Made Budilana
Dalam cerita-cerita yang tertuang dalam Purana, Bhatara Siwa dikisahkan memiliki banyak anak dari perkawinannya dengan berbagai istri. Bahkan kelahiran anaknya sangat unik seperti Bhatara Kala lahir dari Kama Bhatara Siwa yang jatuh di laut. Ada juga kelahiran anaknya karena Bhatara Siwa marah lalu lahirlah Bhagawan Druwasa. Untuk mengetahui kisah lengkapnya, silahkan simak cerita berikut ini.
Yayasan Dharmasastra Manikgeni
Rabu, 15 Mei 2019
Mitologi Tentang Anak-Anak Siwa
Senin, 15 April 2019
Makna Wahana Ganesa
Ni Made Riani
Balai Diklat Keagamaan Denpasar
Citra Ganesa pada mulanya tidak disertai dengan wahana (tunggangan). Pada delapan penjelmaan Ganesa yang dinyatakan dalam Mudgalapurana, Ganesa lima kali menggunakan tikus dalam lima penjelmaannya, menggunakan singa saat menjelma sebagai Wakratunda, seekor merak saat menjelma sebagai Wikata, dan menggunakan Sesa, naga ilahi, dalam penjelmaannya sebagai Wignaraja. Pada empat penjelmaan Ganesa yang terdaftar dalam Ganesapurana, Mohotkata menunggangi singa, Mayureswara menunggangi merak, Dumraketu menunggangi kuda, dan Gajanana menunggangi tikus. Dalam pandangan agama Jaina terhadap Ganesa, wahananya ada bermacam-macam, seperti tikus, gajah, penyu, domba, atau merak.
FILOSOFI SARASWATI DALAM AKTUALISASI
Ni Kadek Ayu Kristini Putri
Hakikat agama tidak terletak pada dogma-dogma dan ritus-ritus serta upacara-upacara menjemukan, tetapi dalam kebijaksanaan-kebijaksanaan paling dalam dari segala zaman, (sanatana dharma) yang merupakan satu-satunya pedoman, bukan semata-mata menyangkut kebenaran, melainkan pandangan-pandangan atau pemahaman terhadap kebenaran yang telah diyakini (umat) manusia (Radhakrishnan, 2003: 55). Kebenaran mana menurut umat Hindu secara absolut diletakkan pada keyakinannya terhadap kebenaran Weda.
MANFAAT YOGA ASANAS MENGATASI PAYUDARA KANKER
I Nyoman Tika
Kanker payudara telah menjadi salah satu penyebab utama dari tingginya angka kematian pada kaum wanita. Pada tahun 2015 saja, data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa telah ada 507 ribu wanita yang meninggal dunia akibat kanker payudara. Memang menakutkan, tapi sebenarnya jika ciri-ciri kanker payudara stadium awal bisa dideteksi, bukan tidak mungkin penyakit ini dapat disembuhkan. Oleh sebab itu, penting bagi Anda untuk mengetahui ciri awal kanker payudara sedini mungkin.Sebenarnya sampai saat ini para peneliti masih belum dapat mengetahui secara pasti apa penyebab kanker payudara.
Jumat, 15 Maret 2019
Arjuna: Dulu dan Kini
Anand Krishna
Arjuna di masa lalu bingung, tetapi ia rendah hati. Dia bersedia menundukkan kepalanya di depan Gurunya, yang juga adalah sepupu dan kusirnya, dan meminta bimbingan: “Aku bingung, aku tidak tahu harus ke mana, tolong tuntun aku, tolong tunjukkan jalan.” Dan, sang Guru, Krishna, membimbingnya menuju kemenangan. Dia membimbing Arjuna menuju kemenangan demi Dharma, Kebajikan. Untuk itu, sang Guru pun menegaskan perannya, “Aku berada di sini, di medan perang ini, demi engkau. Sebagai seorang ksatria, engkau mendapatkan kesempatan berharga untuk berjuang demi Dharma.
Kisah Ganesa dalam Berbagai Sumber
Ni Made Riani
Balai Diklat Keagamaan Denpasar
Di Indonesia Ganesa lebih populer dikenal dengan dewa pengetahuan atau dewa kekuatan, maksudnya adalah dewa yang mampu menghalau segala kekuatan jahat dan mara bahaya, sehingga kehidupan menjadi aman dan sejahtera. Dewa Ganesa bersenjatakan kapak dan Trisula. Di samping gelar di atas Ganesa juga merupakan salah satu dewa terkenal dalam agama Hindu dan banyak dipuja oleh umat Hindu, yang memiliki gelar sebagai dewa pengetahuan dan kecerdasan, dewa pelindung, dewa penolak bala/bencana, dan dewa kebijaksanaan.
Rabu, 20 Desember 2017
Siwaratri: Momentum Refleksi Diri dan Sosial
IGN Nitya Santhiarsa
“Beryadnya, berdharmadana dan bertapabrata jangan diabaikan namun harus dilaksanakan, sebab yadnya, dharmadana dan tapabrata adalah pensuci bagi orang yang bijaksana” (Bhagawadgita XVIII-5).
Sabtu, 23 September 2017
Sri Hanuman
Oleh Agung Raka
Sri Hanuman dikatakan sebagai inkarnasi Dewa Siwa. Dikisahkan bahwa Brihaspati, seorang guru para dewa memiliki seorang pelayan yang bernama Punjikasthala. Dia dikutuk sehingga memiliki tubuh seperti seekor monyet betina. Kutukan itu akan terhapus bila dia melahirkan inkarnasi Dewa Siwa. Kemudian ia terlahir sebagai Anjana dan menjalani kehidupan yang luhur dan suci.
Minggu, 20 Agustus 2017
Niti Çastra Dapat Diterapkan Setiap Orang
Oleh I Gusti Ngurah Sudiana
Ilmu kepemimpinan identik dengan kata Nitisastra, kata Nitisastra berasal dari bahasa Sansekerta, dari kata niti dan çastra. Niti berarti kemudi, pimpinan, politik dan sosial etika, pertimbangan, kebijakan. Sedangkan kata Sastra berarti perintah ajaran, nasihat, aturan, teori, tulisan ilmiah. Berdasarkan uraian etimologi, kata niti çastra berarti ajaran peminpin.
Minggu, 13 Agustus 2017
Memaknai Shiwa – Budha dalam Kekawin Sutasoma
Oleh I Made Dwija Nurjaya
Shiwa adalah prinsip kerja organ tubuh yang ada di kepala, berisi semua logika, rasio, cipta dan segala sesuatu yang masuk akal, dia rumit dan tegas, namun terstruktur dengan baik, berurutan sehingga mudah dimengerti walaupun memerlukan waktu yang cukup lama. Kepala atau sirah adalah tempat bersemayamnya pikiran dan menjadi alat bagi manusia untuk berpikir. Proses berpikir menjadi sangat penting dalam kehidupan pribadi maupun berbangsa dan bernegara. Masyarakat mesti dididik agar memiliki pikiran yang Tajam dan Jernih. Ini bertolak belakang dengan pikiran yang tumpul dan kotor, kacau; karatan dan tidak jelas.
Jumat, 16 Juni 2017
Sapi sebagai Korban Suci
Oleh I Made Sudana
Selasa, 06 Juni 2017
Menjadi Pendeta yang Nirasraya
Oleh Damuh Karuna Putra
Seorang pendeta adalah pemimpin umat, karena itu dia juga berfungsi sebagai ‘guru’ masyarakat. Dia yang disebut pendeta sebagaimana digambarkan dalam kekawin Dharma Sunya karangan Danghyang Nirartha yang diberi ulasan oleh I Gusti Bagus Sugriwa (1989).
Ambek san wiku siddha tan pakahinan tumutuga ri kamurtinintaya
Tan linggar humenen licin mamepekin bhuwana sahananin jagat traya
Nora n lor kidulin kidul telas ane sua juga pamekas nirasraya
Kewat kewala sunya nirbana lenon luput ananen-anen winarna ya
Sabtu, 25 Maret 2017
Spiritual Bersifat Misterius, Bukan Heroisme
Swami Krishnananda
Kehidupan manusia dilanda oleh rintangan. Kita menghadapi tantangan dan kesulitan secara terus menerus. Oleh karena itu seluruh aktifitas kita sehari-hari digambarkan sebagai usaha melawan rintangan yang datang dalam berbagai bentuk penderitaan hidup. Saat terbangun di pagi hari kita dihadapkan dengan rasa lapar dan kemudian kita berjuang untuk meniadakan rintangan itu dengan memasak dan makan makanan.
Jumat, 11 November 2016
Ketika Para Rsi Diolok-olok
Suka memperolok orang baik adalah tindakan yang tak patut dilakukan. Apalagi yang diperolok dan dilecehkan adalah orang suci. Balasan pasti akan diterima untuk perbuatan (karma) yang tidak baik itu. Bahkan bisa jadi orang lain ikut kecipratan dosa buruk.
Kisah Tulasidas Menjadi Maharshi Berkat Nasihat Sang Istri
Oleh I Ketut Winaka
Atmaram dan istrinya Tulasi, adalah bhakta baik, rendah hati dan sangat taat pada Tuhan, namun mereka adalah pasangan suami istri yang tidak mempunyai anak. Setelah memohon dalam kurun waktu yang sangat lama, mereka dikaruniai sorang putra. Tetapi sayang sekali bahwa Tulasi meninggal dunia sesaat seusai persalinan.
Senin, 17 Juni 2013
MELATIH DIRI MENGUATKAN HATI NURANI
I Ketut Wiana
Membangun moral yang semakin luhur dan mental yang semakin tangguh secara teoritis sangat mudah,tetapi dalam tataran implementasi sungguh tidak mudah. Membangun badan fisik yang sehat mungkin lebih mudah kalau hal itu benar-benar juga dipelajari dan dilatih saban hari. Fisik, moral dan mental ketiganya menyatu dalam diri setiap orang. Fisik, moral dan mental ini yang harus dikendalikan dengan Hati Nurani.
Kecerdasan intelektual bisa jadi bumerang yang menyengsarakan kalau dieksistensikan tanpa Hati Nurani. Kecerdasan intelektual meskipun kecerdasan itu didapat dari pendidikan tinggi tidak menjamin membawa keselamatan hidup. Hati Nurani itu adalah suaranya Sang Hyang Atma yang diekpresikan oleh Kesadaran Budhi. Dalam Bhagawad Gita III. 42 Budhi itu adalah sarana per tama untuk menyuarakan kesucian Atman. Kemudian baru Manah atau pikiran dan selanjutnya Indria. Kalau Budhi lemah mengekpresikan kesucian Atman, maka kecerdasan intelektual akan bebas menggunakan indria sesuai dengan kehendak pikiran. Hal inilah yang menyebabkan banyak kejahatan dilakukan dengan sangat cerdas dan cerdik. Seperti kejahatan membobol ATM suatu Bank. Pembuatan uang palsu, mencampur makanan dengan zat kimia berbahaya, pembuat bom rakitan oleh teroris, pembuatan obat palsu dan pemalsuan berbagai hal yang mendatangkan keuntungan besar dengan merugikan masyarakat luas dan Dharma.
Prof Dr Mapajanji Amin dalam bukunya “Kemandirian Lokal” menyatakan, bahwa carut marutnya dunia dewasa ini karena ketidakseimbangan kemajuan ilmu pengetahuan. Ilmu Eksakta sangat maju luar biasa. Tetapi ilmu Humaniora dan Spiritual sangat mundur. Karena itu harus dikembangkan apa yang disebut Holistik Paradigma, yaitu pandangan hidup yang seimbang dan terpadu dalam menyerap dan menerapkan ilmu duniawi dan ilmu rokhani. Kembali masalah hati nurani, agar kekuatannya mampu mendominasi dengan mencerahkan kecerdasan intelektual dan mengarahkan kepekaan emosional. Dengan kuatnya Hati Nurani mengendalikan hidup ini maka kesucian Atman akan terekspresikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Katha Upanisad dinyatakan, bahwa budhi itu ibarat kusir kereta. Kusir itulah menentukan sukses dan tidaknya perjalanan kereta menuju tujuan yang ditentukan oleh pemilik kereta yang diumpamakan Atman dalam diri manusia. Ini artinya menguatkan hati nurani, artinya membuat kusir kereta yang sehat,cerdas menguasai segalanya yang menyangkut keberadaan kereta.Yang paling utama adalah paham akan segala penugasan pemilik kereta. Artinya kalau dalam diri manusia kusir budhi itu harus paham akan kehendak Atman yang suci. Atman itu menurut Upanisad adalah Brahman (Brahman Atman Aikyam). Inilah tujuan melatih hati nurani.
Untuk melatih hati nurani di samping memiliki wawasan yang luas dan dalam tentang diri manusia seutuhnya, juga berani melawan dorong pikiran dan hawa nafsu yang bertentangan dengan Dharma. Misalnya dimulai dari membiasakan diri mengkonsumsi makanan yang Satvik. Meskipun ada makanan enak, bahkan sangat enak, tetapi kalau itu makanan yang Rajasika dan Thamasik harus berani tidak mengkonsumsinya. Lama kelamaan makanan yang Satvik itu akan terasa enak karena sudah merupakan kebiasaan hidup.
Demikian juga latihlah pikiran, ucapan dan prilaku yang selalu menambatkannya dengan nama atau sebutan Tuhan. Dalam Sarasamuscaya 260 ada dinyatakan sbb:...dhyana ngarania ikang Siwasmaranam. Dhyana atau meditasi namanya dengan senantiasa merenungkan Nama Tuhan (Siwa). Merenungkan itu tidak sama dengan mengkhayal atau ngelamun dengan pikiran yang tidak terarah.
Merenungkan itu adalah mengingat-ingat dengan sungguh -sungguh. Swami Satya Narayana menyatakan bahwa cara yang sangat baik dan praktis beragama Weda (Hindu) pada jaman Kali ini adalah dengan Nama Smaranam artinya memuja Tuhan dengan mengulang-ulang nama suci Tuhan tersebut. Dengan mengulang-ulang nama suci Tuhan untuk tujuan memujaNya, akan dapat mencerahkan kesadaran budhi menguatkan dominasi hati nurani mengendalikan pikiran, perkataan dan prilaku. Mencapai kondisi kuatnya hati nurani itu tidak perlu pakai target yang ambisius. Lakukanlah hal-hal yang bernuansa Satvik dalam berbagai kehidupan. Apakah itu soal makanan, pikiran, ucapan, prilaku selalu arahkan pada konsentrasi pada nama suci Tuhan. Misalnya saja menghadapi suatu masalah kehidupan,yakinlah itu atas takdir Tuhan. Suka maupun duka yang kita alami atas takdir Tuhan. Tuhan menurunkan takdirnya atas karma yang pernah dilakukan manusia.
Senin, 20 Mei 2013
Pelihara Tradisi dengan Ilmu, Doa dan Keikhlasan
Ketut Wiana
Sarasamuscaya 260 menyatakan, Weda abhyasa sebagai bentuk pengamalan Swadhyaya. Swadhyaya adalah salah satu unsur dari Niyama Brata. Weda abhyasa artinya mengamalkan Weda sampai menjadi kebiasaan atau tradisi. Ini artinya dalam sosok pengamalan ajaran Hiindu ada dua hal, yaitu Weda sabda Tuhan dan tradisi atau adat istiadat. Tentunya tidak semua adat istiadat yang ada dalam masyarakat sebagai bentuk pengamalan Weda.
Tattwa dari Weda yang dikemas dalam adat istiadat itu bersifat Sanatana Dharma atau kebenaran yang kekal abadi. Sedangkan adat-istiadat atau tradisi itu berasal dari prilaku umat dalam mengamalkan Tattwa Weda itu tentunya tidak kekal. Adat istiadat itu ada dalam batas ruang dan waktu. Artinya tradisi itu akan terus berubah. Agar selalu menjadi media pengamalan Weda, maka tradsi itu harus selalu Nutana. Kata Nutana dalam bahasa Sansekerta artinya muda dan segar.
Konsep memelihara tradisi itu agar selalu Nutana, yaitu muda dan segar ada dinyatakan dalam Bhagawad Gita XII.12. Tujuan memelihara tradisi itu untuk mewujudkan kedamaian yang kekal atau Santi Anantaram. Untuk mencapai tujuan itu Abhyasa atau tradisi itu harus dipelihara dengan Jnyana atau kesadaran ilmu, dengan Dhyana yaitu konsentrasi memuja Tuhan dan Tyaga artinya ikhlas, menerima lebih dan kurangnya. Maksudnya, betapa pun manusia berusaha sebaik-baiknya pasti ada lebih dan kurangnya. Ikhlas atau Tyaga-lah menerima kelebihan dan kekurangan itu sebagai suatu kenyataan. Hal inilah yang akan menghasilkan Santhi yang kekal. Karena tradisi itu dibuat oleh manusia tentunya tidak akan pernah sempurna dan ada saja kelebihan dan kekurangannya. Tanpa ada keikhlasan menerima semua itu maka tidak akan pernah ada Santi yang kekal.
Memelihara tradisi dengan kesadaran ilmu atau Jnyana, artinya, analisalah setiap tradisi itu secara sadar dengan menggunakan ilmu pengetahuan yang berbobot akademis ilmiah. Dari hasil analisa itu akan ketemu mana tradisi yang perlu diciptakan (Utpati), mana tradisi yang masih baik dan relevan untuk dipertahankan dan mana tradisi yang sudah perlu ditinggalkan karena sudah tidak sesuai lagi sebagai wadah untuk mengamalkan Tattwa Weda itu. Namun demikian jangan dilupakan melakukan perubahan itu dengan konsentrasi memuja Tuhan atau Dhyana.
Dalam pustaka Bhuwana Kosa IV.33 ada dinyatakan bahwa Tuhan sebagai pencipta alam semesta dengan segala isinya.Tuhan sendiri menciptakan Utpati, Sthiti dan Pralina. Maksudnya bahwa kalau manusia menghendaki dinamika adat istiadat itu menuju pada perubahan yang positif pujalah Tuhan sebagai Brahma, Wisnu dan Iswara. Artinya perubahan itu akan positif apabila dilakukan atas kesadaran spiritual atau Dhyana dengan memuja Dewa Tri Murti tersebut.
Dengan memuja Tuhan sebagai Dewa Brahma manusia akan memiliki kekuatan spiritual untuk menciptakan sesuatu yang sepatutnya diciptakan (Utpati). Dengan memuja Tuhan sebagai Dewa Wisnu akan terpelihara dan terlindungi sesuatu yang sepatutnya dipelihara dan dilindungi (Sthiti). Dengan memuja Dewa Iswara atau Dewa Siwa Rudra, maka akan termusnahkanlah sesuatu yang seyogianya di-Pralina. Hal inilah nampaknya yang menyebabkan Mpu Kuturan menyarankan pendirian Kahyangan Tiga di setiap Desa Pakraman. Tujuannya agar dinamika adat istiadat itu menjadi selalu mengarah pada yang positif.
Pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti itu untuk menghindari perubahan itu hanya sekedar tampil beda tanpa memberi makna. Karena melakukan upaya Utpati, Sthiti dan Pralina itu tidaklah semudah menteorikannya. Karena dalam memelihara tradisi beragama Hindu itu kita harus padukan Jnyana kesadaran ilmu pengetahuan, Dhyana yaitu konsentrasi doa pada Tuhan dan Tyaga, yaitu ikhlas menerima lebih dan kurangnya upaya perubahan itu. Karena yang melukan upaya perubahan itu adalah manusia maka tidak akan pernah perubahan itu sempurna menurut pandangan semua orang. Maka setiap perubahan itu setiap orang boleh mengkritisi asalkan untuk tujuannya baik dan dengan cara-cara yang sopan dan santun. Dengan demikian akan ada kedamaian atau Santi yang lebih langgeng.
Pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti juga untuk mengendalikan tiga sifat atau Tri Guna akan struktural ideal. Dalam pustaka Matsya Purana 53, Sloka 68 dan 69 menyatakan, bahwa Brahma, Wisnu dan Siwa itu adalah Guna Awatara, yaitu Tuhan berawatara untuk menuntun umatnya mengendalikan Tri Gunanya. Karena dalam Wrehaspati Tattwa 21 menyatakan, bahwa kalau Guna Satwam dan Guna Rajah sama-sama kuat menguasai Citta, maka Guna Sattwam membuat orang berniat baik, sedangkan Guna Rajah membuat orang untuk mengamalkan niat baik itu dalam perbuatan baik yang nyata. Ini artinya pemujaan Tuhan sebagai Dewa Tri Murti untuk mengamalkan ajaran Tri Kona dan Tri Guna, agar dinamika tradisi beragama itu berubah ke arah yang semakin baik dalam mengamalkan Sanatana Dharma intisari dari Weda.
Sayangnya, konsep memelihara tradisi ini masih belum banyak umat Hindu yang memahami. Upaya dalam mengendalikan dinamika tradisi atau adat-istiadat Hindu pun masih banyak pihak yang menggunakan konsep yang tidak jelas acuannya menurut pustaka suci. Karena itu perlu ada Dharma Tula yang berkelanjutan tentang konsep yang digunakan dalam memelihara adat istiadat Hindu, agar Hindu selalu tampil Nutana, yaitu muda dan segar. Namun isinya tetap Sanatana Dharma. Semua ilmuwan sangat baik untuk ikut dalam Dharma Tula tersebut, namun tetap untuk menunjang pohon keilmuan Susastra Hindu sebagai acuan utama. Karena itu ada Galungan menurut Lontar Sunarigama tujuan utamanya untuk mengingatkan umat agar mensinergikan berbagai ilmu untuk membuat umat Galang Apadang atau hidup cerah berdasarkan Dharma untuk menghilangkan kebingungan atau disebut “maka byaparaning idep”. Penerapan ilmu, doa dan keikhlasan secara terpadu itu akan menghasilkan idep yang Galang Apadang. Idep yang Galang Apadang itulah yang akan sukses memelihara adat istiadat tetap ajeg dalam menghadapi gempuran dinamika globalisasi yang semakin dahsyat.
Rabu, 24 April 2013
KEBIASAAN HIDUP SEBAGAI LATIHAN ROKHANI
I Ketut Wiana
Setiap hari manusia menjalani hidupnya dengan berbagai kebiasaan, sejak bangun pagi hingga siang, sore dan malamnya tidur dan besoknya bangun lagi. Semua proses itu akan dilalui selama hidup.Yang patut diperhatikan bagaimana prosesi kehidupan sehari-hari itu dijadikan pembelajaran dan latihan rokhani. Artinya dalam menjalani proses kehidupan itu dipahami sebagai proses belajar dan berlatih untuk memperbaiki kwalitas hidup agar semakin bermakna.
Realitas prosesi kehidupan sehari-hari itu kita amati, untuk mengetahui apakah proses kehidupan yang kita jalani itu sesuai dengan tuntunan ajaran agama yang kita anut. Misalnya sebagai umat yang beragama Hindu, sudahkah bangun pagi antara pukul 04. 00 sampai pukul 06. 00. Pagi-pagi setelah bangun sudahkah melakukan Asana dan seterusnya Puja Raditya Dina atau sembah yang pagi memanjatkan minimal Puja Savitri Mantram yang lebih populer dengan Gayatri Mantram. Karena menurut Chandogia Upanisad, untuk meningkatkan kwalitas hidup seyogianya melakukan puja pada Tuhan tiga kali sehari, yaitu Raditya Dina, Madya Dina dan Sandya Dina. Inilah yang disebut Tri Sandya.
Tiga kali pemujaan ini memiliki dimensi yang cukup luas menyangkut kehidupan ini. Misalnya setiap perubahan waktu menimbulkan akibat baik dan buruk. Agar jangan kena akibat buruk dari perubahan waktu itu maka dekatkan diri dengan Tuhan dengan memuja Tuhan setiap sandya tersebut. Sembahyang pagi siang dan sore itu juga bermaksud untuk mengendalikan Tri Guna dan juga menguatkan kemampuan hidup dengan konsep Tri Kona, yaitu hidup ini untuk mencipta (utpati) sesuatu yang sepatutnya diciptakan. Memelihara dan melindungi (sthiti) sesuatu yang sepatutnya dilindungi dan meniadakan (mempralina) sesuatu yang sudah seyogianya dipralina.
Demikian juga setiap kita makan, heninglah sejenak dan awas dengan seksama. Sudahkah kita mengkonsumsi makanan yang satvika yang didapat dari hasil dharma. Dari pagi sampai sore kita kerja. Renungkan, sudahkah kita bekerja sesuai dengan etos kerja Hindu, yang bekerja dengan sungguh-sungguh penuh dedikasi dan bekerja dengan senang hati karena hal itu diyakini sebagai suatu kewajiban atau swadharma.
Demikian juga dalam pergaulan, apakah sudah bergaul dalam suasana satsannga atau pergaulan atas dasar satya, yaitu kebenaran Weda. Sudahkan dalam pergaulan itu kita melakukan apa yang disebut dalam Bhgawad Gita sebagai Nahamwadi, artinya tidak egois menonjolkan diri secara eksklusive dalam pergaulan. Orang yang tidak menonjolkan diri dalam pergaulan itu tergolong orang yang disebut Sattwam.
Pengalaman hidup ini juga kadang-kadang sukses dan kadang-kadang gagal atau Sidhhyasiddhi. Menuurt Bhagawad Gita, orang yang seimbang jiwanya menghadapi sukses dan gagal itu tergolong orang Sattwam. Demikiian juga dalam keluarga kadang-kadang semuanya searah dan kompak, tapi ada juga yang tidak sepenuhnya demikian. Sarasamuscaya menyatakan “Tan girang yang inalem.” Artinya, tidak demikian senang sampai lupa diri kalau dipuji. “Tan lara yang ininda.” Artinya, tidak menderita kalau dicaci. Orang seimbang dalam suka dan duka itu pikiran, perasaannya dan hati selalu tenang. Orang tenang demikian itu mudah mencapai karunia Tuhan. Di samping itu ketenangan jiwa itu mendorong munculnya pikiran jernih dalam menyelesaikan masalah.
Orang yang menggunakan pengalaman hidup sebagai pembelajaran dan latihan rokhani akan mencari dan menggunakan rejeki dengan cerdas, cermat dan bermartabat. Menerima lingkungan sosial, baik keluarga maupun di luar keluarga dengan adil dan bijak. Dalam hubungan dengan keluarga dan hubungan sosial di luar keluarga sering terjadi hubungan yang harmonis dan tidak harmonis. Hal seperti itu harus diambil maknanya dalam hidup ini. Di Bali ada sejenis pepatah: “Memusuh ajak nyama sing dadi metelah-telahan.” Artinya, bermusuhan dengan saudara tidak boleh habis-habisan. Dengan adanya pengalaman yang manis dan pahit itu dapat diambil hikmahnya. Dengan bersikap tidak bermusuhan habis-habisan itu kita akan lebih memahami hubungan sosial itu secara seimbang.
Memang hidup ini dalam hubungan sosial kadang-kadang bertemu kadang-kadang berpisah. Karena demikian keadaannya, maka janganlah kita tajamkan kalau ada hal-hal yang membuat berpisah. Dengan demikian akan ada saja peluang untuk kembali rukun. Di tempat kerja pun akan ada berbagai pengalaman hidup yng dialami. Ada yang manis, kadang-kadang ada juga pengalaman yang pahit. Kedua pengalaman tersebut dapat dijadikan pelajaran dan latihan rokhani untuk selalu seimbang menerimanya. Bhagawad Gita juga menyatakan Tulya Nindastuti, artinya seimbang menerima yang mencaci dan yang memuji. Keduanya akan bermanfaat kalau kita dudukkan hal itu dengan seimbang.
Demikianlah berbagai pengalamn hidup dapat direnungkan setiap hari untuk dijadikan bumbu penyedap perjalan hidup kita. Memang benar pengalaman itu adalah guru terbaik.Tentunya kalau kita mau menjadikan pengalanitu sebagai guru. Artinya berbagai hal yang negatif jangan sampai terulang kembali, sedangkan hal-hal yang positif terus ditingkatkan. Dengan demikian pengalam hidup ini akan berguna bagi setiap orang yang mau berguru dengan pengalaman hidup nya. Pengalaman hidup dapat dijadikan media untuk menempa fisik dan mental yang tangguh menghadapi berbagai dinamika hidup, baik yang manis maupun yang pahit. Keduanya bagaikan bumbu bawang dan cabai membuat masakan jadi enak.
Selasa, 19 Maret 2013
BERATNYA MENGUBAH KEBIASAAN BURUK JADI BAIK
I Ketut Wiana
Tujuan belajar Weda seperti dinyatakan dalam Sarasamuscaya 177 adalah untuk membangun Ayuning Sila dan Ayuning Acara. Artinya memperbaiki kebiasaan buruk dalam prilaku individu dan kebiasan buruk dalam bentuk adat istiadat bersama. Memang ajaran agama secara teoritis tidak ada yang sulit mengertikan dan memahaminya, tetapi yang berat bahkan ada yang maha berat mengamalkan dalam kehidupan empiris. Apa lagi menyangkut kebiasaan buruk dan salah yang sudah menjadi adat-Istiadat bersama, maka sungguh amat berat mengubahnya menjadi kebiasaan baik dan benar.
Kebiasaan buruk itu ada bermacam-macam bentuknya. Ada yang tidak bisa lepas dengan rokok, ada dengan minumam keras, dengan judian. Ada yang suka mengumbar nafsu seksnya, ada yang suka menunda-nunda pekerjaan yang sudah jelas harus dikerjakan. Ada juga kebiasaan suka menunda-nunda waktu dan ada yang suka berbohong. Di lain pihak ada kebiasan hidup boros mementingkan penampilan luar dan seterusnya.
Ada suatu keluarga muda suami istri bekerja dengan penghasilan yang cukup gede, rumah warisan orang tuanya juga cukup besar, bahkan dapat dikatakan cukup mewah. Kedua suami istri itu sesungguhnya sudah sangat berkecukupan dari sudut materi. Sayang sang suami terangsang nafsu distinksi, yaitu suatu dorongan nafsu ingin berbeda dengan yang lainya dan dalam perbedaan itu dia supaya nampaknya lebih. Keluarga tersebut bertetangga dengan seorang pengusaha kaya. Dia tidak rela kalau tetangga yang pengusaha itu lebih dari dirinya. Dia pun sering ganti-ganti mobil. Apa lagi dilihat punya mobil baru dan tergolong mewah.Dia lakukan berbagai upaya supaya dapat mengganti mobilnya, agar lebih mewah lagi dengan mobil tetangganya. Dalam berbagai hal dia berusaha agar selalu lebih dari tetangganya. Pada hal tetangganya tenang-tenang saja, tidak pernah merasa hidup bersaing. Meskipun penghasilannya cukup besar, tetapi tidak mampu menutup nafsu distinksinya itu, akhirnya ia harus berutang ke berbagai pihak termasuk ke bank. Hutangnya di bank pun tidak bisa dia bayar. Cerita ini berakhir sangat tragis, karena rumahnya yang cukup mewah lengkap dengan AC, kolam renang dan perlengkapan mewah lainya akhirnya disita oleh bank dengan harga yang betul-betul miring. Dia pun selanjutnya ngontrak rumah sangat sederhana.
Semoga kejadian itu menjadi pelajaran berharga bagi dirinya, tidak mengikuti gejolak nafsu distinksinya dengan memaksa diri selalu tampil lebih dari yang lain. Seandainya dia tidak mementingkan gengsi gede-gedean, tapi cukup mementingkan fungsi, maka mungkin dia sudah cukup banyak punya tabungan demi masa depan anak-anaknya.
Ada juga cerita tentang orang yang terlibat nafsu berjudi ingin kaya dengan mudah. Sesungguhnya dia itu dapat hidup tenang berdua dan seorang anak yang masih balita. Suami istri bekerja dengan gaji meskipun tidak besar tetapi untuk membiayai tiga orang itu sudah bisa hidup wajar dan bisa nabung.Namun karena terlibat nafsu berjudi sulit dibendung dan setiap berjudi selalu kalah, akhirnya dia menghabiskan uang perusahan di tempat bekerja.Di perusahan tempatnya bekerja dia menjabat sebagai salah satu manager. Karena menghabiskan uang perusahan cukup banyak, dia mendapat peringatan cukup keras dan wajib mengembalikan uang perusahan.Terpaksa orang tuanya menjual tanah warisan di desa untuk mengembalikan uang perusahan. Dia pun kembali diterima bekerja.
Meskipun demikian, nafsu judinya tidak pernah surut. Kini dia kembali berjudi lebih hebat lagi. Uang perusahan kembali diambilnya secara tidak sah sampai empat kali lipat dengan sebelumnya. Dia kembali tidak berdaya mengembalikan uang perusahan yang diambilnya itu. Warisannya pun sudah tidak ada lagi, karena di desa hanya tinggal tempat rumah orang tuanya. Dia pun dipecat dari perusahan tersebut, pada hal dia sudah menjabat manager di perusahaan tersebut, suatu jabatan yang tidak mudah dicapai. Sekarang rejeki hilang bersama jabatan manager itu. Karena itu hati-hatilah dengan gejolak hawa nafsu. Lakukan kegiatan-kegiatan rokhani untuk menguatkan budhi dan kecerdasan intelektual dengan mencari pergaulan yang Satsangga, yaitu pergaulan dengan orang-orang yang punya gaya hidup yang sesuai dengan ajaran agama, yaitu Satya yang artinya kebenaran dan kejujuran.
Belajar dan berlatih mengendalikan diri itu tidak hanya sekedar sembahyang, tetapi harus diteruskan dengan perluasan wawasan dan latihan untuk mengekang hawa nafsu.Banyak hal sesungguhnya yang dapat dilakukan untuk melatih diri merubah kebiasaan yang tidak baik itu secara bertahap menjadi semakin baik. Misalnya menghilangkan kebiasaan merokok, yaitu dengan pengalihan terlebih dahulu dengan camilan kesukaan, tetapi tidak punya resiko berbahaya. Lama kelamaan barulah total berhenti merokok dan juga tidak kecanduan camilan kesukaan itu.
Demikian juga kebiasaan berjudi dapat dialihkan pada kebiasaan lain yang positif serta mengembangkan pergaulan dengan mereka yang tidak gemar berjudi. Di samping itu amati mereka yang jatuh miskin, karena berjudi. Dari pengamatan itu kita akan semakin takut dengan judian. Di samping itu kembangkan wawasan. Seperti Mahatma Gandi menyatakan, bahwa ingin kaya tanpa kerja menimbulkan dosa sosial. Bisnis tanpa moral menimbulkan dosa sosial. Politik tanpa prinsip menimbulkan dosa sosial dan seterusnya.
Tuntunan untuk meningkatkan dan menguatkan daya spiritual dapat ditempu dengan rajin membaca buku-buku tentang spiritual dan tuntunan hidup pada umumnya. Di samping itu hal yang sangat penting adalah soal makanan. Pelan-pelan pilihlah makanan yang Satvika untuk membangun sifat-sifat Satwam dan meredam sifat-sifat yang Rajasik dan Tamasik.Merubah ini juga membutuhkan waktu dan tekad.Yang tidak kalah penting adalah doa dan merapalkan Mantram-Mantram Weda yang dianggap paling tepat dan cocok dengan ritme batin. Misalnya dengan pengulangan Mantra Gayatri atau Panca Aksara Mantra. Hal ini sangat penting kita latih terus menerus untuk penguatan daya spiritual mengendalikan indria.Kesehatan juga amat penting dijaga. Karena gangguan kesehatan dapat menimbulkan gejolak yang bukan-bukan dari dalam diri kita. Dalam belajar dan melatih diri untuk mengubah kebiasaan buruk menjadi semakin baik memang tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin.Yang utama dibutuhkan adanya keyakinan diri dan kesadaran akan kebiasaan buruk yang dimiliki. Sesungguhnya banyak cara belajar dan berlatih merubah kebiasan buruk itu agar secara bertahap menjadi baik
Senin, 04 Maret 2013
Menjadi Anak Suputra di Zaman Kali
Ida Ayu Putu Yuni Astina
Tuhan atau Brahman maupun Maya adalah penyebab dari dunia ini, sehingga segala yang ada di dunia ini eksis karena sifat ini diperoleh dari Brahman. Semua ini juga disinari oleh kecerdasan yang merupakan Brahman. Brahman sebagai awal, pertengahan dan akhir dari semua yang ada di dunia ini. semua yang ada ini adalah atas kuasa Brahman. Di zaman sekarang ini manusia banyak dikuasai oleh hal-hal material. Sehingga banyak manusia yang hanya sibuk mencari materi dan lupa pada Tuhan. Sesungguhnya masalah dalam kehidupan ini tidak terlepas dari adanya pergaulan, karena dengan siapa kita bergaul itu sangat mempengaruhi proses kerja panca indria kita.
Di zaman Kali Yuga ini jarang ditemukan orang yang tulus memberi tanpa mengharap balasan, dan di zaman ini ilmu pengetahuan dan kecerdasan spiritual tentang pemahaman mengenai agama sangat diperlukan, seperti yang dikatakan oleh Albert Eistein, bahwa ilmu tanpa agama adalah pincang dan agama tanpa ilmu adalah buta.
Kasih sayang yang abadi sesungguhnya hanyalah milik Tuhan, begitu pula kesempurnaan hanya milik Tuhan. Tidak ada manusia yang sempurna yang ada hanya manusia yang harus menjadi lebih baik dari sebelumnya. Pergeseran nilai-nilai moral pada zaman Kali Yuga terus terjadi. Misalnya, sebagian anak muda zaman sekarang kebanyakan waktunya digunakan untuk hura-hura dan mencari perhatian dengan cara yang tidak benar. Sex bebas, perjudian, tawuran, dan cara hidup yang glamour membuat kekhawatiran besar para orang tua. Orang tua selalu menginginkan yang terbaik bagi putra-putri mereka, menginginkan mereka menjadi anak yang suputra, yang dapat mereka handalkan dan banggakan.
Pernahkah para generasi muda berpikir bagaimana cara membahagiakan orang tuanya? Mungkin ada yang menjawab pernah, tetapi belum dipraktekkan. Kita bisa memberikan kebahagiaan pada orang tua tidak hanya dengan materi, tetapi dengan membuat mereka bangga akan kesuksesan dan hal-hal positif yang dilakukan putra-putrinya. Itu adalah hal yang terpenting dan paling membahagiakan bagi orang tua, karena tidak ada hal yang membuat mereka sangat bahagia selain melihat putra-putri mereka tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik dan tidak mengecewakan.
Mencoba berubah menjadi lebih baik itu memang sangat sulit, tetapi tidak akan ada orang yang melarang kita untuk berubah menjadi lebih baik, karena semua yang kita lakukan tergantung pada diri kita sendiri. Hidup di dunia ini hanya sementara, karena semua yang kita miliki tak akan pernah abadi, semua itu maya dan semua itu milik Tuhan.
Kesalahan, kekeliruan, rasa kecewa yang kita berikan kepada orang tua, baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja, hendaknya kita perbaiki. Mengucapkan kata syukur dan maaf kepada Tuhan dan orang tua adalah tahap awal kita memulai lembaran baru yang lebih baik, bukan hanya sekedar teori, tetapi juga diterapkan dalam prakteknya. Katakan pada mereka (orang tua) yang sebagai perantara Tuhan mengadakan kita di dunia ini, “Ayah, Ibu … maaf, saya sebagai anak belum bisa membahagiakanmu, maaf, saya selalu mengecewakanmu, bimbing saya menjadi anak yang dapat Ayah dan Ibu banggakan, doa Ayah dan Ibu yang akan mengantarkanku ke jalan yang diridhoi Tuhan.”
Doa seorang Ayah dan Ibu akan mengantarkan seorang anak menuju kesuksesan, karena tidak ada cinta kasih yang tulus di dunia ini selain cinta kasih Tuhan dan orang tua. Sebagaimana disebutkan dalam kitab suci Veda yaitu: Asmanvati niyate sam rabhadhvam, Uttisthata pra tarata sakhyah, Atra jahama ye asan asevah, Sivan vayam uttaremabhi vajan (RgVeda X.53.8).
Artinya: ‘Ya para sahabat, dunia yang penuh dosa dan kesedihan sedang lewat bagaikan sebuah sungai, alirannya yang dihalangi oleh batu-batu besar yang berat. Tekunlah, bangkit, dan seberangilah, tinggalkanlah pengikut yang tak berbudi. Seberangilah sungai kehidupan ini untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran’.
Tuhan Yang Maha Esa dalam kitab suci Veda mengamanatkan supaya setiap orang berusaha untuk terus maju di jalan yang benar, bangkit untuk memperoleh keberuntungan, untuk memandang jauh ke depan. Kemajuan akan diperolah bila dilandasi dengan sarana berupa kebijaksanaan dan keberanian. Seperti yang disebutkan dalam kitab suci Veda, yaitu:
Udyanam te purusa navayanam, Jivatum te daksatatim krnomi. (Atharva Veda VIII.1.6). Artinya: ‘Wahai umat manusia, buatlah kemajuan selalu, janganlah mundur. Aku berikan kepadamu kedua-duanya daya-hidup (vitalitas) dan tenaga (energi).
Dengan ini dunia akan menjadi tentram, setidaknya di zaman Kali Yuga ini kita dapat membenahi diri sesuai dengan ajaran agama yang benar, dan menjadikan dunia ini penuh dengan rasa cinta kasih tanpa ada kekerasan dan tidak ada rasa merugikan ataupun dirugikan. Di zaman ini dana punia tidak hanya dilakukan dalam bentuk materi saja, tetapi dana punia berupa cinta kasih kepada orang tua dan sesama makhluk hidup juga sangat diperlukan.