Penerbit PT Pustaka Manikgeni

Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765

Rabu, 24 April 2013

Menggali Lebih Dalam Upacara Nilapati

Laporan Putrawan

Untuk menyucikan para leluhur supaya dapat memotong upadrawa yang ditimbulkan oleh dosa-dosa selama hidup, maka perlu dilakukan upacara penyucian leluhur dengan upacara Penapuh Upadrawa. Inilah upacara Nilapati yang bermaksud untuk meruwat sosot upata para leluhur dan meningkatkan kesucian beliau. Demikian antara lain diungkapkan oleh Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Samyoga pada acara “Sarasehan Nilapati” yang diselenggarakan di Sekretariat Maha Gotra Pasek Sanak sapta Rsi (MGPSSR) Pusat, di Jalan Cekomaria 777 Denpasar Timur, pada Minggu, 3 Maret 2013.

Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Samyoga juga menyebutkan, upacara ngaben hingga memukur belum dapat mengantarkan para leluhur untuk mendapatkan tempat yang wajar di alam sana, karena itu masih diperlukan upacara Nilapati untuk menyucikan para leluhur yang masih ternoda yang diakibatkan oleh beberapa dosa besar selama hidupnya, di antaranya pernah menghukum orang tak bersalah atau membunuh orang sadhu darma. Selain itu, dosa yang disebabkan oleh tindakan menyuruh atau pernah disuruh merusak menciderai orang lain yang tak bersalah yang menyebabkan kematian orang lain. Pelaku perbuatan itu akan mencapai neraka dan keturunannya tertimpa sengsara. Juga dosa yang diakibatkan leluhur yang meninggal tak wajar, seperti salah pati dan ulah pati, dapat hukuman mati dan sebagainya yang menjadikan sang pitara tidak mendapat tempat yang benar.

Sarasehan yang diikuti ratusan peserta terdiri dari para Ida Pandita Mpu se Bali, Pemangku, Pinandita dan semeton Mahagotra lainnya juga menghadirkan dua pembicara lain, yaitu Ida Pandita Mpu Siwa Putra Parama Daksa Manuaba dan Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda. Sarasehan ini digelar sebagai rangkaian kegiatan dalam rangka menyongsong HUT 61 MGPSSR yang jatuh pada 17 April 2013 (yang akan dirayakan pada 21 April 2013, yang bertepatan dengan hari Minggu).

Ida Pandita Mpu Siwa Putra dalam kesempatan tersebut menyatakan, bahwa upacara Nilapati merupakan bagian dari upacara Pitra Yadnya, sehingga perlu dibahas lebih matang untuk dapat menjawab beberapa hal prinsipiil, seperti, apakah dasar rujukan sastra dari upacara Nilapati, bisakah upacara ini dipraktikkan untuk mencapai tujuan manusia, yaitu moksartham jagadhita ya ca iti dharma, kemudian muncul juga pertanyaan penting, apakah dengan upacara ini dosa para leluhur dapat dihapuskan, dan beberapa pertanyaan penting lainnya. Karena itu, upacara Nilapati sebagai wujud sujud bhakti para pratisentana kepada para leluhur, perlu mendapat perhatian lebih serius, sehingga ke depan menjadi lebih jelas dipahami oleh umat, khususnya warga Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi.

Istilah Upacara Nilapati merupakan hal yang baru dipopulerkan, wajar jika kemudian mengundang banyak pertanyaan dari masyarakat mengenai upacara ini. Ida Mpu Jaya Acharyananda dalam kesempatan tersebut menguraikan, bahwa dalam lontar Lebur Sangsa ditemukan istilah Nilapati, sementara dalam lontar Lebur Gangsa disebut dengan istilah Halapati. Tutur Lebur Gangsa versi lain menyebutnya dengan istilah ilapati. Walaupun memiliki istilah yang berbeda, namun jika dicermati secara seksama akan dijumpai substansi yang sama, yakni pamarisudha atau panyudhamala melalui Nawur Danda Kalepasan.

Dari sudut etimologi, Nilapati berasal dari kata Nila dan Pati. Nila artinya biru, hitam atau setiap zat atau bahan yang gelap kemudian secara semantik diartikan sebagai noda. Kemudian Pati berarti kematian, namun Pati juga dapat berarti raja, penguasa dan Tuhan. Berdasarkan arti leksikal di atas, Nilapati berarti kematian yang hitam, mati membawa noda atau dikuasai oleh noda/kegelapan sekaligus Tuhan yang telah ternoda. Dengan demikian secara maknawi dijumpai berbagai konsep tentang Nilapati, di antaranya (1) mati yang ternoda; (2) dikuasai oleh noda; (3) Tuhan yang ternoda.

Akibat dari noda itu menyebabkan hidup tidak selamat dan ketika meninggal sulit mencapai kelepasan. Selain itu adanya dasar keimanan akan kelahiran yang berulang-ulang (samsara) telah memberikan penguatan kelahiran sebagai manusia adalah menderita. Selain itu ajaran Samkhya dengan Panca Klesanya telah pula menjelaskan, bahwa kelahiran ini diliputi oleh klesa atau noda yang menyebabkan pati atau spirit Tuhan dalam personal ikut ternoda.

Dengan demikian, manusia wajib melepaskan diri dari noda. Noda atau klesa merupakan awal mula dari papa, sedangkan papa adalah awal mula dari dosa dan dosa menjadi awal mula dari neraka. Di dalam kakawin Ramayana dengan tegas dijelaskan, bahwa tujuan dari penjelmaan ini sebagai manusia adalah melenyapkan penderitaan yang bermula dari noda itu, “Ksayanikang papa nahan prayojana.” Bagaimana cara melenyapkan penderitaan itu, maka dalam Hindu ditawarkan berbagai solusi sesuai dengan teologi Saiva Siddhanta. Di antaranya melalui jalan Karma sebagaimana disebutkan dalam Sarasamuccaya sloka 4 yang menyatakan: “Apan ikang dadi wwang, utama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, makasadhanang subhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang ika.” Artinya, menjelma menjadi manusia itu sungguh-sungguh utama, sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik, demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

Selain melalui jalan Karma, noda kelahiran ini juga dapat dibersihkan melalui jnana atau ilmu pengetahuan absolut (para widya). Melalui pengetahuan sejati ini manusia diharapkan mampu membedakan mana yang absolut dan mana yang relatif (maya). Melalui pengetahuan manusia diharapkan memperoleh pencerahan (enlightenment) sehingga tidak terjebak dalam perangkap kuasa maya. Hal ini disebutkan dalam Bhagavadgita IV sloka 36: Api ced asi papebhyah, sarwebhyah papakritawah, sarwam jana plawenai’wa, wijinam samtarisyasi. Artinya, walau seadainya engkau paling berdosa, di antara manusia yang memikul dosa, dengan perahu ilmu pengetahuan ini, lautan dosa engkau seberangi.

Jadi upacara Nilapati merupakan jalan bhakti (Bhakti Marga). Dan seberapa besar pengaruhnya upacara Nilapati itu bagi penyucian leluhur tentu tidak dapat diukur secara kuantitas, mengingat upacara itu bukan kuantitasnya yang menjadi jaminan, melainkan kualitasnya.

Selain itu, meskipun lontar Lebur Sangsa dan Lebur Gangsa merekomendasikan suatu upacara Nilapati untuk menghapuskan dosa-dosa akibat kelahiran, maka juga dianjurkan pentingnya menjunjung moralitas yang baik untuk mencapai keselamatan. Di antaranya disebutkan: “Jika kamu mengharapkan kelahiran yang selamat, berbuatlah yang benar, dengan kebajikan lanjut sampai pada puncak pikiran yang suci. Hati yang sabar, penampilan dan tingkah laku mulia selalu menjadi pegangan. Jangan kamu bersikap tidak hati-hati. Utamakan segala perbuatan atau tingkah laku yang menyebabkan hidup menjadi selamat, karena akan mengalami kesulitan besar apabila dilandasi oleh suatu yang tidak baik. Selalu memiliki kecenderungan seperti keadaannya semula. Ibaratnya sebutir biji jawa yang dibelah menjadi seratus. Ditenggelamkan di tengah lautan, begitu sulitnya menjadi utuh kembali. Demikianlah dialami oleh orang yang berdosa, selalu menimbulkan kejahatan dilekati oleh dosa akibat kematian yang ternoda. Sulit untuk kembali menjadi bijaksana, jika tidak atas restu Tuhan untuk menjadi sempurna kembali.

Sesuai dengan pengantar yang disampaikan oleh Ida Pandita Jaya Acharyananda, bahwa dalam praktik beragama ada jalan Niwrthi (jalan ke dalam batin) dan jalan Prawrthi (melalui upaya eksternal). Upacara atau ritual adalah wujud praktik Prawrthi yang tentunya hal itu bersifat pilihan, yaitu umat Hindu di dalam meningkatkan kualitas rohaninya dapat menempuh jalan Niwrthi maupun Prawrthi. Demikian juga sifat Niwrthi dan Prawrthi ini difasilitasi lewat empat jalan (Catur Marga). Dengan demikian upacara bukanlah sebuah kemutlakan di dalam menapaki spiritual.

Pandita menjelaskan, agama di zaman modern lebih menekankan filsafat, misalnya muncul keyakinan yang mengatakan, bahwa yang lebih penting adalah kualitas pikiran yang luhur, sehingga tidak usah ada ritual. Bahkan Pada zaman post modern sekat antaragama menjadi tidak jelas, karena nilai-nilai universal lebih dipentingkan daripada identitas kelompok. Dengan demikian, boleh-boleh saja melaksanakan upacara Nilapati tentunya dengan harapan praktik tersebut dapat secara signifikan mendorong terwujudnya moralitas luhur di kalangan masyarakat pengusung upacara itu. Dan tak kalah pentingnya, bahwa upacara apa pun haruslah berdasarkan tulus ikhlas lascaraya (bhakti) yang dilandasi logika, artinya berupacaralah sesuai kemampuan, sehingga tidak ada acara baris berbaris atas nama upacara, yaitu “adep kiri” dan “adep kanan” yang mana praktik seperti ini hanyalah akan mendatangkan kesengsaraan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar