Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Senin, 17 Juni 2013

FUNGSI RASA SAKIT

Gede Rio Andre Sutrisna

Pernahkah mendengar ungkapan “Manis akan terasa manis, setelah mengecap yang pahit”? Makna sederhana dari ungkapan tersebut adalah, seseorang akan bisa mengetahui rasa manis setelah dia pernah merasakan pahit. Hal ini juga bisa dianggap sebagai bagian dari konsep rwa bhineda, dua hal yang berbeda dan harus ada untuk menjaga keseimbangan. Antara Si Manis dan Si Pahit. Bagaimana kita bisa mengatakan sesuatu itu pahit, kalau kita tidak tahu manis? Bagaimana kita dapat menentukan sesuatu itu manis, jika kita belum pernah menikmati pahit? Jawabannya mungkin saja bisa, tapi ada sesuatu yang lebih penting dari jawaban tersebut. Pastilah ada fungsi atas kedua ihwal ini. Kalau sudah ada manis mengapa kita perlu hirau dengan pahit? Manis dapat diibaratkan dengan kebahagiaan dan pahit dapat kita analogikan sebagai penderitaan atau sakit.

Tak ada seorang pun yang suka dengan rasa sakit. Entah itu sakit fisik, sakit bathin, sakit pikiran, sakit jiwa, maupun sakit hati. Tak peduli seberapa tak sukanya kita pada rasa sakit, kita sudah salah apabila terlalu berlebihan berharap untuk hidup tanpa rasa sakit. Rasa sakit merupakan bagian dari hidup, kehidupan, dan penghidupan. Kepada rasa sakitlah kita harus berterima kasih. Bagaimana lagi kita bisa tahu, untuk menarik tangan kita dari panasnya api? Jari kita dari tajamnya pisau? Luka kita dari perihnya garam? Jadi rasa sakit itu penting! Rasa sakit itu penting karena rasa sakit adalah bagian pertahanan tubuh kita.

Rasa sakit memberikan pelajaran berharga kepada kita kita untuk menghindari kesalahan sama yang pernah kita perbuat dan melanjutkan kembali kebaikan yang sudah kita lakukan. Tatkala kita harus melalui sebuah jalan, terkadang kita tak sadar jalan tersebut ada durinya. Setelah menginjaknyalah kita tahu di sana ada duri. Tajam menusuk, melukai kaki kita. Rasa sakit memberikan pengalaman. Saat kita melalui jalan itu kembali, kita menjadi lebih berhati-hati melangkah agar tidak mengulangi rasa sakit menginjak duri tersebut. Karena pernah menginjak duri, kita juga menjadi lebih perhatian untuk memakai alas kaki. Apabila sudah sering melakukannya, akhirnya kita menjadi terbiasa. Pengalaman ini nantinya akan mengimbas kepada kita saat akan melintasi jalan-jalan yang lainnya.

Sakit merupakan sebuah peringatan. Peringatan pada kita untuk selalu waspada, tidak lupa bersyukur dan kembali menuju kebenaran. Sakit juga mengindikasikan sebuah keterbatasan yang kita miliki agar kita tidak jumawa ataupun terlalu ambisius karena apapun yang berlebihan pastilah akan mengurangi. Misalnya terlalu banyak makan akan membuat kita muntah, terlalu banyak berharap akan membuat kita kecewa, terlalu banyak bekerja pun akan dapat membuat kita kelelahan dan jatuh sakit. Intinya semua yang keterlaluan adalah tidak baik. Lalu apakah apabila kita sakit itu berarti kita kurang waspada? Lupa bersyukur? Atau belum melakukan sesuatu dengan benar? Jawabannya adalah belum tentu. Ada sakit karena kita tidak waspada, misalnya sudah tahu jalan licin kita malah ngebut mengendarai sepeda motor, akhirnya kita jatuh. Kemudian contoh lain, kita mengidap penyakit maag kronis malah mengkonsumsi makanan yang asam dan pedas, malah makan tidak teratur, terlambat makan. Jadilah penyakit kita kambuh. Bayangkan saja bila tidak ada peringatan rasa sakit? Kita akan terus mengulangi kesalahan karena masih merasa aman-aman saja. Suatu saat nanti kita akan menumpuk banyak kesalahan yang harus kita terima akibatnya. Inilah sekaligus pertanda agar kita kembali menuju kebenaran. Bawasannya sakit yang kita derita adalah akibat kesalahan kita. Saatnya kita kembali pada sesuatu yang membuat kita bahagia dan damai lahir bathin meskipun itu pahit.

Sakit berfungsi sebagai lampu kuning untuk menunjukkan keterbatasan yang kita miliki. Kala kita begitu ambisius bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, kita lupa tubuh ini memiliki batas bekerja tertentu. Tubuh ini anugerah Tuhan yang harus kita cintai dan jaga dengan baik. Kalau sampai rusak/sakit berarti kita teledor menjaga kepercayaan Tuhan. Tidak salah jika manusia sangat bersemangat untuk bekerja, tetapi yang keliru adalah memaksakan diri, menyakiti diri tanpa istirahat. Nantinya bila sudah sakit barulah kita terasadar bahwa ada sesuatu yang berlebihan kita lakukan atau ada sesuatu yang kurang kita perhatikan, bahwa ada sesuatu yang salah! Tain temblek Tain blenget, sube jelek mare inget! Ya, sakit adalah pencerahan dari kita dan untuk kita. Laksana hujan turun deras, memberikan waktu kita berteduh untuk mengingat hangatnya sinar mentari. Demikian pula dengan sakit memberikan kita waktu untuk merenung, introspeksi diri, berkontemplasi, kemudian bangkit dengan kesadaran baru!

Bagaimana bisa kita sakit, padahal kita merasa sudah waspada, kita merasa sudah berbuat kebenaran, dan kita juga sudah selalu bersyukur? Jika kemungkinan itu yang terjadi marilah kita bijaksana menyikapi fenomena yang menimpa kita. Kita percaya karmaphala. Apa yang kita tanam, itu yang akan kita petik. Bila kita berbuat baik, pasti akan berbuah kebaikan namun hasilnya bisa saja diterima dalam bentuk dan waktu yang berbeda. Begitu pula dengan kejahatan yang pernah kita lakukan. Penderitaan yang kita alami sekarang merupakan buah dari keburukan/kesalahan yang kita perbuat sekarang atau di masa lalu atau bisa juga di kehidupan terdahulu. Yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa di saat kita merasa sudah baik, malah tertimpa sakit? Mengapa kebaikan yang kita lakukan sekarang tidak bisa kita petik sekarang? Inilah kuasa Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kita tidak pernah tahu rencana Beliau. Namun kita harus tetap memegang teguh bawasannya apa yang Beliau berikan adalah yang terbaik untuk kita, karena Tuhan amat teramat sayang kepada kita. Apa yang kita terima saat ini adalah keadaan yang “pantas” sesuai dengan karma/usaha kita. Tatkala kita menerima cobaan ataupun mengalami sakit, hikmah yang perlu kita pahami adalah Tuhan tidak menguji kita, bukan seberapa kuat kita mampu bertahan, tetapi seberapa percaya kita kepada Tuhan. Tuhan adalah Jalan, Tuhan adalah Tujuan.

Dalam sebuah keluarga, apabila seorang saja sakit dari anggota keluarga tersebut, maka secara tidak langsung yang lain juga akan merasakan sakit. Apabila orang tua sakit, Si anak secara tidak langsung merasakan sakitnya, apabila Si anak yang sakit, maka orang tua pun jauh merasa lebih sakit. Meraka akan saling merawat. Kendati demikian kita harus tetap bersyukur. Selalu ada hikmah yang bisa kita petik. Salah satunya, semua anggota keluarga menjadi bersatu, yang dulunya jarang bertemu akhirnya dapat berkumpul kembali walau dalam situasi duka. Kita juga menjadi sadar ada orang-orang di sekitar kita yang perhatian dan sangat mencintai kita. Maka dari itu, jagalah kondisi hati, pikiran, serta tubuh agar jangan sampai sakit.

Dari sekian banyak rasa sakit, ada sejenis rasa sakit yang tak ada gunanya. Itulah rasa sakit kronis. Itulah pasukan elite rasa sakit yang bukan untuk pertahanan. Itu adalah kekuatan yang menyerang. Penyerang dari dalam. Penghancur kebahagiaan pribadi, penyerang ganas bagi kemampuan pribadi, penyerbu tak kenal lelah bagi kedamaian pribadi, dan pelecehan berkelanjutan bagi hidup! Ia adalah rasa putus asa. Putus asa juga disebut rasa sakit, bahkan sulit diobati apabila sudah stadium kronis. Rasa sakit kronis adalah aral rintang terberat bagi pikiran. Kadang rasa sakit itu nyaris mustahil untuk dilampaui. Namun, kita harus tetap mencoba, berusaha. Berhenti bertanya bagaimana cara mendapatkan apa yang engkau inginkan, karena jawaban yang kita temukan hanyalah “berusaha”. Sebab jika tidak, keputusasaan akan semakin menghancurkan kita. Dari pertempuran itu akan muncul hal-hal yang baik. Kepuasan penaklukan rasa sakit dan pencapaian kebahagiaan dan kedamaian. Pada kehidupan sekalipun darinya, ini sungguhlah suatu pencapaian. Pencapaian yang sangat istimewa, sangat pribadi. Rasa akan kekuatan. Kekuatan batiniah yang harus dialami untuk bisa dipahami. Jadi, kita semua harus menerima rasa sakit. Sekalipun rasa sakit yang merusak karena itu bagian dari segala sesuatu, kemudian pikiran dapat mengatasinya. Dan pikiran akan menjadi lebih kuat dalam mengalaminya.
Om Namah Sivaya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar