Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 10 Oktober 2017

Menyaksikan Roh Leluhur dan Wejangan Pendeta Gaib

Kekeramatan dan kesakralan Gunung Agung pernah dialami secara langsung oleh I Nengah Rates Adnyana atau lebih akrab disebut Mangku Aseman. Kejadian yang dia alami berlangsung sekitar tahun 1982 saat lelaki asal Subamia, Tabanan ini masih bekerja sebagai manager restoran sekaligus juga menjadi pemangku balian.

Oleh karena ini pengalaman seorang supernatural, maka percaya dan tak percaya diserahkan kepada pembaca, karena pastilah pengalaman-pengalaman semacam ini sangat subjektif dan msiteri sifatnya.

 Sekitar tahun 1982, ketika Nengah Rates berumur 31 tahun, ia menjadi manager di sebuah restoran di Besakih. Karena selain sebagai pariwisata ia juga seorang balian, maka oleh pemilik restoran ia juga sering diminta tolong untuk melakukan uapa a gaib (niskala) agar restoran dapat berjalan lancar.
Suatu hari Nengah Rates survey lokasi ke Besakih, melihat lokasi restoran  dekat depan pintu Pura Manik Mas. Nengah Rates turun di tempat itu dan merasakan aura gaib tempat itu sangatlah tidak kondusif untuk sebuah kegiatan usaha. Lokasi itu “Panes” dan masih dalam wewengkon Pura Besakih, wajar kalah restoran itu mandeg dan terbengkalai. Rates mengkosentrasikan dirinya melakukan kontak gaib dengan alam setempat.

Sejenak dalam dimensi halus ia menyaksikan muncul naga Anantaboga, kemudian muncul angsa besar putih terbang di atasnya. Sukma mangku Aseman melesat dari badannya tertarik oleh kekuatan-kekuatan gaib di sekitar tempat itu kemudian terjadi pertarungan dengan penampakan-penampakan gaib disana, terbang melintas di atas titi gonggang  sambil terus bertarung dengan serunya. Setelah semua penampakan itu dapat ia atasi, muncullah ilham, bahwa kalau hendak menjadikan lokasi itu sebagai tempat usaha, maka terlebih dahulu harus mengadakan ritual mecaru.
Setelah syarat untuk mengharmonisasikan alam sekitar disetujui pemilik restoran, lalu disepakatilah kemudian untuk membangun pelinggih taksu di area restoran disertai pelinggih Melanting, Pengawangan Anantabhoga, Bhatara Nusa, Dalem Puri, dan pelinggih untuk wong samar.
Suatu malam ia berdiri di halaman restoran sambil menyatukan sanghyang bayu, sabda, dan idep. Hasratnya disatukan untuk memohon berkah Ida Bhatara di Gunung Agung, agar memberinya tuntunan dan izin untuk mengadakan kontak dengan leluhur pemilik restoran itu. Saat mengheningkan batin itulah Nengah Rates  menyaksikan pemandangan gaib dengan kemunculan banyak roh beterbangan keluar dari Pura Besakih. Rates  menyelinap di antara ribuh roh itu untuk mencari leluhur owner restoran tempatnya bekerja.

 Banyak di antara roh itu melayang dari Besakih menuju Dalem Puri, sebagian lagi melewati titi gonggang, dan yang lain naik angsa putih terbang mengangkasa. Sedangkan yang lainnya menuju pangkung dan lembah di sekitar gunung Agung. Setelah menyatukan batin terus menerus untuk diizinkan bertemu dengan leluhur bosnya, akhirnya ia berhasil menjumpai   leluhur bosnya dari tingkat ke 6.  Di alam gaib itu terjadi dialog Nengah Rates (Mangku Aseman) memohon agar leluhur itu  itu berkenan membantu keturunannya di marcapada, agar memperoleh kerahayuan dan kelancaran dalam usaha.

Usai dialog gaib itu, Mangku Aseman sempat sadarkan diri dan mendapati dirinya masih berdiri di halaman restoran. Sejenak saja peristiwa sadar itu terjadi, beberapa detik kemudian ia sudah berbadan sukma dan melangkah meninggalkan tubuhnya. Kali ini ia menyaksikan munculnya seekor ular hijau kecil di kejauhan. Ular itu makin mendekat dan kian membesar ukurannya dan setelah dekat menjadi naga. Naga itu lenyap dan muncullah Ki Dukuh Gunung Agung.
“Yening cening ngalih Bapa, alih Bapa di Purnama Kapat nganggen sambleh memeri kuning semelulung, yening Purnama Kadasa nagnggen sambleh siap brumbun, nanging yening Purnama Kasa nganggen sambleh siap putih siungan,” pesan  Ki Dukuh.

Ki Dukuh segera lenyap dan meninggalkan Mangku Aseman yang kembali ke alam sadar. Secara batin Mangku Aseman mendapatkan penjelasan, bahwa sambleh pada Purnama Kasa adalah pitik siap putih siuangan yang aksara sucinya “Ang” sebagai perwujudan paksa raja, wahana suci Dewa Brahma, selanjutnya sambleh Purnama Kapat adalah memeri kuning semelulung memiliki aksara suci “Ung” wujud garuda sebagai wahana suci Dewa Wisnu, dan kemudian untuk Purnama Kadasa menggunakan sambleh siap brumbun yang aksara sucinya “Mang” wujud macan wahana Dewi Durgha Sakti Siwa.

Dengan memulai bekerja di restoran di Besakih saat tahun 1982 itu, Nengah Rates Adnyana atau Mangku Aseman melakukan kewajibannya duniawinya sebagai kepala rumah tangga sekaligus ngayah kepada Ida Bhatara di Besakih. Untuk urusan ini Nengah Rates meluangkan waktunya ketika malam hari, khususnya saat Kajeng-Kliwon tiba, maka saat itulah ia mekemit di Pura Penataran Agung Besakih. Pada hari yang lain ia mekemit di Pura Dalem Puri. Adapun ritual rutin yang dilaksanakannya pada hari-hari tersebut di Penataran adalah ngaturang sambleh siap disertai segehan agung, sementara itu bila hari Purnama ia menghaturkan sambleh memeri putih. Semua ritual itu ia laksanakan sesuai petunjuk yang telah diberikan oleh Ki Dukuh Gunung Agung sebelumnya.

Garuda Petak
Pada lain hari  Nengah Rates kebetulan berada di Denpasar di kediamannya di Sesetan. Jadi masa itu  ia biasa melakoni rutinitasnya sebagai penanggung jawab restoran dengan berangkat kerja dari Sesetan menuju Besakih. Ia dapat mengatur waktu dengan baik agar bisa sampai di tempat kerja sebelum restoran buka sekitar jam 10.00. Namun mengingat jarak Sesetan-Besakih lumayan jauh, akhirnya Rates sering juga menginap di restoran yang kebetulan juga sudah disiapkan tempat istirahat baginya. Terutama pada rerainan nuju kajeng-Kliwon, Purnama-Tilem, dan sebagainya, dimanan ia harus mekemit semalam suntuk di Pura Besakih. Atau bilamana ada pekerjaan yang membutuhkan pengawasan intensif darinya, sering pula ia harus tinggal di sana untuk beberapa hari.

Secara fisik, ia bisa saja berada jauh dengan Pura Besakih, namun secara niskala (gaib) antara Sesetan dan Besakih (Gunung Agung) sesungguhnya tiada jarak. Ia membuktikannya pada suatu malam ketika sedang duduk santai menonton televise dengan ditemani istrinya di ruang tamu, tiba-tiba muncul penampakan gaib berupa garuda putih yang langsung menyambar-nyambar dirinya dengan ganas. Ia berusaha mengibas-ibaskan tangannya untuk mengusir satwa gaib itu, namun tidak mempan. Karena ingin mengetahui maksud garuda putih itu menyerang dirinya, maka bertanyalah ia dalam bahasa batin. Ternyata, burung tersebut hendak mencabut nyawa Nengah Rates.
Dalam keyakinan Nengah Rates, burung Garuda putih ini adalah hewan suci dari Besakih, berarti kalau ia hendak mencabut nyawanya berarti ini sudah kehendak dewata. Karena itu ia berpasrah diri dan menyampaikan hal ikhwal itu kepada istrinya.
“Jani gantin Bli sube mati, ne dadong suba masih bareng ngalih,” ucapnya kepada sang istri.
“Nah kudyang men, lamun sube keto benehne,” sahut istrinya kala itu dengan sabar karena sudah biasa meladeni suaminya berlaku ganjil akibat interaksinya dengan alam gaib yang ia
tidak pahami.

“Setonden Bli mejalan baang malu ngidih nasi akepel, jangin uyah bedik pang ada bekelang,” pinta Nengah Rates.
Istrinya lalu  bergegas ke dapur mengambilkan suaminya nasi putih sekepal dengan diisi sedikit garam. Nasi itu pun segera dilahap oleh suaminya dan dalam hitungan detik sukma Nengah Rates melayang ringan dari badannya dan mulai menikmati berbagai pengalaman di luar tubuh (out of body experience). Hanya dalam sekejap ia sudah merasakan dirinya berdiri di depan Pura Basukian di Besakih didampingi seorang pendeta memegang tongkat putih. Saat bersamaan garuda putih yang sebelumnya menyerang Nengah Rates di Sesetan ternyata masih mengikuti dirinya dan masih berusaha menyambar-nyambar dirinya. Melihat Nengah Rates kewalahan menghindari serangan burung garuda putih, pendeta yang berdiri di sampingnya itu berbelas kasih meminjamkan tongkatnya kepada Rates. Dan, begitu Rates mengayunkan tongkat itu sekali saja ke arah garuda tersebut, unggas gaib itu pun menjauh dan hinggap pada sebuah kori pura dan tampak burung itu jadi jinak.

Ancaman kematian yang diwartakan burung garuda putih akhirnya berlalu. Suasana dalam keheningan ketika Pendeta bertongkat putih kemudian menyampaikan akan mewejangkan ajaran “titi Kamoksan” kepada Rates. Nengah Rates bersujud dan memohon diperkenankan
mendengar ajaran-ajaran rahasia itu. Dari berbagai wejangan suci tersebut di antaranya disebutkan rahasia kamoksan itu meliputi ajaran bajra sesana, tri purusa, tat purusa, dan lain-lain.
Itulah sekilas pengalaman gaib menyangkut keramat dan sucinya Gunung Agung dengan Pura Besakihnya, sebagaimana telah dituturkan Mangku Aseman kepada Raditya sekitar tahun 2016 silam. Masih banyak cerita dari pengalaman para pemangku, sulinggih maupun umat Hindu lainnya yang menyaksikan keramat dan sakralnya Gunung Agung dari sisi magis. (tra)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar