Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 0819 9937 1441 -- 0821 4600 0640. Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni. Terbit bulanan. Eceran di Bali Rp 20.000,- Pelanggan Pos di Bali Rp 22.000,- Pelanggan Pos di Luar Bali Rp 26.000,-

Rabu, 15 Mei 2019

Prabu Salya dan Nyanyi Pagi Hari Dewi Satyawati

Luh Made Sutarmi

Siang hari  itu  udara berdesir lembut, semua  tampak bersinar tertimpa cahaya mentari. Hidup terus berjalan dan tak pernah berhenti sejenak, tak hirau apapun yang terjadi. Dalam terminal seperti itulah sejatinya hidup memang terus bermakna. Kata bijak  tentang keindahan jiwa bertutur kembali,
“Bangunlah di pagi hari dengan senyuman, karena hari ini kau akan selangkah lebih dekat dengan impianmu.” Maka matahari belum beranjak menjauh engkau telah mempersiapkan semuanya dengan tangkas. Setahun dari sekarang kau mungkin berharap kalau kau sudah mulai berbuat hari ini. Tahun ini, bulan ini, adalah yang terbaik untuk maju, taka ada hari lagi, kerja sudah menunggu. Bekerja dan terus berkarya adalah cara kita untuk mencapai kebaikan dalam hidup ini.  Tak perlu jadi hebat untuk memulai, tetapi kau harus memulai untuk bisa jadi hebat.

Sebab hidup terus berputar dan terus meninggalkan orang malas. Terus berinovasi, rumus mencari bahan-bahan dan metode baru, dan memiliki aspek yang menguntungkan. Itu sebabnya masa depanmu diciptakan oleh apa yang kau kerjakan hari ini, bukan besok. Sebagian orang bermimpi untuk sukses, sedangkan sebagian lainnya bangun di pagi hari dan mewujudkannya. “Jangan pernah tersandung hal-hal yang sudah berada di belakangmu,” demikian orang bijak bertutur.

Berikut adalah dialog   Prabu Salya dengan Dewi Satyawati, yang dulunya bernama Pujawati, putri dari Rsi Bagaspati, itu berdiskusi  tentang kehidupan  sebelum Prabu Salya  menuju medan Kurusetra. Ternyata hari itu adalah hari ke tujuh belas perang berlangsung, dan tak pernah terduga bahwa hari itu adalah hari terakhir hidup di bumi ini.

*****
Matahari pagi sinarnya sangat terang, sinar itu memberikan beragam panorama yang menggiurkan semua insan, kehidupan seakan terjaga atas kemampuan cahaya itu untuk  memberikan pemaparan zat ruhaniah  dari  sinar ultraviolet pada  kulit. Sinar tersebut merubah cadangan makan  di kulit menjadi vitamin fungsional, demikianlah terus bersiklus tiada henti. Kehidupan terjaga dalam beragam pesona yang indah.

Saat itu  Dewi Satyawati, istri Prabu Salya,  wajahnya yang indah berbinar selalu memberikan  bahasa kehidupan yang nyata. Penuh dengan hidup, seperti saat ini jauh dari pusaran kesedihan. “Oh istriku,  engkau tidak ada hadir setiap sesi keinginan bertemu, sebab semua itu membuat jiwaku bergulat penuh dengan amukan gelombang-gelombang amukan hati yang menggelepar,  terasa jiwamu menggeliat bagaikan indahnya matahari. Suaramu, pancaran wajahmu memikat hatiku,”  seru  Prabu Salya.

Demikianlah dia merayu dan memuji sang istri  yang merupakan sosok yang terus mendampinginya di medan Kurukshetra sejak dia dilantik menjadi senopati perang di pihak Kurawa. “Namun pagi hari ini senyummu bermakna lain, apakah yang terjadi nanti, mungkin hidupku hanya masih tersisa hari ini, nanti di medan Kuru  ini  aku akan berhadapan dengan Pandawa, Lima  dan mungkin aku bisa bertemu dengan Yudistira, yang merupakan reinkarnasi Rsi Bagaspati.  Oh Dewiku, senyummu itu membersitkan sebuah perpisahan yang dalam, ataukah  perpisahan untuk kembali lagi? Dalam bentuk apakah kita mesti bersua, semuanya akan pergi,” kata  Prabu Salya  pada hari ketujuh belas, sebelum berangkat menuju medan perang di  arena Kurukshetra.

“Oh suamiku, hidup kita tak pernah bisa kit prediksi ke masa depan. Namun yang pasti lakukanlah kewajiban kakanda untuk berperang untuk tanah tercinta,” kata Dewi Satyawati
Salya berkata, “Dewi Satyawati,  istriku, sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat akan jatuh juga. Demikian pula sekuat apapun kita berusaha menggenggam pada akhirnya akan kehilangan juga. Senyummu mengabarkan bahwa kita merasa kehilangan karena kita merasa memiliki. Hari ini  aku akan berangkat perang menuju medan Kurukshetra, hidup atau mati sudah ditakdirkan untukku,” sayang

Salya menambahkan, “Istriku, kita tidak akan pernah kehilangan jika kita tidak pernah memiliki, karena kita senang maka kita melekat padanya, kita menyayanginya. Karena nafsu keinginan kita jadi melekat. Karena melekat kita jadi ingin menggenggam hal-hal yang kita senangi, menggenggam hal-hal yang kita senangi begitu erat. Kita ingin mempertahankannya. Karena melekat kita jadi menderita ketika kehilangan.”

Dewi Satyawati berkata, “Ya suamiku, karena keluarga adalah sebuah kemelekatan, disana kita diajarkan untuk hidup bersama dalam suatu ikatan, ikatan inilah yang membuat kita tak bebas. Dari keterikatan muncul kesedihan, dari keterikatan muncul ketakutan; bagi dia yang melepaskan diri dari keterikatan, tidak akan ada kesedihan maupun ketakutan. Marilah kita jaga pintu-pintu indera kita. Marilah kita menahan diri dari makan. Marilah kita bertekad untuk kesungguhan dan mempersenjatai diri kita dengan kecerdasan yang bersih dan jernih, dan bebas dari segala bentuk kesengsaraan.”

Prabu Salya tersenyum. “Istriku sayang, berpisah dengan mereka yang dicintai dan bertemu dengan mereka yang tidak dicintai, keduanya merupakan penderitaan. Lepaskanlah segala sesuatu pasti berubah, tidak ada yang bisa kita pertahankan untuk tidak berubah. Kita tidak bisa melawan hukum alam. Bahwa segala sesuatu itu tidak kekal. Setelah muncul akan lenyap. Semua orang pasti pernah mengalami yang namanya kehilangan. Tidak peduli apakah ia tua, muda, kaya, miskin, laki-laki. Kita bisa mengalami kehilangan kapan saja, mulai dari kehilangan yang kecil sampai yang besar. Yang perlu kita lakukan hanyalah memahami dan menyadari bahwa mengalami kehilangan adalah hal yang wajar.”

Salya menambahkan, “Tidak perlu bersedih. Ketika kita mampu menerima kebenaran sejati ini, maka hati kita menjadi lapang ketika cobaan berlabelkan kehilangan menyapa kita. Ketika kita memiliki kekhawatiran dalam pikiran, jangan tunjukkan muka murungmu kepada setiap orang yang kamu temui. Kamu bisa memperlihatkan kekhawatiranmu hanya kepada orang yang bisa membantumu. Betapa indahnya bila kamu mampu tetap tersenyum di hadapan segala kesulitan yang kamu hadapi.”
Salya berkata kembali, “Yang perlu engkau ketahui bahwa bersiaplah kehilangan diriku. Pesanku: tetap sabar, tabah, dan tegar menghadapi kehilangan. Dunia tidak serta merta hancur ketika kita mengalami kehilangan. Kehilangan justru merupakan awal yang baru dalam hidup kita. Terima perubahan, terima kehilangan, bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki, maka hatimu akan menjadi lapang. bahwa dalam kemalangan, ketabahan dan kesabaran seseorang dapat diketahui. Ketika kita kehilangan sanak keluarga yang dicinta, sahabat, dan hal-hal yang kita senangi, kita tidak perlu meratap, menjadi gelisah, dan berduka. Yang perlu kita lakukan, yaitu menguatkan diri kita agar tetap sabar dan tahan uji.”

Dewi Satyawati berkata, “Suamiku, aku menyadari sepenuhnya, bahwa  ketika kita kehilangan sesuatu, kita baru menyadari bahwa ternyata masih banyak hal lain yang berharga yang selama ini tidak kita perhatikan. Masih ada sahabat sejati yang selalu berada di samping kita. Mereka akan menyembuhkan luka hati  kita, kapan pun kita berduka karena kehilangan yang kita alami, pahamilah semua ini sayang.”

Prabu Salya  menambahkan kembali, “Istriku, perlu engkau  camkan, ketika seseorang memberikan kebaikan pada orang lain, menanam kebaikan pada orang lain, maka kebaikan itu akan kembali kepada pemberinya. Pemberinya akan memetik buah kebaikan yang ia tanam. Buat dirimu berharga dan berguna bagi orang lain, berbuat baik, luangkan waktu untuk orang lain, dengan begitu kamu akan lupa bahwa kamu sedang mengalami kehilangan.”

“Ya, istriku sebagai salam perpisahan ku padamu, untuk berangkat ke medan perang, hari ini, perlu engkau ketahui, ada dua sahabat  karibnya, yaitu si penerimaan dan si kemelekatan. Tentunya kita bisa melihat pada diri kita sendiri, sahabat mana yang lebih sering muncul ketika kita mengalami kehilangan. Ketika engkau kehilangan aku, apakah si kemelekatan yang hadir atau si penerimaan, keduanya ada padamu, sebab kupikir kita adalah bisa menyempurnakan satu sama lain. Namun, di dunia ini tak ada yang sempurna. Oh... kasihku. Terima kasih telah memberikan wejangan yang hebat.”

Dewi Satyawati tersenyum. Dia berkata lirih, “Selamat berjuang suamiku,”  dengan suara merdu seperti nyanyian burung pagi hari. Om gam Ganapataye namaha.****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar