Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 20 Desember 2017

Rarung Dalam Lingkaran Teologis Mistis

Renungan oleh Luh Made Sutarmi
Sore itu,  udara pantai mendesir lambat menerpa jemari daun kelapa yang berderet  di sekitar pantai, bersatu dalam nuansa alam yang indah. Rarung kecil yang manis tumbuh menjadi  remaja cantik yang dewasa, Ibunya dihormati di desanya, karena sopan dan tulus melakukan segala bentuk kegiatan di desa.

Beberapa waktu berselang, sejak ibunya khsusuk  melakukan puja k ehadapan sang Dewi kali, sejak itu pandangan warga berubah, dan perubahan terjadi  dari tataran rasio menjadi emosional. Inilah wilayah yang remang-remang, membawa kajian pada ranah teologi mistis yang kerap membumi  sampai saat ini.

Ni Rarung dengan  senyumannya manis mempesona  dengan bulu mata lentik, dengan sunggingan senyum menambah asri wajahnya. Pipi merah merona dengan gincu merah sungguh menggoda  bagi hasrat yang memandanginya. Namun apa daya, dosa turunan seakan tak pilih kasih, ini akibat karma keluarga, Walaupun Rarung tidak pernah menginginkan lahir menjadi anaknya Dayu Datu, Ratu Ring Dirah yang tinggal di.sebuah desa pinggir pantai di wilayah kerajaan kediri itu dalam gengaman kekuasaan Raja Airlangga. Desa Dirah  merupakan desa yang asri, sejuk, dengan banyaknya mata air   jernih, membuat kawasan itu  sangat  ideal untuk melakukan sadana spiritual dan meditasi.
Saat senja hari itu, matahari menuju ke peraduan  tampak semburat bianglala di kaki bukit desa itu. Rarung, gadis yang lemah gemulai itu, mendekati Sang Ibu, yang lagi mengunyah sirih sambil membuat bahan pemujaan senja hari itu, dan Rarung memberanikan diri untuk mendekati sang ibu dan mengemukakan isi hatinya. “Ibu, aku tidak akan pernah menikah dengan lelaki pujaanku,  sampai kapan pun juga, sebab cintaku bertepuk sebelah tangan, aku ditolak dengan alasan tak jelas, namun dengan bahasa yang sangat halus namun menusuk hatiku.”
“Mengapa demikian anakku?” kata Dayu Datu.


“Panjang ceritanya,” kata Rarung dengan nada sedih.  “Engkau termasuk gadis  yang normal, dan juga sangat cantik. Dirimu telah menghayati bahwa cinta tidak pernah meminta, ia senantiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta, di situ ada kehidupan. Berbeda dengan kebencian yang membawa kepada kemusnahan. Itu sebabnya, aku bangga menjadi Ibumu, dari sisi sifat engkau selalu hormat pada Ibu dan orang tua, engkau sangat sopan, selalu melakukan sadhana bakti pada para  Dewa, Bhatara dan juga pada Tuhan Yang Mahakasih. Engkau begitu sangat hormat dengan hati yang tulus memuja ista dewata Dewi Kali, sosok Sakti dari Dewa Siwa.  Dari bibirmu selalu terucap mantra indah, “Om Namah Sri Durgaya,”  “Aum Aing Hring Kleeng Chamundaye Vichchey Aum,” “Ya Devi Sarvabhuteshu, Shakti rupena samshthitha Namasteshwai Namasteshwai Namasteshwai namo namaha.”

Air mata Rarung muda yang cantik itu membasahi pipinya yang lembut. “Ibu aku tidak kuasa menyebutnya,  terkaan penolakan idamanku, begitu tiba-tiba, tanpa alasan yang rasional, sebab, penolakannya bukan pada sifat fisik dan internal diriku,” suara tangisnya mengeras. Dalam benakknya dia tidak tega menyebutkan apa sangkaan calon kekasihnya,  alasan penolakan cinta padanya. Dengan merebahkan kepalanya di pangkuan Ibunya, air matanya membasahi kain penutup tubuh Dayu Datu.

“Katakanlah Rarung, Ibu tidak tega melihat engkau menangis dan menitikkan air mata, sebab  Ibu pernah menjadi gadis muda, bagaimana ibu dilamar dan bercinta dengan ayahmu dulu, rasa rindu dan bangga selalu menyelimuti saaat-saat itu, saat ibu memadu kasih dengan ayahmu, walaupun  ayahmu kini telah tiada, Ibu sendiri membesarkanmu di Desa Dirah ini,” Dayu Datu sedikit memaksa,  agar rarung berucap apa sesungguhnya yang merupakan alasan penolakan ‘untuk memacari dan meminang ‘Rarung itu.

Rarung berucap dengan segala kekuatan yang ada padanya, “”Ibu yang aku cintai, aku tidak dapat hidup dengan Ibu, justru penolakan  ditolak, karena Ibu,” sebut Rarung.
“Karena Ibu?” tanya Dayu Datu heran.
“Ya, karena ibu, Ibu diduga memiliki ilmu  sakti, dan ilmu itu adalah anesti aneluh anerang jana.” Mendengar jawaban putrinya, Dayu Datu  memebelakkan mata “ dan berkata, “ Buih, semua orang beranggapan begitu? Mereka telah salah sangka. Pemujaanku pada Dewi Kali, Dewi Durga membuatnya mereka salah sangka. “ Hasil pertapaanku  memang membuat aku diberkati kesidian  yang luar biasa. Mereka telah berpikir kotor pada ilmu itu, maka atas kemampuan Dewi Kali itu, aku akan membalas dendam,” kata  Dayu Datu geram. Prosesi baru di desa yang asri itu menjadi, pertarungan dendam. Sungguh menyedihkan.

Fitnah, dan pikiran buruk, marah, adalah sifat manusia yang membuat kelam jalan hidup manusia. Kisah itu dengan narasi ini berjuluk, “Calon Arang” itu  menjadi tersohor dan sebagai simbolisasi “ antara kekuatan putih dan hitam yang kini banyak kita temukan, di sebagaian  Pura dalem desa-desa di Bali.

Dewi Durga adalah salah satu dewi yang paling populer di agama Hindu. Dia adalah Ibu Ilahi dan representasi dari belas kasih, moralitas kekuatan, dan perlindungan. Dia melindungi bhakta dia dari kekuatan jahat dan perlindungan mereka. Hal ini diyakini bahwa Dewi Durga dikatakan bentuk gabungan dari kekuatan Dewi Laksmi, Kali, dan Saraswati.

Perubahan dari aras rasional menjadi emosional implementatif yang mengarah pada penyempitan rasio, sehingga Ibu  Dayu Datu dianggap  bukan sosok sembarangan, dia  memiliki ilmu, sehingga di benak warga  ia adalah sosok yang berbeda yang punya ilmu itu, sungguh tidak diberlakukan sama. Maka emosi berkembang tanpa nalar. Di sinilah ‘ teologis mistik’ tubuh subur di benak sebagian warga warga desa.

Sebagai kekuatan yang mampu menjalankan jurus ‘gerak kearah aras mistik. Mistik  bila dihubungkan dengan teologi menjadi Teologi Mistik menjadikan sesuatu yang tidak terbayangkan bahwa mistik merupakan sebuah proses pencarian akan kebenaran dan akhirnya bertemu dengan yang immaterial disebut dunia kerohanian. Dalam proses pencarian kebenaran ini ditemukan suatu kenyataan yang dapat dilihat dan dirasakan setiap hari hal-hal yang abstrak atau immaterial. Pada umumnya setiap orang berusaha mencari “kebenaran” dan tidak pernah puas dari apa yang didapatnya dari orang lain. Pencarian kebenaran itu memang tidak mudah, bahkan hampir semua orang yang mencari kebenaran mengalami penderitaan.

Dalam persefektif itulah Rarung tak ada yang berminat menjadikannya ‘pacar, apalagi  untuk  mempersuntingnya menjadi pendamping hidup. Keinginan Rarung  membangun keluarga yang sukhinah bhawantu, hanya mimpi, suatu tindakan  sia-sia, bak mengukir langit menggantang asap.
Stigma ngatif itu yang membuat  tak banyak bisa memikat hati lelaki seusianya, sebab dia telah membawa stigma negatif sang ibu yang telah sekian lama menjadi janda  (ngerangda). Di desa yang asri memikat dengan tatanan yang sangat elok, namun apa yang bisa dikata karena   sang Ibu ‘ dalam benak warga’ sebagai sosok yang mampu melaksanakan “aji pengeleakan. Kekeceawaannya pada semua laki-laki, karena anaknya tidak mau dipacarinya, karena alasan mistis.  Bisa ngeleak, sebuah stigma yang sulit diukur.

Rarung berkata kepada ibunya,  “Aku merasa  terkucilkan, tak ada teman, namun ku  menyadari bahwa yang terpenting jadilah orang yang pantas untuk dititipi oleh Tuhan. Akibatnya, Dalam cinta, jangan hanya menunggu orang yang tepat menghampiri hidup ini. Lebih baik jadilah orang yang tepat yang menghampiri hidup seseorang. Cinta yang tulus selalu mempunyai alasan untuk mempertahankan, meskipun sedang diuji dalam cobaan yang mungkin bisa memisahkan.
Om Gam Gana Pataye Namaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar