Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 20 Desember 2017

Siwaratri: Momentum Refleksi Diri dan Sosial

IGN Nitya Santhiarsa
“Beryadnya, berdharmadana dan bertapabrata jangan diabaikan namun harus dilaksanakan, sebab yadnya, dharmadana dan tapabrata adalah pensuci bagi orang yang bijaksana” (Bhagawadgita XVIII-5).

Hari raya adalah sebuah momentum. Pertama, momentum untuk mengevaluasi diri atau mulat sarira,  siapa dan bagaimana diri kita sampai saat ini. Kedua, momentum untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, sumber kekuatan utama kehidupan ini. Dengan mendekatkan diri kepada Beliau, kita akan mendapatkan kekuatan baru untuk mengatasi segala persoalan kehidupan.
Siwaratri adalah salah satu hari raya umat Hindu, dimana banyak umat yang merindukan datangnya hari ini karena mereka meyakini pada saat itulah anugerah Tuhan (Siwa) berupa kasih sayang dan pengampunan dosa dilimpahkan asalkan mereka melakukan amalan tapabrata Siwaratri.Melakukan tapabrata adalah suatu upaya mendekatkan diri kepada Tuhan, karena tapabrata menyucikan jiwa raga dimana Tuhan sangat menyukai hambaNya yang bersih suci jiwa raganya.

Adapun kegiatan tapabrata yang dilaksanakan pada hari Siwaratri adalah, pertama, sebelum melaksanakan brata Siwaratri, maka terlebih dahulu dilaksanakan persembahyangan yang diperkirakan selesai tepat pada jam 06.00 pagi, kemudian baru melaksanakan ibadah Monabrata, yaitu diam tak berbicara, atau paling tidak selalu berusaha menjaga perkataan dan percakapan. Mejagra atau tidak tidur selama semalaman. Pelaksanaannya berlangsung dari pagi sampai pagi hari di keesokan harinya yang dilakukan selama 36 jam dari jam 06.00 – 18.00 di keesokan harinya. Kemudian,  Upawasa, yaitu tidak makan dan tidak minum. Puasa ini dilakukan selama 24 jam dari jam 06.00 – 06.00. Apabila sudah 12 jam, maka diperbolehkan untuk makan dan minum dengan syarat bahwa nasi yang dimakan ialah nasi putih dengan garam dan minum air putih. 


Dalam menjalankan kegiatan Siwaratri diakhiri dengan melakukan persembahyangan dan memohon kepada Tuhan (Siwa)  supaya diberikan berkah dan ampunan dosa, dan juga dikembalikan menjadi manusia yang suci kembali serta memohon ditunjukan jalan terang agar terhindar dari perbuatan dosa.  Khusus pada pelaksanaan tapbrata mejagra, yaitu pantang tidur selama semalam, proses ini cukup berat, karena melawan kantuk dan rasa lelah, serta waktu yang demikian panjang, rasa bosan juga ikut menyerang, namun bagaimanapun inilah momen yang tepat untuk merenung atau refleksi diri, waktu yang tepat untuk mengenal diri sendiri dan berdialog dengan diri sendiri. 

Proses refleksi diri merupakan proses pengalaman bathin yang sangat diperlukan pada era modern sekarang ini, dimana manusia sangat sibuk dari waktu ke waktu mengejar kenikmatan duniawi. Manusia butuh breaktime atau silent time, hening sejenak memikirkan hakekat diri dan hidup, terutama merenungi hubungan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa (Siwa). Tidak tidur juga berarti  sadar, sadar bahwa  manusia adalah makhluk yang keimanannya lemah, mudah tergoda akan dosa, kesadaran inilah juga mesti dimaknai agar setiap orang selalu memohon ampun kepada Tuhan.
Siwaratri bisa diibaratkan sebagai waktu transformasi yang sangat cepat dari tahapan brahmacari atau grhasta dalam Catur Asrama melalui tahapan wanaprastha menuju biksuka. Pengalaman spiritual Lubdaka semalam di hutan melakukan tapabata Siwaratri dapat diibaratkan menjalankan wanaprastha dalam semalam suntuk sudah berhasil mentransformasikan dirinya dari tahapan grhasta menuju biksuka, sangat jelas perubahan karakter Lubdaka dari pemburu duniawi menjadi pemburu rohani. Memang tidak semua orang dapat anugerah sebesar ini, namun paling tidak semua orang memperoleh kesempatan atau peluang yang sama untuk mendapatkan anugerah kasih Tuhan.

Kegiatan selanjutnya pada esok hari, yaitu pada Tilem Kepitu adalah melakukan ibadah dharmadana atau peduli dan berbagi kasih (tresnasih) baik kepada kerabat maupun sahabat, terutama bagi mereka yang memang sedang membutuhkan perhatian dan bantuan, bahkan bisa juga kepada makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan. Sikap saling asih ini merupakan bukti rasa syukur kita kepada Tuhan atas segala anugerah kasih Beliau. Apa yang kita peroleh dari Tuhan  sebagian bolehlah kita bagi dan sebarkan kepada sesama dan lingkungan sekitar. 

Perayaan Siwaratri berkaitan erat dengan hari Tilem Kepitu, dimana kita ketahui tilem sebagaimana halnya purnama adalah hari suci bagi umat Hindu, dirayakan untuk memohon berkah dan karunia dari Tuhan.  Pada hari tilem sudah seyogyanya kita semua umat manusia menyucikan dirinya lahir batin dengan melakukan upacara persembahyangan dan menghaturkan yadnya ke hadapan Hyang Widhi. Kondisi bersih secara lahir dan batin ini sangat penting karena dalam jiwa yang bersih akan muncul pikiran, perkataan, dan perbuatan yang bersih pula. Kebersihan juga sangat penting dalam mewujudkan kebahagiaan, terutama dalam hubungan dengan pemujaan kepada Hyang Widhi. Jadi, Tilem Kepitu dapat dikatakan sebagai penguat atau peneguh proses penyucian diri yang telah dimulai prosesnya dengan pelaksanaan tapabrata Siwaratri.

Sesuai kisah Lubdaka, dimana pada pagi hari setibanya Lubdaka kembali ke rumahnya, dia merayakan kembalinya berkumpul bersama keluarga sekaligus sebagai puji syukur kepada Hyang Widhi dengan melakukan kegiatan dharmadana, yaitu danapunia atau amal  baik kepada tempat suci, kepada sesama yang membutuhkan bantuan maupun kepada semua makhluk seperti hewan dan tumbuhan .

Apa yang dilakukan Lubdaka sekarang dikenal dengan kegiatan saling peduli dan berbagi, suatu upaya yang dapat membangun ketangguhan sosial. Kegiatan Lubdaka yang satu ini masih banyak umat yang mengabaikannya, padahal kegiatan tapabrata Siwaratri dan dharmadana tresnasih Siwaratri ini merupakan satu kesatuan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Tapabrata Swaratri memiliki dimensi penyucian diri atau pertobatan diri, sedangkan dharmadana tresnasih Siwaratri mempunyai dimensi penyucian sosial tepatnya penyucian harta benda yang dimiliki dengan cara mendanapuniakannya untuk kepentingan dharma. Tapabrata Siwaratri membangkitkan kesadaran diri untuk bertobat kembali ke jalan Dharma, sedangkan dharmadana tresnasih Siwaratri membangkitkan kesadaran kolektif untuk saling peduli dan berbagi sebagai cerminan refleksi sosial.
Sosok Lubdaka bisa menjadi tokoh dermawan yang diteladani umat Hindu, seperti keberadaan tokoh Santa Claus atau Sinterklas dalam agama Kristen. Kedermawanan Lubdaka diharapkan hadir ke tengah umat Hindu dan terutama dirasakan oleh sebagian umat yang memang sedang memerlukan bantuan dan dukungan. Ini tentunya merupakan suatu berkah atau anugerah tersendiri, yaitu kegembiraan bisa disebarkan seluas-luasnya.

Perayaan Siwaratri memang sepatutnya dilakukan selama dua hari, hari pertama, adalah pelaksanaan tapabrata Siwaratri, dan hari kedua, adalah pelaksanaan dharmadana tresnasih Siwaratri.Hari kedua juga berfungsi untuk memulihkan kembali kondisi badan setelah sehari penuh melakukan tapabrata Siwaratri yang cukup berat. Bisa juga dinyatakan, hari pertama adalah hari atau momentum untuk refleksi diri dan hari kedua adalah hari atau momentum untuk refleksi sosial.

Sebuah hari raya selain mengandung suatu momentum penting yang mesti dirayakan, juga ada proses upacara untuk menyucikan diri (refleksi diri) serta adanya upaya penguatan sosial  (refleksi sosial) dengan beragam kegiatan saling peduli dan berbagi. Umat Hindu tidak boleh tertinggal dalam semangat dan semarak perayaan suatu hari suci, hal ini tidak bermaksud agar umat Hindu sibuk dan tenggelam dalam gebyar ritual yang umumnya banyak memakai banten (upakara). Kita tidak boleh terjebak dalam permainan  klasifikasi banten ”nista, madya, dan utama.” Kategori seperti  ini terkadang tidak tepat, barangkali yang lebih tepat adalah “satwika, rajasika, dan tamasika.”

Sebaiknya kalau punya harta yang berlebih dalam menyambut suatu hari raya, terutama hari Siwaratri dan Tilem Kepitu, sisihkanlah untuk melakukan kegiatan dharmadana atau danapunia, sehingga semarak dan kebahagiaan menyambut hari raya bisa dirasakan juga oleh umat yang tidak mampu serta pada sisi lain jalinan silahturahmi semakin kuat baik antar keluarga (kerabat) juga antar kelompok masyarakat.;Om, Namo Siva Buddhaya namah swaha!
(Penulis adalah dosen FT UNUD).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar