Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Minggu, 24 September 2017

Aksara Dalam Kajang Sebagai Pengantar Sang Roh

 Praktik beritual di Bali tidak terlepas dari pengunaan simbol atau atribut yang dipandang sakral magis. Simbol dan atribut tersebut boleh dikatakan sebagai media untuk menghubungkan antara pemuja dengan yang dipuja. Jadi atribut upacara dalam bentuk apapun di Bali, terlebih atribut beritual dipandang sebagai sesuatu yang istimewa, dan memiliki kedekatan makna dengan teologis (perihal tentang Tuhan). Salah satu atribut yang menarik ditelisik adalah atribut dalam upacara ngaben, yakni Kajang.

Selanjutnya......

Rerajahan Penangkeb Rat Peranti Gaib Penunduk Suami

Penggunaan rerajahan (seni gambar) dalam masyarakat Bali, terutama dalam dunia keagamaan dan budaya sangatlah  sentral. Selain memiliki unsur seni, terdapat pula unsur mistik yang terkandung di dalamnya. Masyarakat Bali yang beragama Hindu menggunakannya dalam berbagai  ritual keagamaan, seperti rerajahan dalam fungsinya sebagai ulap-ulap, kajang, rurub caru atau pun aled caru dan lainnya.

Selanjutnya......

Sabtu, 23 September 2017

Ketum PHDI Pusat: Beryadnya Jangan dengan Berutang

Pada hari Minggu, tanggal 30 Juli 2017 lalu umat Hindu Desa Tlogotirto,  Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah berbondong-bondong menuju ke Pura Ananta Tirta Dharma untuk mengikuti kegiatan pembinaan umat yang dihadiri langsung dari Badan Pembinaan Umat (BPU) Semarang. Selain itu, dalam kesempatan tersebut hadir pula Pembimas Hindu Propinsi Jawa Tengah, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Propinsi Jawa tengah, Rektor IHDN Denpasar, dan Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya.

Selanjutnya......

Pentingnya Pendidikan Pranikah Hindu

 Dalam sebuah pernikahan kalian disatukan demi sebuah kebahagiaan dengan janji hati untuk saling membahagiakan. Bersamaku engkau akan hidup selamanya karena Tuhan pasti akan memberikan karunia sebagai pelindung dan saksi dalam pernikahan ini. Untuk itulah kalian dipersatukan dalam satu keluarga.
Rgveda X.85.36

Selanjutnya......

Sri Hanuman

Oleh Agung Raka
Sri Hanuman dikatakan sebagai inkarnasi Dewa Siwa. Dikisahkan bahwa Brihaspati, seorang guru para dewa memiliki seorang pelayan yang bernama Punjikasthala. Dia dikutuk sehingga memiliki tubuh seperti seekor monyet betina. Kutukan itu akan terhapus bila dia melahirkan inkarnasi Dewa Siwa. Kemudian ia terlahir sebagai Anjana dan menjalani kehidupan yang luhur dan suci.

Selanjutnya......

Warna Hitam tak Identik Dengan Duka

Oleh Ida Bagus Manuaba

Kegairahan umat Hindu untuk melakukan upacara yadnya baik di Bali maupun di luar Bali terutama di Jawa patut diacungkan jempol. Betapa tidak, pelaksanaan upacara baik mlaspas pura, odalan dan sebagainya berlangsung sangat antusias demikian juga dengan pelaksanaan tirta yatra. Ketika berlangsung acara mekiyis atau melasti atau melis di pura Kahyangan Jagad Tawang Alun, Pulau Merah, di desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran, saudara-saudara kita umat Kristen dan umat Islam, juga umat Budha dibuat terkagum-kagum dengan kegairahan umat Hindu sewaktu melaksanakan upacara mekiyis.

Selanjutnya......

Krishna yang Menarik Hati

Oleh Ketut Winaka
Nama Krishna harus diketahui maknanya dengan tepat. “Krish” + “Na” = “Krishna.” Kata ini berarti bahwa Ia yang menanam dan mengolah (Krish) kedalaman hati. “Krish” + “Na” adalah turunan kata yang memberi arti kata Krishna sebagai seorang yang menarik hati “Karshathi-ithi-Krishnah.” Krishna bukan saja menarik hati orang dengan keelokan badaniahNya yang tak tertandingi, namun Dia juga menarik hati orang lewat musikNya yang indah dan merdu, tarianNya dan pula tutur-kataNya. Sri Krishna yang menawan-hati dapat merubah amarah para Gopi terhadap diriNya, menjadi canda yang penuh suka-cita.

Selanjutnya......

Senin, 21 Agustus 2017

Rahasia Kekereb Bhuta Siu Antara Mistik, Gaib dan Sakti

Pangiwan atau sering disebut dengan “jalan kiri” diidentikan dengan hal-hal yang kiri atau kejahatan lawan dari kebaikan. Berbeda dengan “jalan kanan” yang diidentikan dengan kebaikan lawan dari kejahatan. 

Selanjutnya......

Minggu, 20 Agustus 2017

Dharma Tula Bersama Pandita Mpu Acharya Nanda di Pura Amrta Jati

Agama Hindu sebagai agama paling awal di muka bumi ini yang hadir ribuan tahun sebelum masehi dan dianut sampai dengan sekarang mengalami pemaknaan oleh penganutnya sesuai perkembangan zaman. Mulai dari zaman primitive sampai dengan zaman post modern. Dalam zaman primitif masyarakat memiliki budaya primitif yang ditandai oleh kepercayaan animisme, dinamisme, toteisme, dan lain-lain. Setelah itu masyarakat memasuki zaman pertanian.

Selanjutnya......

Niti Çastra Dapat Diterapkan Setiap Orang

Oleh I Gusti Ngurah Sudiana

Ilmu kepemimpinan identik dengan kata Nitisastra, kata Nitisastra berasal dari bahasa Sansekerta, dari kata niti dan çastra. Niti berarti kemudi, pimpinan, politik dan sosial etika, pertimbangan, kebijakan. Sedangkan kata Sastra berarti perintah ajaran, nasihat, aturan, teori, tulisan ilmiah. Berdasarkan uraian etimologi, kata niti çastra berarti ajaran peminpin.

Selanjutnya......

TARI SAKRAL YANG TIDAK (LAGI) SAKRAL

Oleh I Ketut Yasa


Tari Rejang, khususnya Rejang Dewa adalah tari sakral,  sebagaimana telah disinggung dalam Majalah Hindu Raditiya edesi 196 November 2013 dan edesi 206 September 2014. Tari sakral memiliki ciri-ciri tertentu. Pertama, ditarikan oleh orang tertentu. Kedua, ditarikan pada waktu dan tempat tertentu.

Selanjutnya......

Arjuna Yang Menjadi Kekasih Tuhan

Oleh Made Luh Sutarmi

Gemercik air di pematang sawah terdengar sebagai musik alam yang ritmis serta bersatu dengan bianglala sinar surya pagi di hamparan sawah yang tersisa berpadu dengan  jiwa syukur yang  kerap hadir tanpa diundang. “Ia spontan mengalir dan mengkristal, serta  menyatu   karena memiliki dirimu  yang selalu hadir dalam dekapan kasih sayang, jiwamu  yang indah, membuat hatiku damai, dan senyummu yang manis  hadir memberikan rasa  sejuk  membatin penuh asrat merindu dalam hati ini. Selamat pagi sayang, semoga damai selalu, I love you so much,” demikian sebagaian  kata kata-manis dalam hati menjadi obyek meditasi kerja bagi orang yang jatuh cinta. Cinta yang tertinggi adalah mencintai dan dicintai oleh Tuhan.

Selanjutnya......

Rasesvara Saivaisme: Virasaiva

Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda

ViraSaiva  didirikan oleh Sripati  dan memiliki makna historis yang menunjukkan sikap kepahlawanan dari para pengikutnya dalam mempertahankan keyakinannya. Vira berarti kegigihan, keperwiraan. Dalam Siddhanta Sikhamani terdapat suatu percakapan antara Renuka atu Revana dengan Agastya tentang arti kata Vira, yaitu: vi  artinya pengetahuan (vidya) yang menyatakan bahwa subyek pribadi jiwa identik dengan Saiva  dan para pengikut Saivaisme yang menemukan kepuasan dalam pengetahuan ini adalah ViraSaiva. Pengetahuan yang diperoleh seseorang dari belajar Vedanta yang ditunjukkan oleh kata vi dan vira adalah yang menemukan kedamian di dalam pikirannya.

Selanjutnya......

Minggu, 13 Agustus 2017

Nilai Religius Wilayah Hulu dalam Persefektif Hindu

Oleh  I Nyoman Tika

Konsepsi nilai Hindu terhadap lingkungan, pertiwi  disebut sebagai ibu, sedangkan langit adalah bapak.  Ayah dan Ibu nampak jelas bahwa konsepsi Hindu  sangat menjunjung nilai humanisme dan naturalisme. Humanisme merupakan jejak yang mengharkatkan tinggi pada manusia, sedangkan naturalisme mengapresiasi positif penghargaan pada alam. Atas dasar itu,  kedua dimensi itu menarik direnungi bahwa alam dan kemanusiaan memang saling berkaitan, dan keduanya bisa saling meniadakan.  Lalu manusia akan sadar, pada pernyataan bahwa  Apakah jika pohon terakhir akan ditebang, dan mata air terakhir berhenti mengalir, baru saat itulah manusia sadar bahwa uang tidak dapat dimakan dan diminum, sebuah ungkapan futuristik.

Selanjutnya......

Memaknai Shiwa – Budha dalam Kekawin Sutasoma

 Oleh I Made Dwija Nurjaya

Shiwa adalah prinsip kerja organ tubuh yang ada di kepala, berisi semua logika, rasio, cipta dan segala sesuatu yang masuk akal, dia rumit dan tegas, namun terstruktur dengan baik, berurutan sehingga mudah dimengerti walaupun memerlukan waktu yang cukup lama. Kepala atau sirah adalah tempat bersemayamnya pikiran dan menjadi alat bagi  manusia untuk berpikir. Proses berpikir menjadi sangat penting dalam kehidupan pribadi maupun berbangsa dan bernegara. Masyarakat mesti dididik agar memiliki pikiran yang Tajam dan Jernih. Ini bertolak belakang dengan pikiran yang tumpul dan kotor, kacau; karatan dan tidak jelas.

Selanjutnya......

Tajen: Antara Hukum dan Fakta di Masyarakat

 I Made Sudana, SH

Dalam Rg Weda dan Manawadharma Sastra secara jelas diuraikan ketentuan-ketentuan  yang mengatur larangan judi, tetapi melanggar hukum positif tidak diuraikan secara jelas bagaimana bunyi pasal 303 ayat (1) KUHP demikian pula pasal berapa dari Undang-undang No 7 tahun 1974 melarang judi dan bagaimana bunyinya dan hukum positif yang mana yang dilanggar. Kiranya perlu juga dijelaskan sebagaimana menjelaskan melanggar ajaran agama. Terutama bunyi pasal 303 KUHP, pasal-pasal yang mengatur larangan judi yang diuraikan dalam  Undang-undang No.7 tahun 1974.

Selanjutnya......

Ritual Keagamaan dalam Jaring Kapitalisme

 Oleh I Nyoman Agus Sudipta, S.Pd., M.Si

Perkembangan zaman sekarang yang serba instan membawa pengaruh terhadap pola kehidupan manusia. Segala hal ingin diatur secara cepat, singkat, simple, sederhana, irit dengan dasar efektif dan efisien. Dalam segala bidang hal ini diatur sedemikian rupa, mengingat pemikiran manusia bahwa waktu adalah uang. Perubahan ini sangat berbeda sekali dengan kehidupan masyarakat zaman dulu yang masih terpola pada kehidupan budaya agraris yang bergerak pada sektor pertanian. Dengan berkembangnya industri modern, maka mata pencaharian manusia mulai berubah.

Selanjutnya......

Jumat, 16 Juni 2017

Hebephrenia Politik Dalam Beragama

Oleh I Nyoman Tika
Saat ini konsepsi negara dan agama semakin sering diperbincangkan. Diskursus itu mendapat medium yang subur saat pilkada berlangsung. Seharus dengan sebuah  sesanti Bhinneka Tugal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah final, dan kita hanya membangun mengisi kemerdekaan  untuk mencerdaskan bangsa, mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain di dunia. Namun masyarakat kita khususnya elit politik masih menjual isu agama dalam perpolitikan negara, maka muncullah-meminjam konsepsi J.P Chaplin (1968) sebagai  karakter “hebephrenia politik“ suatu sifat yang tampak ketolol-tololan yang penuh halusinasi.

Selanjutnya......

Rasesvara Saivaisme: Pembebasan Dicapai Melalui Pengetahuan Nafas

Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda

Rasesvara Saivaisme adalah lebih bersifat ilmu pengetahuan, ketimbang suatu aliran filsafat. Ia tidak mengetangahkan suatu teori metafisika, etika dan efistimologi, tetapi tetap termasuk  dalam sistem filsafat.

Selanjutnya......

Agama dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika

Oleh I Nyoman Agus Sucipta

Manusia seolah-olah tersekat dan terkotak-kotak dalam ruang yang disebut agama. Lingkup agama menjadi sesuatu yang amat sensitif bagi pemeluknya. Bahkan isu agama mampu menghancurkan dan memecah-belah keharmonisan hidup manusia. Ditambah lagi isu tentang penistaan agama yang menimbulkan polemik berkepanjangan. Apalagi muncul fanatisme sempit terhadap keyakinan dan kepercayaan serta menganggap yang diyakini paling nomor satu. 

Selanjutnya......