AA Gde Raka
Manusia telah memenuhi hatinya dengan perasaan dan pikiran duniawi, ia tidak mampu mengungkapkan dan mengamalkan sifat-sifat ketuhanan yang merupakan pembawaannya. Hiranyakhsa, Hiranyakashipu, Duryodhana, dan Kamsa sama sekali tidak dapat dianggap sebagai orang biasa. Walaupun badan dan pikiran mereka kuat sekali, mereka menjadi lemah karena tenggelam dalam perasaan-perasaan duniawi. Manusia dapat menaklukkan seluruh dunia, jika pikiran-pikirannya luhur.
Yayasan Dharmasastra Manikgeni
Rabu, 15 Mei 2019
Mencapai Kemurnian Pikiran dan Perasaan
Prabu Salya dan Nyanyi Pagi Hari Dewi Satyawati
Luh Made Sutarmi
Siang hari itu udara berdesir lembut, semua tampak bersinar tertimpa cahaya mentari. Hidup terus berjalan dan tak pernah berhenti sejenak, tak hirau apapun yang terjadi. Dalam terminal seperti itulah sejatinya hidup memang terus bermakna. Kata bijak tentang keindahan jiwa bertutur kembali,
Senin, 15 April 2019
Intisari dan Prinsip-Prinsip Utama dalam Bhagavata
AA Gede Raka
Selalu ada hubungan pribadi yang akrab dan mendalam antara Tuhan dan bakta-Nya. Melalui mukjizat suciNya, Tuhan membuat baktaNya menyadari dan mengalami bahwa Beliau ada di mana-mana, mahatahu, dan mahakuasa. Tuhan dan bakta itu saling tergantung dan yang satu tidak bermakna tanpa yang lain. Karena itu, selain memuji-muji kemuliaan Tuhan, Bhagavata juga membicarakan bakti, semangat kepasrahan, sifat jalan spiritual, dan juga ketidakterikatan para bakta.
Indahnya Bersedekah
Luh Made Sutarmi
Alam selalu menjadi representasi untuk melakukan kerja tanpa pamerih. Udara pagi yang sejuk suasana tampak indah, selalu membawa pencerahan dan inspirasi yang indah. Di sana Tuhan seakan hadir dalam setiap bayang-bayang kehidupan ini, kemudian dapat membawa beragam narasi yang membuat tersenyum. KehadiranNya selalu membuat jiwa-jiwa agung melayang, bak angin menuju angkasa biru. Bunga-bunga hati selalu membuat tersenyum damai. Inilah pesan yang selalu membuat hati tak lelah berjalan ke dalam hati, pada hidup ini. Seperti yang kerap terguratkan bahwa mereka yang selalu melihat bunga indah di hati orang lain dan sanak keluarganya, suatu saat nanti akan menemukan bunga indah di dalam hati dirinya sendiri, seakan mengejewantah di setiap waktu.
Jumat, 15 Maret 2019
Pemujaan Satyanarayana Vrata Oleh Subadra
Luh Made Sutarmi
Sinar yang tampak memerah di ufuk timur, di sebelah gugusan rumah-rumah itu tampak indah, sebagai kisah yang mengguratkan bahwa banyak kisah kehidupan yang memberikan sebuah narasi yang penuh kekuatan untuk kemegahan sang jiwa. Sang Jiwa yang diliputi kesadaran abadi, untuk menggapai sebuah titik sentral ‘sat cit ananda’ dalam lika-likunya kehidupan manusia.
Jumat, 15 Februari 2019
Dialog Arjuna dan Subadra Tentang Kebajikan
Luh Made Sutarmi
Hujan rintik-rintik, udara dingin yang selalu membuat diri kita tersanjung itu bukanlah awan yang mendatangkan hujan sebagai bukti bahwa langit memberikan sebuah penghormatan pada bumi sekaligus mengabarkan bahwa ketika orang berisi dia merunduk dan selalu dapat memberikan, inilah sebuah model pemaknaan yang bijak. Menjadi bijak tidak mudah. Dia berproses. Disitu berlaku rumus sederhana, jika enggan mengerjakan hal kecil, maka sulit menyelesaikan tugas yang besar.
Selasa, 15 Januari 2019
Senandung Kebenaran Dewi Surga
Luh Made Sutarmi
Dewi Durga dalam banyak benak dikatakan seram dan menakutkan, lalu itulah jiwa yang hadir. Sedangkan dalam dimensi lain, dia berlaku seperti Dewi Uma, menawan, Dia berjalan dalam kecantikan, bagai malam tak berawan dan penuh bintang. Segala kebaikan dari gelap dan terang terpancar indah pada sosok dan sinar matanya: menyeruakkan kasih sayang penuh kedamaian dalam kecerahan hari yang sungguh tak mampu terbantahkan. Itulah pesan sang Maha Purusa yang hadir dengan wajah indah dalam memperbaiki karakter manusia. Sabdanya yang sangat indah selalu dikenang dalm pusaran hati, “Jauhilah dengki, karena dengki memakan amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”
Senin, 15 Januari 2018
Setia dan Kasih Sayang
Oleh Luh Made Sutarmi
Dalam pergumulan waktu, sangkakala, rajutan dunia kadang tak banyak tahu dan dia menjadi misteri tersendiri. Disana terjurai daur hidup yang diliputi oleh suka, duka, lara, pati. Hukum karma membelit, kehidupan kait mengkait bak lilitan tali-temali tali putri.
Rabu, 20 Desember 2017
Rarung Dalam Lingkaran Teologis Mistis
Renungan oleh Luh Made Sutarmi
Sore itu, udara pantai mendesir lambat menerpa jemari daun kelapa yang berderet di sekitar pantai, bersatu dalam nuansa alam yang indah. Rarung kecil yang manis tumbuh menjadi remaja cantik yang dewasa, Ibunya dihormati di desanya, karena sopan dan tulus melakukan segala bentuk kegiatan di desa.
Minggu, 20 Agustus 2017
Arjuna Yang Menjadi Kekasih Tuhan
Oleh Made Luh Sutarmi
Gemercik air di pematang sawah terdengar sebagai musik alam yang ritmis serta bersatu dengan bianglala sinar surya pagi di hamparan sawah yang tersisa berpadu dengan jiwa syukur yang kerap hadir tanpa diundang. “Ia spontan mengalir dan mengkristal, serta menyatu karena memiliki dirimu yang selalu hadir dalam dekapan kasih sayang, jiwamu yang indah, membuat hatiku damai, dan senyummu yang manis hadir memberikan rasa sejuk membatin penuh asrat merindu dalam hati ini. Selamat pagi sayang, semoga damai selalu, I love you so much,” demikian sebagaian kata kata-manis dalam hati menjadi obyek meditasi kerja bagi orang yang jatuh cinta. Cinta yang tertinggi adalah mencintai dan dicintai oleh Tuhan.
Jumat, 16 Juni 2017
Kerja dan Perang Pada Diri Arjuna
Oleh Luh Sutarmi
Bekerja dan berdoa selalu menjadi hiasan dinding tempat yang sebagai altar motivasi. Disana bergaung beragam dimensi dari bekerja (working). Yakni Bekerja adalah aktivitas yang dilakukan oleh pekerja. Manusia adalah makhluk yang bekerja. Kerja adalah tanda dari kemanusiaannya. Kerja memiliki dinamika dan dimensi yang inheren di dalam dirinya. Salah satunya adalah dimensi fisiologis.
Sabtu, 18 Februari 2017
Doa Pagi Subadra dalam Pemujaan Ganesha
Renungan oleh Luh Sutarmi
Dari ufuk timur bianglala mentari pagi mengabarkan dalam benak bahwa cintaku padamu selalu menggebu, dinda ingin memelukmu dengan mesra. Tatapan matamu selalu mengiang dalam asa benakku ini, kurajut kebahagian ini dalam narasi cinta abadi hati ini. Kebahagiaanmu adalah kebahagianku, semoga damai selalu. Kita akan selalu bersama dalam mengarungi gelombang hidup ini. Aku bahagia memilikimu sayang, pagi ini wajahmu selalu menghiasi benakku yang merindu sayang.” Demikianlah kata-kata romantis terucap dari bibir Subadra untuk suaminya tercinta, Arjuna.
Minggu, 15 Januari 2017
Ungkapan Cinta Kakek Bisma
Renungan oleh Luh Sutarmi
Ungkapan indah tentang cinta selalu hadir bagi mereka yang sedang dilanda cinta. “Cinta sejati tidak pernah berjalan mulus, karena cinta tidak terlihat dengan mata, tetapi dengan hati. Seperti meneguk minuman cinta yang terindah ialah saat kau seduh setetes demi setetes, bukan yang direguk sekali tegukan,” demikianlah ungkapan Bisma pada Dewi Amba yang terus membuntutinya dari belakang, sebab sang Dewi merasa teraniaya selama ini, karena merasa disiasiakan oleh Bisma. Bisma menang sayembara di negeri Kasi, mendapat tiga putri raja, dua putri, yaitu Ambika dan Ambalika menjadi istri adiknya Wicitrawirya, namun Amba, keburu jatuh cinta sama Bisma. Bisma sudah bersumpah untuk tidak menikah seumur hidupnya. Dalam perjalanan kejar mengejar terjadi dialog yang unik antara keduanya,
Jumat, 11 November 2016
Dewi Subadra Menghayati Bhakti Yoga
Oleh Luh Made Sutarmi
Kehidupan menampilkan wajah ganda, manusia diberikan untuk memilih dan menjalani hidup dengan beragam jalan. Manusia tinggal memilih. Walaupun mampu memilih, namun manusia penuh dengan keterbatasan Nobody can count the starts. Manusia memiliki batas kemampuan masing-masing.
Rahasia di Balik Bulan Purnama
Oleh Ngurah Parsua
Seluruh Alam Semesta beserta seluruh kehidupan keberadaannya mungkin saling terkait. Sering disebut ada tiga tingkatan alam menyeluruh, tapi satu dengan lainnya saling berkaitan. Menjadi satu kesatuan, berawal dari bagian-bagian semesta.Dari mana datangnya planet-planet itu? Mengapa matahari bersinar. Siapa memberi sinar? Mengapa ada bulan, dari mana asal-muasalnya. Mengapa suatu waktu ia bersinar terang (Purnama). Suatu saat gelap (Tilem).
Jumat, 30 September 2016
Getar-Getar Kerinduan Prabu Sentanu
Oleh Luh Made Sutarmi
Di tepi sungai Yamuna itu, Prabu Sentanu merenung dan menghayati hidup menduda setelah ditinggalkan oleh Dewi Gangga ke Kahyangan. Hatinya berbunga menyambut pagi yang cerah. Dia berbisik lirih, “Pagi mempesona secerah wajahmu yang ada dalam benak ini, senyumanmu seperti desau semilir angin timur yang mendesir sejuk, memberikan rasa bahagia tiada tara. Bibirmu manis memberikan harapan yang selalu muncul untuk memberi makna sempurna hidup ini, nafasku selalu berima ritmis, sebab bayanganmu ada dalam setiap kisi-kisi hati ku yang merindu.” Itulah yang selalu berkecamuk dalam pikiran dan hati Prabu Sentanu.
Senin, 17 Juni 2013
Arjuna Dalam Keremangan Malam
Luh Made Sutarmi
Hati Arjuna sempat galau di tengah malam, sebab, jantungnya berdegup kencang ingat Subdra di Di Dwarawati. Sebab besok pagi Abimanyu akan menuju medan laga, perang Bharatayuda. Dia teringat saat memadu kasih dengan Subadra, sehingga benih kasihnya “melahirkan” sosok kesatria yang tampan. Inilah perasaan yang berderu kencang dalam benaknya. Arjuna sadar bahwa cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi yang bersumber dari anugrah Hyang Widhi. Di dalam jiwa manusia, yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya, adalah alamiah dan selalu bisa mengusik kalbu. Dalam tataran itulah konsep wairagya terus hadir menghampiri diri manusia.
Wairagya artinya ketidakterikatan atau pengunduran diri yaitu ketidakterikatan pikiran dan indera dari objek-objek duniawi. Pikiran menutupi diri yang sejati karena itu, kadang-kadang pikiran digambarkan sebagai selubung, yaitu selubung kekaburan batin yang menutupi atma. Pikiran sendiri terikat oleh panca indera, dan panca indera tertarik oleh objek-objek indera serta sekaligus terikat olehnya. Karena itu, langkah pertama ialah mengendalikan panca indera, untuk ini ketidakterikatan sangat penting. Dalam ruang yang sempit ini, renungan menghadirkan kecamuk perang bathin Arjuna yang menjadi zona pencerahan bagi kita semuanya.
****
Udara malam yang sejuk mengalir deras dalam bayang-bayang dedaunan karena bulan sabit hadir di langit sepi dan lengang. Suara bisikan kalbu menghampirinya dengan penuh keharuan. ”Arjuna inilah tanda-tanda kekuasaan-Ku, Aku telah menciptakan untukmu istri-istri yang bijak, agar engkau merasa tentram dan bahagia karenanya, jika engkau menghayatinya, engkau telah menggunakan akalmu untuk menikmati karunia ini.” Arjuna tersentak dan bangun dari lamunannya, namun sosok malam itu hadir kian mendekat dan ramah.
“Oh sang penguasa malam, apa arti kegalauan ini, tolong berikanlah aku pencerahan, sebab kegalauan ini sungguh menyiksaku,” ratap arjuna penuh harap. Sosok malam yang gelap itu berkata penuh khidmat. “Cinta pada dasarnya bukanlah sesuatu yang kotor, karena kekotoran dan kesucian tergantung dari bingkainya. Ada bingkai yang suci dan ada bingkai yang kotor. Cinta mengandung segala makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan dan kerinduan, di samping mengandung persiapan untuk menempuh kehiduapan di kala suka dan duka, lapang dan sempit. Aku mengerti itu dewa malam, namun jantungku selalu berdegup kencang penuh ketertarikan, bagimana ini?” potong Arjuna.
Dewa malam berkata, “Cinta bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik saja. Ketertarikan secara fisik hanyalah permulaan cinta bukan puncaknya. Dan sudah fitrah manusia untuk menyukai keindahan.Tapi di samping keindahan bentuk dan rupa harus disertai keindahan kepribadian dengan akhlak yang baik. Kebaikan tidaklah membelenggu perasaan manusia, tidaklah mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri seorang manusia. Akan tetapi tuntunan kebajikan mengajarkan pada manusia untuk menjaga perasaan cinta itu dijaga, dirawat dan dilindungi dari segala kehinaan dan apa saja yang mengotorinya. Perlu engkau ketahui Arjuna, bahwa segala kesedihan dan penderitaanmu disebabkan oleh perasaan dan sikapmu sendiri. Tidak ada peluang bagi rasa kemilikan bila engkau telah menyadari kelemahan dan kekurangan objek-objek duniawi. Berusahalah memahami asa ketidakterikatan. Engkau harus mencapai suatu tingkat, di saat engkau tidak lagi mempunyai rasa keterikatan atau perbudakan walaupun dalam keadaan mimpi atau keadaan tidur nyenyak sekalipun.”
“Aku tambahkan,” kata dewa malam, “Setetes kebencian di dalam hati pasti akan membuahkan penderitaan. Tapi setetes cinta di dalam relung hati akan membuahkan kebahagiaan sejati. Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih kalahkan kejahatan dengan kebajikan. Kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati kalahkan kesombongan dengan kejujuran.”
Arjuna mengangguk setuju, hatinya mulai cerah. Dewa malam mengakhiri kata-katanya dengan sebuah pesan indah. ”Menggunakan badan, pikiran, dan ucapan sedemikian rupa sehingga engkau tidak terjerat dalam keterikatan, itulah yang dimaksud dengan pengamalan. Pengamalan atau latihan artinya mengarahkan seluruh hidupmu untuk mencapai Tuhan. Setiap kata yang kau ucapkan, setiap gagasan yang kau pikirkan, dan setiap kegiatan yang kau lakukan harus suci dan selalu mengarah pada kebenaran. Kebenaran dan kesucian adalah alat yang sejati untuk melaksanakan tapa. Aku menghimbau agar engkau membina sifat-sifat mulia ini sehingga dengan demikian hidupmu akan tersucikan.” Om Gam Ganapataye namaha.*
Rabu, 24 April 2013
Dialog Arjuna dengan Sukma tentang Kemurungan
Luh Made Sutarmi
Mereka yang mempersembahkan semua kerja kepada Brahman, berbuat tanpa motif keinginan apa-apa, tak terjamah oleh dosa papa, laksana daun teratai dalam air. Tuhan yang maha mulia tak pernah bisa diadaptasikan untuk kita miliki, namun cinta sejati patut engkau korbankan untuk maksud yang damai, itulah jiwa ini. Jiwa yang selalu rindu, berbisik dalam keindahan sukma, yang dalam.
Arjuna ketika membayangkan Subadra menggeliat dalam renungan tengah malam. Kerinduan seakan sulit ditampik untuk mengatakan bahwa Subadra yang selama ini berstana dalam hatinya yang paling dalam sulit dilupakan. Di sinilah Arjuna menemukan makna cinta, jika manusia menemukan, bahwa satu prinsip ketuhanan dalam semua aktivitas manusia. Konsep itu seperti, aliran arus listrik pada bola lampu, kipas angin, kompor listrik dan mesin yang digerakkan oleh daya listrik itu, lalu agama dunia ini seperti itu adannya. Penghormatan terhadap kehadiran sesuatu yang menggerakkan yang tidak terlihat, itu adalah prinsip ketuhanan yang tetap ada, dan akan tumbuh pada setiap hati sebagai taman kasih. Kasih yang murni dapat keluar hanya dari hati yang terbenam dalam kedamaian.
Dalam kerinduan itu, Arjuna bermeditasi dan dia bertemu dengan sukma hatinya yang terdalam, di sana terjadi dialog yang panjang. Arjuna berkata, “Saya lagi murung, dan tolong saya, saya lama belum bertemu dengan kekasih hamba, Subadra. Apa penyebab kemurungan ini?” Suksma hatinya menjawab, “Penyebabnya ialah ketidaktahuan. Karena ketidaktahuan ia menyamakan diri dengan tubuh, dan karena menyamakan diri dengan tubuh, ia menjadi bingung dan bimbang, ia kehilangan tekad dan keberanian, dan tidak mampu menyelesaikan apa-apa, termasuk berpisah hanya untuk menjalankan tugas sebagai seorang ksatria, belum dapat engkau lakukan Arjuna.”
“Kadang sifat pengecutku muncul, dan aku sering berprilaku cengeng.” Suksma berkata kepada Arjuna, "Selama sifat pengecut ada pada dirimu, tugas sekecil apa pun tidak akan dapat kau selesaikan. Engkau akan tetap dibayangi kesedihan. Tahukah engkau apa yang menyebabkan kesedihan ini? Tidak lain ialah keterikatanmu; engkau dimabukkan oleh rasa ini milikku, dan itu bukan milikmu. Sikap memiliki ini bersumber dari ketidaktahuan. Keterikatan dan ketergila-gilaan ini akan selalu membuat engkau bimbang dan menjebloskan engkau ke jurang kesedihan. Itulah sebenarnya musuh-musuh yang harus engkau taklukkan, musuh-musuh dalam dirimu sendiri. Arjuna! Selama engkau diliputi oleh sikap memiliki ini, hanya memikirkan dirimu sendiri, keluargamu, bangsamu, dan harta bendamu, cepat atau lambat pasti engkau akan terlempar ke lembah kesedihan. Engkau harus beralih dari sikap aku dan punyaku ke tingkat yang lebih tinggi dengan senantiasa berpegang pada sikap kita dan punya kita. Dari sikap mementingkan diri sendiri engkau harus berangsur-angsur maju ke sifat tanpa pamrih, dari keterikatan menuju.”
“Ya, kau terbelenggu dalam kisah duniawi dan nafsu memiliki membuat dirimu selalu berada dalam kungkungan yang sangat menakutkan, membuat kamu sedih. Ketahuilah Bila seseorang diliputi kesedihan yang mendalam dan menderita kekaburan batin, apa yang harus dilakukan untuk melepaskannya dari belenggu khayalan? Misalnya bila seseorang tenggelam di sungai, engkau harus mengangkatnya lebih dulu, membawanya ke pinggir, dan memberikan pernapasan buatan; kemudian engkau dapat mulai memberikan perawatan berikutnya untuk mengembalikan sirkulasi darah dan membantu memulihkan keadaannya. Tentunya engkau tidak akan mulai memberikan berbagai perawatan selama ia masih berada di dalam air, tenggelam.”
“Ya, jiwaku terperangkap dalam cinta keterikatan, menikmati keindahan kehidupan.” Sukma berkata, “Keindahan adalah kehidupan itu sendiri saat ia membuka tabir penutup wajahnya. Dan kalian adalah kehidupannya itu, kalianlah cadar itu. Keindahan adalah keabadian yag termangu di depan cermin. Dan kalian adalah keabadian itu, kalianlah cermin itu. Arjuna! Sadarilah, bahwa penderitaan yang menyakitkan adalah koyaknya kulit pembungkus kesedaran- seperti pecahnya kulit buah supaya intinya terbuka merekah bagi sinar matahari yang tercurah. Kalian memiliki takdir kepastian untuk merasakan penderitaan dan kepedihan. Jika hati kalian masih tergetar oleh rasa takjub menyaksikan keajaiban yang terjadi dalam kehidupan, maka pedihnya penderitaan tidak kalah menakjubkan daripada kesenangan. Banyak di antara yang kalian menderita adalah pilihan kalian sendiri - obat pahit kehidupan agar manusia sembuh dari luka hati dan penyakit jiwa. Percayalah tabib kehidupan dan teguk habis ramuan pahit itu dengan tanpa bicara.”
Arjuna tetap bertahan dalam meditasinya, dialog itu terus berjalan seiring pergerakan malam. Lalu, Arjuna dengan sadar mengucapkan sebuah senandung mantra, "Tvameva maataa cha pitaa tvameva, Tvameva bandhuscha sakhaa tvameva, Tvameva vidyaa dravinam tvamev, Tvameva sarvam mama devadeva" ('Engkau ibuku, Engkau Ayahku, Engkau kerabat yang terdekat, Engkau kawanku terdekat, Engkau kebijaksanaanku, Engkau hartaku, Engkau segala-galanya bagiku, Engkau Tuhanku, Tuhanku satu-satunya), maka hidupnya diatur oleh Tuhan, dan dia berdiri menjadi instrument Tuhan. Di sana ada kerinduan dan kasih Arjuna pada yang Maha kasih, Tuhan yang Maha Pemurah, yang juga berstana dalam hati yang paling dalam dari Subadra.
Om Gam ganapataye namaha****
Senin, 04 Maret 2013
Arjuna dan Pencarian ke Dalam Diri
Luh Made Sutarmi
Keindahan adalah kehidupan itu sendiri saat ia membuka tabir penutup wajahnya. Dan kita adalah kehidupan itu, kita adalah cadar itu. Keindahan adalah keabadian yag termangu di depan cermin. Prawertti rahayukta sadhananing ramaksang dharma. Tingkah laku yang baik merupakan alat untuk menjaga dharma. Disana lahirlah keindahan kehidupan. Sama seperti jeda di antara dua pasukan yang siap berperang di medan Kuruksetra.
Dalam keindahan senja itu, Krishna berkata dengan penuh khidmat, “Orang yang Ku cintai ialah orang yang tidak mementingkan diri sendiri, melepaskan segala keterikatan, dan bersikap sama dalam suka dan duka.” Arjuna menatap ke depan dengan penuh syahdu, bahwa dalam pikirannya yang ragu dan penuh duka, karena sebentar lagi akan berperang dengan sanak saudara, guru dan juga sahabat. Perang memang menyakitkan sekali. Krishna berusaha menggelontorkan aneka filsafat hidup, agar Arjuna bangkit dari perasaan duka itu. Bisa dipahami, bila orang yang berkeluarga, bekerja tanpa balasan, hampir tidak mungkin. Memang sulit menghilangkan keakuan selama manusia membedakan keinginannya dengan perintah dan keinginan Tuhan. Inilah sekelumit renungan kali ini.
***
Dalam kegelapan hati Arjuna bertanya, “Kakanda Krishna, sejak zaman dahulu orang selalu bertanya apakah Tuhan ada atau tidak, bagaiman kita menjelaskan ini?” Krishna tersenyum dan menjawab, “Kalau engkau telah yakin bahwa Dia ada, langkah selanjutnya adalah mencari jalan untuk mencapai-Nya. Seperti pada masa lalu, masalah bagaimana dan di mana menemukan Tuhan tetap merupakan pertanyaan yang membingungkan umat manusia masa kini. Para resi itu mengemukakan, di mana mereka mencari dan bagaimana mereka dapat mengetahui adanya Tuhan Yang Mahacemerlang. Arjuna, engkau dapat menyimpulkan kata-kata bijak para tetua dulu: Oh manusia, kami telah berhasil melihat dan memahami prinsip adikodrati itu yang ada di luar dunia yang kasat mata ini. Bukannya di dunia atau di ruang angkasa, tetapi dalam dirimu sendirilah Tuhan yang penuh kebahagiaan dapat ditemukan. Dalam pandangan batinmu, dalam jiwamu, dalam hati yang suci dalam badan inilah Ia bersemayam."
Krishna menambahkan, “Tuhan disebut Sarira, yaitu yang tinggal dalam badan yang tidak kekal. Ia disebut juga Dehi, artinya yang mengenakan wujud sementara atau disebutkan sebagai Kshetrajña 'yang mengetahui Ksetra' yaitu yang tidak bergerak dan tidak mengetahui dirinya sendiri. Untuk menembus tirai kebodohan yang menutupi kebenaran dirimu, engkau harus berusaha menemukan Tuhan Yang Kekal yang bersemayam cemerlang dalam badan kasarmu.
Arjuna berkata lagi, “Apakah jalan pengabdian itu yang paling mudah?” Krishna tersenyum dan berkata, “Telah dijelaskan semua sifat mulia seorang bhakta yang membuatnya dikasihi Tuhan. Di situ ditekankan bahwa sifat-sifat yang terpuji ini akan bersemi bila keenam musuh manusia dikuasai. Keenam musuh manusia itu dapat ditaklukkan bila engkau menyadari kebenaran bahwa Tuhan Yang Maha Esa berada di mana-mana dalam kelima unsur alam dan Dia-lah yang menggerakkan semua makhluk. Demikian pula halnya jika engkau dapat menyingkirkan sifat-sifat buruk yang ada pada dirimu, seperti kebencian, kemarahan, kecemburuan, kecongkakan, keserakahan, dan keakuan, maka engkau akan dapat merasakan manisnya belas kasihan, manisnya pengorbanan, manisnya kedermawanan, manisnya kesetiakawanan, dan manisnya cinta Tuhan.”
Arjuna bertanya lagi, “Bagaimana aku harus memandang Tuhan, kakanda Krishna?” Krishna menjawab, “Barangkali engkau memandang Tuhan, tetapi engkau tidak memohon ketuhanan itu sendiri. Tentu engkau memanjatkan doa kepada Tuhan, tetapi yang kau mohon adalah barang-barang yang sepele dan hal yang bersifat duniawi.”
Dalam kebahagian itu Arjuna bertanya lagi, “Bagaimana caranya menambah dan meningkatkan bakti itu, kakanda Krishna?” Krishna menambahkan, “Engkau harus senantiasa menambah dan meningkatkan bhaktimu dengan keyakinan bahwa Tuhan ada dalam badanmu sendiri. Jika engkau ingin mencari dan menemui Tuhan yang ada dalam dirimu, engkau harus mengarahkan pandanganmu ke dalam batin. Bagaimana engkau harus merindukan Tuhan? Engkau harus menangis seperti anak sapi memanggil induknya yang telah meninggalkannya bersama kawanan sapi lain. Engkau harus meratap seperti wanita setia yang kehilangan suami dan menangis sedih karena berpisah. Engkau harus menjerit memohon kepada Tuhan seperti suami istri yang tidak punya anak memohon dengan sangat agar dikaruniai anak. Begitulah sebaiknya engkau berdoa kepada Tuhan, penuh kasih serta pengabdian dan rindu ingin menghayati keberadaan-Nya dalam dirimu.”
Apa yang harus aku lakukan sekarang,” tanya Arjuna lagi. Sri Krishna menambahkan, “Engkau harus mawas diri, apakah engkau mengikuti jalan satunya pikiran, perkataan, dan perbuatan ini. Jika engkau memeriksa dirimu sendiri dengan jujur, engkau akan mengakui bahwa hampir selalu ketiga unsur itu mengikuti arah yang berbeda, tidak ada kesatuan. Kalau pikiran lain, kata-kata lain, dan perbuatan lain pula, maka engkau memiliki sifat-sifat orang jahat atau duratma, bukan sifat-sifat seorang mahatma. Ketidakserasian seperti itu akan merugikan engkau dan menjauhkan engkau dari Tuhan.
Krishna menambahkan, “Jika engkau ingin dekat Tuhan, engkau harus mengembangkan sifat suci cinta kasih ini. Hanya dengan cinta kasih engkau akan dapat menghayati Tuhan, karena Dia adalah cinta kasih itu sendiri. Karena kasucilan saddhaning rumaksa ika. Kehadiran budi baik dalam laku akan memunculkan Tuhan dengan segala manifestasinya. Bila engkau mendengarkan kata-kata yang mulia itu dan betul-betul memahaminya serta mengamalkannya, engkau akan dapat mencapai tujuanmu yang suci.” Arjuna mengangguk tanda setuju. Om Gam Ganapataye Namaha.****
Sadhana Harus Membawa Manusia Menuju Kepasrahan kepada Tuhan
A.A. Gede Raka
Banyak orang berbicara tentang sadhana, akan tetapi sadhana tidak semudah itu. Lebih mudah lagi untuk mengulang nama kesembilan jenis bhakti seperti: shravanam ‘mendengarkan dharmawacana atau pembacaan kitab-kitab suci’, kirtanam ‘menyanyikan nama Tuhan atau kidung suci’, dan seterusnya. Bilakah kita mencapai jenjang terakhir atmanivedanam ‘pasrah diri kepada Tuhan?’ Hanya setelah kita membina persahabatan (sneham) dengan Tuhan.
Ada beberapa orang yang tidak tahu apa sebenarnya persahabatan sejati. Mereka mengira bersahabat artinya saling menyapa,”Hallo,hallo.” Apakah artinya halo halo ini? Itu hanya sapaan biasa. Ini bukan persahabatan. Persahabatan merupakan pertalian yang tidak terpisahkan antara dua orang. Tubuh mereka mungkin berbeda, tetapi prinsip kehidupan mereka satu dan sama.
Jangan pernah meninggalkan jalan spiritual yang suci. Hanya dengan demikian hidup kita akan suci. Pasti kita akan dapat mencapai hal ini. Jangan membuang-buang waktu. Kini manusia membuang-buang banyak waktu untuk mengejar berbagai hal yang tidak berguna. Ada dikatakan, ”Kalaya namaha, kala kalaya namaha.” Waktu adalah segala-galanya. Bila kita melewatkan waktu yang demikian berharga untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna dan tidak suci, bagaimana kita dapat memperolehnya kembali? Hanya untuk menguduskan waktu, maka Tuhan telah menganugerahkan jangka hidup kepada kita.
Sebenarnya apakah tubuh manusia ini? Badan ini dapat diibaratkan dengan gelembung air yang setiap saat akan meletus. Pada suatu saat tubuh ini pasti akan binasa, entah hari ini, besok, atau lusa. Kita tidak perlu menyedihkan tubuh yang tidak langgeng ini karena yang telah datang pasti akan pergi, dan yang telah pergi pasti akan datang kembali. Karena itu, kita tidak perlu terlalu mementingkan kedatangan dan kepergian ini. Kita harus berusaha menyadari (atma) yang tidak lahir dan tidak mati, berusaha menyelidiki mana yang merupakan kebahagiaan dan mana yang merupakan kesedihan.
Apakah kesulitan itu? Kesulitan jauh lebih baik daripada kesenangan dan kemudahan. Tidak bijaksana bila kita berdoa memohon kebahagiaan dan kesenangan. Kebijaksanaan yang diperoleh pada saat-saat yang sulit, tidak didapat pada waktu kita menikmati kebahagiaan. Kini orang-orang ingin mencapai kaivalya ‘kebebasan dari lingkaran kelahiaran dan kematian’ tanpa menanggung kesulitan apa pun atau mengeluarkan uang sepeser pun. Bagaimana mungkin? Kita harus bekerja keras. Bila kita hanya duduk di suatu tempat dan bersenang-senang menikmati barbagai hal, maka kita akan mendapati bahwa aneka kesulitan itu menyakitkan. Kita baru menikmati kebahagiaan setelah mengalami berbagai kesulitan.
Suatu kali Krishna mengunjungi Kunti untuk menanyaknan apakah ia selamat dan sejahtera. Kunti bertanya kepada Krishna, ”Kapan Paduka datang? Bagaimana perang berlangsung?” Krishna menjawab, ”Ibu, kelahiran dan kematian, baik dan buruk, ini lazim bagi setiap orang. Ibu lupa tentang hal ini. Katakan kepada Saya apa yang Ibu kehendaki?” Kemudian Kunti mohon kepada Krishna, ”Nak, sampai saya meninggalkan raga dan menunggal dalam kaki suci Paduka, mohon terus berikan berbagai kesulitan kepada saya.” Krishna bertanya, ”Oh Ibu! Sejak Ibu menikah dengan Raja Pandu Ibu terus-menerus mengalami berbagai kesulitan. Apakah itu tidak cukup? Mengapa Ibu meminta kesulitan lagi?”
Kunti menjawab, ”Oh Krishna, Paduka tidak mengetahui bahagianya menanggung kesulitan. Hanya sayalah yang mengetahuinya. Karena saya telah mengalami berbagai kesulitan, saya terus-menerus menikmati kehadiran suci Paduka. Semua putra saya memperoleh rahmat Paduka. Putra-putra yang lahir dari rahim saya menerima karunia suci Paduka. Apa gunanya mempunyai sejumlah anak, jika mereka tidak memperoleh rahmat suci Paduka? Kebahagiaan apa yang saya dapatkan dari hal itu? Kunti melanjutkan, ”Mempunyai putra tidak membuat seseorang bahagia, tidak mempunyai putra tidak membuat seseorang rugi. Anak-anak yang lahir harus mendatangkan nama baik bagi keluarga. Mereka harus menempuh hidupnya dengan kelakuan yang baik. Mereka harus bergaul dengan teman-teman yang baik. Para putra saya berada dalam perlindungan Paduka. Dari pagi sampai malam mereka terus-menerus mengucapkan nama suci Paduka. Kebahagiaan apa lagi yang saya inginkan? Saya mohon agar saya terus menikmati kebahagiaan jiwa ini, oh Krishna.”
Apakah ibu-ibu zaman sekarang akan berdoa seperti itu? Apakah mereka memilih kesulitan dengan kemauannya sendiri? Mereka ingin mempunyai putra, tetapi mereka tidak ingin putra-putra mereka hidup dalam kehadiran suci Tuhan (Avatar). Mereka bahkan merasa takut pada kemungkinan semacam itu. Apa gunanya bila putra mereka duduk di suatu tempat tanpa mencapai kehadiran Tuhan? Manusia dilahirkan untuk mencapai kaki suci Tuhan.
Dalam kehidupan ini mungkin kita mengalami berbagai kesedihan, kehilangan, dan kesulitan. Hal itu jangan diindahkan. Kita harus selalu menganggap kehadiran Tuhan sebagai harta terhebat yang dapat kita cari. Kita harus meningkatkan bakti dan keyakinan yang mantap serta tak kunjung padam pada kebenaran abadi, yaitu Tuhan.
Orang-orang menghendaki bakti maupun segala hal lainnya di dunia objektif ini. Bagaimana mungkin? Kita hanya memiliki satu mulut dan ingin minum susu serta air bersamaan. Karena itu, kita harus menginginkan satu hal saja, yaitu Tuhan. Bila kita meningkatkan kerinduan kepada Tuhan, Beliau akan merahmati kita. Kehadiran Tuhan akan memberi kebahagiaan sejati. Hanya itulah kebahagiaan yang langgeng. Tidak ada penderitaan, kesedihan, dan kecemasan dalam kehadiran Tuhan. Tuhan adalah perwujudan kebahagiaan jiwa. Tuhan selalu memberikan kebahagiaan belaka. Mamaivamsho jivaloke, jivabhutah sanatanah ‘Atma yang abadi di dalam segala makhluk merupakan bagian dari diri-Ku’ (Bhagawad Gita,15 : 7).