Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 0819 9937 1441 -- 0821 4600 0640. Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni. Terbit bulanan. Eceran di Bali Rp 20.000,- Pelanggan Pos di Bali Rp 22.000,- Pelanggan Pos di Luar Bali Rp 26.000,-

Rabu, 15 Mei 2019

Dharmasanthi Nyepi di Kota Palu

Laporan  Ni Wayan Pariatni

Banyak cara untuk menunjukkan rasa syukur ke Ida hadapan Hyang Widhi Wasa atas datangnya hari raya Nyepi Tahun baru caka 1941/2019 Masehi. Rasa syukur itu kita wujudkan terlebih karena Umat Hindu Kota Palu secara umum selamat dari musibah besar gempa bumi yang melanda bumi Tadulako dan sekitarnya. Dalam suasana keprihatinan semarak rangkaian perayaan Nyepi tidak bergeser dari esensi yang sesungguhnya dan jauh dari kesan hura-hura. Kesederhanaan inilah yang berusaha dikemas dan diterjemahkan oleh Ketua Panitia Penyelenggara, Ir. Made Muliawan ke dalam bentuk kegiatan spiritual dan seremonial.

Made Muliawan yang juga interpreneur muda dan motivator wirausaha ini melibatkan semua unsur organisasi  dan krama Hindu untuk andil dalam kegiatan ini. Dalam laporan panitia pelaksana  yang disampaikan di hadapan Walikota Palu dan tamu undangan mengatakan bahwa dengan mengambil tema “Melalui  Brata Penyepian Kita Sukseskan Pemilu 2019” mengandung pesan moral yang dalam terkait rentetan perayaan Nyepi dan  tahapannya, seperti melasti,tawur agung kesanga, catur brata penyepian, dan ditutup dengan ngembak geni.  Semuanya mengandung makna kembali pada jatidiri yang suci dan harmonis dan membangun kualitas persaudaraan intern dan antar umat yang lebih kokoh.


Dimulai tanggal 3 Pebruari sampai dengan 31 Maret 2019 berbagai kegiatan lomba, pertandingan dan aksi sosial digelar seperti lomba outbond, senam tobelo, tari Rejang, dharmawacana, sanggul, pejati dan lomba Jegeg-Bagus.

Untuk aksi sosial panitia mengadakan kegiatan donor darah bekerjasama dengan PMI, pembagian sembako dan pengobatan gratis di Desa Kasimbar, Desa Napu, dan Kota Palu. Selain plying fox dan pasar murah, untuk memupuk rasa solidaritas panitia menggelar pesta kuliner  masakan khas Nusantara melibatkan semua unsur perwakilan banjar, WHDI, SSG Palu, pemuda dan mahasiswa serta ada partisipasi dari luar krama Hindu.

Kegiatan jalan santai merupakan event tahunan secara rutin dilakukan dengan partisipasi para donator yang antusias menyiapkan aneka hadiah menarik. Keseluruhan rangkaian perayaan Nyepi akhirnya ditutup dengan malam Dharmasanthi yang dihadiri oleh Walikota Palu  Drs. Hidayat, M.Si.
Senada dengan laporan ketua panitia, walikota juga dalam sambutannya mengungkapkan bahwa  dharmasanthi ini merupakan momentum kebangkitan di tengah rasa prihatin atas cobaan yang mendera warga Kota Palu dan sekitarnya. “Kita adalah insan yang tangguh, ikhlas namun penuh perjuangan dalam merespon penomena alam yamg luar biasa ini. Oleh karena itu umat Hindu Kota Palu harus bersatu padu bergandengan tangan terlebih kita akan menghadapi pemilu,” ucap Hidayat.
Ia menambahkan,  bahwa pada malam ini di tempat ini ada banyak caleg-caleg dari wakil Hindu Kota Palu. “Saya berdoa semoga calon wakil rakyat itu lolos menduduki kursi parlemen, sehingga makin banyak yang memperjuangkan kepentingan umat Hindu dalam ikut membangun Kota Palu yang kita cintai,”  tegas walikota yang pencinta seni tradisional ini.

Malam Dharmasanthi juga diisi pentas pengenalan tarian kebesaran WHDI, yaitu  Andamar ing Gumi di bawah arahan Ketua WHDI Provinsi Sulawesi Tengah, Ni Nyoman Anggraeniati, S.E.,M.Si. Di samping itu juga dimeriahkan pementasan sendratari Kebo Iwa dan ditutup penampilan lawak dari Bali.

PHDI Kota Palu Ir. Nyoman Dwinda dalam sambutan hikmah Nyepi juga mengajak kepada  semua pihak untuk senantiasa menjaga keharmonisan dan keamanan apalagi  sedang menghadapi tahun politik, dimana  untuk pertama kalinya menggelar pemilu serentak. “Sebagai saudara sedharma yang dikenal karena keramahtamahan dan persatuan ini, maka teruslah  jaga kerukunan, jangan mudah terpancing oleh berita hoaks yang menyesatkan yang pada akhirnya dapat menimbulkan perpecahan. Mari kita terapkan ajaran luhur Tri hita karana sepanjang masa,” ajak Dwinda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar