Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 20 Desember 2017

Pura Sakenan dan Diskusi Generasi Mellineal

Oleh I Nyoman Tika
Sore itu hujan gerimis mengiringi perjalanan kami diselingi petir dan tebalnya mendung adalah saksi betapa hari itu  merupakan hari yang istimewa bagi saya, sebab hari itu memang telah ditargetkan untuk acara  tirta yatra ke pura Sakenan di Selatan Pulau bali, selanjutnya  studi banding. Acara ini merupakan program kerja Jurusan Kimia  Univesitas  Pendidikan Ganesha yang di dalamnya mencetak Guru Kimia  dengan program RKBI (Rintisan Kuliah Berbahasa Inggris).

Program ini telah berjalan  5 angkatan, dan semua lulusannya tersebar di sekolah internasional dan banyak yang mumpuni kuliah di luar negeri, melanjutkan magister di manca negara. Sebut saja di Taiwan. Australia, Jerman, untuk menyebutkan beberapa diantaranya.

Selain dosen, kegiatan ini melibatkan perwakilan mahasiswa pendidikan Kimia. Tujuannya adalah amat  jelas untuk mensinkronkan antara proses  hulu dan hilir dalam pembentukan profesionlisme guru berkelas internasional, khususnya dalam bidang kimia. Sekolah yang dikunjungi adalah sekolah Internasional yang ada di Denpasar Bali.

Inilah salah satu bentuk kepedulian Jurusan Kimia  bahwa penyusunan kurikulum melibatkan peran serta stakeholder (masyarakat pengguna), sehingga antara kajian teori di bangku kuliah sedapat mungkin dikonstruksi dengan tepat, karena mendapat asupan persoalan di lapangan yang nyata. Salah satu kunjungan yang paling berkesan adalah “Gandhi Memorial International School - Bali. Di depan sekolah terpampang  patung   Mahatma Gandhi, disana saya terbayang kata-kata bijaknya, “Orang lemah tidak pernah bisa memaafkan karena memberi maaf hanya dapat dilakukan oleh orang yang kuat.”


Sebelum studi banding dilakukan panitia memberikan keleluasaan untuk melakukan aktivitas persembayahngan dan diskusi, semacam dharma tula, setelah persembayangan berakhir.  Diskusi semacam ini dulu menjadi santapan rutin purnama- tilem di Kampus IKIP Singaraja (Undiksha) ketika saya masih muda untuk mengasah kemampuan dialektika, kepekaan sosial di masyarakat, atas dinamika keumatan yang terus berkembang. Di sela-sela perjalanan kami terlibat beragam diskusi yang sangat intens tentang bagaimamanakah  memberdayakan umat Hindu.

Sesampai di Pura Sakenan, Pura yang indah yang kini  sudah direklamasi, ada beberapa teman mengatakan bahwa beberap orang diantara kami pernah merasakan memakai jukung untuk  bersembahyang ke pura ini, namun reklamasi memang membuat  akses ke pura menjadi lancar dan mudah, namun tidak ada keunikan.

Pura Sakenan merupakan tempat meditasi  Dang hayang Astapaka di masa lampu yang sekarang menjadi daya tarik sebagai tempat tujuan tirta yatra. Lokasinya yang mudah terjangkau, bangunan yang unik, terbuat dari paras kapur menambah aura spiritualnya.

Setelah sembahyang selesai  diadakan diskusi. Dalam dikusi berlangsung mengalir sehabis melakukan persembahyangan. Beberapa mahasiswa sempat  mengajukan pertanyaan tentang historis Pura Sakenan. Saya melihat-lihat  referensi dan menemukan bahwa beberapa sumber menyebutkan keindahan dan aura spiritual  Pura Sakenan ini termuat dalam lontar DwijendraTattwa. Nama Sakenan berasal dari kata sakya yang berarti “dapat langsung menyatukan pikiran.”  Sakya tersebut dalam sejarah Siwa Buddha di Bali berasal dari kata Sakyamuni, yaitu nama asli dari Sidharta Gautama. Lontar tersebut menguraikan bahwa pada bagian tepi barat laut Serangan, Danghyang Nirartha tertegun melihat keindahan alam laut yang tenang dengan pantai yang asri. Oleh karena itu, ia membangun tempat pemujaan yang diberi nama “Pura Sakenan”, Sebelumnya, menurut masyarakat setempat, Pura Sakenan awalnya hanya berbentuk sebuah batu bersinar yang ditemukan oleh Danghyang Astapaka ketika melakukan perjalanan ke Bali pada tahun 1530 M, akhirnya ia membuat pura. Selanjutnya Pedanda Sakti Wawu Rauh (Dang Hyang Nirartha) melihat pura itu dan menyempurnakannya dengan melakukan upacara.  Saya bangga bahwa mahasiswa saat ini sangat cerdas dan mudah diajak diskusi asalkan pancingan  tantangan yang diberikan berbahasa kekinian. Setelah diskusi kita makan bersama-sama menikmati kuliner ikan bakar yang sangat enak di sekitar Pura Sakenan.

Dari diskusi itu  pikiran saya menerawang bahwa generasi mahasiswa saat ini (generasimilennial) sungguh memang berbeda dengan generasi saya yang lahir awal tahun enam puluhan. Kondisi ini dibenarkan peneliti dari Dalton State College, Christy Price, EdD mencoba untuk memetakan seperti apa karakteristik pembelajar dari generasi milennial. Ada 5 teknik untuk membuat pengajar atau dosen lebih berhasil dalam memberikan pelajaran kepada generasi milennials.

Pertama, Research – Based Methods: Satu hal yang pasti, teknik lecture konvensional sudah sulit menarik minat milennials. Sebagai generasi multimedia mereka lebih suka diberikan multimedia, kesempatan kolaborasi, dan kemampuan mencari serta merangkum informasi sendiri. Di sinilah tugas guru atau  dosen lebih ke arah menjadi fasilitator untuk ‘meluruskan’ jika ada sesuatu yang salah dipahami mahasiswa untuk mencegah terjadinya sesat pikir. Kedua, relevance: Generasi Milennials adalah generasi yang menghargai sebuah informasi karena ‘relevan’ dengan kehidupan mereka. Maka di sini peran dosen adalah ‘menyortir’ materi – materi yang ada di buku, mana yang relevan dan akan banyak digunakan dalam kehidupan mahasiswa dan mana yang tidak. Sudah bukan zamannya lagi seorang dosen ‘menyuapi’ seluruh materi yang ada di buku tanpa mahasiswa tahu apa manfaatnya untuk mereka.

Ketiga, Rationale: Tidak seperti generasi sebelumnya yang dididik dengan pola otoriter, para generasi milenial ini banyak yang dibesarkan dengan pola – pola demokratis oleh orang tua atau lingkungan mereka. Sehingga, generasi milenial ini akan cenderung respek kalau tugas atau kebijakan yang diterapkan rasional.

Keempat, Relaxed: Berdasarkan hasil penelitian, milenial lebih senang berinteraksi dalam kondisi belajar yang kurang formal atau lebih santai. Pembelajaran harus menantang   selama membuat mereka rileks dan bisa terbuka, maka proses belajar akan jadi lebih baik.
Kelima, rapport: Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa milenial ini bersifat relasional. Milenial mungkin bukan orang yang banyak teman dekat, tetapi sekalinya dekat mereka bisa sangat loyal. Saya pernah mencoba ini, misalnya dengan mengingat nama, menanyakan kabar, atau mendengarkan mahasiswa curhat. Om Nama Siwaya ya******

Tidak ada komentar:

Posting Komentar