Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Jumat, 11 November 2016

Perjalanan Sang Roh di Dunia dari Kelahiran Hingga Mati

Oleh A.A Bagus Sudira Mangku

Masyarakat Bali percaya bahwa setiap roh leluhur selamanya bersthana (baca: melinggih) di Merajan. Beliau diyakini pula yang menuntun, menolong dan memberkahi pratisentana atau keturunannya. Terlebih sentana yang selalu berbuat dharma, maka leluhur akan memberkahinya dengan segala karunia. Sebaliknya, bagi sentana yang berbuat adharma (jahat, corah, drowake, loba, tamak, dan lainnya), maka para leluhur yang melinggih di Merajan akan memperingati dengan cara-cara niskala.
Banyak hal dalam kehidupan yang boleh dikatakan leluhur memperingati keturunannya dengan cara niskala, seperti mengalami sakit, menderita hidupnya, kebingungan, dan sejenisnya. Namun terlepas dari semua itu, intinya para leluhur sangat menyayangi pratisentananya, sehingga beliau sangat berkepentingan agar pratisentananya berbuat baik.
Oleh karena itu, berbuat baik sesungguhnya adalah menyelamatkan leluhur di alam sana. Selain memang memupuk karma baik, dan mencuci karma buruk yang kita perbuat di masa kini maupun di kehidupan yang lalu. Perbuatan baik dapat diawali dengan terlebih dahulu memahami hakikat kita menjadi manusia, dan memaknai keeksistensian kita dalam realitas yang ada serta mampu mendalami kesejatian hidup yang merupakan bagian dari entitas kehidupan. Sebagaiman disebutkan dalam ajaran agama Hindu, bahwa manusia terdiri dari beberapa unsur, yakni: Mahat (dari purusha/rohani), Ahamkara (dari Pradana /materi), Manah/atma/roh-unsur hidup dari sinar suci Tuhan, Tanmatra-ego/identitas sang roh, Panca indria (mata-untuk melihat, hidung-untuk mencium bau, telinga-untuk mendengar, perasa untuk menikmati, kulit-untuk merasakan), Karmandria (tangan / kaki-untuk bergerak / bekerja, mulut-untuk menikmati makanan / minuman, kulit-untuk merasakan lembut / halus, dubur-untuk pembuangan sisa-sisa makanan, alat vital-untuk menikmati senggama dan menciptakan keturunan), Maha-bhuta (akasa / kosong, api, udara, air, tanah), Lapisan halus; Annamaya kosa (badan phisik dari bahan makanan-minuman), Pranamaya kosa (badan halus dari energi prana/kehidupan), Manomaya kosa (badan halus dari bahan mental), Vijnanamaya kosa (badan pengetahuan sejati), dan Anandamaya kosa (badan kebahagiaan transenden/Tuhan).
Selanjutnya, untuk menyadari kesejatian diri menjadi manusia hendaknya memahmi dengan baik fase keberadaan manusia sebagai makhluk yang paling utama. Fase keberadaan manusia dimulai dengan fase pertama, yakni Utpeti/kelahirannya sebagai hasil karmawasana sang roh yang dibawanya nemitis  atau lahir kembali ke dunia ini dengan merasuki sang janin dalam kandungan pratisentananya.  Kelahirnya sudah tentu setelah bebas dari penderitaannya menikmati buah karmanya di neraka. Jika karmawasananya (baca bekas perbuatan) baik, sang roh akan lahir pada keluarga Mulia (Pejabat, orang kaya, rohaniawan, keluarga bahagia) yang berkecukupan. Sebaliknya, jika karmawasananya buruk, sang roh akan lahir di keluarga; jahat, miskin, terbuang, bodoh, dan tidak beragama.
Setelah fase utpeti, dilanjutkan dengan fase Stiti atau menjalani kehidupannya di dunia ini. Ada manusia adharma/jahat dan ada manusia dharma/baik. Dengan cara berpikir yang baik, berkata yang manis, dan berbuat yang menyenangkan orang lain. Dengan maksud akan menebus dosa-dosanya yang diperbuatnya dahulu saat hidup didunia ini. Juga untuk meningkatkan kualitas kerohaniannya dengan banyak belajar dan menjalani kehidupan beragamanya, menyerahkan lahir-bathinnya di dunia ini kepada Tuhan (dalam berbagai manifestasinya sebagai Dewa-dewa), mencari pencerahan jiwa, tapa-semedi, menjalankan yasa-yajnanya kepada Leluhur, Dewa-dewa yang melinggih di Merajan, Pura dan tempat suci lainnya serta menjalankan tahapan kehidupan berdasarkan atas Catur Asrama Dharma.
Setelah fase kehidupan, dilanjutkan dengan fase prelina atau kematian, yakni keluarnya sang roh bersama prananya keluar dari dalam badan fisiknya. Namun, kematian sesungguhnya adalah pintu gerbang menuju kehidupan yang lainnya, dan ada berbagai cara kematian yang dialami manusia tergantung karma dan dirinya sendiri. Tapi ada juga kematian yang buruk. Setelah fase kematian, ada kemungkinan dan sudah tentu manusia mengalami reinkarnasi/Samsara dan perjalanan sang roh kembali lahir kedunia ini. Samsara adalah lahirnya kembali sang roh dengan merasuk ke dalam janin (prati-sentananya), dengan membawa karmawasananya. Kelahiranya kembali tiada lain untuk menebus segala dosa-dosanya yang lalu di dunia ini, mencari pencerahan bagi peningkatan kualitas kerohaniannya. Selain memang menyerahkan dirinya kepada Tuhan dengan ngayah/meyasa-yajna dengan tulus ikhlas.
Setelah menyadari eksistensi kelahiran, kita juga dapat menyadari bahwa kita hidup di planet bumi sebagai sebuah karunia. Bumi adalah tempat kita untuk meningkatkan kualitas diri. Sebagaimana merujuk kosmologi Hindu, bahwa salah satu planet itu menjadi Bumi, dan jutaan tahun yang lalu bumi mendingin (karena dipenuhi air), selanjutnya terlahir atau tumbuh berbagai  ganggang hijau dan berbagai jenis pepohonan. Jutaan tahun kemudian lahir berbagai jenis binatang, dan Tuhan melengkapinya dengan menciptakan Manu (manusia pertama) di bumi ini melalui elukimia panca mahabhuta (air, api, udara, tanah, akasa). Menyempurnakannya dengan; bayu (roh kehidupan), sabda (bisa berkomunikasi dengan pihak lainnya), dan idep (mampu mempertimbangkan baik/buruknya). Semua ciptaan tersebut bersumber dari Tuhan dan akan kembali pada-Nya.
Sebagaimana disebutkan dalam teks Chandogya Upanisad 6.3.3, menyatakan; ”Tuhan berkehendak untuk menjadi, dan selanjutnya kejadiannya berlangsung terus menerus”. Model konseptual dan analogi yang tidak teramati ini dipakai para ilmuwan sebagai dasar untuk menggambarkan partikel sub-atomik dan gambaran terciptanya alam serta isinya. Tuhan sebagai asal semua ciptaan (sebagai sinar matahari-yang memberi kehidupan) yang menyinari semesta alam ini, dan yang merasuki segalanya. Sifat/karakter seperti itu ada pada Matahari (disebut Betara Siwa Raditya) dengan sinar beningnya, yang jika melewati prisma kaca menjadi sembilan warna (simbol Betara Nawa-Sanga). Termasuk setiap sinarnya yang punya energi dan peran-peran khusus (seperti sinar hitam –kekuatan Betara Wisnu, yang merah –kekuatan Betara Brahma, dan lainnya). Sesuai dengan Betara-betara di Pura Nawa Sanga. Dengan Dewa-dewanya, dari percikan sinar mataharinya. Manifestasinya sebagai Dewa-dewa di dunia ini  dengan tujuan agar Tuhan lebih dekat dengan umatnya. Bumi adalah alam yang rwa-benida, maya dan sementara. Hanya di bumi inilah tujuan kelahiran manusia itu bisa direalisasikan. Seperti untuk; menebus dosa-dosanya, mencari pencerahan bagi jiwanya, dengan melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, karmawasananya, dan lainnya. Saat kelahirannya inilah manusia ingin memperbaikinya agar bisa meningkatkan kesucian jiwanya, sehingga harapannya–jika meninggal nantinya bisa masuk Sorga, bahkan moksa. Tapi setelah menjalani kehidupan di bumi ini, yang dipenuhi dengan maya,  kebanyakan manusia salah persepsi atas berbagai hal yang ada didunia ini. Nafsu  atau keinginan dan kenikmatan duniawi inilah yang dikejarnya. Arta, tahta, kama atau  wanita dan lainnya menjadi tujuannya, sehingga sang roh menjadi tercemar/terkontaminasi  lalu bingung, bodoh dan terbatas segala kemampuannya. Akhirnya malah banyak yang “membuat dosa baru”. Perbutan yang demikian justru menjauhkannya dari maksud dan tujuan kelahirannya ke dunia ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar