Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Jumat, 12 Januari 2018

MpuJayaPrema tentang Etika Pemimpin-BARU-Sambut Pilkada 2018

Selanjutnya......

Kamis, 21 Desember 2017

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2018

Selamat Hari Raya Natal bagi yang merayakannya. Selamat Tahun Baru 2018 untuk kita semua. Semoga kebersamaan tetap mewarnai kasih sayang dan kedamaian ini.
Mari masuki tahun 2018 sebagai tahun politik dan tahun kesejajaran antara agama dan penghayat kepercayaan. Semoga diskriminasi menyangkut keyakinan ini tak membuat masalah baru. Selamat membaca ulasannya yang padat di Majalah Raditya.


Selanjutnya......

Rabu, 20 Desember 2017

Kehidupan Sadhu di Rsikesh dan Haridwar

Laporan I Made Adi Surya Pradnya
Apa kabar umat Hindu se-dharma? Astungkara sehat, seger, rahayu. Edisi ini saya mau mengajak umat se-dharma melihat kehidupan para Sadhu di India. Sebelumnya sudah tahu gak, Sadhu itu siapa?

Selanjutnya......

Ny Rataya Suwisma dan Ny Wikanthi Yogie Kembali Pimpin WHDI

Wanita Hindu Dharma Indonesi (WHDI) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) IV di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat. Munas IV WHDI diselenggarakan selama tiga hari, yaitu17-19 November 2017 dan dihadiri 306 peserta dari unsur Pengurus WHDI Pusat, perwakilan WHDI Provinsi dan Kabupaten/Kota, perwakilan Kongres Wanita Indonesia (Kowani), para Peninjau, perwakilan lembaga-lembaga Hindu dan undangan lainnya.

Selanjutnya......

Pujawali Pura Agung Wanakertha Jagadnatha Sulawesi Tengah

Pura Agung Wanakertha Jagadnatha, Provinsi Sulawesi tengah adalah satu-satunya pura yang ada di Kota Palu. Mengingat kedudukannya sebagai Pura Jagadnatha, maka pura ini disungsung oleh Umat Hindu yang ada di Kabupaten dan Kota di Sulawesi Tengah, namun penanggung jawab pengelolaannya atau pengempon berada di bawah krama Hindu Kota Palu.

Selanjutnya......

Siwaratri: Momentum Refleksi Diri dan Sosial

IGN Nitya Santhiarsa
“Beryadnya, berdharmadana dan bertapabrata jangan diabaikan namun harus dilaksanakan, sebab yadnya, dharmadana dan tapabrata adalah pensuci bagi orang yang bijaksana” (Bhagawadgita XVIII-5).

Selanjutnya......

Pura Sakenan dan Diskusi Generasi Mellineal

Oleh I Nyoman Tika
Sore itu hujan gerimis mengiringi perjalanan kami diselingi petir dan tebalnya mendung adalah saksi betapa hari itu  merupakan hari yang istimewa bagi saya, sebab hari itu memang telah ditargetkan untuk acara  tirta yatra ke pura Sakenan di Selatan Pulau bali, selanjutnya  studi banding. Acara ini merupakan program kerja Jurusan Kimia  Univesitas  Pendidikan Ganesha yang di dalamnya mencetak Guru Kimia  dengan program RKBI (Rintisan Kuliah Berbahasa Inggris).

Selanjutnya......

Rarung Dalam Lingkaran Teologis Mistis

Renungan oleh Luh Made Sutarmi
Sore itu,  udara pantai mendesir lambat menerpa jemari daun kelapa yang berderet  di sekitar pantai, bersatu dalam nuansa alam yang indah. Rarung kecil yang manis tumbuh menjadi  remaja cantik yang dewasa, Ibunya dihormati di desanya, karena sopan dan tulus melakukan segala bentuk kegiatan di desa.

Selanjutnya......

AMRETISTA – PENSUCIAN BADAN ASTRAL

Olah Jro Mangku Nyoman Sukadana
Amretista yang lebih dikenal dengan istilah melukat, mempunyai pengertian yang luas sehingga perlu diketahui, agar kita tidak salah mengartikan dan tepat dalam pelaksanaannya. Sebelum sampai kepada amretista itu sendiri, mari kita kenal dulu diri kita sendiri karena ketika melukat, maka badan inilah yang sejatinya kita bersihkan.

Selanjutnya......

Arja Ribu dan Topéng Pugra Sebagai Studi Kasus

Oleh I Ketut Yasa
Tulisan berikut ini, akan mengisahkan pengalaman penulis ketika menonton arja Ribu  dan topeng Pugra. Dalam arja ada salah seorang seniman (penarinya) yang dipanggil dengan sebutan Ribu. Dalam topeng ada salah seorang penarinya yang bernama Pugra, dan sekaligus nama krunya juga disebut dengan topéng Pugra. Kisah ini kebetulan terjadi secara bersamaan, yaitu pada dekade tahun 1970- an.

Selanjutnya......

Jumat, 10 November 2017

Budaya Risiko di Sekitar Gunung Agung

Opini oleh I Nyoman Tika
Di antara lambaian  pohon  terjurai  bulir padi di hamparan sawah  yang berundak, disaksikan  surya yang cerah  pagi hari serta daun menghijau pohon salak. Ditingkahi getaran-getaran gempa yang ritmis berkali kali dan mendayu menggoncang pertiwi sebagai pertanda bahwa gunung agung  akan bangun dari tidurnya yang sudah hampir  54 tahun silam pulas tanpa geliat yang berarti.

Selanjutnya......

Prof Made Titib Resmi Sandang Status Kependetaan

Pakar Weda, cendekiawan Hindu ternama di Indonesia, guru besar sekaligus mantan Rektor Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Prof. Dr. I Made Titib, Ph.D, 65 tahun secara resmi menjadi sulinggih dan menyandang Abhiseka (gelar) Ida Pandita Mpu Acharya Jaya Daksa Wedananda.

Selanjutnya......

Devprayag: Titik Awal Sungai Gangga

Rasa haru dan syukur, saya panjatkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena berkat kuasaNya saya dapat melakukan dharma yatra ke tanah Bharata, India. Bahkan semua biaya akomodasi dan sebagainya telah ditanggung sepenuhnya. Beginilah ketika Tuhan mewujudkan impian kita, melalui tangan-tangan orang lain.

Selanjutnya......

Rahasia Energi Bulan Secara Spiritual

Purnama dan Tilem, selain dihitung berdasarkan siklus 15 hari, juga tandanya dapat dilihat di alam, yaitu bila Purnama ditandai bulan bersinar penuh (full moon), sedangkan tilem adalah puncak bulan mati. Lantas, mengapa Purnama-Tilem demikian penting dalam tradisi Hindu?

Selanjutnya......

Jumat, 20 Oktober 2017

Gunung Agung Tongkat Langit Penyangga Sorgawi

Berdasarkan hal tersebut di atas lalu  muncul kepercayaan, bahwasanya gunung adalah jalan menuju sorga, karena gunung adalah tiang langit penyangga alam sorgawi. Dengan ini pula banyak pura (tempat suci Hindu di Bali) dibangun di gunung, karena gunung dipercaya memiliki nilai sakral. Sebutlah Pura Besakih di lereng Gunung Agung, Pura Batukaru di lereng Gunung Batukaru, Pura Lempuyang Luhur di puncak Gunung Lempuyang dan sebagainya.

Selanjutnya......

Selasa, 10 Oktober 2017

Kemeriahan Pujawali di Pura Pemacekan, Karanganyar

Pura Pemacekan lebih lengkapnya bernama Petilasan Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan dan Parhyangan Sapta Pandita ini, terletak di Dukuh Pasekan, Dusun Keprabon, Desa Karangpandan, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Pura ini juga sering disebut dengan Pura Kepasekan, barang kali disebabkan oleh letaknya di Dukuh Kepasekan. Setahu penulis, setiap pujawali atau saat piodalan yang diselenggarakan pada Purnama Sasih Ketiga,  warga Pasek setiap Kabupaten seluruh Bali secara bergantian tangkil ke Pura ini.

Selanjutnya......

Dikurung Hujan Abu dan Disengat Hujan Api

Gunung Agung di Karangasem, Bali, pada Jumat, 22 September 2017 sudah berstatus awas,  radius 12 kilometer dari puncak gunung harus dikosongkan. Gunung berapi ini terus menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitasnya, sehingga sejumlah warga yang berada di radius 6 kilometer dari gunung dievakuasi ke berbagai lokasi untuk mengantisipasi kemungkinan Gunung Agung erupsi.

Selanjutnya......

Menyaksikan Roh Leluhur dan Wejangan Pendeta Gaib

Kekeramatan dan kesakralan Gunung Agung pernah dialami secara langsung oleh I Nengah Rates Adnyana atau lebih akrab disebut Mangku Aseman. Kejadian yang dia alami berlangsung sekitar tahun 1982 saat lelaki asal Subamia, Tabanan ini masih bekerja sebagai manager restoran sekaligus juga menjadi pemangku balian.

Selanjutnya......

Minggu, 24 September 2017

Aksara Dalam Kajang Sebagai Pengantar Sang Roh

 Praktik beritual di Bali tidak terlepas dari pengunaan simbol atau atribut yang dipandang sakral magis. Simbol dan atribut tersebut boleh dikatakan sebagai media untuk menghubungkan antara pemuja dengan yang dipuja. Jadi atribut upacara dalam bentuk apapun di Bali, terlebih atribut beritual dipandang sebagai sesuatu yang istimewa, dan memiliki kedekatan makna dengan teologis (perihal tentang Tuhan). Salah satu atribut yang menarik ditelisik adalah atribut dalam upacara ngaben, yakni Kajang.

Selanjutnya......

Rerajahan Penangkeb Rat Peranti Gaib Penunduk Suami

Penggunaan rerajahan (seni gambar) dalam masyarakat Bali, terutama dalam dunia keagamaan dan budaya sangatlah  sentral. Selain memiliki unsur seni, terdapat pula unsur mistik yang terkandung di dalamnya. Masyarakat Bali yang beragama Hindu menggunakannya dalam berbagai  ritual keagamaan, seperti rerajahan dalam fungsinya sebagai ulap-ulap, kajang, rurub caru atau pun aled caru dan lainnya.

Selanjutnya......