Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 20 Desember 2017

Pujawali Pura Agung Wanakertha Jagadnatha Sulawesi Tengah

Pura Agung Wanakertha Jagadnatha, Provinsi Sulawesi tengah adalah satu-satunya pura yang ada di Kota Palu. Mengingat kedudukannya sebagai Pura Jagadnatha, maka pura ini disungsung oleh Umat Hindu yang ada di Kabupaten dan Kota di Sulawesi Tengah, namun penanggung jawab pengelolaannya atau pengempon berada di bawah krama Hindu Kota Palu.

Tempatnya yang terletak di ketinggian bukit Jabal Nur dengan posisi menghadap ke laut (Nyegare Gunung) dengan penataan kawasan yang menyerupai Pura Besakih, menjadikan pura ini sebagai kawasan suci yang makin menarik tidak saja bagi kalangan umat sedharma melainkan juga umat lintas Agama. Ini terbukti dengan semakin  banyaknya organisasi lintas agama yang melakukan kunjungan resmi, dialog antar umat beragama, forum kerukunan antar umat beragama, dan pembekalan bagi para calon pendeta  dan kegiatan berbagai perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dari tingkat kanak-kanak hingga perguruan Tinggi serta masih banyak kegiatan lainnya. Ini menunjukka bukti bahwa  Pura Jagadnatha memiliki peran dan fungsi yang penting dan strategis.
Keunikan lainnya adalah Pura Jagadnatha yang  letaknya   bersebelahan  dengan Fakultas Agama Islam  Universitas Muhamaddiyah  Palu menjadikan kedua tempat ini sebagai simbol pluralitas dan perekat  kerukunan antar umat beragama. Ini terungkap dalam berbagai forum resmi seperti forum kerukunan antar umat beragama. Dalam beberapa kali kesempatan bertemu dengan petinggi organisasi Muhamaddiyah juga terungkap adanya kebanggaan dan pengakuan bahwa satu-satunya perguruan tinggi Islam yang memiliki pura adalah Universitas Muhamaddiyah Palu. Hubungan baik ini hendaknya terus dipupuk.


Areal pura yang luasnya mencapai dua hektar, dengan bertambahnya bangunan-bangunan fisik dan makin berkembannya pohon-pohon penghijauan di sekitaran madya dan nista mandala menjadikan tak lagi mampu menampung jumlah kendaraan para pemedek yang yang tangkil pada persembahyangan umum purnama-tilem yang  semakin bertambah jumlahnya.Terlebih lagi saat piodalan tiba, dengan kehadiran umat yang begitu membludak baik dari dalam kota palu dan dari kabupaten,  maka memerlukan areal parkir yang luas dan pengaturan yang lebih baik.

Di samping menggunakan areal parkir di lokasi taman kota yang terletak di seberang jalan lokasi pura, panitia pujawali  kali ini meminjam halaman Fakultas Agama Universitas Muhamaddiyah Palu untuk dijadikan areal parkir. Sementara itu areal nista mandala pada saat piodalan dikonsentrasikan untuk lokasi parkir kendaraan roda dua dan aktivitas ekonomi berupa kantin yang ditangani oleh panitia.

Piodalan Pura Agung Wanakertha Jagadnatha, Provinsi Sulawesi Tengah jatuh pada purnamaning kelima, tepatnya pada hari Jumat, 3 November 2017. Menurut ketua panitia Piodalan, Drs.I Nyoman Kormek, M.M., rangakaian piodalan sangat padat diawali dengan sosialisasi kegiatan pujawali kepada para umat penyungsung di Kota Palu dan umat Hindu di kabupaten, baik melalui surat, media sosial dan informasi lisan, sehingga mereka bisa turut tangkil. Mengingat banyaknya daerah yang melaksanakan piodalan pada hari yang sama, maka dalam sosialisasi juga disampaikan schedule kegiatan dan hal lainnya yang dianggap perlu. Untuk memenuhi keperluan upakara, panita membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi krame Hindu untuk berpartisipasi, baik dalam bentuk benda dan dana punia. Setiap sumbangan yang masuk dikelola langsung oleh panitia dan diumumkan secara transparan melalui groupmedia sosial whatshap. Para serati dan penguperengge sejak jauh-jauh hari sudah menjalankan tugasnya. Mengingat pujawali kali ini jatuhnya tepat pahing Galungan, dengan mempertimbangkan berbagai hal, maka untuk upakara oleh serati  dibagi berdasarkan banjar-banjar yang ada, sehingga banten yang kita persembahkan semua dalam keadaan siap, segar dan aman.

Demikian juga pada hari pujawali banjar-banjar melaksanakan kewajibannya sesuai pembagian tugas dan waktu yang sudah ditentukan. Padatnya rangkaian pujawali menuntut panitia bekerja ekstra. Upacara yadnya sudah dimulai sejak tanggal 1 November 2017 diantaranya dengan agenda ngatur piuning dilanjutkan dengan ngingsah beras catur yang mengandung makna, agar segala kotoran leteh yang diakibatkan oleh pikiran perkataan dan perbuatan dapat dilebur,dibersihkan dan disaring menjadi pradnyan. Beras catur yang diingsah akhirnya dapat ditunas oleh pemedek sebagai simbol kesejahteraan dan kemakmuran.


“Diharapkan setelah menjalankan ritual ini, para pengayah bisa  guyub dalam menjalankan rangkaian upacara yadnya sesuai tujuan bersama demikian,” tegas Kormek. Hari Jumat  pukul 07.00 rangkaian piodalan sudah dimulai dengan ngaturan pecaruan yang bertujuan untuk memohon keselarasan, keharmonisan dan kedamaian bagi semesta, agar semua rangkaian piodalan dapat berjalan dengan lancar tanpa gangguan yang berarti. Upacara seperti Nedunan Ide Betara, mesucian atau ngebejiang dan ngelinggihan Ida Betare ring Parahyangan dipuput oleh Ida Pinandita yang ada di wilayah krama Hindu Kota Palu berjumlah tiga orang.

Pukul 16;00 puncak rangkaian piodalan dipuput oleh Manggala upacara Mpu Acharya Bala Natha Dharma dari Grya Taman Sari Tolai. Sebagai pemuput upacara, pujawali dimeriahkan persembahan tarian sakral topeng siddha karya,tari rejang, tarian pendet remaja   dan tarian pendet persembahan dari WHDI Provinsi Sulawesi Tengah.

Persembahyangan pujawali dilaksanakan sebanyak lima gelombang dan berlangsung hingga pukul 21;00 dengan pelayanan yang baik. Astungkara, semuanya berjalan dengan baik mesti sebelumnya ada kekhawatiran akan turunnya hujan dan minim pemedek, karena waktu yang sangat mepet dengan hari raya Galungan. Semua yang terjadi berkat doa yang tulus dan restu para sesuhunan kita. Pada malam harinya sebagai pelengkap pujawali dimeriahkan dengan hiburan dari pemuda dan tarian bondres serta Calon Arang hingga pukul 02.00 dinihari.

Masih menurut Kormek, dari tahun ke tahun piodalan dan pujawali senantiasa mengalami peningkatan baik kuantitas maupun kualitas. Pujawali Purnama Kelima ini menghabiskan dana 55 juta Rupiah, sedangkan dana punia yang masuk kepada panitia mencapai 85 juta rupiah. Ini menunjukkan semakin meningkatnya kesadaran akan yadnya dan dana punia. Dari dana punia yang terkumpul ini pihak panitia berharap dapat dimanfaatkan untuk pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Hindu agar mampu menjawab tantangan zaman.
(Laporan Ni Wayan Pariatni - Palu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar