Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 28 Desember 2016

Patutkah Ada Acara Sungkem Saat Sembahyang

Belakangan ini muncul fenomena baru dalam aktivitas persembahyangan umat Hindu, yaitu melakukan sungkem atau sujud di hadapan pelinggih atau patung di pura tertentu setelah selesai melakukan kramaning sembah. Bagaimanakah menyikapi fenomena yng selama ini tidak lazim dilakukan di pura?

Selanjutnya......

Media Sosial, Caci Maki, Memudarnya Jati Diri Bangsa

Oleh I Nyoman Tika
Teknologi  maju  membuat manusia menyendiri, asyik dalam kesunyian, sehingga kerap manusia  tanpa rasa malu memamerkan kekasaran ke ruang publik. Dalam benak pikiran mereka, bahwa rasa malu dicerna tanpa kehadiran wajah seseorang, sebab dunia maya kerap masih memungkinkan untuk menyembunyikan sebagian identitas. Akibatnya, telekomunikasi seluler juga mengubah manusia dari semula guyub, bermasyarakat, menjadi makin introvert, menyendiri. Di tataran itu, umat Hindu harus tetap waspada,  berpegang pada kaidah moral agama, sehingga tidak  seyogyanya  kebencian  terpapar ke publik, yang kian ganas merusak persatuan bangsa.

Selanjutnya......

Mengenal Sekilas Hindu Kaharingan

Oleh Kunti Ayu Vedanti
Kalimantan merupakan pulau terbesar di Indonesia. Kebesarannya bersanding dengan pesona budayanya yang kaya. Tidak dapat dipungkiri, citra Kalimantan sudah mendunia, baik sebagai paru-paru dunia hingga salah satu tempat tumbuh dan berkembangnya kebudayaan hingga pesona mistis Nusantara. Sebagaimana pulau-pulau di Indonesia, Kalimantan memiliki kebudayaan yang unik dan suku asli yang mendiaminya. Suku asli Kalimantan adalah suku Dayak yang menurut J.U. Lontaan (1975) terbagi dalam 405 sub suku. Sub suku tersebut kemudian tersebar di berbagai wilayah Kalimantan.

Selanjutnya......

Memanggil Ibu

Oleh Nyoman Mider Adnyana
Pemujaan ibu, itu pemujaan yang terkait dengan Shakti. Apa itu Shakti? Pengertian Shakti dalam pemujaan itu mengandung makna :
1. Kekuatan Suci

Selanjutnya......

Gotong Royong Dan Kesejahteraan Dalam Kehidupan

Oleh I Wayan Miasa
Pada masyarakat yang kehidupannya bertumpu pada kegiatan agraris,  maka hidup kehidupan dalam kebersamaan berupa gotong royong memegang peranan yang sangat penting. Mereka saling tergantung satu sama lain dalam melakukan kegiatan sehari-harinya entah itu mengerjakan lahan pertanian, perkebunan ataupun dalam berupacara.

Selanjutnya......

Komunitas Sadar Sehat Akan Menjadi Yayasan

Engkau berhak melakukan tugas kewajibanmu yang telah ditetapkan, tetapi engkau tidak berhak atas hasi lperbuatan. Jangan menganggap dirimu penyebab hasil kegiatanmu, dan jangan terikat pada kebiasaan tidak melakukan kewajibanmu. Bhagawad Gita 2.47

Selanjutnya......

Kunjungan Dr. Surya Pradnya Ke Sultra Seminar Dana Punia Hingga Praktik Balian

Pada tanggal 28-31 Oktober 2016 lalu, salah seorang dosen IHDN Denpasar, yaitu  Dr. Surya Pradnya melakukan kunjungan ke Sulawesi Tenggara untuk menemui sejumlah umat Hindu disana. Ia yang merupakan dosen teologi IHDN Denpasar dan dosen termuda ini cukup  kreatif dan inovatif dengan moto hidupnya, “Lebih baik berbuat daripada tidak sama sekali.” Adapun kunjungannya ke Sultra kali ini adalah perjalanan menebar dharma.

Selanjutnya......

Festival Candi Kembar 2016

Tulisan seperti itulah (lihat judul) yang banyak penulis temukan dalam sepanduk-sepanduk maupun umbul-umbul yang terpasang di sekitar candi kembar  Plaosan di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah.

Selanjutnya......

Pengaruh Teks Wrhaspati Tattwa Bagi Sulinggih di Denpasar

Program Pascasarjana  IHDN Denpasar kembali berhasil melahirkan seorang doktor baru setelah pada Jumat, 28 Oktober 2016 lalu I Nyoman Ananda berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan panitia  penguji dalam ujian terbuka yang digelar di Gedung Pascasarjana IHDN Denpasar, Jalan Kenyeri, Denpasar.

Selanjutnya......

Workshop Bhagawad Gita di Bogor

Pinandita Sangraha Nusantara (PNS) DKI Jakarta dan Korwil Jabodetabek bekerjasama dengan Yayasan Pura Parahyangan Agung Jagadkarta Gunung Salak Bogor, Yayasan Bhakti Wedanta Indonesia dan Pasraman Bhagawad Gita pada Hari Sabtu tanggal 5 Nopember 2016 menyelenggarakan Workshop dengan tema “Bhagawad Gita Intisari Weda.”

Selanjutnya......

Jumat, 11 November 2016

Ketika Para Rsi Diolok-olok

Suka memperolok orang baik adalah tindakan yang tak patut dilakukan. Apalagi yang diperolok dan dilecehkan adalah orang suci. Balasan pasti akan diterima untuk perbuatan (karma) yang tidak baik itu. Bahkan bisa jadi orang lain ikut kecipratan dosa buruk.

Selanjutnya......

Dewi Subadra Menghayati Bhakti Yoga

Oleh Luh Made Sutarmi

Kehidupan  menampilkan wajah ganda, manusia diberikan untuk memilih dan menjalani hidup  dengan beragam jalan. Manusia tinggal memilih. Walaupun mampu memilih, namun manusia  penuh dengan keterbatasan Nobody can count the starts. Manusia memiliki batas kemampuan masing-masing.

Selanjutnya......

Korupsi dan Etika Hindu Saat Ini

Oleh I Nyoman Tika

Permasalahan yang muncul saat ini adalah korupsi belum bisa memudar. Korupsi diduga terjadi karena  pemahaman etika beragama semakin meluntur. Manusia sudah semakin fragmatis, pemuja materi dan lupa bahwa hidup itu sangat pendek. Jerat korupsi melibas hampir berbagai kalangan, termasuk  umat yang beragama  Hindu.  Di koridor itu etika beragama Hindu nampaknya perlu direvitalisasi.

Selanjutnya......

Perjalanan Sang Roh di Dunia dari Kelahiran Hingga Mati

Oleh A.A Bagus Sudira Mangku

Masyarakat Bali percaya bahwa setiap roh leluhur selamanya bersthana (baca: melinggih) di Merajan. Beliau diyakini pula yang menuntun, menolong dan memberkahi pratisentana atau keturunannya. Terlebih sentana yang selalu berbuat dharma, maka leluhur akan memberkahinya dengan segala karunia. Sebaliknya, bagi sentana yang berbuat adharma (jahat, corah, drowake, loba, tamak, dan lainnya), maka para leluhur yang melinggih di Merajan akan memperingati dengan cara-cara niskala.

Selanjutnya......

Rahasia di Balik Bulan Purnama

Oleh Ngurah Parsua

Seluruh Alam Semesta beserta seluruh kehidupan keberadaannya mungkin saling terkait. Sering disebut ada tiga tingkatan alam menyeluruh, tapi satu dengan lainnya saling berkaitan. Menjadi satu kesatuan, berawal dari bagian-bagian semesta.Dari mana datangnya planet-planet itu? Mengapa matahari bersinar. Siapa memberi sinar? Mengapa ada bulan, dari mana asal-muasalnya. Mengapa suatu waktu ia bersinar terang (Purnama). Suatu saat gelap (Tilem).

Selanjutnya......

Kisah Tulasidas Menjadi Maharshi Berkat Nasihat Sang Istri

Oleh I Ketut Winaka

Atmaram dan istrinya Tulasi, adalah bhakta baik, rendah hati dan sangat taat pada Tuhan, namun  mereka  adalah pasangan suami istri yang tidak mempunyai anak. Setelah memohon dalam kurun waktu yang sangat lama, mereka dikaruniai sorang putra. Tetapi sayang sekali   bahwa   Tulasi   meninggal  dunia  sesaat  seusai  persalinan.

Selanjutnya......

Pujalah Ibu Pertiwi

Oleh Nyoman Mider Adnyana

Jangan berpikir kita memuja berhala, tidak. Jangan berpikir kita memuja tanah, tidak. Siapakah yang tahu isi dari tanah itu? Kalau tidak ada yang tahu sama halnya dengan siapakah sebenarnya Tuhan itu? Juga tidak ada yang tahu. Satu contoh, manusia tidak tahu apa yang mereka tanam, lalu muncul buah. Siapa yang memberi buah?

Selanjutnya......

Penampilan Gentle Ditentukan Oleh Karakter Bukan Pakaian

Oleh I Wayan Miasa

Bali memang sudah tersohor ke seluruh dunia dengan berbagai keunikannya. Para pelancong, pendatang memuji Pulau Bali seperti mereka memuji gadis cantik. Puji-pujian itu mengalir dari zaman dahulu hingga sekarang dan hal tersebut sering membuat warga kita lupa untuk introspeksi diri. Mereka semakin bangga dengan pujian tersebut apalagi di zaman sekarang ini dimana taraf kehidupan semakin meningkat.

Selanjutnya......

Faktor-Faktor yang Memotivasi Umat Hindu Melakukan Sembah Bakti di Pura

Tulisan ini terinspirasi oleh tulisan Putu Setia (kini Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda) dalam majalah ADITYA  Nomor 13 September 1995.  Tulisan yang berjudul “ Umat Hindu Jarang Sembahyang“ tersebut adalah pertanyaan dari  Wayan S yang tinggal di  Menado yang menurut pengamatannya memang dibandingkan dengan  penganut agama yang lain, umat Hindu dinilainya paling jarang melakukan sembahyang.

Selanjutnya......

Wahyanti Bertekad Bangkitkan Umat Hindu di Jawa

Tidak banyak remaja sekarang yang mau hidup prihatin atau punya tekad kuat untuk maju, meskipun untuk itu seseorang harus hidup dengan penderitaan. Dari jumlah yang sedikit itu, ada satu nama yang patut dicatat. Dia adalah Wahyanti.

Selanjutnya......