Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 24 April 2013

Melukat Tidak Memberi Pahala Rohani Seketika

I Wayan Miasa

Masyarakat di seluruh muka bumi ini memang memiliki berbagai simbol-simbol kepercayaan yang beranekawarna, namun makna yang disampaikan antara kepercayaan masyarakat suatu wilayah dengan wilayah lainnya memiliki pesan yang sama. Mereka secara penampilan luar nampak berbeda, tetapi sesungguhnya mereka itu menjalankan ritual yang hampir mirip antara yang satu dengan yang lainnya. Misalnya saja dalam hal upacara “malukat” di Bali. Upacara penyucian air ini ada berbagai belahan bumi, hanya saja kegiatan tersebut dibedakan atas dasar bahasa. Orang Inggris menterjemahkan ritual “malukat” itu dengan sebutan “cleansing ceremony” atau “purifying ceremony”, sedangkan orang Jerman menyebut upacara penyucian itu dengan istilah “Einweihungszeremonie”.

Berhubungan dengan upacara-upacara atau ritual penyucian ini, ada berbagai pendapat yang sedang berkembang di lingkungan masyarakat dunia, misalnya ada yang melakukan upacara penyucian lewat mandi ke tempat-tempat yang air dan sungainya dianggap suci. Di lain pihak ada yang melakukan ritual penyucian lewat pelaksanaan “penyucian lewat upacara api suci”, seperti upacara homa atau agni hotra. Bahkan ada juga pernyataan yang menyatakan bahwa penyucian dilakukan berdasarkan jenis hal yang disucikan, misalnya badan disucikan dengan air, pikiran memakai sarana penyucian yang lain lagi, dan seterusnya.

Berdasarkan realita yang berkembang di masyarakat kita ada berbagai kecenderungan yang berkembang dalam melaksanakan ritual penyucian ini. Masyarakat yang kehidupan ekonominya sudah meningkat memaknai upacara penyucian tersebut dengan melaksanakan ritual penyucian lewat mendatangi tempat-tempat yang disiratkan dalam buku-buku suci agama tersebut, seperti sungai Gangga, Yamuna dan lain sebagainya. Sedangkan untuk di daerah Bali tempat-tempat yang sering dituju adalah Tampak Siring, pantai-pantai yang dianggap suci di lingkungan Bali.

Masyarakat religius yang pikirannya sudah didoktrin untuk hanya percaya kepada suatu otoritas akan jarang mau memaknai pesan-pesan yang terkandung di dalam sebuah ritual. Mereka jarang mau mengolah pesan yang tersirat di balik suatu kegiatan ritual tersebut. Bahkan mereka jarang mau berlogika lebih lanjut. Ada suatu contoh pada masyarakat kita, misalnya ada pernyataan bahwa dengan mandi di Sungai Gangga orang tersebut akan masuk sorga. Kalau kita hubungkan dengan kehidupan nyata kita, berarti makhluk-makhluk yang ada di sungai Ganggalah yang akan pertama mendapatkan sorga atau pembebasan. Karena mereka tiap hari berada di sungai suci itu, seperti kakul, yuyu, dan ikan-ikan lainnya. Mereka tersebut hampir tiap hari berada di dalam sungai Gangga. Segampang itukah kita mendapatkan pembebasan atau sorga?

Kita sering berpikir instan “prejani” dalam beberapa hal. Kita jarang mau memaknai suatu proses dan memahami pesan-pesan yang tersirat di balik suatu ajaran. Kita didoktrin berpikir menurut aslinya atau “as it is”. Kita bisa belajar dari usaha raja Bhagirat dalam menurunkan Gangga ke bumi ini. Beliau bisa mendatangkan Ibu Gangga ke Bumi ini lewat suatu usaha yang keras dengan berbagai tapa bratanya sampai Shree Vishnu berkenan mengutus Ibu Gangga turun ke bumi untuk memenuhi permohonan seorang Raja Bhagirat yang telah melakukan perjuangan yang berat. Dan sebagai hasil dari pertapaan yang berat itulah ada pembebasan.

Bila kita hubungkan dengan kenyataan kehidupan masyarakat kita sekarang ini dimana mereka percaya bahwa dengan melakukan perjalanan suci ke tempat-tempat suci mereka akan tersucikan, maka itu artinya hanya orang yang mampu melakukan hal tersebut saja akan tersucikan dan orang-orang yang kurang mampu tidak akan pernah disucikan. Pola pikir seperti ini akan cenderung membuat masyarakat kita “membeli” kesucian. Misalnya orang yang berkecukupan akan bisa berkali-kali melakukan perjalanan penyucian baik di daerah Bali, luar Bali bahkan sampai ke India. Lantas apakah orang kurang mampu tidak tersucikan karena tidak pernah “malukat” atau melaksanakan kegiatan penyucian?

Kita bisa belajar dari kehidupan kerbau yang berkubang di lumpur, walaupun dia itu dimandikan dengan sabun berkelas dunia sekalipun, sang kerbau tetap akan berkubang di lumpur yang bau tersebut. Kita tidak bisa berharap bahwa dengan memandikan sang kerbau sekali lantas dia menjadi suci atau bersih. Kita perlu ada usaha untuk mengubah kebiasaan sang kerbau agar tidak lagi berkubang ke lumpur setelah mendapatkan sabun bertaraf internasional. Begitu juga dengan kegiatan ritual penyucian tersebut. Kita jangan berharap bahwa hanya dengan mandi sekali di tempat yang suci, entah itu sungai Gangga, Yamuna, Radha Kunda, dan di tempat suci lainnya, kita berharap kita langsung suci. Ritual penyucian baru merupakan tahap awal memulai suatu usaha memperbaiki diri menuju ke hal-hal suci, bagaikan kita memanaskan besi di api. Jangan harap kita bisa mendapatkan pisau yang bagus dari membakar besi di api itu. Kita perlu tempa besi panas tersebut, mengolahnya dan membentuknya sesuai dengan pisau yang kita inginkan. Kalau kita hanya memanaskan besi tersebut dalam api tanpa mau mengolahnya untuk menjadi pisau, itu sama saja artinya kita membuang-buang energi dan waktu.

Kita juga perlu bercermin dari kehidupan bunga lotus atau bungan padma, dimana bunga tersebut memang dari sejak awal tumbuhnya sudah harum, tanpa harus ditanam di air yang harum pun bunganya akan terus harus dan terbebas dari bau busuk. Perhatikan saja bunga lotus di lingkungan kita, walau bagaimanapun kotornya air tersebut bungan lotus tetap menyebarkan bau harum, begitu pula daun-daunnya tidak akan basah bila terkena air. Jika kita mau menyucikan pikiran, badan atau raga kita, kita tidak usah bepergian jauh-jauh untuk mencari air penyucian, tapi galilah potensi kesucian yang ada pada lingkungan di sekitar kita. Begitu juga kita perlu memahami diri kita seperti bunga lotus.

Ritual penyucian apa pun itu bentuknya, selama orang yang melaksanakan penyucian tersebut tidak menyertai upacara tersebut dengan usaha merubah diri menuju ke arah kebajikan, maka upacara penyucian, entah itu agni hotra, penglukatan, mabayuh, serta kegiatan penyucian lainnya akan hanya menjadi suatu kegiatan rutin atau rutinitas saja. Bila ritual semacam ini tidak disertai dengan memberi pemahaman yang benar kepada warga masyarakat maka akan timbul pendapat bahwa semua akan bisa disucikan dalam sekejap dan hal tersebut akan berefek pada komersialisasi suatu penyucian. Maka bukan tidak mungkin suatu saat akan ada event organizer yang menawarkan penyucian prejani, menjadi orang suci prejani serta hal-hal yang prejani lainnya.

Oleh karena kita perlu memberikan pengertian yang menyeluruh kepada warga kita tentang makna yang terkandung di balik suatu mitos, ajaran-ajaran spiritual lainnya agar mereka tidak terjebak dalam tatanan rutinitas dan kita berharap nantinya agar warga kita tidak tersesat dalam perjalanan selanjutnya. Kita perlu mengingatkan mereka bahwa upacara penyucian apapun itu, entah berupa upacara penyucian dengan kembang bunga 7 jenis, 9 jenis, 11 jenis atau 33 jenis tidak akan bisa menjadikan kita suci dalam sekejap. Ritual tersebut baru merupakan tahap awal menuju jalan kebenaran atau kesucian.

Apa pun bentuk upacara penyucian tersebut entah mandi dengan berbagai jenis kembang, airnya diambil dari 108 sumber mata air, memakai berbagai jenis api suci, penyucian dipimpin oleh pemimpin keagamaan berkwalitas internasional dan lain sebagainya, namun bila yang melaksanakan penyucian tersebut tidak ada usaha untuk menyucikan diri, pikiran, perkataan, perbuatan maka ritual-ritual penyucian tersebut akan hanya suatu kegiatan religius yang datang dan pergi sesuai dengan trend masyarakat pendukungnya.

Masyarakat kita yang sudah tercekoki pikiran untuk menjadi orang suci dengan tujuan akhir hidupnya mencapai sorga, pembebasan, bisa bersatu dengan Tuhan, maka masyarakat dengan pola pikir seperti ini perlu diberi pengertian yang lebih logis dalam berspiritual ataupun dalam kehidupan beragama. Cobalah perhatikan secara seksama pesan moral yang disampaikan dalam sejarah perkembangan keberadaan suatu agama, di mana masing-masing agama memiliki ajaran yang banyak ditentukan oleh desa, kala, patra saat itu. Misalnya saja sebelum sungai Gangga diturunkan ke bumi, maka upacara penyucian yang dilakukan mungkin lewat ritual api suci. Setelah sungai Gangga turun ke bumi berkembanglah upacara penyucian lewat mandi di sungai-sungai suci. Dan ritual penyucian ini akan terus berubah sesuai dengan keadaan suatu wilayah karena kegiatan seperti akan berkembang sesuai dengan peradaban masyarakatnya.

Apa pun bentuk penyucian tersebut entah lewat upacara Mahakumbamela, panglukatan, pabersihan, Agni hotra dan yang lainnya akan memiliki manfaat yang sangat besar bila kita mampu merubah kebiasaan kita yang kurang baik menuju lebih ke perubahan karakater yang lebih baik. Begitu juga sebaliknya bila kita menganggap acara penyucian tersebut akan menjadikan kita otomatis suci tanpa diikuti perubahan mentalitas dan karakter yang lebih baik, maka kita sesungguhnya adalah korban dari ritual penyucian tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar