Poniman
Memahami tentang budaya kejawen maka perlu diketahui bawa budaya dalam arti yang luas mencakup; ideologi, filosofi, system nilai, norma, etika, estetika, juga candi, seni tari, seni lukis, bahasa, bangunan, sistem simbol, gambelan, folklore, kearifan lokal, serta secara lebih dinamik mencakup sikap hidup, gaya hidup, dan cara hidup seperti budaya disiplin, budaya kerja, budaya instan dan lain-lain.
Yayasan Dharmasastra Manikgeni
Rabu, 15 Mei 2019
Laku Semedi Sebagai Tradisi Kebatinan Kejawen
Ritual Tidak Dapat Membebaskan Kita dari Penderitaan
Gede Wisnu
Dalam tri kerangka dasar agama Hindu yang terdiri dari, tattwa (filosofi), susila (moralitas), dan upacara (ritual), dimana ketiganya itu tidak bias dipisahkan satu sama lain. Ibaratnya sebuah telur, kuning telur adalah tattwanya, putih telur adalah susilanya dan kulit telur adalah upacaranya, sehingga kurang sempurna apabila dipisahkan satu sama lainnya. Dalam upacara, banyak orang selama ini menganggap bahwa upacara adalah erat kaitannya dengan bebantenan/sesajendan ritual-ritual (ceremonial), namun bila kita tinjau lebih mendalam, bahwa yang dimaksud dengan upacara adalah tata cara dalam mempraktikkan agama Hindu, dimana tata cara mempraktikkan agama Hindu menyesuaikan adat-budaya tradisi setempat.
Senin, 15 April 2019
Tuhan dan Pemujaan dalam Hindu
Made Dharsana Polak
Tulisan ini sebenarnya hanya berawal dari hasil perenungan pribadi, karena sering saya jumpai orang yang salah-paham dan menganggap umat Hindu “menyembah berhala (arca atau gambar)” dan menyembah “banyak Tuhan.” Adakalanya, bahkan sering ditemui dalam pendidikan formal di sekolah-sekolah di Indonesia sengaja ditanamkan pengertian yang keliru tersebut untuk menjelaskan Hindu.
Jumat, 15 Februari 2019
Menyesuaikan Diri dengan Perubahan Sosial
Ni Made Riani
Balai Diklat Keagamaan Denpasar
Manusia adalah makhluk bereksistensi bersama yang lain dalam masyarakat. Dalam kebersamaan ini manusia selalu berselimutkan empat kondisi yang bisa muncul secara silih berganti, yakni: pertama, suka adalah suatu kondisi manusia gembira karena yang diinginkannya terwujudkan secara baik dan benar dilihat dari asas moralitas. Kedua, duka ditandai oleh kesedihan karena apa yang diinginkannya tidak terpenuhi atau jikalau pun terpenuhi cara yang digunakannya tidak baik dan tidak benar – mengabaikan asas moralitas. Ketiga, lara, yakni suatu kondisi sakit karena bagian-bagian dari tubuhnya disfungsional dan bisa pula sebaliknya, yakni secara ketubuhan manusia sehat, namun secara sosial yang bersangkutan sakit karena maladaptasi. Keempat, pati, yakni suatu ketika manusia pasti akan mati, karena manusia tunduk pada hukum kefanaan.
Mahabharata Lebih Hebat dari Tirtha Puskara
I Wayan Supartha
Dalam Swargarohanika Parwa, dialog antara Bhagawan Vaisampayana dengan Janamejaya menunjukkan bahwa betapa pentingnya Mahabharata untuk dibaca, didengar, dicamkan, karena dapat menghapus dosa dan papa. Atas pertanyaan Janamejaya, Vaisampayana menjelaskan, apalah artinya tirtha Puskara, dibandingkan dengan berkah-berkah yang bisa didapatkan dari pemahaman kitab Mahabharata. Kisah inilah air suci, air kehidupan yang langsung mengucur dari bibir Krsna Dvaipayana Vyasa. Sifatnya yang menyucikan itu tidak dapat dibandingkan dengan apapun juga. Ia tidak terbatas, keramat, menghapus segala dosa dan lebih-lebih lagi dapat memberikan keberuntungan.
Selasa, 15 Januari 2019
Persembahan Darah dalam Berbagai Religi
N. Putrawan
Darah yang mewakili unsur kehidupan dalam banyak sistem relegi kemudian penumpahannya direkayasa sedemikian rupa, sehingga aroma ngeri kekejian perang sedikit diperindah. Darah sengaja ditumpahkan dengan alasan agama, mengusir roh jahat atau penolak bala lainnya. Selanjutnya dibuatkan filsafatnya yang indah, sehingga mencucurkan darah, baik darah diri sendiri atau darah hewan kurban tidak terkesan ngeri lagi. Bahkan di sebagian wilayah kebudayaan, darah menjadi menu makanan istimewa yang hanya hadir saat upacara suci masyarakat tersebut.
Menghargai Eksistensi Usadha Bali
A. A. Gde Oka Widana
Secara historis dimensi kesehatan dalam konteks pengobatan di Indonesia telah dimulai dari teknik pengobatan tradisional, seperti penggunaan terapi pijat, lulur (boreh) dan bahkan jamu tradisional (loloh) untuk menjaga kesehatan dan bahkan menyembuhkan penyakit. Seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi, eksistensi jamu tradisional bahkan telah dikembangkan dalam wujud atau kemasan yang lebih praktis, seperti pengolahan jamu ke dalam bentuk serbuk dan bahkan kapsul. Seiring perkembangan waktu, teraphi tradisional dengan menggunakan sarana obat-obatan yang bersifat natural seperti jamu tradisional (loloh) yang sempat redup manakala memasuki era modern, telah mulai digemari kembali dalam format obat-obatan herbal yang berlisensi, sehingga menambah kepercayaan masyarakat untuk kembali menggunakan obat-obatan tradisional.
Jumat, 10 November 2017
Budaya Risiko di Sekitar Gunung Agung
Opini oleh I Nyoman Tika
Di antara lambaian pohon terjurai bulir padi di hamparan sawah yang berundak, disaksikan surya yang cerah pagi hari serta daun menghijau pohon salak. Ditingkahi getaran-getaran gempa yang ritmis berkali kali dan mendayu menggoncang pertiwi sebagai pertanda bahwa gunung agung akan bangun dari tidurnya yang sudah hampir 54 tahun silam pulas tanpa geliat yang berarti.
Sabtu, 23 September 2017
Warna Hitam tak Identik Dengan Duka
Oleh Ida Bagus Manuaba
Kegairahan umat Hindu untuk melakukan upacara yadnya baik di Bali maupun di luar Bali terutama di Jawa patut diacungkan jempol. Betapa tidak, pelaksanaan upacara baik mlaspas pura, odalan dan sebagainya berlangsung sangat antusias demikian juga dengan pelaksanaan tirta yatra. Ketika berlangsung acara mekiyis atau melasti atau melis di pura Kahyangan Jagad Tawang Alun, Pulau Merah, di desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran, saudara-saudara kita umat Kristen dan umat Islam, juga umat Budha dibuat terkagum-kagum dengan kegairahan umat Hindu sewaktu melaksanakan upacara mekiyis.
Minggu, 13 Agustus 2017
Nilai Religius Wilayah Hulu dalam Persefektif Hindu
Oleh I Nyoman Tika
Selanjutnya......
Tajen: Antara Hukum dan Fakta di Masyarakat
I Made Sudana, SH
Dalam Rg Weda dan Manawadharma Sastra secara jelas diuraikan ketentuan-ketentuan yang mengatur larangan judi, tetapi melanggar hukum positif tidak diuraikan secara jelas bagaimana bunyi pasal 303 ayat (1) KUHP demikian pula pasal berapa dari Undang-undang No 7 tahun 1974 melarang judi dan bagaimana bunyinya dan hukum positif yang mana yang dilanggar. Kiranya perlu juga dijelaskan sebagaimana menjelaskan melanggar ajaran agama. Terutama bunyi pasal 303 KUHP, pasal-pasal yang mengatur larangan judi yang diuraikan dalam Undang-undang No.7 tahun 1974.
Jumat, 16 Juni 2017
Hebephrenia Politik Dalam Beragama
Oleh I Nyoman Tika
Saat ini konsepsi negara dan agama semakin sering diperbincangkan. Diskursus itu mendapat medium yang subur saat pilkada berlangsung. Seharus dengan sebuah sesanti Bhinneka Tugal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah final, dan kita hanya membangun mengisi kemerdekaan untuk mencerdaskan bangsa, mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain di dunia. Namun masyarakat kita khususnya elit politik masih menjual isu agama dalam perpolitikan negara, maka muncullah-meminjam konsepsi J.P Chaplin (1968) sebagai karakter “hebephrenia politik“ suatu sifat yang tampak ketolol-tololan yang penuh halusinasi.
Sabtu, 18 Februari 2017
Mencari Pemimpin Umat yang Mumpuni
Opini oleh I Nyoman Sugiarta dan I Ketut Sukayasa
Di tengah penyelenggaraan pilkada serentak tahap II, tanggal 15 Pebruari 2017 di 101 daerah kabupaten/kota, dan provinsi, tentu diharapkan akan terpilih pemimpin yang ideal. Bali pun tidak ketinggalan ikut serta dalam pilkada serentak ini, yakni di Kabupaten Buleleng. Para calon pun mulai menawarkan program kerja dengan segala manuver secara verbal maupun vulgar untuk memikat pemilih.
Rabu, 28 Desember 2016
Media Sosial, Caci Maki, Memudarnya Jati Diri Bangsa
Oleh I Nyoman Tika
Teknologi maju membuat manusia menyendiri, asyik dalam kesunyian, sehingga kerap manusia tanpa rasa malu memamerkan kekasaran ke ruang publik. Dalam benak pikiran mereka, bahwa rasa malu dicerna tanpa kehadiran wajah seseorang, sebab dunia maya kerap masih memungkinkan untuk menyembunyikan sebagian identitas. Akibatnya, telekomunikasi seluler juga mengubah manusia dari semula guyub, bermasyarakat, menjadi makin introvert, menyendiri. Di tataran itu, umat Hindu harus tetap waspada, berpegang pada kaidah moral agama, sehingga tidak seyogyanya kebencian terpapar ke publik, yang kian ganas merusak persatuan bangsa.
Jumat, 11 November 2016
Korupsi dan Etika Hindu Saat Ini
Oleh I Nyoman Tika
Permasalahan yang muncul saat ini adalah korupsi belum bisa memudar. Korupsi diduga terjadi karena pemahaman etika beragama semakin meluntur. Manusia sudah semakin fragmatis, pemuja materi dan lupa bahwa hidup itu sangat pendek. Jerat korupsi melibas hampir berbagai kalangan, termasuk umat yang beragama Hindu. Di koridor itu etika beragama Hindu nampaknya perlu direvitalisasi.
Penampilan Gentle Ditentukan Oleh Karakter Bukan Pakaian
Oleh I Wayan Miasa
Bali memang sudah tersohor ke seluruh dunia dengan berbagai keunikannya. Para pelancong, pendatang memuji Pulau Bali seperti mereka memuji gadis cantik. Puji-pujian itu mengalir dari zaman dahulu hingga sekarang dan hal tersebut sering membuat warga kita lupa untuk introspeksi diri. Mereka semakin bangga dengan pujian tersebut apalagi di zaman sekarang ini dimana taraf kehidupan semakin meningkat.
Jumat, 30 September 2016
Revitalisasi Nilai-Nilai Hindu Penyelematan Lingkungan
Oleh I Nyoman Tika //
Selamatkanlah tumbuhan untuk selamatkan dunia,” demikian slogan didengungkan, dan “Bergabunglah bersama kami untuk membuat dunia menjadi lebih baik,” itu slogan yang lain. Menyelamatkan lingkungan hidup dimulai dari tindakan awal. Ini adalah bumi kita, kita tahu yang mana yang berharga. Orang semakin berseru dan berselogan, namun tradisi penyelamatan menurut Hindu dengan Tumpek Kandang dan Tumpek Bubuh, sudah ada dan setiap enam bulan dirayakan. Namun, semakin maraknya kerusakan lingkungan khususnya di Bali, dugaan yang kuat adalah tradisi itu kini hanya berhenti di tataran ritual, dan generasi muda semakin berjarak, sehingga kerusakan lingkungan pun semakin parah.
Selanjutnya......
Rabu, 28 September 2016
Bali Belum Layak Disebut Pulau Sorga
Made Mustika
Gubernur Bali Made Mangku Pastika sebagaimana dikutip dari Harian Kompas 28 Juli 2016 lalu, menyatakan dirinya merasa malu karena penduduk Bali masih banyak yang miskin. Itu ditandai dengan masih banyak ditemukan rumah-rumah penduduk yang tak layak huni. Di sisi lain, Bali dikenal dengan berbagai julukan. Salah satu di antaranya adalah Bali pulau sorga. Ia merasa terganggu dengan julukan itu. Jika julukan itu benar, tentu penduduk Bali tidak ada yang miskin. “Jika penduduk Bali tidak ada lagi yang miskin, barulah Bali pantas disebut sebagai pulau sorga,” demikian kurang lebih pernyataannya.
Selasa, 27 September 2016
Sekolah Seharian dan Konsep Catur Guru
Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
Senin, 17 Juni 2013
Garda Relawan Dharma
I GN Nitya Santhiarsa
Akhir-akhir ini beberapa musibah kerusuhan menimpa migran Bali, terutama migran yang berada di Lampung dan Sumbawa. Bencana sosial berbau SARA ini diduga dipicu adanya kecemburuan sosial dari penduduk lokal terhadap kemajuan ekonomi yang diperoleh oleh migran Bali. Mengingat migran Bali jumlahnya sangat banyak dan sudah tersebat di berbagai wilayah Indonesia, hal ini membuat potensi terjadinya bencana sosial yang menimpa migran Bali cukup besar, baik kini maupun di masa yang akan datang. Bencana sosial maupun bencana alam perlu kita waspadai dan tidak hanya itu, langkah prediksi, pencegahan , penanganan dan pemulihan serta kepedulian mutlak diperlukan. Kepedulian terhadap kemanusiaan tidak hanya urusan Pemerintah Pusat dan Daerah, namun secara langsung atau tidak langsung, masyarakat Bali atau umat Hindu juga mempunyai tanggung jawab terhadap masalah kemanusiaan. Ajaran Veda telah memberikan petunjuk bagaimana umat Hindu harus memiliki kepekaan terhadap masalah kemanusiaan yang mana semangat kemanusiaan menurut ajaran Hindu adalah hidup dan saling menghidupi (parasparam bhawayantah).
Bencana alam dan bencana sosial tergolong masalah besar, sehingga tidak bisa ditangani oleh individu ataupun hanya oleh lembaga pemerintah saja, harus banyak pihak berperan atau berpartispasi dalam menangani masalah kemanusiaan. Salah satu pihak yang yang punya peran penting adalah dari unsur masyarakat atau umat dalam hal ini umat Hindu. Umat Hindu harus berperan aktif untuk turut serta mengatasi berbagai persoalan kemanusiaan, seperti bencana sosial maupun bencana alam. Modal utama untuk berperan aktif adalah solidaritas sosial, yakni perasaan senasib sepenanggungan di antara umat Hindu, perasaan ini mesti tetap dijaga, jika tidak umat Hindu akan menjadi umat yang lemah, tidak berdaya, mudah menjadi sasaran kecemburuan maupun kebenciaan dari pihak lain yang tidak senang melihat suatu kaum maju dan hidup rukun. Ajaran tat twam asi, parasparam bhawayantah dan suka duka yangg merupakan pilar solidaritas sosial sepatutnya diamalkan, dan ajaran ini mesti dikembangkan secara terorganisir, berkelanjutan dan massal melalui organisasi formal maupun non formal, yang tradisional maupun yang modern.
Seperti dinyatakan sebelumnya, potensi bencana sosial cukup besar dan jika bencana ini terjadi, maka penderitaan dan trauma akan menimpa umat Hindu, meski kita berharap bencana ini tidak akan terjadi. Kalimat bijak “Sedia payung sebelum musim hujan datang” atau “Gali sumur sebelum musim kemarau tiba” sangat penting untuk dicermati dan dilaksanakan. Jadi, sebelum bencana terjadi, maka umat Hindu perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya, baik itu untuk pencegahan maupun penanganannya.
Tindakan pencegahan bisa diusahakan dengan selalu menjaga silahturahmi dan toleransi dengan umat yang berbeda keyakinan, saling membantu dan tolong menolong di kehidupan sehari-hari dan yang penting jangan berlaku sombong atau eksklusif, karena sikap ini cepat mengundang kebencian dan kemarahan. Selain itu, tindakan proteksi juga disiapkan, seperti mendekatkan diri dengan pihak keamanan dan memperkuat persatuan antarwarga serta memperkuat pertahanan diri. Selanjutnya, kalau bencana sosial telah terjadi, maka segera perlu melakukan pertemuan untuk mencapai perdamaian, menyiapkan perlindungan dan perawatan, menggalang bantuan, melakukan pemulihan trauma dan perbaikan sarana prasarana serta normalisasi kehidupan. Perlu dikemukakan lagi, bahwa ke depan potensi terjadinya bencana sosial tetap ada karena bertambahnya jumlah penduduk, adanya konflik kepentingan, perbedaan pola hidup dan taraf hidup, dan sebagainya, ditambah lagi kemungkinan adanya bencana alam, maka di kalangan umat Hindu perlu dibentuk suatu lembaga sosial kemanusiaan yang bersifat swadaya, independen dan berkompeten.
Sebagai perbandingan, bisa kita lihat apa yang telah dilakukan umat agama lain seperti umat Islam dan Kristen, bercermin pada pengalaman mereka ketika diterpa berbagai bencana sosial dan alam, masing-masing telah mempersiapkan diri menghadapi bencana dengan membentuk organisasi sosial kemanusiaan yang terorganisir, terlatih dan mandiri seperti organisasi Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) yang didirikan oleh beberapa dokter, mahasiswa dan para relawan muslim yang pernah bertugas kemanusiaan di Maluku, kemudian ada organisasi sosial kemanusiaan Rotary Club yang familiar di kalangan umat Yahudi dan Kristen, sangat giat mengumpulkan dana dan mengadakan kegiatan layanan kemanusiaan.
Bagi umat Hindu, penulis sarankan agar dibentuk organisasi sosial kemanusiaan Garda Relawan Dharma (GRD), sebuah organisasi independen yang bergerak di bidang pelayanan sosial dan kemanusiaan, terdiri dari para relawan kemanusiaan, bekerja tanpa pamrih dan berjuang menurut ajaran Hindu untuk kepentingan kemanusiaan dan perdamaian. Ajaran Hindu sebagai prinsip moral perjuangan oganisasi ini seperti yang dinyatakan dalam sloka suci Bhagawadgita dan Sarasamuccaya di bawah ini.
“Seperti orang bodoh (awidya) yang bekerja karena keterikatan mereka atas kerja mereka, demikianlah harusnya orang pandai (sadar) bekerja tanpa kepentingan pribadi, melainkan bekerja untuk kesejahteraan (keselamatan) manusia dan memelihara ketertiban social (perdamaian)” Bhagawadgita III-25
“Maka perbuatan orang yang tinggi pengetahuannya, tidak sayang merelakan hartanya, bahkan nyawanya, jika untuk kesejahteraan (keselamatan) umat manusia, tahulah beliau akan maut pasti datang, dan tidak ada yang kekal di dunia ini, oleh sebab itu adalah lebih baik berkorban demi untuk kesejahteraan (keselamatan) umat manusia” Sarasamuccaya 175.
Kegiatan GRD yang bersifat rutin nantinya antara lain menyiapkan para relawan dan mendidik SDM mereka, menyediakan sarana prasarana seperti alat kesehatan dan medis, dapur umum, lavatory dan transportasi medis, menggalang dana secara transparan dan kreatif, serta mensosialisasikan ajaran kemanusiaan, toleransi dan perdamaian yang sesuai dengan ajaran Hindu. Kemudian, pada saat terjadi bencana alam atau bencana sosial, GRD bertugas untuk melakukan berbagai tindakan kemanusiaan untuk menyelamatkan umat Hindu yang tertimpa musibah, bahkan juga bisa sebagai duta perdamaian atau mediator. Para relawan yang berlatar belakang pendidikan kesehatan dan medis sangat dibutuhkan untuk menjalankan organisasi dan program sosial kemanusiaan ini, dan sebagian lainnya bisa dari berbagai ragam profesi, dimana yang utama adalah mereka ikhlas bergabung sebagai relawan dalam organisasi ini. Untuk efisiensi dan efektifitas kerja, sepatutnya GRD nantinya berkoordinasi, bekerjasama dan ber-networking dengan berbagai pihak terkait seperti PMI, PDDI, PHDI, KSR, ISDPHI, Ikadin, Polisi dan sebagainya termasuk dengan para sponsor atau pihak donatur.
Kehadiran lembaga seperti GRD menurut penulis bisa menjawab tantangan ke depan tentang bagaimana umat Hindu mempersiapkan dirinya untuk menghadapi bahaya bencana alam dan bencana sosial. Perjuangan di jalan kemanusiaan sudah sesuai dengan ajaran Hindu, bahkan berkarma demi kemanusiaan merupakan kewajiban bagi setiap umat Hindu, untuk itu terbentuknya organisasi seperti Garda Relawan Dharma bisa menjadi satu bukti bahwa umat Hindu berusaha sungguh-sungguh dalam mengamalkan ajaran agamanya. Om, Namo Siva Buddhaya Namah Swaha!
(Ketua Forum Peduli Dharma, Forum Karunika Dharma, dosen FT Unud).

