Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Jumat, 16 Juni 2017

Rasesvara Saivaisme: Pembebasan Dicapai Melalui Pengetahuan Nafas

Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda

Rasesvara Saivaisme adalah lebih bersifat ilmu pengetahuan, ketimbang suatu aliran filsafat. Ia tidak mengetangahkan suatu teori metafisika, etika dan efistimologi, tetapi tetap termasuk  dalam sistem filsafat.

Sistem filsafat Rasesvara menghadirkan tahapan puncak dari sistem pengobatan India yang disebut ayur Veda dan diantara  delapan) cabang ayur Veda yang dikenal baik, pengobatan, pembedahan dan kebidanan. Sistem Rasesvara  menghadirkan suatu dorongan pada konsepsi Rasayana yang lebih awal. Menurut Caraka, Rasayana berhasil dalam memperpanjang umur, memperkuat ingatan, membuat awet muda  dan sebagainya.
Rasesvara menyatakan bahwa masalah kimia merupakan suatu  ilmu pengetahuan yang berguna. Ia menyatakan bahwa air raksa yang diproses dan dimurnikan  dengan cara seperti yang diberikan dalam kepustakaan Rasesvara, apabila dicampur dengan logam, seperti: besi, tembaga, perak, dan timah dalam proporsi 1atau1000 dari total berat logam lainnya itu, akan merubahnya menjadi emas. Rasesvara memberikan imformasi tentang segala sesuatu yang diperlukan  guna pemrosesan dan pemurnian air raksa. Ia memberikan penjelasan tentang warna, rasa dan bau serta rincian lain untuk mengidentifikasi rerumputan untuk obat-obatan serta menyatakan tentang ciri-ciri tempat, dimana ia dapat ditemukan. Logam dapat diberi suatu warna dan warna dari logam asli dari logam dapat dirubah dan menunjukkan tata cara melakukan hal itu. Ia dapat memroses dan memurnikan air raksa, yang apabila dipergunakan dapat membuat badan yang mempergunakannya dapat berjalan di atas air, dapat pergi ribuan kilometer tanpa merasa lelah, tak dapat dibelenggu dengan rantai besi, tak dapat dilukai oleh senjata apapun, dan tak terbakar oleh api, dapat terbang di udara, dapat berbicara dengan dewa-dewa di surga dan dapat kembali ke bumi.
Menurut Rasesvara, tak ada pertentangan antara ilmu pengetahuan dengan agama dan keduanya berjalan bergandengan. Ada pelaksanaan keagamaan tertentu yang tetap terpelihara dan upacara keagamaan tertentu yang dilakukan agar mencapai keberhasilan dalam memeroses dan memurnikan air raksa, sedemikian itu agar terbebas dari kematian, penyakit dan usia tua. Pengulangan secara internal rangkaian suara simbolik tertentu (mantra japa), inisiasi spiritual dan pemujaan bentuk phalus dari Saiva , menggenakan air raksa (rasa Liņgam), semuanya diperlukan dan akhirnya keberhasilan tergantung kepada anugerahNya.
Rasesvara Saivaisme tidak mengakui teknik dari Nyaya, Vaisesika, ataupun Vedanta. Ia mengambil teknik dari Saivaisme dualis; sehingga dalam Rasarnava, ditemukan referensi tentang Sakti pada dan Pasa, dimana Isa dan SadaSaiva  juga dinyatakannya. Rasesvara Saivaisme menghadirkan Mahesvara, Tuhan tertinggi sebagai Mahatahu dan Mahakuasa, yang pada pokoknya halus (suksmarupa) dan bebas dari segala ketidakmurnian, (niranjana). Tuhan tertinggi dinyatakan menciptakan dan menghancurkan segala sesuatu  dengan kehendakNya. Segenap alam semesta muncul dari padaNya, memiliki keberadaan di dalamNya dan secara pokok identik denganNya. Roh pribadi, diakui identik dengan yang tertinggi dan setelah menghilangkan segala ketidakmurnian dapat memperoleh pembebasan melalui anugrahNya. Pembebasan dalam kehidupan ini (jìvanmukti) merupakan kesadaran tentang identitas sang roh, yang ada  di dalam badan yang abadi dengan Saiva .
Rasesvara Saivaisme sangat meragukan pembebasan setelah kematian yang dijanjikan oleh beberapa aliran pemikiran filsafat. Tak ada bukti langsung untuk meyakinkan kita bahwa pembebasan setelah kemetian benar-benar ada, sehingga  kita dapat mengikuti jalan seperti yang dinyatakan olehnya tanpa keragu-raguan pada pikiran kita tentang pencapaian yang obyektif.
Raseśvara Saiva isme mengakui ada tiga tahapan pembebasan, yaitu Jìvanmukti, Salokya, dan Saiva ta (Gamana). Pembebasan akhir menurut Rasesvara Saivaisme adalah pencapaian kesamaan dengan Saiva . Ia mengakui bahwa pengetahuan merupakan cara untuk pembebasan akhir, dengan melaksanakan Yoga, yaitu dengan pengendalian pernafasan.

Advaita Saiva isme dari Nandikesvara
Advaita Saivaisme didirikan oleh Nandikesvara dengan menyusun kitab Nandikesvara Kasika, dan diulas oleh Upamanyu dalam Tattva Vimarsini. Para bijak atau para murid sistem tata bahasa Pasini dari Advaita Saiva isme ini antara lain: Nandikesa, Patanjali, Vyaghrapat,  dan Visistha. Mereka merenungkan Saiva  untuk mendapatkan ilham dan sebagai anugerahnya Saiva  muncul di hadapan mereka dengan memukul genderang tangannya (damaru). Suara yang dikeluarkannya secara simbolis memberikan 14 sutra.
Sutra-sutra yang diketemukan pada permulaan dari Astadhyayi-nya Pasini, merupakan gambaran yang jelas dari suara genderang tangan Saiva  yang kurang jelas. Para  bijak memungkinkan untuk memahami arti dari Sutra-Sutra tersebut yang diperjelas oleh Nandikesvara dan ia menguraikan artinya dalam 26 buah sloka, dalam Nandikesvara Kasika. Dalam Nandikesvara Kasika, hanya terdapat 1 sloka, yaitu sloka nomor dua yang merupakan pedoman dari Pasini yang ditujukan oleh Nagesa  dalam Udyota-nya. Dikatakan bahwa huruf terakhir pada akhir setiap sutra dari ke 14 sutra diperuntukan bagi Pasini untuk membangun sistem tata bahasa, sedangkan sisanya menghadirkan satu sistem monistik  dari filsafat Śaiva.
Advaita Saiva isme atau Nandikesvara Saiva  memiliki kecenderungan mistik yang lebih mendominir, karena situasi yang memungkinkan untuk menjelaskan sistem ini adalah mistik. Para bijak melakukan pertapaan untuk mendapatkan  penerangan mistis, seperti anugerah yang diberikan oleh Saiva  kepada mereka yang tampak secara mistis  dan mereka mengajar bahwa realitas melampaui semua katagori; yaitu Sang Diri.
Nandikesvara menafsirkan tentang sutra pertama dari Mahesvara Sutra tentang realitas metafisika yang didentifikasikan dengan huruf pertama  “á A” sebagai Brahman yang bebas dari segala gusa yang ada pada segala sesuatu dan dalam semua wujud perkataan. Merupakan sumber dan asal mula dari semua huruf dan asal mula dari segenap alam semesta. Brahman menjadikan diriNya sendiri sebagai alam semesta melalui dayaNya yang disebut Citkala atau CitSakti, sehingga disebut Isvara. Huruf “ í I dan ś U” dalam sutra tersebut maksudnya Daya (Citkala) dan Tuhan.
Citkalā ditafsirkan sebagai Maya, sehingga menjadi jelas bahwa kata Maya dalam Nandikesvara Saiva  berarti kehendak yang bebas (svatantrya), karena sistem ini mengakui bahwa alam terwujud atas kehendaknya. Maya adalah Manovati, yaitu kegiatan pikiran yang diwujudkan oleh Tuhan. Jadi Maya berbeda dengan Sakti,  seperti dalam filsafat Saiva  lainnya yang berarti ketidaktahuan, semu atau khayalan. Brahman sebagai perkasa berbeda dengan “Aku” sebagai “Citkala” dan tak dapat dipisahkan antara kedua.
Mengenai hubungan antara Brahman dan Sakti  dapat ditemukan dalam penafsiran sutra kedua,  yaitu Brahman adalah pikiran,  dan Maya adalah kegitan yang berwujud. Brahman sebagai keberadaan yang aktif, keberadaanNya tak dapat dipisahkan, seperti bulan dengan sinarnya, seperti kata dengan artinya.
Nandikesvara  adalah filsafat monistik yang merupakan ciri dari filsafat tata bahasa. Ia mempergunakan Brahman atau huruf “ á A” dengan Para, seperti yang dinyatakan oleh Nagesa di bawah pengaruh Saivagama. Ia membicarakan Para sebagai Jnapati murni atau jnaptimatra. Kata Jnapati adalah sebagai sinonim dari Citi, Patanjali seorang bijak Nandikesvara Saiva, dalam Yoga sutraNya dalam menyatukan sang diri mempergunakan kata “citi dan daśi” dalam menyatukan sifat yang utama.
Pandangan monistik yang ditunjukkan pada dasar sùtra “R L K” berarti bahwa kaitan antara Brahman dan dayanya, sama dengan kaitan antara s A dan i I demikian pula antara satu  “ a A” dengan dengan yang lain. Nandikesvara Saiva  merupakan suatu sistem monistik karena ia mengakui identitas dari pikiran dan potensialitasnya dan kegiatan dari Siva dan sakti atau Barhaman dan Citkala. Hubungan antara Brahman dengan alam semesta bukanlah hubungan antara si pencipta dengan ciptaanNya. Alam semesta keberadaannya tidak terpisah dengan Brahman, seperti kendi dengan si pengrajin gerabah (pembuat gerabah). Demikian juga realitas transendental (nirgusa) dan immenent (sagusa) adalah identik, karena yang belakangan merupakan perwujudan dari yang pertama. Semua katagori merupakan manifestasi dari Barhman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar