Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Senin, 20 Mei 2013

Mahamrtyunjaya Mantram Pelindung Kematian Menuju Keabadian

I Ketut Sandika

Om Tryambakam yajāmahe
sugandhim pusti-vardhanam
urvārukam iva bandhanān
mrtyor muksiya mām tāt

Kami memuja dewa bermata tiga (Siva Tri Netram), yang penuh welas asih, yang wanginya memelihara semua makhluk. Semoga kami dibebaskan dari alam kematian menuju pembebasan. Laksana ketimun masak yang sangat mudah melepaskan diri dari tangkai yang mengikatnya.

Mahamrtyunjaya Mantram adalah salah satu dari sekian banyak mantram dalam Veda yang memiliki kekuatan yang maha dahsyat. Mahamrtyumjaya Mantram sendiri terdapat dalam Rgveda dan Suklayajurveda. Demikian pula mantram ini secara khusus ditujukan kepada Trayambhakam sebagai salah satu dari sebelas aspek Siva. Dengan kata lain, mantram ini khusus hanya ditujukan kepada Deva Siva sebagai mahaguru pemberi anugrah nektar keabadian. Mantram ini dikenal pula sebagai mantram penakluk kematian (mrtyu) yang pertamakali di ucapkan oleh Rsi Markandya di depan Siva Lingga untuk memohon anugrah kepada Dewa Siva agar diri sang Rsi mendapatkan umur panjang. Karena diketahui bahwa Sang Rsi hanya dapat hidup sampai umur 16 tahun. Hal itu membuat sedih kedua orang tua Rsi Markandya, olehnya sang Rsi dengan intens mengucapkan matram ini di depan Siva Lingga untuk memohon perlindungan dari sang kematian.

Pada suatu ketika, hari dimana kematian Sang Rsi telah ditentukan, Yama dhuta mendatangi Sang Rsi yang sedang men-chanting-kan Mahamrtyunjaya Mantram. Berkehendak untuk mencabut nyawa sang Maha Rsi yang sedang memeluk Siva Lingga dan men-chanting-kan mantram, Deva Siva pun muncul dan menghalangi Yama dhuta untuk mencabut roh Sang Rsi. Setelah itu, keabadiaanlah yang didapatkan oleh Sang Rsi. Begitu kuat dan hebatnya efek mantram yang diucapkan oleh Sang Rsi, sehingga dapat melewati waktu kematiannya sendiri dan Deva Siva pun sampai berkenan menampakkan darsan kepada Sang Rsi.

Secara implisit Mahamrtyumjaya Mantram merupakan mantram untuk memohon perlindungan dan menuju pada keabadian (immortality) kepada Dewa Siva yang dikenal sosok dewa yang maha pemurah dan welas asih (Asuthosa). Keabadiaan ini hendaknya dipahami secara benar. Abadi yang dimaksud dalam mantram bukan berkenaan dengan yang eksternal, akan tetapi lebih kepada internal. Mantram ini diucapkan adalah untuk memohon perlidungan agar bhatin tidak mengalami kematian atau kekeruhan demikian pula kekacauan. Pengucapan Mahamrtyumjaya Mantram secara intens akan memunculkan vibrasi (bhava) positif ke dalam diri, sehingga kekeruhan bhatin akan sirna.

Ciri yang fundamental dari kekeruhan bhatin adalah munculya kecemasan dan ketakutan. Kecemasan dan terutama ketakutan sering menghantui orang-orang, tidak terkecuali para pencari spiritual pun tidak luput dari hal ini. Terlebih takut akan kematian yang merupakan kepastian bagi yang hidup. Jika sudah demikian, akan muncul kebodohan (avidya) dan kebodohan itu sendiri berimplikasi pada penderitaan. Hal tersebut hendaknya dimusnahkan, jika ingin mengatasi kematian, dan itulah pesan yang dimunculkan oleh Mahamrtyunjaya Mantram. Sebuah pesan yang perlu kita renungkan pada era kekinian yang hampir semua manusia mengalami kematian bhatin. Manusia hidup, tetapi sesugguhnya mati.

Setiap manusia dilahirkan ke alam ini sesugguhnya membawa pesan untuk bagaimana ia dapat membebaskan dirinya dari penyakit yang menghuni bhatin. Sebab bhatin yang sakit adalah tembok tebal bagi manusia untuk menyadari kesajatian dirinya. Kebebasan adalah tujuan yang hendaknya harus dituju, jika ingin mengatasi kematian. Mengatasi kematian dimaksudkan spirit yang dapat membawa kebaikan pada dirinya, orang lain, dan alam semesta, kendatipun badan fisik sudah tidak ada, akan tetapi spiritnya selalu hidup abadi. Dapat kita lihat, Rsi Markendya, Rama Krishna Paramahamsa, Svami Vivekananda, Gandhi dan yang lainnya. Bukan sebaliknya, manusia hidup membawa kehancuran bagi dirinya, orang lain, dan alam semesta. Itu sama dengan kematian. Dan, untuk menuju kebebasan dan mengatasi kematian, kemurnian adalah syarat yang mutlak. Yang murni hanya akan dapat disentuh dengan kemurnian, sama dengan mencari air dengan air, menemukan angin dengan angin dan menyalakan api dengan api.

Mahamrtyumjaya Mantram inilah akan dapat memurnikan diri sekaligus mengikis karma buruk yang selama ini menghuni bhatin. Kekuatan dari getaran atau vibrasi (bhava) mantram ini dapat dirasakan jika diucapkan dengan kesugguhan hati dan ketulusan. Sebab dalam hal apa pun keyakinan dan ketulusan adalah sebagai fondasainya. Getaran tersebut akan membuat simpul-simpul syaraf dalam tubuh dialiri energi listrik yang tidak terkira, sehingga membuat kekeruhan batin terbakar dan dapat memurnikan batin. Hal tersebut hendaknya dialami melalui laboratorium diri, sebab mengalami adalah hal yang fundamental bagi manusia yang ingin memajukan kualitas diri. Pengetahuan pun di dapat dengan mengalami maupun pengalaman.

Mahamrtyumjaya Mantram adalah rahasia Dewa Siva yang perlu ditelaah agar manusia dapat mengatasi kematian dan menuju pada pembebasan. Bebas dari ketakutan, kecemasan, terlebih kebodohan. Adalah salah kaprah, jika Mahmrtyunjaya Mantram dipahami sebagai mantram yang dapat membuat orang sakti atau wisesa. Walaupun tidak dapat dihindari mengucapkan mantram ini akan memunculkan energi sakthifat dalam diri, akan tetapi kembali lagi itu hanya efek kecil dari kekuatan Mahamrtyumjaya Matram, dan itu bukan tujuan akhir dari bhakta Siva yang taat atau manusia itu sendiri. Tujuan yang hendaknya dituju adalah kekuatan dari berkah Deva Siva untuk kita sekuat tenaga dapat melepaskan diri dari segala ketakutan yang menghuni batin.

Ketakutan, kecemasan maupun kebodohan adalah noda bhatin yang manusia harus singkirkan, dan singkap dengan api mantram sampai benar-benar termurnikan. Api Mahamrtyumjaya Matram layaknya generator yang memberikan kekuatan untuk manusia dapat melampui segala penderitaan ini. Selain itu, api mantram akan dapat melelehkan hati Deva Siva yang selembut salju, sehingga Deva Siva berkenan memberikan berkah keabadian (mengatasi kenatian). Jika sudah kerudung noda dapat disingkap tidak akan ada yang ditakuti, terlebih kematian. Kita akan menyadari bahwa kematian tidak lebih seperti pertunjukan fenomena buah mentimun yang sudah matang terlepas dari tangkainya. Buah mentimun yang masih muda akan membutuhkan getah dari batangnya, akan tetapi jika sudah matang, maka getah tersebut tidak diperlukan lagi. Buah yang masih muda untuk bisa menjadi matang memerlukan proses, dalam berproses kekuatan adalah sandarannya agar mentimun terhindar dari ulat, serangga dan sejenisnya. Mahamrtyumjaya Matram adalah pelindung diri agar mentimun yang masih muda dapat berproses untuk dapat menjadi matang tentunya dalam balutan keabadiaan. Kematian ketika waktunya akan terjadi dan pasti, tetapi spirit yang mencerahkan akan selalu abadi. Olehnya mengucapkan Mahamrtyumjaya Matram, “Bhakta Siva Tidak Akan Pernah Binasa”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar