya......

Mengenal Sekilas Hindu Kaharingan

Oleh Kunti Ayu Vedanti
Kalimantan merupakan pulau terbesar di Indonesia. Kebesarannya bersanding dengan pesona budayanya yang kaya. Tidak dapat dipungkiri, citra Kalimantan sudah mendunia, baik sebagai paru-paru dunia hingga salah satu tempat tumbuh dan berkembangnya kebudayaan hingga pesona mistis Nusantara. Sebagaimana pulau-pulau di Indonesia, Kalimantan memiliki kebudayaan yang unik dan suku asli yang mendiaminya. Suku asli Kalimantan adalah suku Dayak yang menurut J.U. Lontaan (1975) terbagi dalam 405 sub suku. Sub suku tersebut kemudian tersebar di berbagai wilayah Kalimantan.

Selanjutnya......

Memanggil Ibu

Oleh Nyoman Mider Adnyana
Pemujaan ibu, itu pemujaan yang terkait dengan Shakti. Apa itu Shakti? Pengertian Shakti dalam pemujaan itu mengandung makna :
1. Kekuatan Suci

Selanjutnya......

Gotong Royong Dan Kesejahteraan Dalam Kehidupan

Oleh I Wayan Miasa
Pada masyarakat yang kehidupannya bertumpu pada kegiatan agraris,  maka hidup kehidupan dalam kebersamaan berupa gotong royong memegang peranan yang sangat penting. Mereka saling tergantung satu sama lain dalam melakukan kegiatan sehari-harinya entah itu mengerjakan lahan pertanian, perkebunan ataupun dalam berupacara.

Selanjutnya......

Komunitas Sadar Sehat Akan Menjadi Yayasan

Engkau berhak melakukan tugas kewajibanmu yang telah ditetapkan, tetapi engkau tidak berhak atas hasi lperbuatan. Jangan menganggap dirimu penyebab hasil kegiatanmu, dan jangan terikat pada kebiasaan tidak melakukan kewajibanmu. Bhagawad Gita 2.47

Selanjutnya......

Kunjungan Dr. Surya Pradnya Ke Sultra Seminar Dana Punia Hingga Praktik Balian

Pada tanggal 28-31 Oktober 2016 lalu, salah seorang dosen IHDN Denpasar, yaitu  Dr. Surya Pradnya melakukan kunjungan ke Sulawesi Tenggara untuk menemui sejumlah umat Hindu disana. Ia yang merupakan dosen teologi IHDN Denpasar dan dosen termuda ini cukup  kreatif dan inovatif dengan moto hidupnya, “Lebih baik berbuat daripada tidak sama sekali.” Adapun kunjungannya ke Sultra kali ini adalah perjalanan menebar dharma.

Selanjutnya......

Festival Candi Kembar 2016

Tulisan seperti itulah (lihat judul) yang banyak penulis temukan dalam sepanduk-sepanduk maupun umbul-umbul yang terpasang di sekitar candi kembar  Plaosan di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah.

Selanjutnya......

Pengaruh Teks Wrhaspati Tattwa Bagi Sulinggih di Denpasar

Program Pascasarjana  IHDN Denpasar kembali berhasil melahirkan seorang doktor baru setelah pada Jumat, 28 Oktober 2016 lalu I Nyoman Ananda berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan panitia  penguji dalam ujian terbuka yang digelar di Gedung Pascasarjana IHDN Denpasar, Jalan Kenyeri, Denpasar.

Selanjutnya......

Workshop Bhagawad Gita di Bogor

Pinandita Sangraha Nusantara (PNS) DKI Jakarta dan Korwil Jabodetabek bekerjasama dengan Yayasan Pura Parahyangan Agung Jagadkarta Gunung Salak Bogor, Yayasan Bhakti Wedanta Indonesia dan Pasraman Bhagawad Gita pada Hari Sabtu tanggal 5 Nopember 2016 menyelenggarakan Workshop dengan tema “Bhagawad Gita Intisari Weda.”

Selanjutnya......

Jumat, 11 November 2016

Ketika Para Rsi Diolok-olok

Suka memperolok orang baik adalah tindakan yang tak patut dilakukan. Apalagi yang diperolok dan dilecehkan adalah orang suci. Balasan pasti akan diterima untuk perbuatan (karma) yang tidak baik itu. Bahkan bisa jadi orang lain ikut kecipratan dosa buruk.

Selanjutnya......

Dewi Subadra Menghayati Bhakti Yoga

Oleh Luh Made Sutarmi

Kehidupan  menampilkan wajah ganda, manusia diberikan untuk memilih dan menjalani hidup  dengan beragam jalan. Manusia tinggal memilih. Walaupun mampu memilih, namun manusia  penuh dengan keterbatasan Nobody can count the starts. Manusia memiliki batas kemampuan masing-masing.

Selanjutnya......

Korupsi dan Etika Hindu Saat Ini

Oleh I Nyoman Tika

Permasalahan yang muncul saat ini adalah korupsi belum bisa memudar. Korupsi diduga terjadi karena  pemahaman etika beragama semakin meluntur. Manusia sudah semakin fragmatis, pemuja materi dan lupa bahwa hidup itu sangat pendek. Jerat korupsi melibas hampir berbagai kalangan, termasuk  umat yang beragama  Hindu.  Di koridor itu etika beragama Hindu nampaknya perlu direvitalisasi.

Selanjutnya......

Perjalanan Sang Roh di Dunia dari Kelahiran Hingga Mati

Oleh A.A Bagus Sudira Mangku

Masyarakat Bali percaya bahwa setiap roh leluhur selamanya bersthana (baca: melinggih) di Merajan. Beliau diyakini pula yang menuntun, menolong dan memberkahi pratisentana atau keturunannya. Terlebih sentana yang selalu berbuat dharma, maka leluhur akan memberkahinya dengan segala karunia. Sebaliknya, bagi sentana yang berbuat adharma (jahat, corah, drowake, loba, tamak, dan lainnya), maka para leluhur yang melinggih di Merajan akan memperingati dengan cara-cara niskala.

Selanjutnya......

Rahasia di Balik Bulan Purnama

Oleh Ngurah Parsua

Seluruh Alam Semesta beserta seluruh kehidupan keberadaannya mungkin saling terkait. Sering disebut ada tiga tingkatan alam menyeluruh, tapi satu dengan lainnya saling berkaitan. Menjadi satu kesatuan, berawal dari bagian-bagian semesta.Dari mana datangnya planet-planet itu? Mengapa matahari bersinar. Siapa memberi sinar? Mengapa ada bulan, dari mana asal-muasalnya. Mengapa suatu waktu ia bersinar terang (Purnama). Suatu saat gelap (Tilem).

Selanjutnya......

Kisah Tulasidas Menjadi Maharshi Berkat Nasihat Sang Istri

Oleh I Ketut Winaka

Atmaram dan istrinya Tulasi, adalah bhakta baik, rendah hati dan sangat taat pada Tuhan, namun  mereka  adalah pasangan suami istri yang tidak mempunyai anak. Setelah memohon dalam kurun waktu yang sangat lama, mereka dikaruniai sorang putra. Tetapi sayang sekali   bahwa   Tulasi   meninggal  dunia  sesaat  seusai  persalinan.

Selanjutnya......

Pujalah Ibu Pertiwi

Oleh Nyoman Mider Adnyana

Jangan berpikir kita memuja berhala, tidak. Jangan berpikir kita memuja tanah, tidak. Siapakah yang tahu isi dari tanah itu? Kalau tidak ada yang tahu sama halnya dengan siapakah sebenarnya Tuhan itu? Juga tidak ada yang tahu. Satu contoh, manusia tidak tahu apa yang mereka tanam, lalu muncul buah. Siapa yang memberi buah?

Selanjutnya......

Penampilan Gentle Ditentukan Oleh Karakter Bukan Pakaian

Oleh I Wayan Miasa

Bali memang sudah tersohor ke seluruh dunia dengan berbagai keunikannya. Para pelancong, pendatang memuji Pulau Bali seperti mereka memuji gadis cantik. Puji-pujian itu mengalir dari zaman dahulu hingga sekarang dan hal tersebut sering membuat warga kita lupa untuk introspeksi diri. Mereka semakin bangga dengan pujian tersebut apalagi di zaman sekarang ini dimana taraf kehidupan semakin meningkat.

Selanjutnya......

Faktor-Faktor yang Memotivasi Umat Hindu Melakukan Sembah Bakti di Pura

Tulisan ini terinspirasi oleh tulisan Putu Setia (kini Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda) dalam majalah ADITYA  Nomor 13 September 1995.  Tulisan yang berjudul “ Umat Hindu Jarang Sembahyang“ tersebut adalah pertanyaan dari  Wayan S yang tinggal di  Menado yang menurut pengamatannya memang dibandingkan dengan  penganut agama yang lain, umat Hindu dinilainya paling jarang melakukan sembahyang.

Selanjutnya......

Wahyanti Bertekad Bangkitkan Umat Hindu di Jawa

Tidak banyak remaja sekarang yang mau hidup prihatin atau punya tekad kuat untuk maju, meskipun untuk itu seseorang harus hidup dengan penderitaan. Dari jumlah yang sedikit itu, ada satu nama yang patut dicatat. Dia adalah Wahyanti.

Selanjutnya......

Pemuda Hindu Wajib Belajar Keras dan Bekerja Keras

Tantangan Bangsa Indonesia di masa depan membutuhkan hadirnya konsorsium kepemimpinan nasional dalam tiga kelompok, yaitu pemimpin politik, pemimpin masyarakat, dan pemimpin ekonomi. Kepemimpinan pemuda sebagai iron stock mensyaratkan sistem pembangunan kepemimpinan yang komprehensif pada OKP (Organisasi Kepemudaan).

Selanjutnya......

Berbagi Kegembiraan Bersama Panti Asuhan Gayatri Widya Mandala di Kebun Binatang

Berbekal keinginan berbagi kepada sesama, Komunitas Indonesia Sadar Sehat (KISS) bekerjasama dengan Bali Zoo, mengadakan touring gratis bagi anak-anak Panti Asuhan Gayatri Widya Mandala Tabanan. Acara yang diadakan pada Sabtu, 24 September 2016 ini berlangsung dari pukul 15.00 hingga 16.30 diikuti sekitar 50 orang anak asuh.


Selanjutnya......

Bakti Sosial Prajaniti Hindu untuk Korban Banjir di Garut

Musibah selalu datang tak terduga sebagai ujian dari yang Maha Kuasa untuk meningkatkan kesabaran umat manusia. Seperti yang kita ketahui Kota/Kabupaten Garut mendapat musibah Banjir Bandang di 7 Kecamatan, yaitu Bayongbong, Garut Kota, Banyuresmi, Tarogong Kaler, Tarogong Kidul, Karang Pawitan dan Samarang, pada tanggal 21 September 2016 yang menyebabkan korban jiwa dan puluhan orang luka-luka.

Selanjutnya......

Lulusan Lembaga Pendidikan Agama Hindu Jangan Hanya Hafal Sloka

Di era globalisasi seperti saat ini minat masyarakat untuk mempelajari atau kuliah di kampus agama Hindu memang masih rendah tidak seperti halnya kampus lainnya. “Untuk itu, sebagai perguruan tinggi yang baru, STAH Mpu Kuturan harus memacu diri untuk turut memberikan kontribusi penting dalam menyukseskan pembangunan dan pembinaan umat,” ucap Gubernur Bali  Made Mangku Pastika saat memberi kuliah umum di STAHN Mpu Kuturan pada Sabtu, 8 Oktober 2016 lalu.


Selanjutnya......

Warga Jehem Kelola Air Bersih Secara Swadaya

Masyarakat Banjar Jehem Kaja, Desa Jehem, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, Bali, sekarang patut lebih bersyukur karena bisa menikmati fasilitas air bersih di rumahnya. Lebih-lebih fasilitas air bersih yang mengalir ke rumah-rumah warga tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat setempat yang diinisiatori oleh pesraman Swasty Bila, sebuah pusat latihan yoga dan budaya Bali.

Selanjutnya......

Sekarang Ketua Umum Parisada Nanti Gubernur Bali

Mayjen TNI (Purn.) Wisnu Bawa Tenaya yang terpilih sebagai Ketua Pengurus Harian PHDI Pusat dinilai sosok yang memiliki akses dan jaringan luas tingkat nasional. Jabatan terakhirnya sebagai  Koordinataor Staf Ahli Panglima TNI. Sosoknya juga tak asing di Bali, yakni sebagai Pangdam IX/Udayana. Kini di beberapa sudut kota Denpasar terpampang spanduk yang bertulisakan Relawan WBT. Itulah singkatan Wisnu Bawa Tenaya.

Selanjutnya......

Mahasabha XI PHDI di Surabaya Terburuk dan Memalukan Sepanjang Sejarah

Mahasabha PHDI sudah selesai. Sabha Pandita dan Ketua Umum berseteru dan perseteruan itu dilaporkan ke Presiden samoai Kepala BIN. Menteri Agama kesal dan tak mau hadir dalam Mahasabha.

Selanjutnya......

Pura Prajapati Sumber Mengalirnya Kekuatan Gaib

Setiap orang mungkin pernah mengalami pengalaman irasional dalam hidupnya. Bagi orang Bali (Hindu) pengalaman yang demikian sering dihubungkan dengan kegaiban dan mistik. Terlebih dalam berbagai aspek kehidupan, masyarakat Hindu Bali selalu berhubungan dengan hal-hal mistik gaib sehingga kegaiban bukanlah sesuatu yang baru dalam lingkungan sosial. Justru gaib adalah bumbu kehidupan yang tumbuh subur dalam bayang-bayang modernitas. Meskipun modernitas memberikan pengaruh budaya baru, tetapi objek gaib selalu muncul dalam ceruk-ceruk pemikiran orang Bali. Terlebih, hal yang gaib tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan ritus-ritus suci berupacara.

Selanjutnya......

Rahasia Angkernya Pura Prajapati

Pada setiap setra (kuburan) di Bali biasanya terdapat bangunan suci di bagian hulunya yang disebut Pura Prajapati atau Pelinggih Prajapati. Selain sebagai penstanaan ista dewata, Pura Prajapati juga meryupakan sumber energi maha dahsyat, baik untuk peleburan maupun penciptaan dan pemeliharaan.

Selanjutnya......

Senin, 17 Oktober 2016

Membangun Kultur Dialektika Umat Hindu

Oleh I Nyoman Tika
Umat Hindu secara eksternal terkenal damai dan juga  terkesan mudah menerima setiap perubahan, fleksibel dan tak reaktif.  Karena filosofi yang dirasakan begitu terinternalisasi, sehingga bagi sebagian orang menyebutnya, umat Hindu diam adalah emas, berpikir sattwam, selalu waspada, bersifat seperti air mengalir, berpikir positif  adalah bentuk kebajikan. To be silent is the biggest art in a conversation. Sikap diam adalah seni yang terhebat dalam suatu pembicaraan.Dalam kondisi demikian, maka  seakan dalil Tuhan akan selalu bersama orang yang damai itu selalu ada dalam pikiran orang Hindu yang ada di Bali.

Selanjutnya......

Bali dalam Serbuan Sampah Organik

Oleh I Wayan Miasa
Masyarakat Bali pada zaman dulu hidup sangat bersahaja sebelum datang para pelancong ke pulau ini. Dalam kehidupan sehari-harinya mereka  dekat dengan alam dan peralatan yang dipakai pun mudah didapat dari alam atau mudah diperoleh dari lingkungan sekitar. Misalnya saja saat mereka memerlukan sebuah tas untuk membawa hasil panennya mereka cukup membuat “kisa”, sebuah anyaman dari daun kelapa.

Selanjutnya......

Tapakan Nawa Sanga Pura Luhur Pucak Kembar Melancaran Ke-4 Kabupaten di Bali

Laporan Kadek Widya Wirawan
Pura Luhur Pucak Kembar merupakan salah satu pura kahyangan jagat yang ada di Pulau Bali. Pura ini sangat mudah dijangkau oleh umat mengingat lokasinya sangat strategis jalur utama Denpasar-Singaraja, tepatnya di Desa Pakraman Pacung, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Pura ini memiliki keunikan tersendiri di mana terdapat Tapakan Nawa Sanga. Tentunya berbeda dengan tapakan umumnya yang ada di Pulau Bali berupa barong ket. Menariknya Tapakan Nawa Sanga itu menjelang pujawali ageng pada Anggara Kasih Prangbakat, setiap tiga tahun sekali dilaksanakan tradisi melancaran.

Selanjutnya......

Ekonomi Sebagai Fondasi Penting Membangun Keluarga Sukhinah

Laporan I Gusti Ngurah Suwimbawa
Bertempat di Hotel Best Western, Kemayoran, Jakarta pada tanggal 24 - 26 Agustus 2016, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI  menyelenggarakan Pemilihan Keluarga Sukhinah Teladan Tingkat Nasional. Kegiatan ini diikuit oleh pasangan keluarga sukhinah dari masing – masing provinsi. Adapun tema penyelenggaran pemilihan keluarga sukhinah tingkat nasional ini adalah: “Melalui Pemilihan Keluarga Sukhinah Teladan Tingkat Nasional Kita Wujudkan Kehidupan Sosial yang Harmonis, Damai, Sehat dan Sejahtera.”

Selanjutnya......

Komentar Umat, Tak Perlu Ada Parisada

Di media sosial Face Book ada group tertutup atas nama Panitia Mahasaba XI Surabaya. Di sini dimuat berbagai usulan tentang bagaimana Parisada harus menjalankan perannya untuk memajukan umat, dan apa masukannya untuk panitia. Tentang kerja panitia umumnya semua memuji karena sangat transparan dan jelas bekerja dengan baik meski dalam berbagai keterbatasan. Berikut ini beberapa yang bisa dikutip tentang masukannya dan juga keluh-kesahnya tentang Parisada.

Selanjutnya......

Parisada Harus Kembali ke Brahmana Sista

Sebuah perhelatan dengan tajuk “Dialog Kembali ke Jalan Veda” digelar di Ina Bali Hotel Denpasar pada 21 September 2016 yang lalu. Panitia penyelenggara adalah gabungan dari berbagai komponen Hindu yang mungkin saja belum akrab di mata umat. Komponen itu adalah Majelis Ketahanan Krama Bali (MKKB), DPPI Bali, Majelis Pandita Indonesia, Kajian Hindu, Pasraman Pandita PHDI Bali, Verda Poshana Ashram, dan Perkumpulan Iskcon.

Selanjutnya......

Berbagai Manuver Mencari Pimpinan Parisada

Berbagai manuver diadakan menjelang Mahasabha XI PHDI Pusat. Ada yang melakukan survey, ada yang mengadakan dialog dengan mengundang ormas Hindu yang namanya belum dikenal, ada sekelompok pandita yang terus berembug, ada yang membuat rapat kordinasi. Tentu banyak pula yang sudah berkeliling mencari dukungan. Kenapa berebut? Apa kalau suda terpilih benar-benar mau bekerja?

Selanjutnya......

Senin, 03 Oktober 2016

Calon Kuat Pimpinan PHDI Pusat 2016-2021

Dharma Adhyaksa: Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda
Ketua Umum/Harian: I Nengah Dana

Siapakah calon kuat yang beredar dan kemungkinan besar akan dipilih dalam Mahasabha XI di Surabaya ini? Kolonel (purn) I Nengah Dana, S. Ag disebut-sebut sebagai calon kuat untuk jabatan Ketua Harian, atau istilah yang dipakai sekarang adalah Ketua Umum PHDI Pusat. Sementara Dharma Adhyaksa calon kuatnya adalah Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda.

Selanjutnya......

Jumat, 30 September 2016

Getar-Getar Kerinduan Prabu Sentanu

Oleh Luh Made Sutarmi
Di tepi sungai Yamuna itu, Prabu Sentanu merenung dan menghayati  hidup menduda setelah ditinggalkan oleh Dewi Gangga ke Kahyangan. Hatinya berbunga  menyambut pagi yang cerah. Dia berbisik lirih, “Pagi mempesona  secerah  wajahmu yang ada dalam benak ini, senyumanmu seperti desau semilir angin timur yang mendesir sejuk, memberikan rasa  bahagia tiada tara. Bibirmu manis memberikan harapan yang selalu muncul untuk memberi makna sempurna  hidup ini, nafasku selalu berima ritmis, sebab bayanganmu ada dalam setiap kisi-kisi hati ku yang merindu.”  Itulah yang selalu berkecamuk dalam pikiran dan hati Prabu Sentanu.

Selanjutnya......

Revitalisasi Nilai-Nilai Hindu Penyelematan Lingkungan

Oleh I Nyoman Tika //
Selamatkanlah tumbuhan untuk selamatkan dunia,” demikian slogan didengungkan, dan “Bergabunglah bersama kami untuk membuat dunia menjadi lebih baik,” itu slogan yang lain. Menyelamatkan lingkungan hidup dimulai dari tindakan awal. Ini adalah bumi kita, kita tahu yang mana yang berharga. Orang semakin berseru dan berselogan, namun tradisi penyelamatan menurut Hindu dengan Tumpek Kandang dan Tumpek Bubuh, sudah ada dan setiap enam bulan dirayakan. Namun, semakin maraknya kerusakan lingkungan khususnya di Bali, dugaan yang kuat adalah tradisi itu kini hanya berhenti di tataran ritual, dan generasi muda semakin berjarak, sehingga kerusakan lingkungan pun semakin parah.


Selanjutnya......

Wareg Tan Paneda, Bungah Tan Mapanganggo

Oleh I Dewa Gede Alit Udayana //
Ini adalah salah satu sesonggan Bali, yang bila diartikan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia berarti: kenyang tanpa makan, mentereng tanpa berganti pakaian. Mungkinkah hal itu terjadi? Mungkin saja. Pada kondisi-kondisi tertentu yang membuat hati seseorang bergembira meluap-luap. Senang bukan main, atau merasa bahagia (sekali). Hati sedang berbunga-bunga. Kondisi seperti ini tidak mesti karena uang, atau material pemuas nafsu naluriah semata. Lebih dari itu ada kondisi psikologis tertentu yang dapat membuat seseorang merasakan  kebahagiaan yang amat sangat.

Selanjutnya......

Apapun Agamanya Utamakan Perbuatan Mulia

Oleh I Nyoman Sugiarta dan I Ketut Sukayasa //
Sabda dari Sri Krisna patut kita renungkan secara mendalam: ”Dengan cara apapun engkau sembah Aku dengan ketulusan kasihmu, pada akhirnya semua akan kembali kepadaKu.” Sungguh pernyataan yang amat mulia kalau kita dapat renungkan dengan seksama. Nilai kemuliaan kasih dalam ketulusan budi umat beragama dalam menjalani tugas kehidupan ini adalah pangkal mula terwujudnya kedamaian jiwa.

Selanjutnya......

Mantra Meditasi: Spiritual Meliputi Aspek Internal dan Eksternal

Oleh Jagadguru Siddhasvarupananda //
Meditasi mantra merupakan bagian integral dari ilmu identitas dan dimaksudkan untuk membersihkan pikiran dari semua kesalahpahaman tentang identitas sejati. Pikiran perlu dibersihkan atau dimurnikan dengan kekuatan yang cukup kuat untuk melakukan pembersihan itu. Setelah semua bersih oleh diri kita sendiri, maka kita memiliki kekuatan untuk menghapus ketidaktahuan atau naik ke dunia spiritual. Dan dengan latihan meditasi mantra, pikiran dapat dimurnikan.


Selanjutnya......

Rabu, 28 September 2016

Bali Belum Layak Disebut Pulau Sorga

 Made Mustika
 Gubernur Bali Made Mangku Pastika sebagaimana dikutip dari Harian Kompas 28 Juli 2016 lalu, menyatakan dirinya merasa malu karena penduduk Bali masih banyak yang miskin. Itu ditandai dengan masih banyak ditemukan rumah-rumah penduduk yang tak layak huni. Di sisi lain, Bali dikenal dengan berbagai julukan. Salah satu di antaranya adalah Bali pulau sorga. Ia merasa terganggu dengan julukan itu. Jika julukan itu benar, tentu penduduk Bali tidak ada yang miskin. “Jika penduduk Bali tidak ada lagi yang miskin, barulah Bali pantas disebut sebagai pulau sorga,” demikian kurang lebih pernyataannya.

Selanjutnya......

Agama tanpa Makna

Nyoman Sumawijaya

Dimensi Agama Dalam Membangun Keseimbangan Hidup adalah judul tulisan I Nyoman Sugiarta dan Ketut Sukayasa dimuat alam majalah Raditya edisi 228, Juli 2016. Ini adalah satu dari sekian banyak tulisan dan mungkin juga acara yang mengulas kondisi sosial masyarakat, khususnya umat Hindu. Yang lebih khusus mungkin yang disoroti adalah di Bali. Seperti disampaiakn dalam awal tulisannya, Nyoman Sugiarta dan Ketut Sukayasa menyatakan bahwa agama diharapkan menjadi penuntun umatnya menjalani kehidupan sosial yang dilandasi cinta kasih. Namun faktanya, jauh dari yang kita harapkan.

Selanjutnya......

Selasa, 27 September 2016

Sekolah Seharian dan Konsep Catur Guru

Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

Ganti menteri, ganti kebijakan, orang tua murid yang jadi korban. Ungkapan itu sudah lama ada dan belakangan sudah mulai mereda. Ternyata sekarang muncul lagi dan langsung bikin gaduh. Itu terjadi setelah Prof. Muhadjir Effendy mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang dipilih Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menggantikan Anies Baswedan secara mendadak. Belum sebulan Muhadjir menjadi menteri sudah menjadi bulan-bulanan karena pernyataannya yang membuat heboh. Bukan cuma soal “sekolah seharian” atau yang dipopulerkan dalam bahasa asing,

Selanjutnya......

Tren Pemujaan Ganesha

I Wayan Miasa

Masyarakat Hindu tidak saja mengikuti tren berpakaian, namun juga dalam pemujaan kepada para dewa. Hal ini terbukti dari terus bergulirnya tren pemujaan terhadap masing-masing dewa dari zaman ke zaman.  Misalnya pada zaman dahulu dalam ritual-ritual tertentu yang diagung-agungkan adalah Dewa Agni. Pada suatu masa ada pemujaan terhadap Dewa Indra yang dipuja sebagai penguasa hujan, dewa perang.

Selanjutnya......

Kamis, 15 September 2016

Prenatal Education Dasar Pembentukan Karakter Anak

I Nyoman Agus Sudipta

Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan manusia dibentuk dan dibina karakternya, sehingga tercipta manusia yang berkarakter mulia. Dalam perkembangan dunia pendidikan, ternyata banyak terlahir generasi-generasi yang rendah secara kualitas dan lemah dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang ada. Kecenderungan yang muncul, permasalahan diselesaikan dengan cara-cara kekerasan (anarkis), mudah terpengaruh dan cepat putus asa dengan mengambil jalan pintas.


Selanjutnya......

Kunjungan Light Body Sai Baba ke Bali

Sosok gaib atau astral (Light Body) Swami  Sri Satya Sai Baba kembali mendatangi Pulau Bali dari hari Minggu-Selasa, tanggal  7-9 Agustus 2016 lalu. Paling tidak, demikian keyakinan para bhakta Sai yang meyakini, meskipun Swami telah mahasamadhi (meninggal), tetapi beliau  masih hadir di tengah-tengah para pemujanya dalam bentuk tubuh astralnya. Sebelumnya, light body Baba dinyatakan sudah pernah hadir juga di Bali, yaitu memberikan wejangan kepada para pemujanya di Sai Pooja Ashram, Jalan Mahendradatta, Denpasar.

Selanjutnya......

Pelantikan Pengurus Prajaniti Kota Bandung

Menindaklanjuti  Pesamuhan Madya PHDI Provinsi Jawa Barat, pada tanggal 1 Nopember 2015 tentang peran organisasi untuk peningkatan kesejahteraan umat Hindu melalui gerakan-gerakan pelayanan  dalam semua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka Ketua DPD Prajaniti Jawa Barat, Drs. Anak Agung Gede Anom, M.T.,  pada Hari Minggu Tanggal 7 Agustus 2016 bertempat di Madya Mandala Pura Wira Satya Dharma Komplek Yon Zipur IX Ujung Berung Bandung telah melantik Pengurus Prajaniti Kota Bandung untuk  masa bhakti 2016 – 2021.

Selanjutnya......

Ingin Kembalikan Budaya Nusantara: Warga Sunda Gelar Ngertakeun Bumi Lamba

Pada hari Minggu, 28 Juni 2016 lalu sebuah ritual bertajuk Upacara Adat Ngertakeun Bumi Lamba dilaksanakan di Gunung Tangkuban Parahu, Lembang, Jawa Barat. Ngertakeun Bumi Lamba merupakan salah satu tradisi yang terdapat di Sunda dan lebadalah salah seorangih dari 500 tahun tradisi ini dilupakan, dan kini dibangkitkan kembali untuk menghormati warisal leluhur yang adi luhung dan menguatkan kembali budaya aseli Nusantara.

Selanjutnya......

Tugun Karang Sebagai Pintu Niskala

Oleh I Ketut Sandika

Bagi masyarakat Hindu Bali setiap bangunan suci atau pelinggih yang ditempatkan di pekarangan rumah atau tempat suci keluarga pasti difungsikan masing-masing sesuai dengan fungsi dan kegunaannya. Bangunan suci tersebut tidak saja difungsikan, tetapi diyakini pula sebagai sthana Dewa-Dewi atau linggih Ida Bhatara, roh suci leluhur dan makhluk niskala lainnya. Namanya keyakinan, tidak perlu kita telisik darimana keyakinan tersebut muncul.Yang jelas mereka meyakini bahwa adanya bangunan suci adalah tempat bagi manusia menjalin hubungan dengan yang niskala. Terlebih bangunan suci pelinggih Tugun Karang atau sering disebut dengan Pengijeng Karang sangat sering dihubungkan dengan hal yang niskala, baik dalam teks mitologi sastra maupun dalam mitos lisan yang tenget.

Selanjutnya......

Dasar Tatwa Penunggun Karang

Oleh I Ketut Wiana

Menurut Lontar Siwagama, sepatutnya di setiap rumah umat Hindu di Bali seyogianya dibangun tempat pemujaan yang disebut  Kamulan Taksu sebagai ”Huluning Karang Paumahan”. Pelinggih Kamulan Taksu itu sebagai tempat memuja Dewa Pitara sebagai Bharata Hyang Guru. Menurut Lontar Purwa Bhumi Kamulan, setelah Upacara Atma Wedana seperti Nyekah atau Memukur kalau  dalam tingkatan yang besar disebut Maligia. Setelah Atma Wedana itu Atman disebut Dewa Pitara selanjutnya distanakan di  Kamulan Taksu sebagaimana dijelaskan secara terperinci dalam Lontara Purwa Bhumi Kamulan.

Selanjutnya......

Kedahsyatan Energi Gaib Tugun Karang

Landscape untuk tempat hunian masyarakat Bali (Hindu) diatur sedemikiian rupa, agar terdapat space yang jelas untuk ruang yang disakralkan, yaitu tempat-tempat bangunan suci, dan ada space untuk rumah (manusia), dan space areal belakang (teba). Pelinggih Tugun Karang adalah salah satu bangunan yang disakralkan yang berfungsi mensinergikan energi kosmis dengan energi fisikal.

Selanjutnya......