Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Sabtu, 18 Februari 2017

Mencari Pemimpin Umat yang Mumpuni

Opini oleh I Nyoman Sugiarta dan I Ketut Sukayasa
Di tengah penyelenggaraan pilkada serentak tahap II, tanggal 15 Pebruari 2017 di 101 daerah kabupaten/kota, dan provinsi, tentu diharapkan akan terpilih pemimpin yang ideal. Bali pun tidak ketinggalan ikut serta dalam pilkada serentak ini, yakni di Kabupaten Buleleng. Para calon pun mulai menawarkan program kerja dengan segala manuver secara verbal maupun vulgar untuk memikat pemilih.

Di antaranya dengan janji bahwa jika terpilih nanti akan melakukan perubahan dengan berbagai argumentasi meyakinkan publik. Semua itu kembali sangat berpulang kepada masyarakat untuk menimbang dalam rasa dan rasio, kemudian memilah, dan memilih, calon pemimpin yang benar-benar memiliki kapabilitas. Tentu ini memerlukan tingkat kecerdasan yang memadai dalam memilih pemimpin agar mampu membangun perubahan dari aspek etimologi yang berarti menuju masyarakat adil dan makmur.
Pemimpin dalam suatu ketatanegaraan yang bijak (prajna )harus bersifat darma negara, dimana mampu mengayomi dan berkontribusi yang terbaik untuk kepentingan bangsa dan negara. Mampu mengukur segala perilakunya agar dapat melahirkan keteduhan di tengah masyarakat. Keteladanan pemimpin menjadi cermin dari kondisi masyarakat yang dipimpinya. Pemimpin yang bertanggung jawab akan mau dan mampu mengejawantahkan aspirasi masyarakat dengan penuh rasa tanggung jawab. Rasa mengabdi demi kepentingan masyarakat akan lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi dan kelompok. Ini memerlukan tingkat pengabdian yang tinggi. Mampu menerangi masyarakat dalam kegelapan, agar tercerahkan menjadi tantangan kekinian mencari sosok pemimpin yang mumpuni. Pemimpin harus mampu memaknai arti nyala lilin (surya brata) dalam kegelapan, dimana dia mampu memberi terang secara sekalipun akhirnya terkikis secara perlahan demi kebaikan kehidupan sosial masyarakat. Memberi makna pengorbanan yang tidak sia-sia di tengah tuntutan masyarakat menjadi domain utama yang harus dikedepankan oleh pemimpin yang mumpuni.


Bagaimana kita dapat dibuat kagum oleh jiwa kepemimpinan Soekarno, Mandela, Gandhi, Theresa, yang mampu merealisasikan nilai cinta kasih atas nama kemanusiaan dan kebangsaan di tengah keserakahan yang akut terjadi. Mampu memilah kejernihan nurani di tengah berkecamuknya kekeruhan sikap serakah, kekejaman, kedengkian, arogansi yang menghadang, namun kemuliaan dan ketegaran nilai cinta kasih mampu memaknai arti hidup itu sesungguhnya. Nilai kasih yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu akhirnya mampu melahirkan tingkat kesadaran yang utama.
Pemimpin yang bertanggung jawab harus mampu menepis rasa takut masyarakat dari segala ancaman yang datang. Di samping itu yang paling utama dimana jiwa pemimpin harus mampu memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain. Kualitas dirinya adalah bagian dari kualitas perilakunya sebelum dan saat menjabat yang mampu mengimplementasikan secara sesungguhnya di tengah masyarakat (atma sampad).
Bagaimana ketika kualitas dirinya rendah dengan bermacam aib bawaan yang menista, kemudian melakukan segala manuver yang lihai dalam memoles dirinya agar kelihatan bersih (suci), tentu hal ini adalah upaya yang memalukan. Tindakan pembodohan pemimpin seperti ini menjadi trend baru menjelang pemilihan pemimpin sebagai penyelenggara negara. Ketika rekam jejaknya (track record) hitam pekat dengan perbuatan kelam masa lalu, kemudian dalam sekejap dicuci dengan segala cara ketika mau menjadi pemimpin dengan segala manuver serta janji menggiurkan menjebak.

Jiwa Pemimpin
Keteduhan jiwa seorang pemimpin yang mampu memayungi masyarakat akan memberi dampak positif dalam menghadapi tantangan. Keberadaan pemimpin sebagai lentera yang mampu mencerahkan adalah tuntutan di tengah dinamika problema masyarakat yang komplek. Kekuatan wadah (organisasi) yang memadai didukung dengan integritas antar personal yang semakin dewasa akan memberi dampak sosial relegius yang semakin mumpuni terhadap umat. Tentu akan menjadi suatu keniscayaan bila organisasi sebagai interaksi masyarakat keberadaanya kumuh oleh berbagai intrik yang merendahkan dan memalukan di antara sesama.
Tentu menjadi renungan mendalam di mana ketika Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) dalam Mahasabha XI di Surabaya tidak berjalan mulus. Muncul suasana yang tidak kondusif, sebagai bentuk dari tidak adanya komunikasi yang balance. Sikap dan sifat yang tidak mau mendengar dan didengar secara dewasa melahirkan komunikasi yang tidak sehat. Keberadaan Mahasabha ini adalah bentuk aktualisasi ide (gagasan) yang cemerlang yang dapat mencerahkan untuk dapat membawa umat semakin tercerahkan secara lahir dan batin. Bila pemilihan pemimpin di hulu sudah bermasalah dalam penyelenggaraan Mahasabha  sudah tidak harmonis dalam menjaga keutuhan organisasi akan membawa dampak buruk atas keberadaan umat itu sendiri. Kekuatan organisasi seharusnya didukung oleh kedewasaan para pemimpin agar mampu sebagai teladan terhadap umat. Tentu umat tidak mengharapkan dimana organisasi dijadikan manuver politik praktis yang bersifat instan dalam memburu jabatan yang lain lebih menjanjikan dengan menafikan keberadaan umat.  
Pemimpin yang bijak yang dipegang adalah kejujuran kata-katanya (wacika). Perkataan yang terukur dikeluarkan oleh pemimpin, tentu sudah didasarkan atas pemikiran (manacika) yang matang. Setiap perkataan pemimpin mengandung makna yang menjadi perhatian masyarakat untuk diwujudkan (kayika). Ketika perkataan yang dikeluarkan pemimpin mulai tidak sesuai dengan kenyataan (adarma) dengan berbagai alasan pembenar, maka umat akan mulai meragukan kejujuran pemimpin itu sendiri. Mencari pemimpin yang satya wacana menjadi tantangan kekinian di tengan pola hidup konsumenrisme yang menjebak.
Peminpin instan (karbitan) yang “masak” sebelum waktunya karena dipaksa oleh kepentingan kelompok menjadi penomena yang muncul di tengah persaingan yang ada saat ini. Keadaan seperti ini akan melahirkan jeda yang terjal, sehingga muncul perilaku trial and error yang tinggi dalam memimpin. Ini disebabkan oleh keterbatasan, baik pengetahuan, pengalaman, maupun emosi menghadapi publik dalam memimpin. Bahkan terkadang dengan mudah dikendalikan secara tersamar oleh kekuatan luar.
Pemimpin harus mampu memberikan rasa adil kepada masyarakat, sehingga merasa terayomi. Jiwa pemimpin tersebut sesungguhnya mampu sebagai pelayan umat yang baik atas aspirasi yang ada. Mampu menempatkan diri secara tepat pada saat dibutuhkan, dimana kapan harus bersikap tegas sesuai dengan aturan yang ada, dan kapan harus memberikan pencerahan kepada umat. Ibarat main layang-layang, dimana kapan harus mengulur dan menarik sesuai dengan situasi yang ada agar tetap terbang mengangkasa. Ini membutuhkan tingkat kejelian membaca situasi agar mampu memberi dampak sosial yang mencerdaskan umat.
Tentu masyarakat jangan sampai terjebak atas penampilan phisik atau wajah pemimpin belaka yang seolah-olah tenang berseri-seri (candra brata), tapi itu hanya trik dalam menipu belaka agar muncul simpati. Mampu menimbulkan kesan calon pemimpin itu seolah-olah peduli atau posisinya teraniaya oleh situasi yang diciptakan oleh dirinya sendiri dalam upaya menarik perhatian masyarakat. Pemimpin yang seolah-olah peduli biasanya penuh dibalut oleh pencitraan dirinya dengan segala manuver agar selalu kelihatan fresh di tengah masyarakat. Padahal sesungguhnya itu hanya kamuplase belaka dalam menutupi aib menganga yang ada. Kewaspdaan umat membaca secara utuh atas keberadaan pemimpin, agar tidak sampai tertipu mampu menelusuri rekam jejaknya secara utuh. Salah menentukan pilihan akan menjadi beban hidup yang menghantui.
(Catatan : Penulis Peminat Masalah Sosial Masyarakat,  Staf Pengajar Jurusan Akuntansi, Politeknik Negeri Bali).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar