Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 24 April 2013

Dialog Arjuna dengan Sukma tentang Kemurungan

Luh Made Sutarmi

Mereka yang mempersembahkan semua kerja kepada Brahman, berbuat tanpa motif keinginan apa-apa, tak terjamah oleh dosa papa, laksana daun teratai dalam air. Tuhan yang maha mulia tak pernah bisa diadaptasikan untuk kita miliki, namun cinta sejati patut engkau korbankan untuk maksud yang damai, itulah jiwa ini. Jiwa yang selalu rindu, berbisik dalam keindahan sukma, yang dalam.

Arjuna ketika membayangkan Subadra menggeliat dalam renungan tengah malam. Kerinduan seakan sulit ditampik untuk mengatakan bahwa Subadra yang selama ini berstana dalam hatinya yang paling dalam sulit dilupakan. Di sinilah Arjuna menemukan makna cinta, jika manusia menemukan, bahwa satu prinsip ketuhanan dalam semua aktivitas manusia. Konsep itu seperti, aliran arus listrik pada bola lampu, kipas angin, kompor listrik dan mesin yang digerakkan oleh daya listrik itu, lalu agama dunia ini seperti itu adannya. Penghormatan terhadap kehadiran sesuatu yang menggerakkan yang tidak terlihat, itu adalah prinsip ketuhanan yang tetap ada, dan akan tumbuh pada setiap hati sebagai taman kasih. Kasih yang murni dapat keluar hanya dari hati yang terbenam dalam kedamaian.

Dalam kerinduan itu, Arjuna bermeditasi dan dia bertemu dengan sukma hatinya yang terdalam, di sana terjadi dialog yang panjang. Arjuna berkata, “Saya lagi murung, dan tolong saya, saya lama belum bertemu dengan kekasih hamba, Subadra. Apa penyebab kemurungan ini?” Suksma hatinya menjawab, “Penyebabnya ialah ketidaktahuan. Karena ketidaktahuan ia menyamakan diri dengan tubuh, dan karena menyamakan diri dengan tubuh, ia menjadi bingung dan bimbang, ia kehilangan tekad dan keberanian, dan tidak mampu menyelesaikan apa-apa, termasuk berpisah hanya untuk menjalankan tugas sebagai seorang ksatria, belum dapat engkau lakukan Arjuna.”

“Kadang sifat pengecutku muncul, dan aku sering berprilaku cengeng.” Suksma berkata kepada Arjuna, "Selama sifat pengecut ada pada dirimu, tugas sekecil apa pun tidak akan dapat kau selesaikan. Engkau akan tetap dibayangi kesedihan. Tahukah engkau apa yang menyebabkan kesedihan ini? Tidak lain ialah keterikatanmu; engkau dimabukkan oleh rasa ini milikku, dan itu bukan milikmu. Sikap memiliki ini bersumber dari ketidaktahuan. Keterikatan dan ketergila-gilaan ini akan selalu membuat engkau bimbang dan menjebloskan engkau ke jurang kesedihan. Itulah sebenarnya musuh-musuh yang harus engkau taklukkan, musuh-musuh dalam dirimu sendiri. Arjuna! Selama engkau diliputi oleh sikap memiliki ini, hanya memikirkan dirimu sendiri, keluargamu, bangsamu, dan harta bendamu, cepat atau lambat pasti engkau akan terlempar ke lembah kesedihan. Engkau harus beralih dari sikap aku dan punyaku ke tingkat yang lebih tinggi dengan senantiasa berpegang pada sikap kita dan punya kita. Dari sikap mementingkan diri sendiri engkau harus berangsur-angsur maju ke sifat tanpa pamrih, dari keterikatan menuju.”

“Ya, kau terbelenggu dalam kisah duniawi dan nafsu memiliki membuat dirimu selalu berada dalam kungkungan yang sangat menakutkan, membuat kamu sedih. Ketahuilah Bila seseorang diliputi kesedihan yang mendalam dan menderita kekaburan batin, apa yang harus dilakukan untuk melepaskannya dari belenggu khayalan? Misalnya bila seseorang tenggelam di sungai, engkau harus mengangkatnya lebih dulu, membawanya ke pinggir, dan memberikan pernapasan buatan; kemudian engkau dapat mulai memberikan perawatan berikutnya untuk mengembalikan sirkulasi darah dan membantu memulihkan keadaannya. Tentunya engkau tidak akan mulai memberikan berbagai perawatan selama ia masih berada di dalam air, tenggelam.”

“Ya, jiwaku terperangkap dalam cinta keterikatan, menikmati keindahan kehidupan.” Sukma berkata, “Keindahan adalah kehidupan itu sendiri saat ia membuka tabir penutup wajahnya. Dan kalian adalah kehidupannya itu, kalianlah cadar itu. Keindahan adalah keabadian yag termangu di depan cermin. Dan kalian adalah keabadian itu, kalianlah cermin itu. Arjuna! Sadarilah, bahwa penderitaan yang menyakitkan adalah koyaknya kulit pembungkus kesedaran- seperti pecahnya kulit buah supaya intinya terbuka merekah bagi sinar matahari yang tercurah. Kalian memiliki takdir kepastian untuk merasakan penderitaan dan kepedihan. Jika hati kalian masih tergetar oleh rasa takjub menyaksikan keajaiban yang terjadi dalam kehidupan, maka pedihnya penderitaan tidak kalah menakjubkan daripada kesenangan. Banyak di antara yang kalian menderita adalah pilihan kalian sendiri - obat pahit kehidupan agar manusia sembuh dari luka hati dan penyakit jiwa. Percayalah tabib kehidupan dan teguk habis ramuan pahit itu dengan tanpa bicara.”

Arjuna tetap bertahan dalam meditasinya, dialog itu terus berjalan seiring pergerakan malam. Lalu, Arjuna dengan sadar mengucapkan sebuah senandung mantra, "Tvameva maataa cha pitaa tvameva, Tvameva bandhuscha sakhaa tvameva, Tvameva vidyaa dravinam tvamev, Tvameva sarvam mama devadeva" ('Engkau ibuku, Engkau Ayahku, Engkau kerabat yang terdekat, Engkau kawanku terdekat, Engkau kebijaksanaanku, Engkau hartaku, Engkau segala-galanya bagiku, Engkau Tuhanku, Tuhanku satu-satunya), maka hidupnya diatur oleh Tuhan, dan dia berdiri menjadi instrument Tuhan. Di sana ada kerinduan dan kasih Arjuna pada yang Maha kasih, Tuhan yang Maha Pemurah, yang juga berstana dalam hati yang paling dalam dari Subadra.
Om Gam ganapataye namaha****

1 komentar:

  1. Om swastyastu
    ijin sherr link www.puniatrimurti.or.id

    BalasHapus