Penerbit PT Pustaka Manikgeni

Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765

Selasa, 16 Juli 2013

Buku "Wartawan Jadi Pendeta: Sebuah Otobiografi" Mpu Jaya Prema masih tersedia di Raditya. Harga Rp 70.000 gratis ongkos kirim dan bonus tandatangan penulisnya.

Redaktur Senior Tempo, Putu Setia, Luncurkan Buku Otobiografi. Buku ini juga diluncurkan di Jakarta pada 24 Juni 2013 dan mendapat sambutan yang meriah. Buku ini adalah bentuk penulisan biografi dengan gaya sastra yang pertamakali di Indonesia, dengan kejujuran sebagai hal utama yang ditampilkan. Berbeda dengan biografi para tokoh lainnya yang isinya hanya memuji diri sendiri. Cover buku yang khas juga langsung menyiratkan hal itu. Pengantar buku ditulis khusus oleh budayawan terkenal Goenawan Mohamad.

TEMPO.CO, Denpasar - Redaktur Senior Majalah Tempo Putu Setia, yang kini telah ditahbiskan menjadi pendeta Hindu bernama Mpu Jaya Prema Ananda (lengkapnya Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda), menerbitkan buku otobiografi. Buku berjudul Wartawan Jadi Pendeta itu diluncurkan Sabtu, 1 Juni 2013, di Warung Tresni, Denpasar dan dilanjutkan di Jakarta pada 24 Juni 2013.

Hadir pada acara peluncuran di Bali, Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan sejumlah pers. "Saya sudah melihat bukunya, dan buku ini wajib untuk dibaca," kata Pastika. Ia mengaku sudah mengenal Putu Setia dan pemikirannya sejak lama, khususnya melalui buku Bali Menggugat. "Cara berpikirnya selalu kritis dan mencerahkan," ujarnya. Menurut dia, Bali membutuhkan lebih banyak pemikiran semacam itu demi masa depan.

Salah satu masalah yang perlu, sebut Pastika, misalnya mengenai terlalu banyaknya upacara ritual di Bali, sementara perhatian pada dunia pendidikan masih sangat kurang. Tak heran, kata Pastika, orang Bali dan Hindu cenderung mengalami ketertinggalan dalam kualitas pendidikan. Diperlukan cara berpikir yang bisa menyeimbangkan antara dua hal tersebut.

Sementara itu, Mpu Jaya Prema mengungkapkan, inspirasi untuk menulis buku itu awalnya muncul ketika ia dirawat di rumah sakit. "Pertamanya, saya ingin menulis untuk diwariskan kepada keluarga saja," ujarnya. Namun, dalam perkembangan, banyak orang yang berkomentar bahwa materi dalam buku itu sangat menarik untuk dibaca oleh orang lain. Sebab, selain mengungkap kehidupan pribadi penulisnya, juga berisi perkembangan sosial, politik, dan budaya di Bali.

Buku ini juga ditulis layaknya karya sastra, tetapi dengan didasarkan atas fakta-fakta yang dialami oleh Putu Setia. Secara keseluruhan, buku dipilah dalam 14 bab. Dimulai dari prolog yang menceritakan kembali suasana saat penahbisan Putu Setia sebagai Ida Bhawasti (calon pendeta). Bab demi bab kemudian mengisahkan kehidupan Putu Setia sejak kecil, masa berkarier sebagai wartawan, hingga pulang kembali ke Bali untuk mempersiapkan diri menjadi pendeta.

Adapun alasan utama menjadi pendeta terutama adalah perasaan berutang kepada leluhurnya. "Sebab, kakek dan ayah saya menolak untuk menjadi pemangku atau pengurus pura," ujarnya. Dari penolakan itu kemudian diyakini adanya kutukan kepada keluarga besar yang menyebabkan keluarganya akan tetap dalam kemiskinan.

Karena itu, ketika usianya telah mencapai 50 tahun, Setia menyatakan keinginannya kepada seorang pedanda untuk menjadi pemangku. Namun, oleh pedanda itu, Setia malah dianjurkan menjadi seorang pendeta. "Dengan dukungan keluarga, akhirnya saya belajar ke sejumlah pendeta untuk dapat memenuhi semua syaratnya," ujarnya. Jauh hari sebelumnya, Setia mengaku sudah banyak mempelajari ajaran agama Hindu, apalagi setelah menjadi Ketua Forum Cendekiawan Hindu Indonesia (FCHI) pada tahun 1980-an.

Selain di Denpasar, buku ini di-launching di Jakarta dan Yogyakarta dengan mengambil tema yang berbeda-beda. "Ada yang melihat dari sisi keragaman budaya, tapi ada juga yang khusus menyoroti sisi politiknya," katanya. Namun ada juga yang menghadirkan diskusi membahas buku ini sebagai sebuah teknik penulisan otobiografi layaknya karya sastra.

ROFIQI HASAN

Selanjutnya......

Selasa, 18 Juni 2013

“TUMPEK KANDANG” REVITALISASI MENUJU SIFAT DAIVISAMPAT

I Gede Wiratmaja Karang

Tumpek berasal dari kata Tampek yang artinya dekat. Tumpek merupakan salah satu hari suci umat Hindu berdasarkan pertemuan pancawara dengan saptawara. Tumpek bagi umat Hindu merupakan hari suci untuk memuliakan manifestasi Hyang Widhi. Sedangkan Wuku Uye adalah urutan Wuku yang ke 22 dari 30 wuku yang ada menurut sistem kalender umat Hindu di Bali. Dalam sistem kalender Jawa wuku ini dikenal dengan dengan nama Wuye untuk memuliakan Batara Kuwera. Beberapa rahinan tumpek di Bali berdasarkan Wariga Dewasa, adalah Tumpek Landep untuk memuliakan Batara Mahadewa biasanya melaksanakan upacara pada sarwa lalandep. Tumpek Wariga atau Tumpek Bubuh untuk Batara Asmara melaksanakan upacara pada sarwa tumuwuh atau pohon-pohonan. Tumpek Kuningan untuk Batara Indra melaksanakan upacara pada Hyang Leluhur. Tumpek Krulut untuk memuliakan Batara Wisnu melaksanakan upacara pada yang berkaitan dengan seni. Tumpek Uye atau Tumpek Kandang melaksanakan upacara pada Hewan dan binatang peliharaan. Sedangkan Tumpek Wayang atau Tumpek Ringgit untuk memuliakan Batara Sri melaksanakan upacara pada yang berkaitan dengan seni suara.

Tumpek Uye disebut juga hari Tumpek Kandang bertepatan dengan dina Saniscara atau hari Sabtu, bertemu dengan Panca Wara Kliwon, dan Wuku Uye. Kalau digabung masing-masing urip adalah, Saniscara urip 9, Kliwon urip 8, Uye urip 8. Dari ketiga ini dijumlahkan sehingga hasilnya 25, bila 2 dan 5 di jumlahkan maka hasilnya 7, yang bermakna sapta Timira. Sapta Timira adalah tujuh sifat manusia yang menyebabkan kegelapan atau manusia menjadi lupa akan dirinya juga disebut tujuh yang menyebabkan manusia mabuk, selain mabuk karena alkohol atau obat-obatan terlarang. Ke tujuh bagian sapta timira adalah, (1) Surupa berarti rupa tampan, ganteng, cantik, (2) Dana berarti kekayaan, (3) Guna berarti kepandaian, (4) Kulina berarti keturunan, kedudukan, jabatan, (5) Yuwana berarti keremajaan, (6) Sura berarti keberanian, dan (7) Kasuran yang berarti kemenangan. Ketujuh hal tersebut sering menyebabkan orang menjadi sombong, angkuh, congkak, bangga luar biasa, mabuk, lupa daratan. Itulah musuh-musuh manusia yang amat berbahaya dan dapat membuat orang tidak memiliki susila.

Sapta Timira dalam Tri Guna masuk pada guna rajas dan tamas. Tri Guna adalah tiga unsur dasar dari sifat manusia, yang terdiri dari (1) Satwam adalah sifat damai, (2) Rajas adalah sifat ambisi, (3) Tamas adalah sifat malas. Sifat rajah dan tamas merupakan watak binatang atau Sato oleh sebab itulah pada Tumpek Kandang atau Tumpek Uye, hewan atau binatang peliharaan di upacarai agar manusia tidak terpengaruh oleh sifat-sifat binatang dimaksud. Dalam kitab Wrhaspati Tattwa ada disebutkan bahwa :

“Yapwan tamah magong ring citta, ya hetuning Atma matemahan triak, ya ta dadi ikang dharmasadhana denya, an pangdadi ta ya janggama” (Wrhaspati tattwa,24). Artinya: Apabila tamah yang besar pada citta, itulah yang menyebabkan Atma menjadi binatang, ia tidak dapat melaksanakan dharma olehnya, yang menyebabkan menjadi tumbuh-tumbuhan.

Memperhatikanpetikan sloka tersebut di atas maka jelaslah yang menyebabkan adanya perbedaan kelahiran itu adalah triguna. Karma lahir dari triguna, dan dari karma muncul suka dan duka. Kendalikanlah guna rajas dan tamas ke arah satwam, bila tamas membesar akan menyebabkan Atma menjelma menjadi binatang. Menjelma menjadi binatang menyebabkan Atma masuk pada kegelapan yang disebabkan oleh kegelapan sebelumnya. Empu Yogiswara sebagai pengarang Kakawin Ramayana, sekitar tahun 825 Çaka atau 903 Masehi, yaitu masa pemerintahan Dyah Balitung tahun 820-832 Çaka atau 898 – 910 Masehi. Kakawin Ramayana intinya menyisipkan ajaran yang dapat dijadikan pedoman di dalam kehidupan. Salah satu kutipan yang ada kaitanya dengan kegelapan pikiran manusia adalah, sargah 24 sloka 83, yaitu: Guha petang tang mada moho kasmala, Maladi yolanya magong mahawisa, Wisata sang wruh rikanang jurang kali, Kalinganing sastra suluhnikapraba. Artinya: Bahwa diri kita ibaratnya seperti sebuah gua yang gelap, tempatnya kecongkakan, kekalutan pikiran dan keangkuhan perilaku ; segala keburukan itu ibaratnya seekor ular besar berbisa dasyat; bila orang itu dapat memahami hal itu akan tetap merasa tenang kendatipun berada dalam lembah penderitaan; karena sastra pulalah merupakan pedoman sebagai sesuluh menerangi hidup ini.

Kegelapan pikiran yang dipengaruhi Sapta Timira ibarat manusia memasuki goa yang gelap gulita, tanpa arah tujuan karena memang tidak ada kesadaran diri akan kegelapan tersebut. Pada keadaan kebingungan inilah ilmu pengetahuan yang menjadi petunjuk dan penerang. Kembali pada jalan Hyang Widhi dengan mempelajarai ilmu pengetahuan sejati itulah jalan utama. Memang sungguh susah menjalankan ajaran agama tetapi jalan tersebut pasti jalan yang benar.

Tumpek Kandang atau Tumpek Uye, juga merupakan persandia dari kata Tumpek, Kanda dan Ang. Tumpek berarti dekat, Kanda berarti teman, tutur atau cerita, dan Ang adalah simbol dari Bapa Akasa, atau Siwa dalam perwujudan Agora yang juga disebut Wisnu dengan warna Hitam, yaitu kekuatan Hyang Widhi yang menguasai arah utara. Sedangkan pada tubuh manusia aksara Ang berada pada empedu. Maksud dari Tumpek Kandang adalah menceritakan sesuatu tentang Hyang Widhi dalam aksara suci Ang agar semakin dekat dengan beliau.

Dalam Pustaka Bhagawata Purana VII.5.23, dinyatakan ada sembilan cara memuja Tuhan yang disebut Navavida Bhakti. Navavida Bhakti, yaitu: Sravanam kirtanam visnah, Smaranam pada sevanam, Archanam vandanam dasyam, Sakhyam atmanivedanam. Pada bagian pertama ada disebutkan tentang Sravanam yang artinya menceritakan hal-hal tentang kesucian atau kedewataan. Untuk lebih jelasnya akan di uraikan sedikit tentang Nawa Wida Bhakti, yaitu: (1) Sravanam, artinya mendengarkan ajaran atau cerita suci kerohanian. Dalam Bg. XVIII. 70-71 sudah disebutkan yaitu yang mempelajari percakapan suci ini, walaupun hanya sekedar mendengar, akan mencapai kebahagiaan lahir bhatin. (2) Kirtanam, artinya menyanyikan atau melantunkan kidung suci yang sarat dengan nama-nama Hyang Widhi. (3) Smaranam, artinya selalu mengingat nama Hyang Widhi. Jika dikaji secara mendalam Smaranam merupakan ajaran suci yang wajib untuk umat beragama. (4) Arcanam, artinya wujud bhakti dengan memuja Arca. Umat Hindu mewujudkan dengan berbagai bentuk pratima sebagai media penghubung dan penghayatan kepada Hyang Widhi. Umat Hindu yakin bahwa Hyang Widhi itu bersifat nirguna, dan acintya rupa. Untuk menguatkan keyakinan akan adanya Hyang Widhi, Umat Hindu boleh memakai jalan memuja-Nya dengan mewujudkan beliau ataupun manifestasi beliau dengan Arca, dengan dasar sujud bhakti yang mendalam. (5) Vandanam, adalah berbhakti dengan jalan membaca cerita suci, membaca sloka, membaca mantram kitab suci Veda dengan penuh keikhlasan yang bertujuan untuk mendapatkan rasio yang lebih dalam menghayati kesucian agama. (6) Dasyam, artinya mengabdi atau melayani Hyang Widhi dengan rasa tulus ikhlas. Dalam prakteknya diwujudkan ke dalam bentuk ngayah di pura atau gotong royong. Karena ngayah dalam bentuk perbuatan nyata merupakan perwujudan bhakti kepada Brahman. (7) Padasevanam berasal dari kata pada yang artinya kaki dan sewa artinya melayani, sedangkan nam artinya memuja. Padasevanam dimaksudkan berbhakti kehadapan Hyang Widhi dengan tanpa pamrih. (8) Sakhyanam berasal dari kata sakha yang artinya sahabat. Jadi sakhyanam adalah berbhakti kehadapan Hyang Widhi seperti hubungan sahabat dekat. Bhakti ini dapat dilakukan oleh orang yang atmannya telah mengusai budhi, manah, dan indria. (9) Atmanivadanam artinya pemujaan yang dilakukan dengan penyerahan diri sepenuhnya kehadapan Hyang Widhi. Hidupnya sepenuhnya diserahkan kepada Brahman dengan selalu berpegang teguh pada keberadaan dan kemahakuasaan-Nya, melalui semua ajaran-Nya yang diturunkan dalam kitab suci Veda.

Tumpek Kandang merupakan aplikasi dari cara umat manusia bersyukur terhadap Hyang Widhi. Karena dunia ini adalah ciptaan Hyang Widhi, maka umat wajib untuk selalu bersyukur dan bhakti kepada-Nya. Bila semua ini dilaksanakan dengan tulus ikhlas niscaya kehidupannya yang dijalani akan terasa indah dan tanpa beban. Dengan rasa tulus iklas, lascarya dan senang terus menerus setiap saat memuja keagungan dan kemurahan Hyang Widhi. Wujudkan Hyang Widhi pada setiap kegiatan keseharian. Karena dengan mempersembahkan semua kegiatan ini pada Hyang Widhi uamat tidak ada rasa terbebani. Penerapan jalan Navavida Bhakti ini bisa menjadi proses penyatuan atau proses kembalinya kita ke asal semula yaitu Parama Atman.

Rasa lascarya yang mendalam inilah yang akan menjadikan pengendali hidup manusia yang utama. Keinginan untuk pengendali hidup yang paling utama di dunia. Keinginan untuk membangun rasa ketuhanan adalah keinginan yang paling mulia. Salah satu caranya adalah berbhakti kepada Hyang Widhi, melalui pengabdian pada sesama ciptaan karena dengan demikian akan dapat membangun rasa ketuhanan yang mendalam. Manawa Seva dan Mendawa Seva mengabdi kepada Hyang Widhi sangat identik dengan mengabdi kepada sesama ciptaan termasuk pada binatang sekalipun. Jadi Tumpek Kandang adalah kalimat yang memiliki makna di balik makna, memiliki makna di balik yang tersurat dan tersirat. Menceritakan tentang Ang (Bapa Akasa, Purusha) adalah menceritakan Hyang Widhi. Menceritakan, mendengarkan, melayani, memuja, menyimbolkan dan lain sebagainya tentang Hyang Widhi adalah salah satu cara untuk memuja-Nya. Itulah makna dibalik kalimat Tumpek Kandang sebagai salah satu cara untuk merevitalisasi sifat asurisampat menjadi sifat daivisampat.

Selanjutnya......

Suaka Marga Satwa Model Hindu

I Nyoman Tika

Konsepsi kehinduan untuk hubungan antara binatang dan manusia, serta alam sekitarnya kerap hadir dalam bentuk ekosistem spiritual, yang kemudian dimaknai sebagai bentuk yang abstrak “Tri Hita karana”, Konsep ini hadir dan bergemuruh dalam tataran kehidupan umat Hindu. Harmonisasi dengan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan Lingkungan dan manusia dengan manusia. Yang dilandasi sesanti “Sarwa Brahma Mayam, Tatwam asi , sarwa prani hitangkarah” semua itu sebagai pegangan bagi umat Hindu, untuk selalu have to game in one’s hands’ (yakin berhasil) dalam mengarungi samudera kehidupan ini.

Bisa dimaklumi bahwa, hubungan yang paling dekat antara manusia dengan Lingkungan adalah tahap awal interaksi itu. Lingkungan mendapat satu sisi harmoni dengan unsur pendukungnya, yaitu tumbuhan, hewan dan panca mahabuta (pertiwi, bayu, teja, apah/air, akasa). Ketiganya dimaknai sebagai jaring-jaring energi dalam bentuk yadnya yang memberikan tenaga untuk kehidupan yang lebih baik bagi komunitas manusia. Di koridor jejaring kehidupan dan harmonisai untuk hewan itu, umat Hindu, tradisi Hindu menyodorkan formulasi Tumpek Kandang/Uye. Pengormatan pada kekuatan roh yang menghidupi hewan, karena itu merupakan keagungan Hyang Widhi. Sarwabhutam Kauntenya, prakritim yanti mamikam,-Semua mahluk hidup datang dari pakerti-Ku (Gita, IX.7).

Dalam bingkai itu, hubungan antara manusia dan binatang paling tidak dapat diekstrak beberapa aspek, antara lain, (1) hubungan manusia dan binatang adalah hubungan yang menguntungkan manusia. Manusia di sudut itu dapat disebut sebagai mutualisme, (2) manusia dapat mempelajari bahwa sifat-sifat binatang jauh lebih unggul untuk kasus tertentu dibandingkan dengan sosok manusia, (3) atas keanekaragaman itu, manusia dapat lebih bersujud dan patuh ke Esaan Hyang Widhi, sebab semua makhluk bersumber dari Nya. Oleh karena itu berikut ada tiga ulasan pemaknaan itu.

Pertama, hubungan manusia dan binatang dianggap sebagai wujud harmoni dalam pelaksaaan yadnya. Manusia melakukan pelayanan dengan proses domestikasi hewan liar menjadi hewan peliharaan, agar mudah dimanfaatkan untuk manusia. Sesungguhnya adalah untuk beryadnya, sisa dari yadnya adalah untuk keperluan diri manusia. Itulah makna sederhana yang selalu muncul dalam kebanyakan aktivitas ritual agama Hindu. Korban suci untuk buta yadnya, misanya, dilakukan penangkaran dan proses domestikasi yang sepenuhnya belum dihayati dengan nafas yadnya, sehingga banyak yadnya membutuhkan hewan-hewan yang unik dan kerap langka. Tujuan sejatinya adalah ada pada aspek pelestarian, dan budidaya, bukan pada aspek penggunaan semata. Kesan muncul konsepsi bahwa yadnya, tawur dan mecaru prosesi yang ikut memusnahkan, namun alpa pada aspek pelestarian semakin menguat. Di dimensi itu, maka pelestarian lebih dahulu dilakukan untuk tujuan yadnya. Di bingkai inilah kerap dilupakan orang, selama ini. Orang memburu penyu, kidang, buron tukang, badak, untuk bahan upacara, namun alpa untuk ikut melestarikannya.

Ketika ada aspek pelestarian, maka upacara akan bersifat Sattwanurupa, dan sangat bermanfaat bagi pertumbuhan karakter manusia. Setiap yadnya yang dilakukan harus memunculkan unsur pelestarian muncul dari semua unsur pelaksana upacara yadnya, mulai dari pemimpin sampai ke tingkat bawah. Sraddha bhawati otomatis akan bergelora dalam relung hati, sehingga membuncahkan keyakinan umat beragama, sehingga yadnya yang dihaturkan bersifat satwika, maka akan berakibat pada Yajante sattwika dewan, pemujaan dengan yadnya satwika akan mencapai Hyang Widhi. Inilah unsur pelestarian yang saya sebut “Marga Satwa Model Hindu,” yaitu proses domestikasi/budidaya untuk yadnya.

Berbeda dengan model pelestarian selama ini yang didengungkan oleh pemerintah, memang kerap terkikis sedikit-demi sedikit, karena belum diangun dengan semangat yadnya. Namun kental unsur proyeknya, seperti kawasan cagar alam, suaka marga satwa, yang terus menerus dicaplok oleh manusia, karena alasan ekonomi.
Umat Hindu belum sepenuhnya mengambil peran untuk ikut mempromosikan konsep ini, kita bisa mengusulkan untuk penghormatan kepada Hyang widhi, untuk kebun binatang, saat tumpek Uye ini.

Di terminal itu, kita dapat mencontoh monument yang dibuat oleh leluhur Hindu dengan pelestariannya dengan membuat pura di setiap lokasi tertentu. Misal Pura Pulaki, Sangeh, Alas kedaton dan lain-lain. Dalam pura itu ada kera, yang jumlahnya cukup banyak, tetap terjaga karena mereka sudah dikonotasikan milik bhatara, duwe, ancangan, dan lain sebagainya, dengan label-label itu manusia dapat mengerem diri untuk memangsa kera, dan binatang lainnya, sehaingga tetap lestari. Namun tindakan itu belum sepenuhnya ikut membantu melestarikan, karena sumbangan umat Hindu bukan tidak memangsanya, namun harus juga merawatnya. Bagaimana caranya? Kita melihat kera-kera yang sangat liar dan juga ganas, karna mereka lapar perlu makanan. Oleh karena itu kera-kera ini perlu diberikan makanan terlebih dahulu. Caranya adalah dengan memberikan dana punia. Panitia pura harus menyiapkan kotak khusus untuk dana punia itu, sehingga ada digunakan untuk membeli makanan kera, seperti ketela, jagung, dan lain-lain. Sebelum sembahyang. Pagi hari kera-kera ini diberikan makanan terlebih dahulu, sehingga tidak mengganggu para pemedek yang akan sembahyang. Hal yang sama saya juga pernah saya dengar ketika di Pura Alas Kedaton, kera-kera diberi berkarung-karung ketela rambat sehingga di tidak menganggu petani sekitarnya. Inilah bentuk lain dari kepedulian kita memandang Tumpek Uye, sebagi inisiasi untuk melakukan kegiatan “harmonisasi lingkungan.”

Kedua, hewan dan manusia, relasinya selalu dikaitkan dengan karakter unik dari binatang yang alami dapat ditiru manusia. Selama ini, manusia menganggap dirinya super man atas hewan/binatang. Hal ini didasarkan bahwa manusia memiliki kemampuan kodrati yang lebih tinggi, yaitu bayu sabda, hidep, sedangkan hewan disebut sebagai memiliki bayu dan sabda. Manusia sejatinya piranti alat pikir yang tinggi dianugerahkan oleh Tuhan pada diri manusia. Namun kerap manusia terjerumus bahwa sifat-sifat binatang muncul dalam diri manusia dan malah lebih. Sifat-sifat binatang menjelma lebih hebat dari pada sifat–sifat alami binatang, sehingga manusia disebut sebagai Homo homini lupus, manusia memangsa spesiesnya melebihi binatang manapun di dunia ini.

Ketiga, nilai-nilai bijak bisa kita pelajari oleh seekor binatang. Contoh anjing. Saya memiliki seekor anjing dari ras kintamani. Ketika kami pindah ke rumah yang baru, anjing itu tidak diajak ikut, kami pergi sendiri sendiri tanpa memberitahunya. Setelah beberapa lama, dia dipelihari oleh orang-orang yang menghuni tempat kos kami itu. Anjing itu pun setia kepada tuan yang baru. Hampir setahun, setelah itu, anjing itu ketemu saya di jalan, ternyata dia berusaha mencari saya, dan datang ke rumah saya yang baru. Anjing itu sangat senang dan gembira, kami kasi makan dan seterusnya. Saya bebaskan dan tidak mengikatnya untuk tinggal bersama kita atau dengan tuan yang baru. Anjing itu selalu datang dengan adil, beberapa hari jaga di rumah saya, dan beberapa kali datang di rumah kost kami dulu. Dia bisa membagi diri, sebuah bentuk kesetiaan yang luar biasa ditunjukkan oleh anjing.

Berbeda dengan manusia, manusia bisa tidak setia, walaupun kita kasi makan dan pelihara dengan kasih, lalu ketika kita salah, manusia yang kita pelihara tidak segan-segan mengkhianati kita. Inilah manusia, dia berproses karena pikirannya. Dalam hidupnya, manusia berevolusi dari pasutwam, denawathwam, manusatwam dan pasupatitwam. Yakni dari sifat binatang, ke sifat raksasa, sifat manusia, terakhir ke sifat dewa. Dalam konsep itulah, yang perlu diubah adalah pikiran lewat ajaran jnana. Sebab pikiran merupakan titik pusat bagi roda kehidupan, suatu titik sumber dari segala kegiatan duniawi. Agar dapat menembus titik pusat ini dan memperoleh penampakan atma atau diri yang abadi. Semoga pikiran baik datang dari segala arah. Om nama Siwaya.

Selanjutnya......

Tumpek Kandang Transformasi Spirit Asuri Menuju Daiwi Sampat

I Ketut Sandika

Berenang pada samudra Hinduisme adalah kebahagiaan yang terdalam, sebab banyak jalan yang disuguhkan dalam rangka manusia menghubungkan diri dengan Tuhan. Bagaikan aliran sungai yang banyak, namun pada akhirnya lebur ke dalam satu samudra yang luas, demikian juga sama halnya seperti banyak jalan untuk menuju puncak yang satu. Pemahaman inilah menempatkan, bahwa Hinduisme merupakan agama yang selalu memperlihatkan elastisitas universalnya dalam setiap kondisi. Demikian pula, Hinduisme adalah agama yang tidak bersandar pada dogma-dogma yang kaku, lebih-lebih menyatakan sesat bagi penganutnya yang beragam. Justru dalam Hinduisme keragaman adalah memunculkan keindahan, dan keragaman berawal dari kecendrungan tipe pemikiran manusia yang berbeda.

Atas dasar itulah dalam Hindu kita akan menemukan keragaman metode dalam manusia mendekatkan diri dengan Tuhan. Terlebih umat Hindu di Bali memiliki berbagai cara untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, dan hal itu dapat dilihat dari banyaknya hari suci dan ritual yang dapat dimaknai sebagai rambu-rambu penyadaran diri. Banyaknya hari suci, ritual yajna hendaknya jangan dipahami beragama Hindu itu ruwet, mahal dan sejenisnya. Demikian banyaknya hari suci dan ritual sesungguhnya dapat dimaknai tattwanya sebagai media untuk umat Hindu dapat menumbuhkan kesadaran rohani dalam diri. Demikian juga sebagai media untuk kita selalu mawas diri akan tarikan maya di jaman Kali yang demikian hebatnya. Dua ribu satu macam cara maya untuk kita melupakan asas kesejatian kita yang sejati. Oleh karena itu, hari suci dan banyaknya ritual yajna menjadi sangat penting sebagai momentum untuk kita senantiasa eling akan kesejatian diri yang sejati.

Hari suci Tumpek Kandang misalnya, jatuh setiap hari Sabtu Kliwon Wuku Uye menurut perhitungan kalender Bali-Jawa. Hari ini datang setiap enam bulan (210 hari) sekali. Pada hari ini umat Hindu membuat upacara memuja keagungan Siva atau Pasupati sebagai salah satu aspek Tuhan yang memelihara semua mahluk di alam semesta. Pada hari suci Tumpek Kandang, seperti biasa umat Hindu menghaturkan sesaji kepada Dewa Pasupati, seraya memohon agar sarwa sato atau hewan peliharaan atau ternak dapat hidup dengan baik. Bagi yang tidak tahu Hindu, atau yang mengaku Hindu tetapi sebenarnya tidak mengetahui, nampak ritual hari suci Tumpek Kandang terkesan ritual gugon tuwon, gama tuwut, primitif dan berbalut berhalaisme buta, sebab hewan dipuja dibuatkan upacara dan yang lainnya.

Mencermati hari suci Tumpek Kandang di mana umat Hindu mempersembahkan ritual sesungguhnya mengandung beragam makna yang dapat ditafsirkan. Melihat dari sarana (material) ritual yang digunakan pada hari suci Tumpek Kandang sejatinya adalah media dalam mengingatkan kita akan Tuhan yang berada di balik alam material ini. Tuhan sebagai sari yang halus menyusupi segalanya (Chandogya-Upanisad, VI.8.7), semua yang bergerak dan tidak bergerak terbungkus oleh Tuhan (Isa Upanisad,1), Tuhan berada pada segalanya bagaikan api yang berada dalam kayu bakar (Sathapata Brahmana), demikian juga Tuhan meresap pada segalanya bagaikan minyak yang berada dalam santan (Siwa Tattwa). Jadi, penggunaan sarana material ritual secara fundamental untuk menumbuhkan kesadaran akan Tuhan yang berada pada segalanya, di samping untuk membangkitkan bhava kesucian dalam diri. Penggunaan sarana ritual tidaklah pula sebagai upaya menyogok Tuhan, akan tetapi sebagai pengungkapan rasa syukur akan karunia yang telah diberikan. Vedanta berpandangan Tuhan adalah segalanya dan Tuhan pemilik segalanya, maka apalagi yang dapat kita persembahkan selain rasa syukur melalui ritual.

Hari suci Tumpek Kandang sendiri, tidak semata-mata kita hanya mempersembahkan ritual yajna kepada para dewa Pasupati. Namun penting juga memahami dari sudut trancendent, bahwasannya hari Tumpek Kandang merupakan hari di mana kita hendaknya mempersembahkan sifat hewani kita kepada Tuhan, sehingga sifat kedewataan muncul dalam diri. Dalam diri manusia dua sifat, yakni Asuri (keraksasaan, hewani) dan Suri (daiwi, kedewataan) tidak dapat dipisahkan eksistensinya. Jaman dahulu para Dewa dan Asura memiliki tempat tinggal yang berjauhan, dan mereka saling bertempur untuk mengukuhkan supremasi masing-masing. Selanjutnya pada jaman Rama, Rahwana yang mewakili kaum atau sifat Asura berada di sebarang lautan. Kemudian pada jaman Krishna, Kamsa yang mewakili sifat Asura berada dekat dalam keluarga Sri Krishna, dan Kamsa yang tiada lain pamannya Krishna. Sedangkan jaman Kali ini Asura tidak lagi berada jauh di sebarang lautan, atau dalam keluarga, akan tetapi Asura berada dekat, yakni dalam diri. Jadi, musuh itu sebenarnya tidak jauh dari diri kita, tetapi musuh ada dalam diri (Kekawin Ramayan, I.3).

Oleh sebab itu, visi dan misi utama terlahir menjadi manusia adalah menyadari akan musuh yang berada di dalam diri, dan berusaha mengatasinya, sebab musuh ini tidak akan dapat dibunuh dengan senapan, bom dan sejenisnya. Justru, musuh ini akan dapat menghancurkan kita dan membakar diri kita dengan mudah bagaikan tumpukan jerami yang terbakar oleh api.

Hari suci Tumpek Kandang inilah dapat dijadikan momentum untuk manusia dapat membangkitkan kesadaran akan bahaya yang ditimbulkan oleh sifat Asuri, dan berusaha mengeliminir sifat hewani (Asuri) dalam diri, sehingga sifat Suri (Dewata) dapat muncul dalam diri. Seringnya sifat Suri atau Daiwi memancar dari dalam, maka hati akan selalu memantulkan energi cinta kasih murni, dan sifat hewani atau Asuri akan dapat diatasi. Musuh tersebut hanya dapat dihancurkan dengan senjata cinta kasih murni, demikian juga tidak ada yang tidak dapat ditundukkan di dunia oleh kemauan yang diilhami oleh kasih murni. Mempersembahkan sifat hewani (Asuri ) pada kaki padma Tuhan adalah yajna yang utama, dan dapat dimunculkan pada saat hari suci Tumpek Kandang, sehingga energi cinta kasih universal dapat tumbuh dalam diri, sehingga dapat menginspirasi manusia untuk dapat harmoni dalam cinta kasih. Cinta kasih tidak dalam artian sempit yang identik dengan cemburu, marah, curiga dan sejenisnya, akan tetapi mengutip pernyataan Rsi Narada dalam Narada Bhakti Sutra, cinta kasih murni adalah cinta yang tidak bersyarat dan tidak terbatas.

Sifat Asuri tidak dapat kita melakukan penafikan atas keberadaanya dalam diri, dan sifat ini sangat kuat mencengkram, sehingga Yang Sejati lupa akan keberadaannya. Akan tetapi sifat Daivi Sampat adalah anugrah Tuhan sebagai alat yang seharusnya digunakan untuk mengatasi sifat keraksasaan (Asuri). Adalah kebodohan jika selamanya manusia dikendalikan oleh sifat Asura yang akan berimplikasi pada penderitaan. Sisi spiritual yang dimunculkan melalui perayaan hari suci Tumpek Kandang inilah hendaknya dimunculkan kembali, agar trasformasi spirit Asuri menuju Daivi dapat terwujud. Demikian juga, sudah seharusnya umat Hindu dapat menumbuhkan semangat untuk memaknai setiap event suci, agar umat Hindu tidak selalu berada pada zona nyaman dan kesenangan akibat dari pengaruh sifat Asuri. Tolong diingat dan direnungkan, Vedanta telah memberitahukan bahwa jalan kesenangan (preya) tidak akan membawa manusia pada akhir, sebab kesenangan hanya semu dan tidak abadi.

Selanjutnya......

Tumpek Kandang, Antara Konsep dan Realitas

Nararya Narottama

Alam semesta dan semua isinya merupakan perwujudan Ida Sang Hyang Widhi. Umat Hindu secara turun temurun sudah diajarkan nilai-nilai untuk menjaga keharmonisan dan keselarasan lingkungan serta alam semesta, antara lain dinyatakan dalam bait Puja Tri Sandya: Sarvaprani hitankarah (hendaknya semua makhluk hidup sejahtera), yang mendoakan kesejahteraan dan keseimbangan jagat raya dan semua isinya.

Namun dalam beberapa dekade terakhir, isu-isu lingkungan selalu menjadi pembicaraan hangat di seluruh dunia, sepert isu pemanasan global (global warming) yang berakibat pada perubahan iklim (climate change), kepunahan berbagai spesies flora dan fauna, penebangan hutan ilegal, pencemaran wilayah perairan, kerusakan ozon dan polusi udara. Pada tahun 2006, PBB mengeluarkan laporan berjudul Livestock’s Long Shadow, dilanjutkan pada tahun 2008 dengan judul laporan Kick the Habit, pada kedua laporan itu tersaji fakta perusakan lingkungan besar-besaran yang dilakukan oleh industri peternakan di dunia.

Dalam berbagai penelitian, diperkirakan kegiatan peternakan skala besar untuk konsumsi manusia berpotensi sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca yang melebihi emisi kendaraan bermotor di dunia, setidaknya mencapai 51 persen. Hal ini diperburuk dengan pola hujan yang tidak menentu, menyebabkan sistem persediaan air (water supply) terganggu. Semua permasalahan tersebut berdampak langsung bagi manusia di bumi.

Pada tataran individu, kesehatan manusia semakin terancam dengan meluasnya penyakit berbahaya. Kita merasakan bahwa cuaca semakin panas, terutama di perkotaan. Obesitas dan kelaparan, serta perpindahan penyakit dari hewan ke manusia menjadi isu hangat dalam dua dekade belakangan. Lebih dari 65 persen penyakit menular manusia diketahui ditularkan melalui hewan, antara lain flu burung dan flu babi. Perubahan iklim merupakan fenomena global yang disebabkan oleh kegiatan manusia. Dampaknya pun bersifat global, sehingga memerlukan penanganan yang holistik dan menjadi tanggung jawab bersama.

Periode 1940 hingga sekarang, tercatat lebih dari 60 perjanjian internasional yang terkait dengan lingkungan hidup. Terakhir, pada tahun 2007 diselenggarakan konferensi PBB tentang perubahan iklim di Bali, yang hasilnya disebut Bali Road Map. Agenda utama Bali Road Map berfokus pada aksi-aksi untuk melakukan kegiatan adaptasi terhadap dampak negatif perubahan iklim (misalnya banjir dan kekeringan), cara mengurangi emisi GRK (Gas Rumah Kaca), cara mengembangkan dan memanfaatkan teknologi yang bersahabat dengan iklim serta pendanaan untuk mitigasi dan adaptasi.

Upaya-upaya untuk melestarikan lingkungan di Bali sudah dilaksanakan sejak lama, melalui kearifan lokal yang dimiliki masyarakatnya. Salah satu kearifan lokal tersebut adalah Upacara Tumpek Kandang, sering juga disebut Tumpek Uye, upacara ini diselenggarakan pada Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Uye yang jatuh setiap 210 hari sekali.

Selain hari Tumpek Kandang, dalam hari-hari raya Hindu di Bali terdapat juga lima jenis Tumpek yang lain, yaitu Tumpek Bubuh atau Tumpek Wariga, yakni upacara selamatan untuk tumbuh-tumbuhan, Tumpek Landep, selamatan untuk senjata, Tumpek Kuningan, selamatan untuk gamelan, Tumpek Wayang, selamatan untuk wayang dan Tumpek Krulut, selamatan untuk unggas. Umumnya upacara selamatan untuk unggas ini digabungkan pada hari Tumpak Kandang/Uye ini.

Selanjutnya, menurut Prof. DR. I Made Titib Ph.D, hari Tumpek Krulut sama dengan hari Rakshabhanda, Raksha Bandhan atau Rakhi, yakni hari kasih sayang di India. Rakshabhanda adalah acara khusus untuk merayakan ikatan emosional dengan mengikatkan benang suci di pergelangan tangan, sebagai simbol kasih sayang, perlindungan dan doa-doa. Inti dari perayaan ini adalah kasih sayang kepada semua makhkluk, dan dimaknai sama sebagai hari Valentine di Eropa.

Dalam Lontar Sundarigama disebutkan, pada Hari Tumpek Kandang, umat Hindu memuja kebesaran Tuhan sebagai Siva atau Pasupati, terutama dalam manifestasi beliau sebagai Rare Angon (Sang Hyang Rudra), agar selalu memberikan anugrah perlindungan dan keselamatan bagi semua makhluk hidup, terutama binatang ternak dan hewan peliharaan, karena hewan-hewan tersebut telah berjasa dalam menompang kehidupan manusia di dunia. Selain itu, makna lain yang terkandung dalam upacara ini adalah upaya untuk menyucikan jiwa (roh) dari hewan-hewan peliharaan/ternak. Diharapkan, di kehidupan selanjutnya, para binatang tersebut dapat naik ke derajat yang lebih tinggi, dan bisa terlahir sebagai manusia. Sekarang, terkait upacara Tumpek Kandang, bagaimana implementasi nyata kita untuk membantu menyelamatkan lingkungan dan menghargai semua mahkluk?

Saat ini banyak orang memilih menjadi seorang vegetarian, sebagai sebuah alternatif hidup berkualitas di era modern. Di Indonesia masyarakat masih beranggapan, bahwa orang menjadi vegetarian adalah karena larangan agama atau aliran kepercayaan (sampradaya) tertentu dan belum menjadi sebuah gaya hidup. Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa dulu menjadi seorang vegetarian adalah karena mengikuti ajaran agama, sebagaimana dalam agama Hindu diajarkan Ahimsa, yang berarti tidak membunuh dan menyakiti, dan dalam agama Buddha mengenai dharma, cinta kasih dan kasih sayang terhadap semua makhluk. Namun jika kita maknai lebih mendalam, sebenarnya vegetarian adalah gaya hidup yang universal dan tidak terkait dengan agama tertentu.

Menjadi vegetarian bukan berarti orang tersebut tidak suka atau tidak mampu membeli daging, tentu ada alasan lain yang melatarbelakanginya. Seiring dengan kemajuan jaman, motivasi orang untuk menjadi vegetarian pun mulai berkembang, baik karena alasan medis, gaya hidup sehat, bahkan di sejumlah negara maju bergeser menjadi demi lingkungan dan etika. Demi lingkungan, karena untuk menghasilkan daging dalam skala besar diperlukan energi dan sumber daya yang besar pula, yang berimbas pada kerusakan lingkungan, dan di negara-negara maju hal tersebut menjadi isu penting. Sedangkan etika berhubungan dengan perilaku manusia yang keji, kejam dan semena-mena terhadap binatang. Selama manusia belum bisa menciptakan kehidupan, maka selama itu pula ia tidak berhak mengambil hak hidup (membunuh) mahkluk lain. Bagi kaum vegetarian, pembunuhan terhadap binatang sangat dihindari.

You are what you eat, atau Anda adalah apa yang Anda makan, merupakan ungkapan yang sangat populer di dunia Barat. Perilaku yang kejam dalam proses memperoleh, memperoses dan mengkonsumsi daging, akan memberikan dampak negatif bagi orang yang melakukannya. Para penikmat daging biasanya cendrung agresif, cepat marah, mudah stress dan lebih sering sakit. Sebaliknya kaum vegetarian cenderung lebih mampu menjaga kestabilan emosinya dan lebih jarang sakit. Untuk itu, gaya hidup vegetarian akan memberikan dampak positif bagi fisik-psikis manusia dan lingkungan hidup sekitarnya.

Perayaan Tumpek Kandang adalah upaya umat Hindu untuk menjaga keharmonisan antara manusia dan berbagai hewan peliharaannya, baik unggas, babi, kambing, sapi dan sebagainya. Khusus sapi, dalam kitab suci Veda, disebutkan mengenai keangungan sapi dalam agama Hindu, bahwa sapi merupakan hewan yang sangat suci dan sangat mulia. Sapi diibaratkan sebagai seorang ibu yang memberi makan, memberi susu dan menyayangi anak-anaknya. Di jaman dahulu, masyarakat agraris menggunakan sapi dan kerbau untuk membantu proses pertanian dan transportasi, susunya diolah menjadi susu segar, ghe, yogurt, keju dan lain-lain, sedangkan kotorannya dipakai sebagai pupuk dan sarana penting upacara Agnihotra. Sedemikian besar jasa sapi bagi manusia, sehingga agama Hindu dengan jelas melarang umatnya untuk membunuh dan mengkonsumsi daging sapi, apalagi di luar kepentingan yadnya atau upacara.

Ironisnya, pembantaian sapi besar-besaran justru terjadi di Bali. Bukan hanya umat lain dan para wisatawan asing saja yang mengkonsumsi sapi, namun sekarang banyak umat Hindu yang tidak malu-malu lagi untuk menyantap olahan sapi, mereka sangat menggemari makanan-makanan berbahan dasar sapi, seperti bakso sapi, lawar sapi (godel), sate sapi, soto sapi, bahkan kuliner asing seperti steik sapi selalu ramai pengunjung. Dan yang paling disayangkan, di Bali telah dibangun Rumah Potong Hewan (Sapi) bertaraf internasional yang berlokasi di Gianyar, RPH ini menyedot anggaran pemerintah pusat dan pemda lebih dari 16 milyar. Jumlah yang sangat fantastis.
Sangat ironis memang, ajaran Hindu yang sangat memuliakan sapi, dimana sapi sebagai hewan suci dan lambang kendaraan Dewa Siwa justru dibantai besar-besaran di Bali. Upacara Tumpek Kandang yang seharusnya menjadi wujud penghargaan kita kepada para binatang terkadang hanya menjadi seremonial semu semata. Hal ini membuktikan bahwa nilai-nilai moral agama di masyarakat telah dikalahkan oleh kilauan materi. Seharusnya kita bisa meneladani para sulinggih/pendeta dan pemangku yang memang sudah memahami ajaran Hindu dengan baik, dengan tidak mengkonsumsi daging, terutama daging sapi.

Sebaliknya, daripada membuat Rumah Potong Hewan dengan biaya mahal, alangkah baik dan mulianya jika di Bali justru dibangun peternakan susu sapi terbesar, dengan melibatkan serta memberdayakan masyarakat lokal. Untuk memperoleh susu berkualitas baik, maka sapi-sapi tersebut harus diperlakukan dengan baik dan penuh kasih sayang. Di Bali, pangsa pasar produk susu dan hasil olahannya masih terbentang luas, kebutuhan produk olahan susu sampai saat ini masih mengandalkan pasokan dari Jawa dan luar negeri. Agar berhasil, tentu saja rencana ini harus ditopang oleh manajemen serta pemasaran yang baik dan professional, dengan SDM-SDM yang berkualitas Jika ini bisa diwujudkan, maka taraf hidup masyarakat bisa terbantu, tanpa harus melakukan pembantaian terhadap sesama mahkluk ciptaan Tuhan.

Selanjutnya......

Tumpek Kandang: “Mengandangkan” Pikiran Liar Menuju Kebaikan

I Wayan Miasa

Masyarakat Hindu dimanapun mereka berada pastilah memiliki ciri khasnya masing-masing dalam mengajarkan kebenaran dan dalam mengajarkan ajaran agamanya tersebut para tetua biasanya menggunakan bahasa yang tertutup atau “mekulit” sehingga harus diartikan dan diulas secara rinci dan tidak bisa ditelan mentah-mentah. Para tetua kita memberikan kesempatan kepada generasi penerusnya untuk menelaah ajaran agama tersebut sesuai dengan perkembangan jaman dan keadaan suatu masyarakat, sehingga ajaran agama tersebut tidak berupa doktrin-doktrin yang tidak boleh diinterpretasikan lagi.

Ada banyak contoh tentang pengajaran kebijaksanaan kepada kita oleh leluhur kita, misalnya dalam perayaan “Tumpek Kandang”, yang sebagian besar dari kita mengartikan tumpek kandang tersebut hanya sebagai upacara atau perayaan untuk binatang atau “soroh wewalungan”. Kita membuat sesajen atau berbagai banten untuk sapi, babi, ayam, serta binatang peliharaan lainnya dan kemudian kita persembahkan banten tersebut kepada binatang peliharaan kita dengan tujuan memohon kemakmuran atau kesejahteraan. Namun kita jarang berpikir lebih jauh tentang maksud tersembunyi di balik kegiatan upacara tumpek kandang tersebut dan kita lebih sering menonjolkan aspek perayaannya dalam kehidupan sehari-hari kita.

Sesungguhnya bila kita pahami lebih jauh makna dari tumpek kandang tersebut, maka akan kita dapatkan banyak pesan moral yang tersembunyi di balik perayaan tersebut. Misalnya kehidupan kita ini bagaikan kita menjinakkan binatang liar yang kemudian dijadikan “binatang peliharaan” yang nantinya bermanfaat untuk kita nantinya. Kandang yang dimaksudkan dalam ritual ini tidak sebatas “badan sampi”, “badan celeng” ataupun kandang-kandang yang lainnya, tetapi sebuah pesan bahwa kita seharusnya membuat perlindungan diri dulu agar pikiran liar tersebut mudah dikendalikan atau dikontrol agar tidak mengganggu orang lain dan dengan adanya perlindungan diri berupa “kandang” maka pikiran liar yang diumpamakan seperti babi, ataupun wewalungan lainnya bisa kita kontrol dengan baik.

Cobalah perhatikan di alam nyata kehidupan binatang liar seperti babi, banteng, dan binatang lainnya yang hidup tanpa kandang atau berkeliaran di alam bebas, bagaimanakah kehidupan mereka? Mereka hidup tidak terkendali, tanpa ikatan, liar dan suka merusak lingkungan sekitarnya bahkan sering mengancam kehidupan manusia juga. Oleh karena itu para tetua atau leluhur kita lantas mengandaikan kehidupan seperti itu bagaikan kehidupan “buron” yang artinya kehidupan liar tanpa kendali, seenaknya dan sering merusak. Untuk menghindari gaya hidup seperti itu, maka kita perlu menjinakkan dan membatasinya dalam “kandang”, agar tidak liar.

Lewat perayaan tumpek kandang, para tetua kita berharap agar kita hidup penuh dengan pengendalian diri dengan membatasi atau mengekang keinginan yang bersifat seperti binatang, misalnya liar, malas, hidup tanpa tata krama serta sifat-sifat buruk lainnya. Kemudian kita berusaha mengubah perilaku buruk tersebut menuju ke arah yang lebih baik yang suatu saat nanti bisa menuju sifat yang penurut dan jinak yang sudah barang tentu sangat bermanfaat bagi kehidupan kita serta lingkungan sekitarnya. Kita bisa ambil contoh kecil di kehidupan kita sehari-hari dari kehidupan ayam yang hidupnya tidak terurus, dimana mereka sering mengganggu kehidupan di sekitar kita, misalnya buang kotoran sembarangan, serta hal-hal yang merugikan lainnya. Namun bila kita sejak awal melatih ayam-ayam tersebut untuk disiplin, maka ayam-ayam tersebut akan terbiasa dengan kehidupan yang terurus dan sudah tentu hal itu tidak mengganggu kehidupan di rumah kita. Begitu juga dengan binatang-binatang atau “buron” lainnya dan dari contoh tersebut di atas jelaslah, bahwa kita seharusnya bercermin dan belajar lebih jauh dari perayaan tumpek kandang.

Leluhur kita sejak jaman dulu lebih mengutamakan tindakan nyata dalam mendidik generasinya lewat filsafat yang sederhana, dan bukan mengajarkan kita menghafal ayat-ayat atau sloka-sloka yang tertera dalam buku-buku suci. Mereka lebih senang menunjukkan tindakan nyata dalam melaksanakan ajaran tersebut dan hal ini kita tidak mengerti, sehingga timbul kesan bahwa leluhur kita itu tidak menguasai ajaran agama. Padahal sesungguhnya para leluhur kita telah “mengandangkan” pikiran mereka yang buruk, liar dan tak terkendali menuju kehidupan yang teratur dan selalu berpedoman pada prinsip-prinsip kebenaran yang nantinya sangat bermanfaat dalam kehidupan sosial religius kita.

Leluhur kita sering memakai “pertiwimba” atau mencontoh kehidupan binatang seperti misalnya kehidupan sapi, yang mana sapi-sapi itu sebenarnya sangat liar, namun setelah melalui proses penggemblengan dan latihan yang tiada henti yang dilakukan akhirnya sapi-sapi tersebut bisa dijadikan teman atau sahabat yang bisa dipakai untuk membantu mereka dalam mengerjakan sawahnya. Kotorannya bisa dijadikan pupuk organik, dan manfaat lainnya. Kita bisa bayangkan bila saja sapi tersebut tidak dikendalikan dan dikandangkan di “badan sampi”, maka sang sapi bisa merusak tanaman yang ada di sekitarnya dan sapi itu membuang kotorannya sembarangan. Leluhur mengandaikan kehidupan manusia sama halnya dengan kehidupan binatang seperti sapi, dimana kita perlu “mengandangkan” pikiran kita lewat latihan pengendalian diri. Selanjutnya berusaha melatih diri menuju ke hal-hal yang bermanfaat, sehingga kita nantinya bisa menjadikan prilaku kita yang bersifat “daiwi sampad.” Perilaku daiwi sampad adalah yang mencerminkan sifat kedewataan dan kita bisa menjauhkan sifat yang “asuri sampad” atau prilaku bersifat seperti kaum asura yang senang merusak.

Bila kita tidak berusaha memahami pesan yang tersirat di balik perayaan Tumpek Kandang, maka kegiatan seperti itu akan hanya bersifat rutinitas yang datang dan pergi tanpa pesan. Kita akan terus berpuas diri dengan membuat banten yang besar dengan berbagai “raka” buah import dan bahan upacara, seperti busung yang dijual oleh para pengusaha dari “dura Bali”, dan kita puas dengan sanjungan para “pemanfaat” kepolosan kita. Kita disanjung dengan berbagai pujian namun di balik itu kita “diisap” dari berbagai arah.

Tumpek kandang sebenarnya adalah ajaran moral kepada kita, agar kita bisa meniru kehidupan si rare angon yang “seleg” atau tekun dalam melaksanakan tugasnya, sehingga dia bisa mendapatkan suatu karunia. Kehidupan sebagai pengembala ternak yang “seleg” mengendalikan binatang piaraannya, baik itu “ngayehin” atau memandikan, mencarikan makan ataupun melatihnya pada suatu saat tanpa harus banyak berharap akan membawa karunia. Rare angon itu adalah cermin kehidupan kita ini, dimana kita diharapkan tekun mengendalikan pikiran dan tindakan kita, maka sudah tentu sifat-sifat welas asih, taat, setia pada pada kewajiban “pengangon”. Dengan menjalani kehidupan tekun seperti itu maka suatu saat nanti kita sampai kepada tujuan hidup yang damai bagaikan kehidupan si rare angon, misalnya bisa bernyanyi dengan riang, bermain dengan sesamanya, tanpa harus berseteru dengan sesamanya. Karena kehidupan rare angon adalah cerminan kehidupan yang shanti atau damai. Kita bisa banyak belajar dari kehidupan si rare angon tersebut bagaimana dia mengembalakan binatang piaraannya.

Leluhur kita mengharapakan kehidupan kita seperti kehidupan si rare angon yang dengan ketekunannya bisa “mengandangkan” semua “buron”nya menjadi “ubuh-ubuhan”, yaitu binatang piaraan yang taat pada tuannya. Begitu juga dengan kehidupan kita, dimana kita berharap bahwa dalam mengendalikan pikiran kita yang liar ini tidak cukup dengan menghafal sloka-sloka atau mengucapkan sloka-sloka sampai mulut berbuih-buih tanpa yang diharapkan adalah implementasi ajaran tersebut. Rare angon tidak pernah mengajarkan teori untuk nyabit rumput, cara memandikan sapi, atau teori-teori lainnya. Dia tunjukkan tentang cara bagaimana memelihara “buron” menjadi “ubuhan” atau bagaimana caranya menjadikan binatang liar menjadi binatang piaraan. Sama halnya dengan kehidupan kita sekarang ini, orang yang berteori banyak, tapi orang yang mau menjalankan teori itulah yang sedikit. Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari kita, bicara tentang pengendalian diri semua orang bisa tapi pelaksanaannyalah yang sulit.

Tumpek kandang adalah sebuah pesan leluhur bagi kita semua, dimana leluhur kita mengharapkan bahwa “kandangkanlah” pikiran kita, jinakkanlah dia, sehingga suatu saat pikiran liar tersebut menjadi pikiran yang menuju sifat “ubuhan” atau bisa menjadi penurut tuannya, atau memiliki sifat kebajikan. Sama halnya dengan manusia dimana kita semua berharap agar perilaku asuri sampad kita suatu saat berubah menjadi sifat kedewataan atau “daiwi sampad”. Di jaman sekarang ini dimana kehidupan manusianya semakin rumit, maka hal yang diperlukan adalah mewujudnyatakan perayaan tumpek kandang dalam kehidupan kita yang sesungguhnya. Karena pada jaman sekarang ini binatang liar tersebut tidak saja berupa sapi, banteng atau babi, namun bisa berupa nafsu atau kemauan yang lebih liar dari binatang itu sendiri. Untuk mencegah keliarannya, maka kandang yang diperlukan adalah penguasaan diri dengan lebih tekun memahami dan melaksanakan kewajiban kita sebagai makhluk, yaitu terus berusaha sesuai dengan apa yang dilakukan rare angon, setia menjadi penggembala pikiran untuk mencapai pikiran daiwi sampad.

Selanjutnya......

Senin, 17 Juni 2013

Arjuna Dalam Keremangan Malam

Luh Made Sutarmi

Hati Arjuna sempat galau di tengah malam, sebab, jantungnya berdegup kencang ingat Subdra di Di Dwarawati. Sebab besok pagi Abimanyu akan menuju medan laga, perang Bharatayuda. Dia teringat saat memadu kasih dengan Subadra, sehingga benih kasihnya “melahirkan” sosok kesatria yang tampan. Inilah perasaan yang berderu kencang dalam benaknya. Arjuna sadar bahwa cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi yang bersumber dari anugrah Hyang Widhi. Di dalam jiwa manusia, yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya, adalah alamiah dan selalu bisa mengusik kalbu. Dalam tataran itulah konsep wairagya terus hadir menghampiri diri manusia.

Wairagya artinya ketidakterikatan atau pengunduran diri yaitu ketidakterikatan pikiran dan indera dari objek-objek duniawi. Pikiran menutupi diri yang sejati karena itu, kadang-kadang pikiran digambarkan sebagai selubung, yaitu selubung kekaburan batin yang menutupi atma. Pikiran sendiri terikat oleh panca indera, dan panca indera tertarik oleh objek-objek indera serta sekaligus terikat olehnya. Karena itu, langkah pertama ialah mengendalikan panca indera, untuk ini ketidakterikatan sangat penting. Dalam ruang yang sempit ini, renungan menghadirkan kecamuk perang bathin Arjuna yang menjadi zona pencerahan bagi kita semuanya.

****
Udara malam yang sejuk mengalir deras dalam bayang-bayang dedaunan karena bulan sabit hadir di langit sepi dan lengang. Suara bisikan kalbu menghampirinya dengan penuh keharuan. ”Arjuna inilah tanda-tanda kekuasaan-Ku, Aku telah menciptakan untukmu istri-istri yang bijak, agar engkau merasa tentram dan bahagia karenanya, jika engkau menghayatinya, engkau telah menggunakan akalmu untuk menikmati karunia ini.” Arjuna tersentak dan bangun dari lamunannya, namun sosok malam itu hadir kian mendekat dan ramah.

“Oh sang penguasa malam, apa arti kegalauan ini, tolong berikanlah aku pencerahan, sebab kegalauan ini sungguh menyiksaku,” ratap arjuna penuh harap. Sosok malam yang gelap itu berkata penuh khidmat. “Cinta pada dasarnya bukanlah sesuatu yang kotor, karena kekotoran dan kesucian tergantung dari bingkainya. Ada bingkai yang suci dan ada bingkai yang kotor. Cinta mengandung segala makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan dan kerinduan, di samping mengandung persiapan untuk menempuh kehiduapan di kala suka dan duka, lapang dan sempit. Aku mengerti itu dewa malam, namun jantungku selalu berdegup kencang penuh ketertarikan, bagimana ini?” potong Arjuna.

Dewa malam berkata, “Cinta bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik saja. Ketertarikan secara fisik hanyalah permulaan cinta bukan puncaknya. Dan sudah fitrah manusia untuk menyukai keindahan.Tapi di samping keindahan bentuk dan rupa harus disertai keindahan kepribadian dengan akhlak yang baik. Kebaikan tidaklah membelenggu perasaan manusia, tidaklah mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri seorang manusia. Akan tetapi tuntunan kebajikan mengajarkan pada manusia untuk menjaga perasaan cinta itu dijaga, dirawat dan dilindungi dari segala kehinaan dan apa saja yang mengotorinya. Perlu engkau ketahui Arjuna, bahwa segala kesedihan dan penderitaanmu disebabkan oleh perasaan dan sikapmu sendiri. Tidak ada peluang bagi rasa kemilikan bila engkau telah menyadari kelemahan dan kekurangan objek-objek duniawi. Berusahalah memahami asa ketidakterikatan. Engkau harus mencapai suatu tingkat, di saat engkau tidak lagi mempunyai rasa keterikatan atau perbudakan walaupun dalam keadaan mimpi atau keadaan tidur nyenyak sekalipun.”

“Aku tambahkan,” kata dewa malam, “Setetes kebencian di dalam hati pasti akan membuahkan penderitaan. Tapi setetes cinta di dalam relung hati akan membuahkan kebahagiaan sejati. Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih kalahkan kejahatan dengan kebajikan. Kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati kalahkan kesombongan dengan kejujuran.”

Arjuna mengangguk setuju, hatinya mulai cerah. Dewa malam mengakhiri kata-katanya dengan sebuah pesan indah. ”Menggunakan badan, pikiran, dan ucapan sedemikian rupa sehingga engkau tidak terjerat dalam keterikatan, itulah yang dimaksud dengan pengamalan. Pengamalan atau latihan artinya mengarahkan seluruh hidupmu untuk mencapai Tuhan. Setiap kata yang kau ucapkan, setiap gagasan yang kau pikirkan, dan setiap kegiatan yang kau lakukan harus suci dan selalu mengarah pada kebenaran. Kebenaran dan kesucian adalah alat yang sejati untuk melaksanakan tapa. Aku menghimbau agar engkau membina sifat-sifat mulia ini sehingga dengan demikian hidupmu akan tersucikan.” Om Gam Ganapataye namaha.*

Selanjutnya......

Garda Relawan Dharma

I GN Nitya Santhiarsa

Akhir-akhir ini beberapa musibah kerusuhan menimpa migran Bali, terutama migran yang berada di Lampung dan Sumbawa. Bencana sosial berbau SARA ini diduga dipicu adanya kecemburuan sosial dari penduduk lokal terhadap kemajuan ekonomi yang diperoleh oleh migran Bali. Mengingat migran Bali jumlahnya sangat banyak dan sudah tersebat di berbagai wilayah Indonesia, hal ini membuat potensi terjadinya bencana sosial yang menimpa migran Bali cukup besar, baik kini maupun di masa yang akan datang. Bencana sosial maupun bencana alam perlu kita waspadai dan tidak hanya itu, langkah prediksi, pencegahan , penanganan dan pemulihan serta kepedulian mutlak diperlukan. Kepedulian terhadap kemanusiaan tidak hanya urusan Pemerintah Pusat dan Daerah, namun secara langsung atau tidak langsung, masyarakat Bali atau umat Hindu juga mempunyai tanggung jawab terhadap masalah kemanusiaan. Ajaran Veda telah memberikan petunjuk bagaimana umat Hindu harus memiliki kepekaan terhadap masalah kemanusiaan yang mana semangat kemanusiaan menurut ajaran Hindu adalah hidup dan saling menghidupi (parasparam bhawayantah).

Bencana alam dan bencana sosial tergolong masalah besar, sehingga tidak bisa ditangani oleh individu ataupun hanya oleh lembaga pemerintah saja, harus banyak pihak berperan atau berpartispasi dalam menangani masalah kemanusiaan. Salah satu pihak yang yang punya peran penting adalah dari unsur masyarakat atau umat dalam hal ini umat Hindu. Umat Hindu harus berperan aktif untuk turut serta mengatasi berbagai persoalan kemanusiaan, seperti bencana sosial maupun bencana alam. Modal utama untuk berperan aktif adalah solidaritas sosial, yakni perasaan senasib sepenanggungan di antara umat Hindu, perasaan ini mesti tetap dijaga, jika tidak umat Hindu akan menjadi umat yang lemah, tidak berdaya, mudah menjadi sasaran kecemburuan maupun kebenciaan dari pihak lain yang tidak senang melihat suatu kaum maju dan hidup rukun. Ajaran tat twam asi, parasparam bhawayantah dan suka duka yangg merupakan pilar solidaritas sosial sepatutnya diamalkan, dan ajaran ini mesti dikembangkan secara terorganisir, berkelanjutan dan massal melalui organisasi formal maupun non formal, yang tradisional maupun yang modern.

Seperti dinyatakan sebelumnya, potensi bencana sosial cukup besar dan jika bencana ini terjadi, maka penderitaan dan trauma akan menimpa umat Hindu, meski kita berharap bencana ini tidak akan terjadi. Kalimat bijak “Sedia payung sebelum musim hujan datang” atau “Gali sumur sebelum musim kemarau tiba” sangat penting untuk dicermati dan dilaksanakan. Jadi, sebelum bencana terjadi, maka umat Hindu perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya, baik itu untuk pencegahan maupun penanganannya.

Tindakan pencegahan bisa diusahakan dengan selalu menjaga silahturahmi dan toleransi dengan umat yang berbeda keyakinan, saling membantu dan tolong menolong di kehidupan sehari-hari dan yang penting jangan berlaku sombong atau eksklusif, karena sikap ini cepat mengundang kebencian dan kemarahan. Selain itu, tindakan proteksi juga disiapkan, seperti mendekatkan diri dengan pihak keamanan dan memperkuat persatuan antarwarga serta memperkuat pertahanan diri. Selanjutnya, kalau bencana sosial telah terjadi, maka segera perlu melakukan pertemuan untuk mencapai perdamaian, menyiapkan perlindungan dan perawatan, menggalang bantuan, melakukan pemulihan trauma dan perbaikan sarana prasarana serta normalisasi kehidupan. Perlu dikemukakan lagi, bahwa ke depan potensi terjadinya bencana sosial tetap ada karena bertambahnya jumlah penduduk, adanya konflik kepentingan, perbedaan pola hidup dan taraf hidup, dan sebagainya, ditambah lagi kemungkinan adanya bencana alam, maka di kalangan umat Hindu perlu dibentuk suatu lembaga sosial kemanusiaan yang bersifat swadaya, independen dan berkompeten.

Sebagai perbandingan, bisa kita lihat apa yang telah dilakukan umat agama lain seperti umat Islam dan Kristen, bercermin pada pengalaman mereka ketika diterpa berbagai bencana sosial dan alam, masing-masing telah mempersiapkan diri menghadapi bencana dengan membentuk organisasi sosial kemanusiaan yang terorganisir, terlatih dan mandiri seperti organisasi Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) yang didirikan oleh beberapa dokter, mahasiswa dan para relawan muslim yang pernah bertugas kemanusiaan di Maluku, kemudian ada organisasi sosial kemanusiaan Rotary Club yang familiar di kalangan umat Yahudi dan Kristen, sangat giat mengumpulkan dana dan mengadakan kegiatan layanan kemanusiaan.

Bagi umat Hindu, penulis sarankan agar dibentuk organisasi sosial kemanusiaan Garda Relawan Dharma (GRD), sebuah organisasi independen yang bergerak di bidang pelayanan sosial dan kemanusiaan, terdiri dari para relawan kemanusiaan, bekerja tanpa pamrih dan berjuang menurut ajaran Hindu untuk kepentingan kemanusiaan dan perdamaian. Ajaran Hindu sebagai prinsip moral perjuangan oganisasi ini seperti yang dinyatakan dalam sloka suci Bhagawadgita dan Sarasamuccaya di bawah ini.

“Seperti orang bodoh (awidya) yang bekerja karena keterikatan mereka atas kerja mereka, demikianlah harusnya orang pandai (sadar) bekerja tanpa kepentingan pribadi, melainkan bekerja untuk kesejahteraan (keselamatan) manusia dan memelihara ketertiban social (perdamaian)” Bhagawadgita III-25

“Maka perbuatan orang yang tinggi pengetahuannya, tidak sayang merelakan hartanya, bahkan nyawanya, jika untuk kesejahteraan (keselamatan) umat manusia, tahulah beliau akan maut pasti datang, dan tidak ada yang kekal di dunia ini, oleh sebab itu adalah lebih baik berkorban demi untuk kesejahteraan (keselamatan) umat manusia” Sarasamuccaya 175.

Kegiatan GRD yang bersifat rutin nantinya antara lain menyiapkan para relawan dan mendidik SDM mereka, menyediakan sarana prasarana seperti alat kesehatan dan medis, dapur umum, lavatory dan transportasi medis, menggalang dana secara transparan dan kreatif, serta mensosialisasikan ajaran kemanusiaan, toleransi dan perdamaian yang sesuai dengan ajaran Hindu. Kemudian, pada saat terjadi bencana alam atau bencana sosial, GRD bertugas untuk melakukan berbagai tindakan kemanusiaan untuk menyelamatkan umat Hindu yang tertimpa musibah, bahkan juga bisa sebagai duta perdamaian atau mediator. Para relawan yang berlatar belakang pendidikan kesehatan dan medis sangat dibutuhkan untuk menjalankan organisasi dan program sosial kemanusiaan ini, dan sebagian lainnya bisa dari berbagai ragam profesi, dimana yang utama adalah mereka ikhlas bergabung sebagai relawan dalam organisasi ini. Untuk efisiensi dan efektifitas kerja, sepatutnya GRD nantinya berkoordinasi, bekerjasama dan ber-networking dengan berbagai pihak terkait seperti PMI, PDDI, PHDI, KSR, ISDPHI, Ikadin, Polisi dan sebagainya termasuk dengan para sponsor atau pihak donatur.

Kehadiran lembaga seperti GRD menurut penulis bisa menjawab tantangan ke depan tentang bagaimana umat Hindu mempersiapkan dirinya untuk menghadapi bahaya bencana alam dan bencana sosial. Perjuangan di jalan kemanusiaan sudah sesuai dengan ajaran Hindu, bahkan berkarma demi kemanusiaan merupakan kewajiban bagi setiap umat Hindu, untuk itu terbentuknya organisasi seperti Garda Relawan Dharma bisa menjadi satu bukti bahwa umat Hindu berusaha sungguh-sungguh dalam mengamalkan ajaran agamanya. Om, Namo Siva Buddhaya Namah Swaha!

(Ketua Forum Peduli Dharma, Forum Karunika Dharma, dosen FT Unud).

Selanjutnya......

MELATIH DIRI MENGUATKAN HATI NURANI

I Ketut Wiana

Membangun moral yang semakin luhur dan mental yang semakin tangguh secara teoritis sangat mudah,tetapi dalam tataran implementasi sungguh tidak mudah. Membangun badan fisik yang sehat mungkin lebih mudah kalau hal itu benar-benar juga dipelajari dan dilatih saban hari. Fisik, moral dan mental ketiganya menyatu dalam diri setiap orang. Fisik, moral dan mental ini yang harus dikendalikan dengan Hati Nurani.

Kecerdasan intelektual bisa jadi bumerang yang menyengsarakan kalau dieksistensikan tanpa Hati Nurani. Kecerdasan intelektual meskipun kecerdasan itu didapat dari pendidikan tinggi tidak menjamin membawa keselamatan hidup. Hati Nurani itu adalah suaranya Sang Hyang Atma yang diekpresikan oleh Kesadaran Budhi. Dalam Bhagawad Gita III. 42 Budhi itu adalah sarana per tama untuk menyuarakan kesucian Atman. Kemudian baru Manah atau pikiran dan selanjutnya Indria. Kalau Budhi lemah mengekpresikan kesucian Atman, maka kecerdasan intelektual akan bebas menggunakan indria sesuai dengan kehendak pikiran. Hal inilah yang menyebabkan banyak kejahatan dilakukan dengan sangat cerdas dan cerdik. Seperti kejahatan membobol ATM suatu Bank. Pembuatan uang palsu, mencampur makanan dengan zat kimia berbahaya, pembuat bom rakitan oleh teroris, pembuatan obat palsu dan pemalsuan berbagai hal yang mendatangkan keuntungan besar dengan merugikan masyarakat luas dan Dharma.

Prof Dr Mapajanji Amin dalam bukunya “Kemandirian Lokal” menyatakan, bahwa carut marutnya dunia dewasa ini karena ketidakseimbangan kemajuan ilmu pengetahuan. Ilmu Eksakta sangat maju luar biasa. Tetapi ilmu Humaniora dan Spiritual sangat mundur. Karena itu harus dikembangkan apa yang disebut Holistik Paradigma, yaitu pandangan hidup yang seimbang dan terpadu dalam menyerap dan menerapkan ilmu duniawi dan ilmu rokhani. Kembali masalah hati nurani, agar kekuatannya mampu mendominasi dengan mencerahkan kecerdasan intelektual dan mengarahkan kepekaan emosional. Dengan kuatnya Hati Nurani mengendalikan hidup ini maka kesucian Atman akan terekspresikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Katha Upanisad dinyatakan, bahwa budhi itu ibarat kusir kereta. Kusir itulah menentukan sukses dan tidaknya perjalanan kereta menuju tujuan yang ditentukan oleh pemilik kereta yang diumpamakan Atman dalam diri manusia. Ini artinya menguatkan hati nurani, artinya membuat kusir kereta yang sehat,cerdas menguasai segalanya yang menyangkut keberadaan kereta.Yang paling utama adalah paham akan segala penugasan pemilik kereta. Artinya kalau dalam diri manusia kusir budhi itu harus paham akan kehendak Atman yang suci. Atman itu menurut Upanisad adalah Brahman (Brahman Atman Aikyam). Inilah tujuan melatih hati nurani.

Untuk melatih hati nurani di samping memiliki wawasan yang luas dan dalam tentang diri manusia seutuhnya, juga berani melawan dorong pikiran dan hawa nafsu yang bertentangan dengan Dharma. Misalnya dimulai dari membiasakan diri mengkonsumsi makanan yang Satvik. Meskipun ada makanan enak, bahkan sangat enak, tetapi kalau itu makanan yang Rajasika dan Thamasik harus berani tidak mengkonsumsinya. Lama kelamaan makanan yang Satvik itu akan terasa enak karena sudah merupakan kebiasaan hidup.

Demikian juga latihlah pikiran, ucapan dan prilaku yang selalu menambatkannya dengan nama atau sebutan Tuhan. Dalam Sarasamuscaya 260 ada dinyatakan sbb:...dhyana ngarania ikang Siwasmaranam. Dhyana atau meditasi namanya dengan senantiasa merenungkan Nama Tuhan (Siwa). Merenungkan itu tidak sama dengan mengkhayal atau ngelamun dengan pikiran yang tidak terarah.

Merenungkan itu adalah mengingat-ingat dengan sungguh -sungguh. Swami Satya Narayana menyatakan bahwa cara yang sangat baik dan praktis beragama Weda (Hindu) pada jaman Kali ini adalah dengan Nama Smaranam artinya memuja Tuhan dengan mengulang-ulang nama suci Tuhan tersebut. Dengan mengulang-ulang nama suci Tuhan untuk tujuan memujaNya, akan dapat mencerahkan kesadaran budhi menguatkan dominasi hati nurani mengendalikan pikiran, perkataan dan prilaku. Mencapai kondisi kuatnya hati nurani itu tidak perlu pakai target yang ambisius. Lakukanlah hal-hal yang bernuansa Satvik dalam berbagai kehidupan. Apakah itu soal makanan, pikiran, ucapan, prilaku selalu arahkan pada konsentrasi pada nama suci Tuhan. Misalnya saja menghadapi suatu masalah kehidupan,yakinlah itu atas takdir Tuhan. Suka maupun duka yang kita alami atas takdir Tuhan. Tuhan menurunkan takdirnya atas karma yang pernah dilakukan manusia.

Selanjutnya......

Sisya Sesana¸ Cara menjadi Siswa Mulia dalam Itihasa

I Nyoman Miarta Putra

Apabila ditelisik secara mendalam dalam, sistem pendidikan Hindu sarat menekankan pendidikan nilai karakter yang berorientasi pada proses. Hal ini sangat menarik untuk diungkapkan kembali di tengah-tengah pergeseran orientasi siswa dalam mencapai tujuan pendidikan. Karena keberhasilan seorang siswa dalam pembelajaran tergantung dari proses kematangannya dalam belajar dan latihan. Disertai pula dengan kesuksesannya menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya yang dilandasi oleh nilai etika seorang siswa terhadap gurunya.

Di dalam Adiparwa dapat diambil contoh kisah proses belajar murid Begawan Domya, yaitu Sang Utamayu, Sang Arunika dan Sang Weda. Demikian pula kisah Sang Bima ketika ditugaskan oleh gurunya, Bhagawan Drona, untuk mencari tirta prawidi.

Beberapa para ahli telah merumuskan mengenai tafsiran tentang “belajar”. Salah satunya adalah modifikasi atau memperteguh kelakukan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing). Menurut pengertian ini, belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu pengusahan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuaan. Lebih jauh dijelaskan, belajar adalah perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Secara logika proses yang baik akan menghasilkan hasil yang baik. Jika ada proses yang tidak “baik” bisa menghasilkan hasil yang baik tentu merupakan suatu pristiwa aneh bin ajaib

Secara praksis apabila kembali pada sastra Hindu seperti kisah ujian yang dilakukan oleh ketiga murid Bhadawan Dhomya. Dengan berlandaskan rasa bhakti terhadap guru, giat belajar pantang menyerah dan berputus asa serta rasa tanggung jawab, dicapailah keberhasilan dan berhak menerima penghargaan atas keberhasilannya. Demikian pula rasa pantang menyerah dan putus asa menyebabkan mereka memiliki kedyatmikan (pengetahuan). Hal ini pula dialami oleh Sang Bima murid dari Bhagawan Drona.

Apabila disimak dari kisah Sang Arunika, sebelum dianugrahi Dharma Castra, ia diberi tugas untuk menggarap sawah. Dengan dilandasi rasa berbhakti terhadap Sang Guru, ia mengerjakan tugas itu dengan senang hati. Tantangan berat ia alami. Ketika sawah telah digarap, benih padi telah ditanam, di tengah malam yang gelap gulita datanglah hujan lebat, disertai dengan angin kencang. Tersontak ia terbangun dari tidurnya dan berlarian menuju sawah. Air bah yang besar telah menjebol pematang sawah dan merendam benih padi yang baru ditanamnya. Namun ia tidak putus asa dan menyerah begitu saja. Berulangkali telah dibendung, namun semua itu sia-sia. Hingga akhirnya ia harus merebahkan dirinya di pematang untuk membendung air, sehingga benih padinya terhidar dari rendaman air. Hal ini diketahui oleh Gurunya yang membuat gurunya kagum akan usahanya, sehingga ia dianugrahi mantra yang dapat memenuhi segala keinginannya.

Demikian pula Sang Utamanyu yang diberikan tugas untuk mengembala lembu, juga mengalami proses ujian yang berat. Bukan saja harus menahan rasa haus dan lapar, hingga mengalami kebutaan dan tercemplung dalam sumur tua. Namun berkat rasa bhakti, kejujuran, dan pantang menyerah dalam melaksanakan tugasnya, membuat Bhagawan Dhomya berkenan atas prilaku sang Utamanyu dan menyembuhkan kembali kebutaannya. Dan ia pun dianugrahi mantra acwina mantra, yaitu mantra untuk dewa Aswini sebagai dewanya obat-obatan. Atas anugrah itu, ia menyandang setatus sebagai seorang tabib yang hebat.

Sang Weda, murid ketiga dari Bhagawan Dhomya mendapatkan tugas sebagai juru masak. Masakannya selalu menyenangkan hati gurunya. Sebagai seorang siswa yang berbakti ia tidak makan sebelum gurunya makan. Tanpa halangan yang berarti, tantangan terlewati dengan lancar. Ia pun dianugrahi mantra sakti yang dapat memenuhi segala keinginannya.

Ujian serupa juga dialami oleh Sang Bima ketika ia ”diuji” oleh gurunya, Bhagawan Drona. Ia ditugaskan untuk mencari Tirta Prawidi, yang tiada lain adalah akal-akalan Bhagawan Drona untuk menyingkirkan Bima. Namun, dengan penuh rasa bhakti, sedikit pun tidak ada kecurigaan terlintas dalam pikirannya. Berbagai cobaan dan tantangan ia hadapi dalam proses pencarian tirta tersebut. Namun semua proses itu telah memberikan anugrah kekuatan baginya. Seperti keberhasilannya membunuh dan membebaskan Rukmuka dan Rukmakala dari kutukan yang tiada lain adalah penjelmaan dewa. Atas jasanya itu ia dianugrahi ikat pinggang poleng. Demikian pula anugrah berupa jala sengara yang didapat dari Dewi Maheswari yang telah dibebaskan dari kutukan dalam wujud naga yang besar yang mampu dikalahkan oleh Bima. Namun cobaan tidak berhenti sampai di situ. Drona menyuruh Bima mencari Tirta prawidi ke tengah Samudra. Ia bertemu dengan naga Nawatnawa yang berhasil dikalahkan hingga ia pingsan dan menyebabkannya terdampar di sebuah pulau karang. Ketika tersadar ia terbangun dihadapannya seorang manusia yang sangat kecil yang tiada lain adalah Dewa Ruci, serta menyuruhnya masuk ke dalam perutnya. Hingga akhirnya ia mendengarkan suara gaib dan mengajarkan ilmu kediyatmikan. Dan akhirnya Bima dihadiahi cupu yang tertutup untuk diserahkan kepada Drona.

Tidak Jujur Ilmu Hancur

Kita masih ingat cerita Bambang Ekalawya dalam Adi Parwa. Sosok pemuda yang hebat bahkan kehebatannya bisa menandingi kehebatan Sang Arjuna. Ia memiliki keuletan, disiplin dan memiliki motivasi yang tinggi untuk bisa menguasai ilmu memanah. Namun setelah semua yang, semua sirna hilang, karena ia tidak mendapat restu dari Drona. Dengan demikian, secara etika Ekalawya adalah pencuri (nyolong sastra) ilmu pengetahuan dari Drona, karena telah menjadikan Drona sebagai guru imajiner tanpa seijin Drona. Akhirnya segala sesuatu yang telah diraihnya secara susah payah sirna hilang seiring dengan Guru daksina yang ia berikan kepada Bhagawan Drona.

Hal serupa terjadi pula pada Rahdeya, setelah ilmu yang ia raih dengan susah payah ternyata tidak bisa berguna, pada saat ia butuhkan. Tidak cukup mengandalkan semangat dan keinginan belajar yang tinggi untuk menjadi sukses, namun lebih penting lagi bagaimana etika sebagai seorang siswa perlu dibangun untuk meraih sukses. Hal inilah yang dilanggar oleh Rahdeya. Semangat dan keinginan belajar yang tinggi, bisa diterima menjadi murid, membuatnya harus berdusta kepada Gurunya Parasu Rama. Hingga anugrah terakhir dalam proses belajarnya, ia dianugrahi ilmu pamungkas yang bernama “Brahmastra”. Memang sangat sulit menutupi kebohongan, bak menutupi asap ia akan keluar juga. Kebenaran akan menentukan jalannya sendiri. Kebohongan Rahdeya bahwa ia bukan dari golongan Brahmana, namun dari golongan kesatria ketahuan juga oleh Gurunya. Saat Prasu Rama dan Rahdeya duduk di taman. Suasana yang menyejukan diterpa angin sumilir membuat sang Guru mengantuk dan tertidur di atas pangkuan Rahdeya. Ada seekor binatang jenis lintah menggigit paha Rahdeya hingga mengeluarkan darah. Namun dengan rasa takut untuk membangunkan sang Guru, ia pun berjuang menahan sakit atas gigitan binatang itu. Akhirnya sang Guru terbangun dan melihat luka besar pada paha Rahdeya. Gurunya pun heran luka sebesar itu Rahdeya mampu menahannya, yang biasanya hanya bisa dilakukan oleh golongan kesatrya. Prasu Rama meragukan pengakuan muridnya yang mengaku dari golongan Brahmana.

Setelah ditanya berulang kali Rahdeya pun mengaku dan menuturkan riwayatnya mengapa ia berdusta. Namun kebohongan Rahdeya membuat sang Guru marah. Sungguhnya tidak pantas dilakukan seorang murid yang ingin mendapatkan pengetahuan. Hingga akhirnya kemarahannya memuncak seraya mengutuk Rahdeya agar Brahmastra yang diajarkannya tidak akan berguna pada saat ia perlukan. Ia pun lantas mengusir Rahdeya dari pesraman.
Akibat ketidakjujurannya untuk mendapatkan ilmu, ia tidak bisa menggunakan ilmu pamungkas Brahmastra pada saat melawan Arjuna. Ketika perang tanding itu tiba, ia melupakan mantra yang harus ia ucapkan. Ini karena kutukan gurunya. Karna harus roboh di ujung panah Arjuna pada saat pertempuran tersebut. Ini memberi pesan, bahwa karakter mulia lebih penting dari kepintaran intelek maupun keterampilan. Kehebatan ilmu yang dimiliki tidak memiliki makna apa-apa, ia akan hancur sebagaimana robohnya Sang Karna yang mahir ilmu panah saat bertempur dengan Arjuna.

Selanjutnya......

FUNGSI RASA SAKIT

Gede Rio Andre Sutrisna

Pernahkah mendengar ungkapan “Manis akan terasa manis, setelah mengecap yang pahit”? Makna sederhana dari ungkapan tersebut adalah, seseorang akan bisa mengetahui rasa manis setelah dia pernah merasakan pahit. Hal ini juga bisa dianggap sebagai bagian dari konsep rwa bhineda, dua hal yang berbeda dan harus ada untuk menjaga keseimbangan. Antara Si Manis dan Si Pahit. Bagaimana kita bisa mengatakan sesuatu itu pahit, kalau kita tidak tahu manis? Bagaimana kita dapat menentukan sesuatu itu manis, jika kita belum pernah menikmati pahit? Jawabannya mungkin saja bisa, tapi ada sesuatu yang lebih penting dari jawaban tersebut. Pastilah ada fungsi atas kedua ihwal ini. Kalau sudah ada manis mengapa kita perlu hirau dengan pahit? Manis dapat diibaratkan dengan kebahagiaan dan pahit dapat kita analogikan sebagai penderitaan atau sakit.

Tak ada seorang pun yang suka dengan rasa sakit. Entah itu sakit fisik, sakit bathin, sakit pikiran, sakit jiwa, maupun sakit hati. Tak peduli seberapa tak sukanya kita pada rasa sakit, kita sudah salah apabila terlalu berlebihan berharap untuk hidup tanpa rasa sakit. Rasa sakit merupakan bagian dari hidup, kehidupan, dan penghidupan. Kepada rasa sakitlah kita harus berterima kasih. Bagaimana lagi kita bisa tahu, untuk menarik tangan kita dari panasnya api? Jari kita dari tajamnya pisau? Luka kita dari perihnya garam? Jadi rasa sakit itu penting! Rasa sakit itu penting karena rasa sakit adalah bagian pertahanan tubuh kita.

Rasa sakit memberikan pelajaran berharga kepada kita kita untuk menghindari kesalahan sama yang pernah kita perbuat dan melanjutkan kembali kebaikan yang sudah kita lakukan. Tatkala kita harus melalui sebuah jalan, terkadang kita tak sadar jalan tersebut ada durinya. Setelah menginjaknyalah kita tahu di sana ada duri. Tajam menusuk, melukai kaki kita. Rasa sakit memberikan pengalaman. Saat kita melalui jalan itu kembali, kita menjadi lebih berhati-hati melangkah agar tidak mengulangi rasa sakit menginjak duri tersebut. Karena pernah menginjak duri, kita juga menjadi lebih perhatian untuk memakai alas kaki. Apabila sudah sering melakukannya, akhirnya kita menjadi terbiasa. Pengalaman ini nantinya akan mengimbas kepada kita saat akan melintasi jalan-jalan yang lainnya.

Sakit merupakan sebuah peringatan. Peringatan pada kita untuk selalu waspada, tidak lupa bersyukur dan kembali menuju kebenaran. Sakit juga mengindikasikan sebuah keterbatasan yang kita miliki agar kita tidak jumawa ataupun terlalu ambisius karena apapun yang berlebihan pastilah akan mengurangi. Misalnya terlalu banyak makan akan membuat kita muntah, terlalu banyak berharap akan membuat kita kecewa, terlalu banyak bekerja pun akan dapat membuat kita kelelahan dan jatuh sakit. Intinya semua yang keterlaluan adalah tidak baik. Lalu apakah apabila kita sakit itu berarti kita kurang waspada? Lupa bersyukur? Atau belum melakukan sesuatu dengan benar? Jawabannya adalah belum tentu. Ada sakit karena kita tidak waspada, misalnya sudah tahu jalan licin kita malah ngebut mengendarai sepeda motor, akhirnya kita jatuh. Kemudian contoh lain, kita mengidap penyakit maag kronis malah mengkonsumsi makanan yang asam dan pedas, malah makan tidak teratur, terlambat makan. Jadilah penyakit kita kambuh. Bayangkan saja bila tidak ada peringatan rasa sakit? Kita akan terus mengulangi kesalahan karena masih merasa aman-aman saja. Suatu saat nanti kita akan menumpuk banyak kesalahan yang harus kita terima akibatnya. Inilah sekaligus pertanda agar kita kembali menuju kebenaran. Bawasannya sakit yang kita derita adalah akibat kesalahan kita. Saatnya kita kembali pada sesuatu yang membuat kita bahagia dan damai lahir bathin meskipun itu pahit.

Sakit berfungsi sebagai lampu kuning untuk menunjukkan keterbatasan yang kita miliki. Kala kita begitu ambisius bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, kita lupa tubuh ini memiliki batas bekerja tertentu. Tubuh ini anugerah Tuhan yang harus kita cintai dan jaga dengan baik. Kalau sampai rusak/sakit berarti kita teledor menjaga kepercayaan Tuhan. Tidak salah jika manusia sangat bersemangat untuk bekerja, tetapi yang keliru adalah memaksakan diri, menyakiti diri tanpa istirahat. Nantinya bila sudah sakit barulah kita terasadar bahwa ada sesuatu yang berlebihan kita lakukan atau ada sesuatu yang kurang kita perhatikan, bahwa ada sesuatu yang salah! Tain temblek Tain blenget, sube jelek mare inget! Ya, sakit adalah pencerahan dari kita dan untuk kita. Laksana hujan turun deras, memberikan waktu kita berteduh untuk mengingat hangatnya sinar mentari. Demikian pula dengan sakit memberikan kita waktu untuk merenung, introspeksi diri, berkontemplasi, kemudian bangkit dengan kesadaran baru!

Bagaimana bisa kita sakit, padahal kita merasa sudah waspada, kita merasa sudah berbuat kebenaran, dan kita juga sudah selalu bersyukur? Jika kemungkinan itu yang terjadi marilah kita bijaksana menyikapi fenomena yang menimpa kita. Kita percaya karmaphala. Apa yang kita tanam, itu yang akan kita petik. Bila kita berbuat baik, pasti akan berbuah kebaikan namun hasilnya bisa saja diterima dalam bentuk dan waktu yang berbeda. Begitu pula dengan kejahatan yang pernah kita lakukan. Penderitaan yang kita alami sekarang merupakan buah dari keburukan/kesalahan yang kita perbuat sekarang atau di masa lalu atau bisa juga di kehidupan terdahulu. Yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa di saat kita merasa sudah baik, malah tertimpa sakit? Mengapa kebaikan yang kita lakukan sekarang tidak bisa kita petik sekarang? Inilah kuasa Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kita tidak pernah tahu rencana Beliau. Namun kita harus tetap memegang teguh bawasannya apa yang Beliau berikan adalah yang terbaik untuk kita, karena Tuhan amat teramat sayang kepada kita. Apa yang kita terima saat ini adalah keadaan yang “pantas” sesuai dengan karma/usaha kita. Tatkala kita menerima cobaan ataupun mengalami sakit, hikmah yang perlu kita pahami adalah Tuhan tidak menguji kita, bukan seberapa kuat kita mampu bertahan, tetapi seberapa percaya kita kepada Tuhan. Tuhan adalah Jalan, Tuhan adalah Tujuan.

Dalam sebuah keluarga, apabila seorang saja sakit dari anggota keluarga tersebut, maka secara tidak langsung yang lain juga akan merasakan sakit. Apabila orang tua sakit, Si anak secara tidak langsung merasakan sakitnya, apabila Si anak yang sakit, maka orang tua pun jauh merasa lebih sakit. Meraka akan saling merawat. Kendati demikian kita harus tetap bersyukur. Selalu ada hikmah yang bisa kita petik. Salah satunya, semua anggota keluarga menjadi bersatu, yang dulunya jarang bertemu akhirnya dapat berkumpul kembali walau dalam situasi duka. Kita juga menjadi sadar ada orang-orang di sekitar kita yang perhatian dan sangat mencintai kita. Maka dari itu, jagalah kondisi hati, pikiran, serta tubuh agar jangan sampai sakit.

Dari sekian banyak rasa sakit, ada sejenis rasa sakit yang tak ada gunanya. Itulah rasa sakit kronis. Itulah pasukan elite rasa sakit yang bukan untuk pertahanan. Itu adalah kekuatan yang menyerang. Penyerang dari dalam. Penghancur kebahagiaan pribadi, penyerang ganas bagi kemampuan pribadi, penyerbu tak kenal lelah bagi kedamaian pribadi, dan pelecehan berkelanjutan bagi hidup! Ia adalah rasa putus asa. Putus asa juga disebut rasa sakit, bahkan sulit diobati apabila sudah stadium kronis. Rasa sakit kronis adalah aral rintang terberat bagi pikiran. Kadang rasa sakit itu nyaris mustahil untuk dilampaui. Namun, kita harus tetap mencoba, berusaha. Berhenti bertanya bagaimana cara mendapatkan apa yang engkau inginkan, karena jawaban yang kita temukan hanyalah “berusaha”. Sebab jika tidak, keputusasaan akan semakin menghancurkan kita. Dari pertempuran itu akan muncul hal-hal yang baik. Kepuasan penaklukan rasa sakit dan pencapaian kebahagiaan dan kedamaian. Pada kehidupan sekalipun darinya, ini sungguhlah suatu pencapaian. Pencapaian yang sangat istimewa, sangat pribadi. Rasa akan kekuatan. Kekuatan batiniah yang harus dialami untuk bisa dipahami. Jadi, kita semua harus menerima rasa sakit. Sekalipun rasa sakit yang merusak karena itu bagian dari segala sesuatu, kemudian pikiran dapat mengatasinya. Dan pikiran akan menjadi lebih kuat dalam mengalaminya.
Om Namah Sivaya!

Selanjutnya......

Tantangan Subak di Zaman Postmodern

Eka Arsa Dewi

Subak merupakan suatu masyarakat hukum adat yang memiliki karakteristik sosioagraris-religius, yang merupakan perkumpulan para petani yang mengelola air irigasi di lahan sawah. Pengertian subak seperti itu pada dasarnya dinyatakan dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 02/PD/DPRD/1972. Subak menjadi suatu organisasi yang terdiri atas kumpulan petani dari suatu daerah pertanian tertentu. Ketua yang memimpin suatu organisasi adat subak disebut pekaseh. Organisasi Subak bercorak sosio religius dan berlandaskan Tri Hita Karana dengan fungsi utamanya adalah pengelolaan air irigasi untuk memproduksi tanaman pangan khususnya padi dan palawija. Subak memiliki karakteristik sosio religius karena nilai-nilai falsafah Tri Hita Karana (harmoni antara manusia dengan Sang Pencipta, harmoni antara manusia dengan alam, dan harmoni antara manusia dengan manusia) melandasi setiap kegiatan subak.

Lembaga Subak berdiri sendiri dan sifatnya otonom terlepas dari Banjar. Hal ini disebabkan karena orang-orang yang menjadi warga subak tidak semuanya sama dengan orang-orang yang menjadi warga suatu banjar. Warga subak ialah para pemilik atau penggarap sawah-sawah yang menerima air irigasinya dari bendungan-bendungan yang diurus oleh suatu subak. Ada kemungkinan warga subak tidak hidup di suatu banjar adat yang sama, atau mungkin ada satu warga banjar yang mempunyai banyak sawah terpencar dan mendapat airnya dari bendungan-bendungan yang diurus oleh beberapa subak. Dengan demikian warga banjar tersebut akan menggabungkan diri dengan semua subak di mana ia mempunyai sebidang sawah (Koentjaraningrat, 2010:298).

Dalam sebuah lembaga atau organisasi sudah barang tentu terdapat peraturan dan norma-norma yang menjadi kesepakatan para anggota suatu organisasi. Demikian pula halnya dengan subak. Organisasi subak biasanya memiliki awig-awig sebagai aturan tertulis, yang pada umumnya sangat dihormati pelaksanaannya oleh anggota subak. Di samping awig-awig terdapat pula aturan-aturan lain yang disebut kerta-sima, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang sudah sejak lama dilaksanakan dalam aktivitas subak dan ada pula aturan yang tidak tertulis yang berdasarkan pada kesepakatan subak pada saat dilaksanakan rapat subak dan lain-lain, yang umumnya disebut dengan perarem. Dalam aturan tersebut umumnya berisi hal-hal yang berkait dengan kiat agar lembaga subak mengelola sistem irigasi berdasarkan harmoni dan kebersamaan. Nilai-nilai luhur kebersamaan berdasarkan Tri Hita Karana yang melandasi subak bukan saja dikagumi oleh masyarakat Bali, akan tetapi dunia pun mengakuinya. Hal ini terbukti pada tanggal 20 Juni 2012 di St. Petersburg, Rusia, subak diakui sebagai Warisan Budaya Dunia yang perlu dilindungi dan dilestarikan keberadaannya. Hal ini tentu merupakan kebanggaan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Bali karena budaya kita diakui dunia. Akan tetapi, hal tersebut juga membuat kita menyadari adanya tantangan bahwa kini eksistensi subak tengah terancam digilas zaman postmodern sehingga perlu dilestarikan.

Terjadinya zaman perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat turut berdampak pada eksistensi subak di Bali. Pada era kehidupan global dewasa ini, di mana peradaban kehidupan manusia telah melampaui peradaban modern, keberadaan subak sebagai suatu organisasi tradisional menjadi terancam. Zaman global atau disebut juga postmodern yang tidak saja ditandai dengan kemajuan industri, ilmu pengetahuan dan teknologi, pola pikir dan kebiasaan hidup, manusia juga mengalami dinamika mengikuti perkembangan zaman tersebut. Pola-pola kehidupan masyarakat Bali yang awalnya agraris, mengutamakan pertanian sebagai mata pencaharian, kini berubah mengutamakan industri. Terlebih lagi dengan pesatnya pertumbuhan Pariwisata Bali. Kemajuan Pariwisata Bali memang berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Bali, namun juga memiliki kemungkinan mengancam eksistensi subak di Bali.

Pulau Bali terkenal di seluruh dunia karena pariwisatanya. Akan tetapi, pariwisata di Bali berupa pariwisata budaya yang menjadikan budaya sebagai objek jual bagi tourist-tourist agar tertarik mengunjungi Bali. Oleh karena itu, subak sebagai salah satu bentuk budaya Bali hendaknya dilestarikan keberadaannya. Bebagai upaya perlu dilakukan untuk memperkuat dan melestarikan eksistensi subak sebagai warisan budaya yang sangat unik dan dikagumi oleh banyak pemerhati irigasi di mancanegara. Sebab, jika subak yang dipandang sebagai salah satu pilar penopang kebudayaan Bali sampai sirna, maka dikhawatirkan stabilitas sosial akan terganggu dan kelestarian kebudayaan Bali bisa terancam.

Perubahan dan dinamika merupakan suatu ciri yang hakiki dalam masyarakat dan kebudayaan. Tidak ada suatu masyarakat pun yang statis dalam arti yang absolut. Setiap masyarakat selalu mengalami transformasi dalam fungsi waktu, baik masyarakat tradisional maupun masyarakat modern, meskipun dengan laju perubahan yang bervariasi (Pitana, 1994: 3). Perubahan masyarakat dan kebudayaan Bali dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal yaitu dinamika kebudayaan Bali sendiri dan faktor eksternal yang berupa pengaruh dari kebudayaan luar. Dinamika perubahan mempengaruhi masyarakat Bali dalam berbagai lini kehidupan, contohnya dari segi kehidupan ekonomi masyarakat terjadi loncatan dari kebiasaan masyarakat agraris menjadi industri dan jasa. Berikut juga dari segi agama, masyarakat Bali yang dominan menganut agama Hindu mengalami pergeseran dalam pelaksanaan agamanya, yaitu dari masyarakat yang ritualistis menjadi bersifat tattwaisme. Begitu pula dengan subak. Subak yang dulunya merupakan suatu organisasi sosial tradisional atau di Bali disebut dengan sekaa, juga tidak terlepas dari pengaruh perkembangan zaman global.

Salah satu tantangan yang dihadapi subak adalah berkurangnya lahan sawah beririgasi sebagai akibat adanya alih fungsi lahan untuk kegiatan non-pertanian, baik perumahan, pabrik industri, hotel, dan lain-lain. Tidak sedikit petani, khususnya di daerah perkotaan yang tergiur oleh tawaran harga jual tanah yang tinggi, karena jika dibandingkan dengan mengusahakan usaha tani sendiri hasilnya tidak akan seimbang. Para petani saat ini mungkin lebih memilih untuk bertani di Bank berupa uang hasil menjual sawah yang ditanam di bank dan tinggal menunggu bunganya saja setiap bulan, sehingga bisa jadi hasilnya jauh lebih besar dibandingkan jika bertani di sawah. Jika penyusutan lahan pertanian di Bali terus berlanjut, dikhawatirkan organisasi subak akan terancam punah. Jika subak hilang, apakah kebudayaan Bali tetap bertahan karena diyakini bahwa subak bersama lembaga sosial yang lainnya adalah salah satu bagian dari kebudayaan Bali. Oleh karena itu, para petani anggota subak perlu dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut masalah pengalihfungsikan lahan sawah yang berada dalam wilayah subak yang bersangkutan.

Di lain pihak meningkatnya jumlah penduduk dan pembangunan di segala bidang terutama industri pariwisata berimbas pada kebutuhan ketersediaan air meningkat tidak saja dari segi kuantitas tetapi juga kualitasnya. Sumber daya air air menjadi langka dan konflik kepentingan pemanfaatan air tidak terhindar lagi. Kompetisi antara sektor pertanian dan non pertanian menyangkut air akan cenderung meningkat di masa mendatang. Hal ini disebabkan karena air yang selama ini dimanfaatkan lebih banyak untuk sektor pertanian, saat ini dan di masa mendatang harus dialokasikan juga untuk sektor non pertanian. Oleh karena itu di tengah kelangkaan air saat ini, peranan petani subak di sini sangat penting untuk mampu mengelola penggunaan air agar lebih efisien dan hemat air. Dampak dari kemajuan industri terhadap sumber daya air juga nampak pada adanya kerusakan lingkungan, khususnya pencemaran sumber air. Banyak kita jumpai di sungai dan saluran irigasi terdapat air yang tercemar oleh limbah-limbah industri yang mengandung zat-zat berbahaya dan polutan. Selanjutnya bagaimana petani dapat menghasilkan tanaman pangan yang berkualitas baik bila air yang menjadi unsur penting dalam pertanian telah tercemar polusi.

Tantangan terbesar juga datang dari petani itu sendiri. Pada dewasa ini sangat jarang ditemui petani-petani muda. Minimnya regenerasi masyarakat petani juga menjadi masalah pelik. Untuk saat ini sebagai besar profesi petani digeluti oleh generasi tua, sedangkan generasi muda kurang tertarik untuk menggeluti profesi tersebut. Bahkan seorang sarjana bidang pertanian pun, sangat jarang mau menekuni bidangnya itu dan menjadi petani di sawah. Kebanyakan dari mereka memilih profesi lain dengan berbagai alasan. Selanjutnya timbul dampak terhadap hasil panen pangan kita yang minim, sehingga menuntut adanya impor dari negara tetangga. Bangsa kita tinggal di negara zamrud khatulistiwa, namun masih kekurangan hasil pangan. Lalu persoalan ini menjadi tanggung jawab siapa?

Penetapan subak sebagai Warisan Budaya Dunia memang hal yang sangat membanggakan bagi bangsa Indonesia, namun hal tersebut menyiratkan suatu tantangan bagi kita semua untuk melestarikan budaya luhur itu apalagi di tengah gencarnya perkembangan zaman postmodern saat ini. Namun, tentu saja hal ini memerlukan kerjasama dari berbagai aspek dan elemen stake holder serta masyarakat untuk menyadari dan mulai bertindak untuk pelestarian Subak. Subak adalah milik Bali dan mari kita jaga bersama.

Selanjutnya......

Mengenal Ajaran Suci Buddha-Sumedha

Gede Agus Budi Adnyana.

Sebuah agama Timur yang mengajarkan pengikutnya untuk masuk dalam sebuah wilayah kesadaran diri sejati, kesadaran yang tentu saja diawali oleh sebuah pencerahan (buddhi) lewat kecerdasan dan kualifikasi spiritual yang mumpuni, agama ini disebut dengan Buddha. Dengan guru besar yang agung, Yang Mulia Siddharta Gautama, mengajarkan cinta kasih dan kesadaran yang kekal, bagaikan mutiara murni tak termakan jaman dan usia.

Meskipun secara kuantitas pemeluk agama ini di Indonesia dapat dikatakan sebagai agama minoritas yang sebanding dengan Hindu, tetapi kedalam spiritual Buddha sangat dalam. Sebuah hal yang lebih mementingkan kualifikasi dan kualitas dari pada jumlah (kuantitas), adalah jauh lebih mulia mengertikan kebijaksanaan itu secara mendalam, dari pada berjumlah banyak namun kering akan kesadaran.

Orang-orang jaman sekarang kebanyakan masih bingung dan cemas akan hal-hal yang semestinya tidak membelenggu mereka. Mereka terlalu cemas akan dunia yang sejatinya memang tidak perlu dirisaukan. Kecemasan, ketakutan dan juga kesengsaraan adalah disebabkan karena diri kita sendiri, dan pikiran itu menjadi faktor utama segalanya.

Pengendalian akan perintis sebuah keadaan yang kita sebut sebagai pikiran inilah yang tidak diketahui oleh banyak orang. Bagaimana cara memandang segala sesuatu dengan tanpa keinginan yang terlalu kuat, adalah sebuah hal yang pertama yang harus dilakukan seseorang, agar tidak terikat akan belenggu. Orang yang terikat akan belenggu adalah orang yang dengan pasti masuk dalam wilayah kecemasan.

Bagaimana mungkin orang yang cemas akan menemukan kebahagiaan? Oleh sebab itulah, mengapa meniadakan keinginan yang mengikat diri adalah sebuah hal yang perlu dikembangkan untuk kesadaran spiritual. Mereka yang terikat adalah mereka yang terbelenggu, dan setiap yang terikat pasti menderita, entah dengan cara apa.
Bisa saja kita berkata, bahwa kekayaan dan kenikmatan dunia adalah perlu dan semua orientasi akan kebehagiaan adalah dari kekayaan. Sayangnya paradigma itu adalah keliru, kebahagiaan tidak ada hubungannya dengan harta dunia, dan malah dengan memiliki kekayaan yang besar seseorang akan merasa cemas dalam hidupnya. Cemas dalam banyak hal, dan kekayaan itu juga tidak akan kekal.

Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak kekal dapat membawa kita pada kebahagiaan sejati dan kekal? Dalam risalah Buddha, seorang pemuda tampan dan terpelajar dalam sastra, hidup mengetahui kebenaran ini. Dia bernama Sumedha, dan terlahir sebagai seorang anak muda dengan mewarisi kekayaan berlimpah ruah banyaknya, yang semua itu dikumpulkan oleh ayah, ibu dan kakek serta neneknya terdahulu.

Semestinya dengan kekayaan yang begitu besar dia dapat berbuat sesuka hatinya dan menikmati apa yang menjadi keinginannya. Sumedha sadar bahwa dengan memanjakan dan memenuhi hasrat, semuanya tidak akan membawa apa-apa. Malah dengan membiarkan diri kita memenuhi semua unsur duniawi itu, kita semakin menderita. Sebab keinginan dunia tidak pernah dapat dipuaskan, dan memang tidak akan pernah berakhir, seperti sebuah samudera yang tanpa tepi.

Memuaskan tubuh hanyalah mendatangkan keinginan yang lain lagi bahkan yang lebih besar. Sumedha berpikir, bahwa ayah dan ibunya serta kakek dan neneknya dulu dapat menimbun harta kekayaan besar ini, tetapi ketika mereka semua mati, tidak satu pun harta kekayaan yang dikumpulkan dengan susah payah ini dapat mereka bawa mati.

Sumedha berpikir, bahwa suatu ketika nanti dirinya juga akan mengalami hal yang serupa. Yakni masuk dalam usia tua, kemudian jatuh sakit dan pada akhirnya akan mati menyusul seperti yang lain. Sebab apapun yang pernah dilahirkan, suatu ketika nanti pasti mati.

Di antara hidup dan kematian adalah usia. Kemudian diantara usia itu ada penyakit, dan penyakit ini sebagian besar disebabkan karena pikiran kita. Pikiran yang sakit adalah pikiran yang tidak dapat memenuhi kehendaknya, ketika seseorang memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu, dia akan terikat akan hal itu, dan keterikatan inilah yang membawa pada penderitaan.

Sadar akan hal itu, Sumedha kemudian menyumbangkan seluruh harta kekayaannya kepada masyarakat miskin dan yang memerlukan. Setelah itu, dia pergi ke pegunungan Himalaya dan menjadi seorang pertapa di sana. Masuk dalam samadhi yang dalam, Sumedha kemudian menjalani hidup layaknya pertapa, dia menggunakan jubah serat kulit kayu sebagai pakaian, dan tetap melakukan tapa.

Dia menyepi di sebuah kaki gunung Dhammika dan berteduh di sana pada sebuah gubuk yang sudah usang. Dari pertapaan yang dia lakukan, Sumedha mengetahui bahwa ada tiga jenis pemikiran yang buruk: (1) Kama Vitakka, yaitu pemikiran yang berasal dari nafsu-nafsu duniawi; (2) Vyapada Vitakka, yaitu pemikiran yang berdasarkan niat buruk, pembunuhan, penghancuran, perusakan dan juga kekejaman; (3) Vihimsa Vitakka, pikiran yang merugikan pihak yang lainnya.

Ketika menghilangkan pikiran-pikiran inilah, seluruh kebijaksanaan akan mulai menampakkan diri di dalam diri seseorang. Bagaimanapun juga pikiran adalah pelopor segalanya. Dengan demikian apapun yang dipikirkan itulah yang akan terjadi kelak.

Oleh sebab itulah, satu rahasia besar sejatinya adalah bagaimana mengolah pikiran kita agar tetap senantiasa semimbang dalam segala hal. Keseimbangan tidaklah didapat dengan instant dan mudah, perlu sebuah latihan dan disiplin (sadhana) yang baik untuk mencapai hal tersebut.

Maka pusatkanlah pada sepuluh kesempurnaan yang telah diselidiki dengan seksama oleh Sumedha. Sepuluh kesempurnaan itu disebut Dasa Parami, yakni: (1) Dana, atau kedermawanan; (2) Sila, yakni moralitas; (3) Nekkhamma, pelepasan belenggu duniawi; (4) Panna, kebijaksanaan; (5) Viriya, Daya atau usaha yang baik; (6) Khanti, atau kesabaran dan ketabahan diri; (7) Sacca, kejujuran dan kebenaran; (8) Adhittana, atau keteguhan hati; (9) Metta, cinta kasih dan welas asih; (10) Upekkha, atau ketenangan dan keseimbangan.

Untuk mencapai kesempurnaan itu, maka seseorang harus dapat mengendalikan dirinya sendiri, dalam ketabahan, kedisiplinan, dan kemauan yang keras untuk menemukan kebenaran. Hakikat ini, sama saja dengan pertapa, bahwa ketika seseorang hendak menjadi vairagya, maka dia harusnya tidak terikat, sebab orang yang terikat pasti menderita.

Selanjutnya......

Kejujuran Terpinggirkan, Semuanya Tunduk pada Uang

Belakangan ini, sebagaimana diberitakan media massa, perilaku curang dalam bentuk tindak pidana korupsi semakin sering terjadi. Seolah-olah fungsi agama untuk meningkatkan moral dan derajat manusia telah mengalami kegagalan. Para pejabat, yang seharusnya menjadi panutan, apakah itu PNS di kejaksaan, hakim, polisi, birokrat, anggota legeslatif, dan lain sebagainya tampak semakin kemaruk saja untuk mengumpulkan kekayaan secara tidak halal. Berikut wawancara Made Mustika dari Raditya dengan Drs. I Wayan Suja, M. Si.

Drs. Wayan Suja, M.Si, seorang dosen di Undiksha Singaraja mengatakan, “Orang Bali lebih takut melanggar tradisi daripada melanggar ajaran agama,” katanya suatu ketika saat memberikan dharmawacana di sebuah sekolah. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih jelas mengapa keterpurukan bangsa semakin parah, Raditya berkesempatan datang ke rumahnya di Jl. Pulau Komodo, Gang Ayodya, Singaraja, beberapa waktu lalu. Berikut petikannya.

Secara umum, bagaimana komentar Anda melihat semaraknya umat Hindu melakukan ritual pada saat-saat hari keagamaan itu datang, termasuk kegiatan Purnama-Tilem di sekolah-sekolah?

Aktivitas yang baik, tetapi jauh lebih baik jika kesemarakan ritual juga dibarengi dengan upaya untuk mengisi diri dengan nilai-nilai kehinduan dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika hanya ritual, agama tidak akan pernah dijadikan tuntunan dalam kehidupan pribadi dan sosial. Dalam kondisi seperti itu, bukan hanya umat yang “terbebani” akibat ritual yang cenderung semakin mengembang, tetapi agama itu secara perlahan namun pasti dituntun menuju kelenyapan. Ibarat balon yang terus ditiup, memang penampakannya semakin menarik, tetapi akhirnya … meledak. Demikian juga praktek ritual, jika tidak dituntun dengan tattwa Veda, dia hanya enak dijadikan tontonan, atau enaknya hanya pada pihak penonton. Ditinggalkannya Hindu Dharma seiring rubuhnya Majapahit dan hijrahnya krama Bali saat ini ke keyakinan lain adalah bukti kekeliruan beragama yang hanya mengurusi soal-soal ritual. Sekali lagi, ini bukan kesalahan ajaran Veda, tetapi karena kekeliruan kita dalam mengemas praktek beragama, dan malas minum susu segar Sanatana Dharma.

Sudah idealkah itu?

Sangat jauh dari ideal, apalagi kesempurnaan. Jika tiga kerangka agama hanya digarap pada satu tiang, maka bangun agama itu tidak akan kokoh. Apalagi, dalam konstruksi agama, fondasi yang sesungguhnya adalah sraddha, yang terbangun lewat pemahaman tattwa. Tanpa pemahaman tattwa dan praktek kesusilaan, bangun agama itu ibarat candi atau gedung yang dibangun di atas pasir. Sedikit saja ada gangguan, apalagi gempa, banjir, atau badai, bangunan itu pasti rubuh. Dalam kondisi itu, ornamen ritual bagaimana pun indah dan megahnya, pasti tidak akan mampu mencegah ambruknya kontruksi agama tersebut.

Mengenai banten atau sesajen. Apakah hal yang kita warisi tidak bisa disesuaikan lagi, atau dimodifikasi kalau alat kelengkapannya dirasakan memberatkan karena faktor langka atau mahal?

Sumber hukum penggunaan banten dalam praktek ritual bukan sruti (wahyu), tetapi tradisi lokal yang diciptakan oleh orang-orang bijak pada zamannya. Penggunaan banten sebagai sarana pemujaan melibatkan kerja sama manusia dan alam untuk memuliakan kebesaran Tuhan. Setiap unsur banten memiliki makna simbolik untuk mengenal hakekat diri, serta mengharmonisasi diri dengan Sang Pencipta, masyarakat, dan lingkungan. Itulah banten, bahasa spiritual untuk mengekspresikan diri dalam berkomunikasi dengan lingkungan, menggunakan unsur alam sebagai sarana. Permasalahannya, karena kerakusan kita mengeksploitasi alam dan malas memeliharanya, ketersediaan sarana upakara semakin terbatas. Kini, untuk memenuhi kebutuhan ritual, Bali mesti mendatangkan janur, buah-buahan, telor, bahkan sampai semat dari luar. Sudah saatnya kita mengefisienkan penggunaan sarana upakara, memodifikasi, atau bahkan menggantikan dengan produk lokal lainnya. Jika tetap berpegang pada tradisi dengan membabi buta, maka sesungguhnya kita telah mengurbankan diri untuk masa lalu, bukan untuk kebesaran agama.

Bagaimana pendapat Anda jika seseorang menggantikan ritual dengan kirtan (melantumkan mantram-mantram) atau meditasi? Mana yang lebih utama di antara cara-cara itu?

Prakteknya di masyarakat pada komunitas tertentu, itu bukan masalah penggantian; tetapi variasi dalam mengekspresikan bakti. Dasar bakti adalah cinta, sementara cinta bisa diungkapkan dengan banyak cara. Hindu agama besar. Ibarat sebuah restoran siap saji, Hindu menyediakan berbagai menu sesuai dengan selera pelanggannya. Walaupun nama dan rupa kemasannya, bahkan juga rasanya berbeda, zat-zat gizi dalam makanan tersebut tetaplah sama. Setiap orang merdeka untuk memilih cara yang terbaik baginya untuk menghubungkan diri kepada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita Tuhan bersabda akan menerima bakti setiap orang tanpa membedakan cara yang ditempuh oleh baktanya itu, yang terpenting adalah keyakinan, ketulusan, dan juga kesesuaian dengan petunjuk Veda (vidhi drstah). Dalam kaitan dengan pembinaan umat, Smerti menyebutkan upakara yajna cocoknya pada zaman Dwapara, sedangkan pada Kali Yuga sekarang ini, ada dua cara dianjurkan, yaitu namasmaranam dan danam (dana punya). Mana yang paling mulia, tentu yang paling mampu mengantarkan diri kita mencapai jagathita dan kelepasan, atau setidaknya ketenangan jiwa.

Banyak orang mengatakan kejujuran kini semakin langka. Berikan alasan mengapa kondisi itu bisa terjadi?

Penyebabnya karena terjadi pergeseran jiwa zaman. Jiwa zaman sekarang adalah uang, karenanya semua diukur dengan uang. Keuangan itulah yang mahakuasa. Apa yang sekarang ini tidak bisa dibeli dengan uang? Kelulusan dan nilai studi, gelar akademis, jabatan, bahkan sampai harga diri seseorang, semuanya tunduk pada uang. Dalam kondisi seperti itu, kejujuran seolah terpinggirkan. Bahkan, untuk berkata jujur saja kita perlu mohon ijin. Maaf, jika boleh saya berkata jujur… Kejujuran selalu dipandang sebagai ancaman bagi mereka yang curang dan pembohong, dan sayangnya kecurangan dan kebohongan itu justru melekat pada penguasa. Dalam cengkeraman atmosfer ketidakjujuran seperti itu, jujur berarti hancur; sebaliknya tidak jujur akan selalu mujur. Kondisi itu menyebabkan, suara hati tidak akan pernah terdengar karena sangat lemah, dan pasti kalah oleh suara perut!

Secara umum masyarakat yang berpendidikan kini jumlahnya meningkat. Mengapa masalah kejujuran tidak sebanding dengan peningkatan jumlah warga yang mengenyam pendidikan?

Lembaga pendidikan kita memang lupa melatihkan kejujuran. Sekolah dan perguruan tinggi cenderung hanya menyiapkan siswanya agar mampu mencari kerja, bukan menyiapkan diri agar bisa hidup dengan benar. Karena hanya dilatih mengasah otak, maka hati menjadi tumpul dan karatan. Itulah sebabnya, banyak orang cerdas kepalanya, tetapi sangat tidak cerdas hatinya. Produk pendidikan seperti itu sangat berbahaya. Orang yang tidak mengenyam pendidikan, yang disebut orang bodoh hanya menyusahkan dirinya atau maksimal keluarganya; tetapi orang pintar yang tidak jujur bisa membahayakan seluruh bangsa, bahkan seluruh kehidupan di muka bumi ini. Rahwana, Sakuni, Hitler, dan para koruptor yang bermunculan saat ini adalah contoh orang-orang pintar produk pendidikan yang gagal.

Jika kejujuran semakin langka, bagaimana cara memperbaikinya? Apakah jam pelajaran agama perlu ditambah?

Tidak perlu. Untuk membangkitkan kembali kejujuran dari mati surinya, hanya perlu penyadaran dan panutan, bahwa kejujuran merupakan hal yang paling utama dalam beragama, dan nilai tertinggi dalam harga diri seseorang. Tanpa kejujuran, sesungguhnya kualitas manusia jauh lebih rendah dari pada binatang. Sampai saat ini belum ada binatang berbohong, kecuali jika dilatih oleh manusia. Menambahkan jam pelajaran agama untuk melatih kejujuran, itu mubazir! Bahkan, memberikan peluang untuk munculnya ketidakjujuran yang baru. Kejujuran sesungguhnya tidak terlalu perlu diajarkan, tetapi sangat mendesak untuk dicontohkan dan dibiasakan. Dalam hal ini, orang tua, guru, masyarakat dan pemerintah adalah panutan bagi setiap anak dalam memupuk kejujuran. Jika anak berbohong, orang tua dan gurunya perlu introspeksi diri. Jika kejujuran langka di masyarakat, maka penguasalah yang menjadi sumber kebohongan itu.

Jika diminta memberi saran kepada pemerintah, mana yang lebih baik untuk dipilih antara pendidikan budi pekerti dengan pelajaran agama?

Bagi saya, bukan mata pelajarannya yang penting. Malah, jika ada ruang untuk memberikan saran, saya sarankan untuk melakukan reposisi dan restrukturisasi kurikulum. Pendidikan moral perlu dicontohkan dan dibiasakan sejak dini, mulai TK. Di SD hanya belajar calistung (baca, tulis, hitung) dan memantapkan karakter. Setelah di SMP barulah diperkenalkan berbagai cabang ilmu dengan semakin memantapkan nilai-nilai karakter dalam keterpaduannya dengan nilai-nilai ilmiah. Dengan demikian, nilai moral, karakter, atau budi pekerti tidak perlu diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri, tetapi terintegrasi dengan seluruh mata pelajaran yang ada. Dengan demikian, membangun karakter bukan hanya tugas guru bidang studi tertentu, tetapi swadharma yang melekat pada jabatan pendidik.

Banyak pengamat juga mengatakan, di balik sisi-sisi positif UN, konon ada pula sisi-sisi yang tidak baiknya. Katanya, UN menyuburkan kecurangan dan mengerdilkan kejujuran. Bagaimana pendapat Anda?

Selama keberadaan fasilitas pendidikan dan SDM belum memadai seperti saat ini, saya termasuk orang yang tidak setuju dengan adanya UN, apalagi untuk menentukan kelulusan dan penerimaan di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Jika dipaksakan, maka kepentingan politiklah yang menjadi panglima. Dalam dunia politik, ketidakjujuran bukan sesuatu yang luar biasa. Demi nama baik, kepala daerah menginstruksikan agar kepala sekolah “menyukseskan” UN, selanjutnya kepala sekolah “membekali” guru, dan tim guru menyusun “strategi.” Hasilnya, UN sukses dengan mengorbankan kejujuran, dan semua berbangga atas prestasi bohongan yang telah diraih. Bagi saya, ini benar-benar bencana. Jika lembaga pendidikan telah diatur dengan kekuatan dan kekuasaan politik, maka sesungguhnya kita telah menyiapkan diri untuk menyambut kehancuran bangsa.

Di bidang sosial kebangsaan, akhir-akhir ini kasus korupsi nampak semakin menggurita. Dikaitkan dengan moral-keagamaan, mengapa soalah-olah agama gagal membendung nafsu manusia untuk korupsi?

Bukan seolah-olah, tetapi memang gagal! Semua ini terjadi karena pelajaran agama telah salah sasaran. Pengajaran agama semestinya lebih menekankan pada pelembutan hati, sehingga membuat orang menjadi cerdas hatinya. Prakteknya sekarang, pelajaran agama baru menyentuh kecerdasan otak, sehingga muncullah orang-orang munafik yang suka memperalat ayat-ayat suci untuk membenarkan perilakunya, termasuk untuk korupsi. Di sisi lain, masyarakat juga berkontribusi terhadap suburnya perilaku amoral itu. Sekarang ini, harga diri seseorang tidak diukur dari perilakunya, tetapi berdasarkan apa yang dikonsumsinya, apa fasilitas dirinya, dan apa jabatannya. Singkatnya, proses tak penting, yang penting produknya. Akibat lebih lanjut, tuntunan agama agar kita mencari ketenangan, telah bergeser menuju kesenangan. Karena kesenangan itu tanpa batas, maka orang-orang seperti itu tidak bisa lagi makan memakai sendok dan garfu, tetapi memakai “sekop” dan “cangkul”.

Saran apakah yang dapat disampaikan agar manusia Indonesia, terutama generasi mudanya, menyadari bahwa kejujuran lebih utama dari kekayaan?

Mesti diberikan contoh dan bukti, bahwa kenikmatan jabatan dan kekayaan hanya bersifat sementara. Orang bisa saja meraih jabatan, dan apa saja dengan cara tipu-tipu, tetapi Hukum Karma tidak bisa disuap. Semua perbuatan akan mendatangkan pahala yang setimpal. Siapa saja yang mempermainkan hukum, maka dia akan dipermainkan oleh hukum itu sendiri. Dharma eva hato hanti. Sebaliknya, siapa yang menjaga kejujuran, dialah yang akan diselamatkan oleh kejujuran itu sendiri. Dharmo raksati raksitah. Karena itu, agama selalu menekankan agar kita berbuat jujur, karena kejujuran adalah mahkota kehidupan. Kejujuran adalah kebenaran yang paling utama, satyam paramadharma, dan pasti menang, satyam eva jayate. Dengan kejujuran orang bisa meraih kekayaan, tetapi untuk berbuat jujur orang tidak perlu kaya terlebih dulu.

Kembali ke soal ritual, maraknya ritual apakah mencerminkan keberhasilan pendidikan agama di masyarakat?

Sama sekali tidak, bahkan lebih sering menampilkan wajah kemunafikan. Disebut munafik manakala kesemarakan ritual tidak seiring dengan kehalusan budi, dan keluhuran perilaku. Contohnya, ritual caru dengan berbagai bentuknya semakin marak, tetapi alam Bali justru semakin tercemar oleh sampah, termasuk sampah plastik. Upacara manusa yajna, terutama “potong gigi” dan pernikahan semakin megah; tetapi perselingkuhan, perjudian, dan korupsi justru semakin terang benderang. Upacara ngenteg linggih semakin marak, pencurian pratima dengan melibatkan warga lokal pun juga tidak kalah gencarnya. Atas dasar itu, jika ritual tidak menyebabkan perilaku umat menjadi lebih baik, tidak ada transformasi diri, itu adalah ciri kegagalan pendidikan agama, yang hanya akan melahirkan anak-anak haram, seperti munafikisme, premanisme, bahkan terorisme.

Ada orang mengatakan, keberhasilan pendidikan agama akan lebih tepat bila penilaian didasarkan atas perbuatannya, bukan pada kesemarakannya melaksanakan ritual, bagaimana komentar Anda?

Saya sangat setuju. Religion is action! Agama mesti muncul sebagai pemberi solusi atas masalah yang dihadapi pribadi dan masyarakat, bukan sekedar menghibur dengan aktivitas ritual yang bersifat simbolik. Lewat doa-doa dalam ritual kita bisa memohon tuntunan agar mampu menghadapi dan memecahkan masalah, tetapi bukan doa itu yang akan menyelesaikan masalahnya. Masalah mesti dipecahkan dengan tindakan nyata, dan di situlah peran agama sebagai penuntun. Dalam pandangan saya, pengetahuan agama mesti diwujudkan dalam perilaku. Ritual itu baru simbol, bukan esensi agama yang sesungguhnya. Fungsi ritual hanya mengingatkan dan menyadarkan, bukan memecahkan masalah yang sesungguhnya. Atas dasar itu, ritual itu penting, tetapi bukan yang terpenting. Ibarat pohon, kualitasnya tidak ditentukan oleh lebat bunganya, tetapi dari kualitas buahnya.
Terima kasih.

Selanjutnya......