Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Hp/WA 0819 9937 1441. Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni. Terbit bulanan. Eceran di Bali Rp 20.000,- Pelanggan Pos di Bali Rp 22.000,- Pelanggan Pos di Luar Bali Rp 26.000,- Tersedia versi PDF Rp 15.000/edisi WA ke 0819 3180 0228
Tampilkan postingan dengan label Bahasan Utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasan Utama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Februari 2021

Sulinggih dalam Sorotan: Ada Sulinggih Cabul Tersangkut Pidana

Sulinggih atau pendeta Hindu di Bali belakangan ini mendapat sorotan tajam. Ada yang berbuat cabul, ada yang berbisnis banten dan menyebabkan upacara yadnya jadi mahal, ada yang mediksa (menjadi sulinggih) tanpa aturan. PHDI seharusnya bertindak lebih keras.

Selanjutnya......

Kamis, 16 Mei 2019

Eskatologi dalam Teks Atma Prasangsa

 Spiritual membahas hal-hal yang berhubungan dengan kejiwaan; rohani; batin; mental; moral. Spiritualisasi adalah pembentukan jiwa; penjiwaan.

Selanjutnya......

Senin, 15 April 2019

Pemilu Serentak Tokoh Agama Tersentak

Bulan April pun datang, pemilu serentak pertama di Indonesia. Penuh dengan kerunyaman dengan perseteruan dua kubu yang sangat panjang. Pemuka agama pun tersentak dan ramai-ramai menyerukan pemilu damai.

Selanjutnya......

Jumat, 15 Maret 2019

Ritual Perang Api di Pura Luhur Duasem: Brahma Wisnu Menyatu Menjadi Siwa

 Agama Hindu dipraktikkan secara natural, yaitu disesuaikan dengan tempat, penduduk, geografi, dan pendukung lainnya dimana agama itu dipraktikkan. Oleh karena itu Hindu mengenal banyak varian praktik beragama, terutama dalam ritual yang menjadikannya sebagai agama yang variatif dan membumi.

Selanjutnya......

Jumat, 15 Februari 2019

Umat Hindu Dunia dalam Kepungan

 Sebuah konferensi internasional tentang Hindu telah dihelat di Pulau Dewata, Bali, pada 22 Desember 2018, bertempat di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali.

Selanjutnya......

Selasa, 15 Januari 2019

Umat Hindu Kota Palu Gelar Pengabenan Geni Pranawa

Krama Adat  Kerta Winangun Kota Palu merupakan organisasi keumatan yang ada di kota Palu dimana krama adat menaungi lima banjar yang ada di kota Palu. Setiap banjar yang ada memiliki jumlah anggota tidak sama, tetapi jumlah anggota krama secara menyeluruh di Kota Palu kurang lebih 545 KK. Salah satu kewajiban krama adalah memberikan pelayanan terhadap umatnya baik dalam hal suka maupun  duka.

Selanjutnya......

Senin, 15 Januari 2018

Penghayat Kepercayaan Bisa Masuk KTP Seperti Agama

Ada 187 Penghayat Kepercayaan di Indonesia dengan jumlah pengikutnya sampai 12 juta orang, bisa lebih banyak dari pemeluk Agama Hindu. Di Bali ada 8 Penghayat Kepercayaan. Harus diantisipasi masalah ini karena bisa saja nanti perbedaan ritual dalam Hindu di Bali diselesaikan lewat mendirikan Penghayat Kepercayaan.

Selanjutnya......

Agama, Kepercayaan dan Keyakinan

Mahkamah Konstitusi (MK) baru saja memenangkan tuntutan para penganut kepercayaan terkait ketidaksetaraan perlakuan terhadap para penganut kepercayaan tersebut, di mana poin ke 2 amar putusan MK berbunyi “Menyatakan kata agama dalam Pasal 61 ayat (1) dan Pasal 64 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan ............. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak termasuk “kepercayaan”,

Selanjutnya......

Rabu, 20 Desember 2017

Kehidupan Sadhu di Rsikesh dan Haridwar

Laporan I Made Adi Surya Pradnya
Apa kabar umat Hindu se-dharma? Astungkara sehat, seger, rahayu. Edisi ini saya mau mengajak umat se-dharma melihat kehidupan para Sadhu di India. Sebelumnya sudah tahu gak, Sadhu itu siapa?

Selanjutnya......

Jumat, 10 November 2017

Rahasia Energi Bulan Secara Spiritual

Purnama dan Tilem, selain dihitung berdasarkan siklus 15 hari, juga tandanya dapat dilihat di alam, yaitu bila Purnama ditandai bulan bersinar penuh (full moon), sedangkan tilem adalah puncak bulan mati. Lantas, mengapa Purnama-Tilem demikian penting dalam tradisi Hindu?

Selanjutnya......

Jumat, 20 Oktober 2017

Gunung Agung Tongkat Langit Penyangga Sorgawi

Berdasarkan hal tersebut di atas lalu  muncul kepercayaan, bahwasanya gunung adalah jalan menuju sorga, karena gunung adalah tiang langit penyangga alam sorgawi. Dengan ini pula banyak pura (tempat suci Hindu di Bali) dibangun di gunung, karena gunung dipercaya memiliki nilai sakral. Sebutlah Pura Besakih di lereng Gunung Agung, Pura Batukaru di lereng Gunung Batukaru, Pura Lempuyang Luhur di puncak Gunung Lempuyang dan sebagainya.

Selanjutnya......

Selasa, 10 Oktober 2017

Dikurung Hujan Abu dan Disengat Hujan Api

Gunung Agung di Karangasem, Bali, pada Jumat, 22 September 2017 sudah berstatus awas,  radius 12 kilometer dari puncak gunung harus dikosongkan. Gunung berapi ini terus menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitasnya, sehingga sejumlah warga yang berada di radius 6 kilometer dari gunung dievakuasi ke berbagai lokasi untuk mengantisipasi kemungkinan Gunung Agung erupsi.

Selanjutnya......

Menyaksikan Roh Leluhur dan Wejangan Pendeta Gaib

Kekeramatan dan kesakralan Gunung Agung pernah dialami secara langsung oleh I Nengah Rates Adnyana atau lebih akrab disebut Mangku Aseman. Kejadian yang dia alami berlangsung sekitar tahun 1982 saat lelaki asal Subamia, Tabanan ini masih bekerja sebagai manager restoran sekaligus juga menjadi pemangku balian.

Selanjutnya......

Minggu, 24 September 2017

Aksara Dalam Kajang Sebagai Pengantar Sang Roh

 Praktik beritual di Bali tidak terlepas dari pengunaan simbol atau atribut yang dipandang sakral magis. Simbol dan atribut tersebut boleh dikatakan sebagai media untuk menghubungkan antara pemuja dengan yang dipuja. Jadi atribut upacara dalam bentuk apapun di Bali, terlebih atribut beritual dipandang sebagai sesuatu yang istimewa, dan memiliki kedekatan makna dengan teologis (perihal tentang Tuhan). Salah satu atribut yang menarik ditelisik adalah atribut dalam upacara ngaben, yakni Kajang.

Selanjutnya......

Rerajahan Penangkeb Rat Peranti Gaib Penunduk Suami

Penggunaan rerajahan (seni gambar) dalam masyarakat Bali, terutama dalam dunia keagamaan dan budaya sangatlah  sentral. Selain memiliki unsur seni, terdapat pula unsur mistik yang terkandung di dalamnya. Masyarakat Bali yang beragama Hindu menggunakannya dalam berbagai  ritual keagamaan, seperti rerajahan dalam fungsinya sebagai ulap-ulap, kajang, rurub caru atau pun aled caru dan lainnya.

Selanjutnya......

Senin, 21 Agustus 2017

Rahasia Kekereb Bhuta Siu Antara Mistik, Gaib dan Sakti

Pangiwan atau sering disebut dengan “jalan kiri” diidentikan dengan hal-hal yang kiri atau kejahatan lawan dari kebaikan. Berbeda dengan “jalan kanan” yang diidentikan dengan kebaikan lawan dari kejahatan. 

Selanjutnya......

Selasa, 06 Juni 2017

Percakapan Yaksha dan Yudhistira, Karunia Terbesar Adalah Mengharapkan Kebahagiaan Semua Orang

Berikut ini  dialog lengkap antara Yudhistira dengan Yaksha di tepi sebuah danau dalam hutan sebagaimana dikisahkan dalam Itihasa Mahabharata, sebagaimana dimuat en.m.wikipedia.org.
Yaksha bertanya: Siapa yang membuat matahari terbit dan naik di langit? Siapa yang bergerak mengelilingi Matahari? Siapa yang membuat matahari terbenam di cakrawala? Apa sifat sebenarnya dari Matahari dan di mana matahari terbentuk?

Selanjutnya......

Mengenal Makhluk Surgawi Ghandarwa, Yaksha, dan Raksasa

Dalam Purana dan Itihasa disebutkan berbagai jenis makhluk selain manusia, seperti yaksha, gandharwa, apsara, raksasa, naga, dan lain-lain. Mereka disebutkan  diberkati dengan kekuatan sihir tertentu.

Selanjutnya......

Sabtu, 20 Mei 2017

Mewujudkan Ruang Suci di Lahan Sempit

Pada Sabtu petang, jam 18.00. tanggal 22  April 2017 lalu, bertempat di Pesraman Ghanta Yoga, Jalan Rwa Bhineda, By Pas Ngurah Rai, Kesiman, Denpasar diselenggarakan semiar bertema “Realisasi Asta Kosala Kosali Pada Lahan Sempit, Mungkinkah?”  Di antara banyak diskusi yang berkembang dalam seminar tersebut adalah, bagaimana mengelola ruang suci atau membangun sanggah di lahan sempit, misalnya merajan di lantai atas sebuah rumah.

Selanjutnya......

Sabtu, 25 Maret 2017

Fenomena Ngiring, Antara Spiritual dan Gangguan Kejiwaan

Sekarang ini mudah dijumpai orang-orang dengan atribut busana tertentu. Umumnya berbusana putih-putih dengan senteng (kain dililitkan di pinggang) berwarna belang (poleng) putih-hitam. Atau ada juga dengan motof busana berbeda yang umumnya mencolok dan berbeda dengan penampilan masyarakat pada umumnya. Mereka dengan atribut seperti itu sering dikatakan sebagai orang yang “Ngiring.” Lalu, apakah Ngiring itu?

Selanjutnya......