Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 24 April 2013

MELUKAT DAN MAHAKUMBHAMELA

Gede Agus Budi Adnyana

Perdebatan mulai memanas antara dua kubu, yang pertama mengagungkan Mahakumbhamela sebagai sebuah ritual penyucian diri (prayascitta), dan di pihak lain ada yang anti dengan hal tersebut. Kelompok yang anti tentu saja bukan berarti mereka tidak mengerti akan hakikat Mahakumbhamela, namun hanya sedikit kurang setuju saja. Jika Kumbhamela yang notabena dilakukan di tepian Gangga (tepatnya di Trivedhi, setelah dijajah Islam berubah nama menjadi Allahabad) harus diikuti oleh sebagian besar umat Hindu, termasuk Hindu Bali. Sebab tidak dipungkiri, beberapa oknum yang pernah melakukan upacara itu, kemudian menyatakan dengan bangga bahwa mandi di sungai Gangga adalah penyucian diri kelas utama dibandingkan dengan melukat di pura-pura atau di mata air di Bali.

Kontan saja, beberapa penganut Hindu Bali yang berjalan dalam dasar geguat Bali menjadi sedikit resah dengan ungkapan itu. Tetapi penulis sendiri melihat hal tersebut bukan dalam oposisi biner, melainkan berada dalam cara pandang yang sama rata, yakni di tengah-tengah. Kita perlu memahami hakikat Mahakumbhamela, namun dengan tata cara religi yang sesuai dengan desadresta, kuladresta, purwadresta, dan simadresta, yang berlaku di masing-masing tempat, di mana agama Hindu itu ada. Tidak mungkin bagi umat Hindu Bali datang berbondong-bondong ke Prayag untuk melakukan Kumbhamela. Demikian juga sebaliknya, umat Hindu India, tidak mungkin diwajibkan datang melukat ke Tampak Siring, sebuah tempat yang diyakini Bhatara Indra mengeluarkan tirtha pamarisuddha. Namun, jika umat mampu melakukannya, itu hal yang berbeda konteks kembali.

Permasalahannya adalah, seringkali kita tidak memahami hakikat upacara dengan situasi dan kondisi dimana kita berada. Kita memang perlu tahu, bahkan harus tahu bagaimana Kumbhamela tersebut. Namun bukan berarti kita harus ikut dan wajib untuk hal tersebut. Inilah yang dimaksudkan dengan berpikir global namun beragama komunal secara lokal. Mahakumbhamela diartikan dengan banyak difinisi. Ada yang menyebutnya sebagai ritual bagi para Yogi untuk turun dari pertapaan mereka melakukan penyucian diri, ada yang menyatakan bahwa upacara ini dilakukan untuk memperingati peristiwa besar yang pernah terjadi di jaman Satya.

Latar belakang mengapa para yogi itu melakukan ritual ini 12 tahun sekali, didasari atas perhitungan astronomi yang sangat rumit. Diyakini perhitungan ini tepat ketika para Dewa melakukan perang tanding dengan Raksasa ketika tirtha amrta berhasil didapatkan. Kisahnya ketika Samudra Manthana dilebur oleh golongan Dewa dan Raksasa untuk menemukan Laksmi (kehidupan). Maka dipergunakanlah Gunung Mandara sebagai tongkat pengocoknya dan Hyang Wasuki sebagai talinya. Kemudian benda-benda mengagumkan mulai keluar, seperti pohon parijata, racun Hala-hala, Cakrasudarsana, Widyadara, Kuda Aucisrawa, Gajah purba Airavata, permata Kaustabamani, dan terakhir muncullah Sang Hyang Dhanvantari (dokternya para Dewa) membawa kendi Amrta. Para raksasa kemudian mengambil kendi tersebut, dan paniklah para Dewa.

Untuk hal itu, Sang Hyang Vishnu kemudian menjelma menjadi Dewi Mohini dan menggoda raksasa sehingga kendi Amrta itu dapat diambil kembali. Setelah mengetahui bahwa Mohini merupakan penjelmaan Sang Hyang Narayana, maka murkalah para raksasa dan mengejar Sang Hyang Vishnu. Kejar-kejaran terjadi, para Dewa kemudian membantu Sang Hyang Hari dan ketika proses kejar-kejaran itu terjadi, meneteslah tirtha Amrta di empat tempat, salah satunya di Allahabad (Trivedhi). Jadi tempat di Gangga itu adalah suci, sebab tirtha amrta sudah menetes di sana. Maka untuk memperingati hal tersebut, dilakukan sebuah ritual.

Para Yogi sangat yakin, bahwa jika melakukan prayascitta di waktu yang sama dengan waktu dimana tirtha amrta menetes, maka badan jasmani dan rohani (sukma sarira) kita disucikan. Manusia memiliki tiga badan, pertama adalah badan kasar (Anggasarira) kemudian badan halus (Sukmasarira) dan yang terakhir adalah badan inti (Jiwa/Antakaranasarira). Melakukan prayascitta menyucikan badan kasar dan badan halus yang masih dapat dilekati oleh karma. Hal serupa juga terjadi para prosesi melukat ala Hindu Bali.

Sungai Gangga memang sudah terbukti secara ilmiah tidak mengandung kuman dan bakteri. Kemudian ditambah lagi, dalam kitab suci, baik Sruti dan Smrti semuanya menyatakan Gangga adalah suci. Jadi adalah tepat bagi umat Hindu memuja Gangga. Demikian juga di Bali. Pura Tirtha Empul, adalah pura luhur yang memiliki narasi panjang yang hampir setara dengan Purana yang lain. Sang Hyang Indra (Raja para Dewa), dengan siddha Beliau yang maha pengasih, menciptakan kelebutan tirtha suci untuk melakukan prayascitta. Secara ilmiah juga sudah terbukti, air suci di Tirtha Empul, memiliki kristal-kristal air seperti bunga padma. Jadi melakukan prayascitta dimanapun, tidak masalah. Asalkan didasari atas keyakinan dan ketulusan hati.

Bukan berarti kita harus anti terhadap Kumbhamela. Tidak demikian. Sebab bagaimanapun juga agama Hindu dimanapun, tidak akan pernah lepas dari India (Bharatvarsa). Bahkan pagi-pagi sekali para sulinggih kita di Bali sudah ke India dengan mahamantra puja sapta Gangga beliau. Bahkan ada juga mantra seperti: Om Gangga Yamuna Caiwa, Godavari Sarswati, Narmada, Sindhu, Kaveri, Jalasmin sanidhim kuru…

Semua sungai suci itu ada di India. Sekarang jika kita memang anti pati terhadap India, tidak mungkin untuk merubah mantra menjadi: Om Tukad Unda, Tukad Badung, Tukad Yeh langit, Tukad pakerisan..”. tidak mungkin puja pandita berubah demikian, pastilah merujuk sungai suci Gangga. Kekuatan beliau ditarik dan dimohonkan oleh sulinggih kita di Bali. Bahkan ini sebuah bukti bahwa sulinggih kita di Bali, sangat piawai menarik kekuatan Ibu Gangga agar menyeberang dari India dan hadir di dalam kamandalu dimana sulinggih itu melakukan puja stava. Jadi berhenti melakukan justifikasi bahwa melakukan penglukatan di Bali tidak sama dengan di India.

Kita sekarang berpikir Hindu sebagai agama yang fleksibel. Mungkin bagi pembaca yang budiman, yang kaya raya, banyak duit, tidak masalah untuk ke India. Lalu bagaimana dengan saudara kita yang miskin, bahkan saking miskinnya rumah saja harus berdinding bedeg. Dari mana mereka mendapatkan uang untuk beli tiket pesawat dan biaya akomodasi lainnya untuk terbang ke India. Alangkah bijaknya, jika pembaca yang budiman yang kaya raya, memberikan sedikit derma kepada saudara kita yang kurang mampu. Sebab hal itu, juga merupakan prayascitta, ngelukat semua kekotoran dan tindakan buruk yang pernah kita lakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar