Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 10 Oktober 2017

Dikurung Hujan Abu dan Disengat Hujan Api

Gunung Agung di Karangasem, Bali, pada Jumat, 22 September 2017 sudah berstatus awas,  radius 12 kilometer dari puncak gunung harus dikosongkan. Gunung berapi ini terus menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitasnya, sehingga sejumlah warga yang berada di radius 6 kilometer dari gunung dievakuasi ke berbagai lokasi untuk mengantisipasi kemungkinan Gunung Agung erupsi.

Sebelumnya,  Gunung Agung telah tercatat sebanyak 4 kali meletus sejak tahun 1800. Letusan pertama di tahun 1808, di mana saat itu Gunung Agung melontarkan jumlah abu dan batu apung yang sangat banyak. Letusan kedua di tahun 1821 merupakan letusan normal dan pada tahun 1843 terjadi letusan ketiga yang didahului oleh terjadinya gempa bumi. Pada letusan ketiga ini material yang dimuntahkan di samping abu dan batu apung juga banyak memuntahkan material pasir.
Letusan Gunung Agung tahun 1963 ini tanda-tanda awalnya telah terasa sejak  16 Februari 1963, di mana terjadi  gempa bumi ringan yang dirasakan oleh penghuni beberapa Kampung Yehkori  di lereng selatan, kira-kira 6 km dari puncak Gunung Agung. Letusan pertama terjadi pada 18 Februari 1963 ditandai dengan munculnya suara gemuruh menjelang tengah malam dan keesokan harinya pada 19 Februari 1963 aktifitas Gunung Agung semakin meningkat dengan mengeluarkan lava pijar ke angkasa.

Salah seorang saksi sejarah yang mengalami kelamnya masa-masa itu adalah Prof. Dr. Ir. Nyoman Suparta, M.S., M.M.,  pria kelahiran 19 Maret 1953 yang kini merupakan  guru besar Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Namun, saat Gunung Agung meletus tahun 1963, ia adalah seorang anak berusia 10 tahun. Beberapa waktu lalu ia sempat menceritakan kesaksiannya kepada Raditya melewati hari-hari mencekam masa itu.


Pada suatu hari di bulan Maret 1963, di sebuah rumah di dusun Janga, Desa Duda, Kecamatan Selat, Karangasem,  seorang kakek bernama Nengah Suja, yang tiada lain merupakan kakek dari Nyoman Suparta memanggil seisi rumah untuk berkumpul di bale gede-sebuah rumah tradisional Bali bertiang kayu 12 buah. Itu adalah salah satu  rumah yang masih bisa bertahan dari guncangan gempa, saat itu sementara rumah-rumah penduduk lain sudah banyak roboh maupun retak dindingnya, sehingga tak dapat dihuni lagi.  Di bale gede itulah Kakek Nengah Suja bersama anak menantu dan cucu-cucunya berkumpul. Pada siang hari yang telah berubah menjadi gelap itu Nengah Suja mengucapkan kata-kata pengantar kematian. Sastrawan tua Banjar Jangu memberikan permakluman kepada anak cucunya.

“Jani ajak makejang, cenik-kelih; somah, pianak, keto masih cucun pekak makejang, mirib jani gumine lakar kiamat. Lan jani mepunduh ngoyong dini di balene ajak onye, lamun mati pang mati je bareng-bareng,” ujar Nengah Suja kala itu. (Mari semua, anak-anak maupun yang dewasa; istri, anak dan cucuku semua, mungkin sekarang waktunya dunia kiamat. Mari kita berkumpul di bale ini bersama-sama, jikalau harus mati biarlah kita mati bersama-sama). Kata-kata pengantar kematian itu sungguh mencekam seisi rumah, apalagi deru hujan debu di luar rumah kian deras bergantian dengan suara gemertak jatuhan kerikil menimpa benda-benda keras di halaman rumah. Entah berapa tebalnya debu letusan Gunung Agung itu mengubur halaman rumah keluarga itu. Tak sempat pikiran memperhatikan hal-hal sepele macam itu, karena semua takluk oleh bayangan maut, menanti dalam kepasrahan.

Tak ada yang dapat dilakukan semua anggota keluarga itu selain berdoa ke hadapan Ida Bhatara untuk mohon kerahayuan. Nyoman Suparta kala itu  bersama saudara-saudaranya berlindung dekat ayahnya, yaitu I Made Puja, sementara yang lain didekap oleh ibunya, yaitu  Ni Wayan Renes.
Setelah berlangsung sekian lama, kurang lebi 3-4 jam lamanya menunggu dalam kecemasan akan datangnya maut, ternyata suasana yang gelap gulita perlahan berubah menjadi semakin terang. Ada bayangan cahaya terang meskipun tetap agak remang. Sepanjang hari itu, suasananya memang senantiasa remang-remang sehingga sukar untuk membedakan, apakah hari sudah beranjak malam atau belum. Namun kelegaan mulai terasa manakala hujan abu mulai mereda dan bayangan maut pun melayang.

Hujan Api, Oh Hujan Api Menyengat Punggung
Puncak letusan Gunung Agung terjadi sekitar tanggal 17 Maret 1963. Menurut catatan Departemen ESDM, pada hari itu merupakan puncak kegiatan Gunung Agung. Tinggi awan letusan mencapai klimaksnya pada pukul 05.32. Pada saat itu tampak awan letusannya menurut pengamatan dari Rendang sudah melewati Zenith dan keadaan ini berlangsung hingga pukul 13.00.
Awan panas turun dan masuk ke Tukad Yehsah, Tukad Langon, Tukad Barak dan Tukad Janga di selatan. Padahal beberapa hari sebelumnya, Nyoman Sidemen bersama teman-temannya masih sempat menonton lahar dingin dari dekat jembatan yang mengalir deras di tukad Bangbang Biaung di sebelah barat kampungnya. Menyaksikan lumpur pasir pekat bercampur batu, pepohonan dan sapi-sapi yang mati terbawa arus sungai. Saat itu memang Desa Duda belum begitu terdampak oleh erupsi Gunung Agung, namun pada 17 Maret 1963 situasinya jauh berbeda.

Mulai pukul 07.40 lahar hujan terjadi mengepulkan asap putih, dan ini berlangsung hingga pukul 08.10. Pukul 08.00 turun hujan abu, pada pukul 09.20 turun hujan kerikil, dan sementara itu awan panas pun turun bergelombang. Pada pukul 11.00 hujan abu makin deras hingga penglihatan sama sekali terhalang. Pada pukul 12.00 lahar yang berasap putih itu mulai meluap dari tepi Tukad Daya. Baru pukul 12.45 hujan abu reda dan kemudian pukul 15.30 suara letusan pun berkurang untuk selanjutnya hilang sama sekali.

Sejumlah  sungai  kemasukan awan panas yang bergerak menuju dataran rendah. Tak kurang dari 13 buah sungai di lereng selatan dan 7 buah di lereng utara menampung  awan panas Gunung Agung. Jarak terjauh yang dicapainya mencapai 14 kilometer melalui  Tukad Daya di utara. Sedangkan sebelah barat dan timur Gunung bebas awan panas.
Lamanya berlangsung paroksisma pertama ini yakni selama  10 jam,  dari pukul 05.00 hingga pukul 15.00. Desa Subagan, Karangasem terlanda lahar hujan hingga jatuh korban sekitar  140 orang. Setelah letusan dahsyat pada tanggal 17 Maret ini, maka aktivitasnya berkurang, demikian juga suara gemuruh yang tadinya terus menerus terdengar akhirnya berangsur-angsur menghilang.
Keluarga Made Puja kemudian dapat menghela nafas lega, karena dapat lolos dari maut, kendati Desa Duda dan sejumlah desa lainnya di Karangasem masih berselimut debu selama berhari-hari. Sejumlah rumah penduduk juga nampak roboh karena terus menerus digoyang gempa, syukurnya rumah keluarga Kakek Nengah Suja  yang ditempati bersama orang anak dan cucu-cucunya masih berdiri dan bisa ditempati, kendati retak di beberapa bagian dindingnya.

Nyoman Suparta mengingat masa kecilnya kala itu bahwa anak-anak masih biasa bermain-main di sekitar kampung manakala hujan abu mereda dan keadaan dinilai aman. Sebuah lapangan desa di Banjar Jangu adalah salah satu tempat  bagi ia dan teman-temannya  untuk menghabiskan waktu sambil melakukan permainan.

Sekitar dua minggu setelah peristiwa siang hari yang berubah menjadi gelap gulita seperti malam akibat ditutup asap hitam dan hujan abu, lalu  pada suatu sore hujan mulai turun di Banjar Jangu. Nyoman Suparta yang tengah bermain di lapangan bersama teman-temannya terpaksa lari terbirit-birit masuk rumah. Hujan itu terasa aneh baginya, karena begitu air hujan ini menyentuh kulit menimbulkan rasa perih seperti disulut api. Inilah yang membuatnya buru-buru berlindung dari guyuran “Hujan Api” ini. Ia pun semakin terkejut, manakala berselang beberapa lama setelah hujan itu berlangsung rumput di halaman rumah yang masih tersisa menjadi menguning seketika. Demikian juga sejumlah dedaunan tanaman menjadi hangus oleh hujan tersebut. Dedaunan hijau berubah menjadi kuning dan layu, hanya sebagian kecil daun-daunan yang agak tebal yang dapat bertahan. Orang-orang di desanya kemudian menyebut peristiwa aneh itu dengan nama “hujan api’.

Masa Paceklik, Nasi Cacah pun Enak
Setelah masa itu warga sekitar Gunung yang terkena dampak letusan masih harus berjuang melepaskan diri dari penderitaan akibat kesulitan pangan mengingat banyak lahan pertanian yang rusak tertimbun pasir dan debu. Tak sedikit kemudian yang memilih pergi bertransmigrasi ke Lampung dan  Sulawesi maupun migrasi ke daerah lainnya di Bali untuk mencari penghidupan.
Meskipun tahun 1964 Gunung Agung sudah selesai meletus, namun dampaknya telah mengakibatkan kesulitan pangan di daerah Karangasem dan sekitarnya. Menurut kesaksian Nyoman Suparta ketika itu, para petani di Desa Duda mengalami gagal panen di sawah terus menerus, karena rupanya abu gunung berapi ini membawa efek tidak baik bagi lahan sawah. Tapi, situasi berbalik terjadi pada tanaman ketela rambat, karena pada masa itu untuk pertama kalinya umbi ketela rambat di Duda bisa berukuran jauh lebih besar dari ukuran normal. Abu Gunung Agung rupanya cocok untuk kesuburan ketela rambat. Oleh karenanya, tahun-tahun pasca letusan Gunung Agung, penduduk Banjar Jangu hanya mengkonsumsi nasi cacah yang terkadang dicampur beras jagung bantuan KOGA (Komando Operasi Gunung Agung). Beberapa penduduk yang kehabisan ketela rambat ada yang beralih menjadikan bongkol pisang (bungkil gedebong) sebagai bahan makanan dengan dicampur jagung.
Pada masa itulah ia mengalami langsung, bagaimana caranya menyiapkan nasi cacah. Pertama-tama setelah umbi ketela rambat diambil dari kebun langsung dikupas kulitnya untuk kemudian dicuci bersih dan dipotong kecil-kecil (cahcah). Tahapan berikutnya adalah menjemur cincangan ketela itu hingga kering, dan setelah kekeringannya dirasa cukup, cacah ketela disimpan dalam besek atau wakul (sejenis alat penyimpan barang dari anyaman bambu) dan ditaruh di tempat aman. Ketika saat menanak nasi tiba, cacah kering yang berwarna putih kekuningan itu diambil untuk dikukus.

Cukup lama masa paceklik ini berlangsung, sekitar satu hingga dua tahunan pasca letusan Gunung Agung. Karena itu berbagai pengalaman menarik ia lewati pada masa-masa itu. Seperti ikut panen ketela rambat di sawah yang tak jarang ia ikut mondok di sawah sambil merebus ketela.
Saat letusan Gunung Agung tahun 1963 itu hampir setahun lamanya meletus dengan mengeluarkan asap dan abu vulkanik, juga kerikil maupun lahar. Sejak mulai erupsi  tanggal 18 Pebruari 1963, aktifitas gunung tertinggi di Bali ini baru dinyatakan selesai tanggal 27 Januari 1964. Menurut sumber Kementerian ESDM sebagaimana dikutip iwbpurantara.com,    jumlah korban jiwa akibat bencana ini mencapai 1.148 orang dan 296 luka-luka.

Dengan situasi dan kondisi tahun 2017 di Bali yang sudah mengalami kemajuan di berbagai bidang, di antaranya, teknologi, sosial, infrastruktur, transportasi, dan lain-lain yang lebih baik dibandingkan tahun 1963 silam, maka  jika Gunung Agung mengalami  erupsi, mudah-mudahan dampak buruknya dapat diminimalisir sampai sekecil mungkin. Lebih syukur lagi kalau erupsi tidak terjadi dan masyarakat dapat melaksanakan aktivitasnya kembali secara normal. Semoga! (Putra)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar