Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Minggu, 13 Agustus 2017

Memaknai Shiwa – Budha dalam Kekawin Sutasoma

 Oleh I Made Dwija Nurjaya

Shiwa adalah prinsip kerja organ tubuh yang ada di kepala, berisi semua logika, rasio, cipta dan segala sesuatu yang masuk akal, dia rumit dan tegas, namun terstruktur dengan baik, berurutan sehingga mudah dimengerti walaupun memerlukan waktu yang cukup lama. Kepala atau sirah adalah tempat bersemayamnya pikiran dan menjadi alat bagi  manusia untuk berpikir. Proses berpikir menjadi sangat penting dalam kehidupan pribadi maupun berbangsa dan bernegara. Masyarakat mesti dididik agar memiliki pikiran yang Tajam dan Jernih. Ini bertolak belakang dengan pikiran yang tumpul dan kotor, kacau; karatan dan tidak jelas.

Dengan pikiran yang Jernih dan Tajam, maka masyarakat akan lebih mudah memahami segala sesuatu dan bertidak terhadap tantangan hidup yang ada, baik sebagai perorangan maupun masyarakat, berbangsa dan bernegara. Tidak ngawur dalam berpikir, berbicara dan bertindak. Dengan pemikiran dan perilaku yang unggul ini kita bisa sejajar dengan bangsa lainnya.
Di bidang ekonomi tidak justru kalah di tanah kelahiran sendiri, di bidang sosial tidak menjadi warga negara kelas dua, di bidang kesehatan tidak justru tergantung dengan peralatan dan metode kesehatan negara lain, di bidang pendidikan tidak selalu menempati urutan terbawah di kawasan Asean, di bidang budaya malah miskin atraksi budaya, di bidang politik tidak menjadi permainan negara-negara sekitar yang bahkan jauh lebih kecil, di bidang pertahanan dan keamanan tidak tergantung dengan negara lain. Sebagai negara yang terkenal sakti mandraguna di masa lalu, maka kemampuan ini mesti bisa diterapkan di bidang teknologi persenjataan (alusista) masa kini.
Kemudian Budha adalah prinsip kerja organ tubuh yang ada di dada, utamanya hati. Hati manusia memiliki sifat alami yang Lembut dan Kasih. Ketika orang berinteraksi dengan kehidupan ini, maka dia menggunakan organ-organ di dada juga, selain kepala. Hati cenderung untuk menjaga, memelihara, dan mempertahankan kondisi harmonis yang sudah ada. Kesehatan akan dilindungi, kesejahteraan dan kedaulatan akan dipertahankan, kegembiraan akan selalu dipupuk, dan kesempurnaan seluruh tubuh akan dijaga. Misalnya untuk tujuan mempertahankan kesejahteraan dan kedaulatan tubuh, maka pesan dari organ tubuh adalah kurangilah makanan yang tidak alami.


Bagi manusia, tubuh merupakan sebuah karunia dari Sang Pencipta. Beliau yang Tunggal ini memiliki sebutan dengan banyak nama sesuai dengan jangkauan pemikiran manusia di berbagai belahan dunia ini. Di Indonesia sendiri secara tradisional Beliau memiliki banyak nama, ini menunjukkan bahwa pemikiran para leluhur sudah demikian maju.
Sebagai contoh di Bali, Beliau di kenal sebagai Sang Hyang Embang. Sang itu artinya tunggal, Hyang itu yang tertinggi dan Embang artinya kosong dan lowong. Jadi yang tertinggi itu adalah kehampaan, darimana segala sesuatu yang ada ini berasal. Dengan pemikiran dan penamaan ini orang Bali menjadi sangat logis terhadap prinsip ketuhanan yang abstrak, sesuatu yang tidak pernah bisa dilihat wujudnya. Orang Bali sederhana saja, mereka melihat wujud Beliau ini (bisa diperkirakan) dari apa yang Beliau ciptakan. Seperti ibu-bapak yang melahirkan kita, pasti mirip. Karena itu sikap orang Bali adalah menjaga kelestarian alam semesta ini beserta seluruh isinya, sebagai wujud Bhakti kepada Beliau. Dan mereka meyakini dengan cara itu, mereka telah menunjukkan kecintaan, rasa bhakti dan sayang kepada Beliau, serta untuk menyenangkan Beliau.
Antara kepala dan hati adalah dua prinsip yang berbeda bekerja dalam satu tubuh, logikanya harus cocok satu sama lain. Jika tidak, maka kepala akan ke Utara dan hati ke Selatan.  Pertanyaannya dimana Sang Pencipta merahasiakan sambungannya. Pengalaman para cerdik pandai di masa lalu menjalani hidup secara sadar,  menemukan keunikan ini. Dimana hati yang cenderung lembut dan kasih sesungguhnya masuk akal, karena dia sendiri ingin diperlakukan seperti itu. Ada kenyamanan ketika kita mendapat perlakuan lembut dan kasih. Pengalaman ini tidak bisa dipungkiri, anda dapatkan ketika diasuh oleh ibu-bapak. Jadi hati adalah masalah rasa, tapi masuk akal.
Nah, kepala ingin segala sesuatu masuk akal, yang semrawut, kisruh, dan tidak jernih akan menyebabkan kepala pusing. Pikiran di kepala akan berusaha mewujudkan tatanan yang teratur, berurutan, terbuka dan terang benderang, agar pikiran tenang. Ketenangan hanya bisa dinikmati ketika proses berpikir mengurangi aktivitasnya. Pikiran memang memiliki tugas untuk membuat segala sesuatu tertata dan sesuai aturan, ketika sudah terwujud tentu dia harus berhenti sejenak. Jika terus berpikir, maka dia tidak dapat menikmati ketenangan dan keharmonisan yang sudah terwujud. Hatilah yang menikmati ketenangan itu, sehingga hati menjadi senang (hati senang)  otomatis pikiran tenang.
Bhina Ika, Tunggal Ika artinya pikiran dan hati adalah dua hal yang berbeda, namun tunggal menempati satu tubuh dan saling melengkapi satu sam lain. Hasil kerja pikiran dinikmati oleh hati dan hasil kerja hati dinikmati oleh pikiran. Pikiran yang mewujudkan keteraturan menyebakan hati senang, dan hati yang mewujudkan kelembutan dan kasih, akan menyebabkan pikiran bisa bekerja dengan tenang.
Tan Hana Dharma Mangrwa, artinya tidak ada kebaikan yang mendua atau men-tiga, men-empat dan seterusnya. Kebaikan adalah kebaikan untuk semua orang, dirasakan sama bagi semua orang, termasuk si pelaku kebaikan itu, atau orang yang menamakan segala tindakannya untuk kebaikan. Tegas arti kata Tan Hana Dharma Mangrwa, inilah sifat para tetua dulu yang patut diteladani. Tidak pernah ada kebaikan yang mendua, kepala bekerja untuk kebaikan hati, dan hati bekerja untuk memelihara keharmonisan kepala. Jadi sesungguhnya satu yang bekerja dari arah yang berbeda.
Dalam penerapan hidup sehari–hari, setiap orang mesti menjalankan kewajibannya (Dharma) dengan fokus agar tercapai hasil kerja yang optimal di bidangnya masing-masing. Petani mesti bekerja sesuai dengan aturan pertanian, pedagang mesti berjualan dengan etika bisnis yang layak, pejabat bekerja mengikuti aturan dan tata tertib pemerintahan, pendeta mengabdi sesuai dorongan hati nurani, kelompok profesi mesti bekerja secara professional dan jujur, politikus mesti mengarahkan bangsa dan negara kepada tujuan bersama.
Dengan semangat ini kebaikan akan terwujud dari semua bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, dari masing-masing anggota masyarakat, dan rakyat berkontribusi bukan hanya untuk kemajuan semata, namun sekaligus menikmati hasil kemajuan tersebut. Dan rakyat tidak menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri. Rakyatlah yang menjadi pemain dan  memainkan perannya di NKRI ini. Rakyat tidak pernah keliru dalam menginginkan kebaikan.
Ini mungkin intisari yang menginspirasi para pemimpin-pejuang kemerdekaan untuk membangun negara berdasarkan prinsip Bhineka Tunggal Ika, dimana kemajemukan ini disatukan. Tantangan generasi Indonesia  sekarang adalah menyatukan kemajemukan dalam diri masing-masing, agar ada kesamaan antara pikiran, kata dan perbuatan untuk menghadapi dunia global yang terbuka lintas negara dan budaya serta agama. Jangan meributkan kebinekaan Indonesia yang sudah selesai dikerjakan dan disepakati oleh para pejuang kemerdekaan.  Mahardika!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar