Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Hp/WA 0819 9937 1441. Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni. Terbit bulanan. Eceran di Bali Rp 20.000,- Pelanggan Pos di Bali Rp 22.000,- Pelanggan Pos di Luar Bali Rp 26.000,- Tersedia versi PDF Rp 15.000/edisi WA ke 0819 3180 0228

Senin, 15 Januari 2018

Gamelan Gambuh dan Minat Kaum Muda

Oleh I Ketut Yasa
Sesuai dengan namanya, yaitu gamelan gambuh,  gamelan ini adalah digunakan untuk mengiringi dramatari Gambuh. Sebagaimana dikemukakan oleh Bandem dalam “Ensiklopedi Gambelan Bali” bahwa “Gending-gending Gambuh lebih lirik dibandingkan dengan gending-gending yang dipakai oleh gambelan lain dan ia lebih bersifat gending-gending yang ditarikan dari pada bersifat instrumentalia” (1993: 12).

Gamelan ini termasuk golongan madia. Sebagaimana dikatakan I Nyoman Rembang dalam makalahnya  “Daftar Klasifikasi Gamelan Bali” tahun 1977 mengemukakan bahwa gamelan golongan madia mulai hadir pada abad ke XIV, sementara golongan baru hadir pada abad ke XX, sedangkan golongan tua hadir pada abad ke IV.

Dalam seperangkat gamelan Gambuh terdiri dari beberapa instrumen suling yang relatif besar, rebab, sepasang kendang krumpungan, klenang, kajar, cengceng rincik dan kempur sebagai finalis. Gamelan ini menggunakan laras pelog sapta (7) nada. Bila dibandingkan dengan gamelan Bali lainnya gamelan Gambuh populasinya relatif sedikit.

Sukerta dalam Laporan Penelitiannya berjudul “Peta Karawitan Bali di Kabupaten Buleleng dan Permasalahannya” mengemukakan bahwa berdasarkan Data Informasi dan Organisasi di Lingkunagn Kanwil Depdikbud Propinsi Bali tahun 1995/1996, gamelan Gambuh di seluruh Bali hanya terdapat 17 perangkat yang sebarannya: Kodia Denpasar satu perangkat, Kabupaten Badung satu perangkat, Kabupaten Gianyar lima perangkat, Kabupaten Klngkung empat perangkat, dan Kabupaten Karangasem lima perangkat (1997: 224).


Jika dilihat dari jenis instrumennya yang berfungsi sebagai pemurba lagu seperti suling yang besar-besar, dan rebab, dapat dibayangkan betapa sulitnya memainkan instrumen tersebut. Misalnya untuk memainkan suling. Memainkan instrumen ini harus bisa “ngunjal angkihan” (mampu membuat aliran udara ke lubang suling secara terus menerus/tanpa terhenti). Sunardi (seorang pembuat dan pemain suling Jawa maupun Bali) ketika diwawancarai 24 Pebruari 2015 menjelaskan, bahwa agar udara bisa mengalir secara terus menerus ke lubang suling, di mulut harus selalu ada setokan udara. Caranya hirup udara melalui hidung, kemudian dikirim ke paru-paru dan diteruskan ke perut, selanjutnya dikirim ke mulut. Dari mulut dikeluarkan sedikit-demi sedikit ke lubang suling, agar di mulut selalu ada setokan udara. Untuk mampu mengatur sirkulasi udara seperti dijelaskan di atas, Sunardi berlatih setiap malam selama dua jam dalam jangka waktu tiga bulan. Latihan dilakukan dengan cara menyendiri seperti orang bersemedi.

Demikian pula untuk memainkan instrumen rebab. Tidak sembarang orang bisa memainkan instrumen ini. Begitu sulitnya memainkannya, maka di Bali pemain rebab termasuk langka. Realitas ini berimbas kepada sulitnya dalam pembentukan generasi pengrawit gambuh.  Karena kaum muda menjadi merasa kurang tertarik  belajar sebagai penabuh (pengrawit) gamelan Gambuh. Di sisi lain Sukerta dalam Laporan penelitiannya menyebutkan bahwa kurangnya mendapat perhatian kaula muda, karena gamelan Gambuh dianggap  untuk orang tua-tua. (1997: 223). Anggapan ini ada benarnya, karena pengrawit gamelan Gambuh sepanjang yang penulis ketahui memang didominir oleh pengrawit yang sudah tua (di atas usia 50 tahun).

Di samping itu tidak tertutup kemungkinan,  sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya bahwa gamelan Gambuh dipentaskankan berkaitan dengan drama tari Gambuh. Setahu penulis belum pernah ada pertunjukan Gambuh khusus untuk hiburan. Biasanya pertunjukan Gambuh dipentaskan berkaitan dengan suatu upacara, yaitu piodalan. Dengan demikian volume pertunjukan Gambuh boleh dikatakan sangat jarang. Realitas ini barangkali juga mengurangi ketertarikan kaum muda untuk menjadi pengrawit gamelan Gambuh.

Di lihat dari segi musikal, menurut hemat penulis gamelan Gambuh lebih banyak bersifat menoton dalam arti kurang ada variasi dan dinamikanya sangat sedikit. Bertolak belakang dengan karawitan Bali lainnya. Ambil salah satu contoh misalnya gamelan Gong Kebyar. Gamelan ini warna musikalnya sangat agresif, banyak variasi, penuh dinamika, dengan tempo cepat, lincah, volume keras, dan bergejolak.  Jadi sifat musikal Gong Kebyar sangat cocok dengan jiwa anak-anak muda. Oleh karena itu, tidak mengherankan anak-anak muda lebih banyak ingin menjadi pengrawit Gong Kebyar. Gong Kebyar juga memiliki fungsi sangat luwes. Artinya bisa sebagai hiburan, tontonan, juga untuk keperluan upacara. Bila ada misi ke luar negeri, Gong Kebyar lebih besar peluangnya daripada gamelan Gambuh. Dengan demikian, realitas ini juga dapat dikatakan sebagai penyebab mengapa anak-anak muda lebih memilih menjadi pengrawit Gong Kebyar, jika dibandingkan menjadi pengrawit gamelan Gambuh.

Dari paparan di atas, dapat dikatakan minat kaum muda untuk menjadi pengrawit gamelan Gambuh sangat minim. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: pertama, untuk mempelajari instrumen Gambuh sangat sulit, kedua, volume atau frekuensi pertunjukan Gambuh sangat rendah, ketiga, dari sisi rasa musikal, kaum muda kurang cocok (pas) dengan gamelan Gambuh, dan keempat, bila ada misi ke luar negeri, maka peluangnya sangat kecil.

Untuk menumbuhkan minat masyarakat khususnya kaum muda, maka perlu adanya pembinaan kesenian Gambuh dengan melakukan berbagai inovasi, agar keberadaannya bergairah kembali. Bagi para pengrawit Gambuh yang sudah mumpuni hendaknya bersedia dengan senang hati untuk menularkan kemampuannya kepada generasi muda dengan membangun sekaa-sekaa yang baru. Hasil dari pembinaan tersebut kemudian dicarikan event-event sebagai ajang pementasan. Dengan demikian, diharapkan kesenian Gambuh tidak terputus di dalam penggenerasian, sehingga dapat lestari demi kekayaan khasanah budaya bangsa.Semoga.
(I Ketut Yasa dosen ISI Surakarta)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar