Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 19 Maret 2013

Perang Idiologi di Balik Hegemoni Mayoritas

I Ketut Sandika

Indonesia adalah sebuah negeri yang terdiri dari beragam suku, ras, corak kebudayaan, agama dan yang lainnya. Kebhinekaan tersebut terbingkai dalam satu wadah, yakni Pancasila sebagai ideologi bangsa. Keragaman kultur dan keyakinan merupakan sesuatu yang indah, jika dimaknai dengan cara yang benar. Sama halnya seperti lukisan yang terdiri dari bermacam warna, dan menjadi satu kesatuan, sehingga memunculkan nilai estetik. Demikian juga tangga nada ritme musik yang beragam, dimainkan akan terdengar ritme merdu yang menggetarkan hati. Akan tetapi, akhir-akhir ini keberagaman yang memunculkan keindahan terusik oleh domain penyeragamanisme, yakni sebuah domain yang ingin memaksakan keberagaman tersebut menjadi satu budaya, keyakinan dan sejenisnya, yang secara logika dan nalar teramat sangat jauh dari kebenaran itu sendiri. Domain yang demikian sesungguhnya adalah musuh bagi manusia, para deva dan avatara. Sesungguhnya penyeragamanisme yang dilakukan oleh kelompok mayoritas agama tertentu adalah bentuk kekerasan terhadap aturan alam (rtam). Aturan yang sedianya kita semua tunduk dilawan, alhasil alam atas kuasanya akan memantulkan kembali kekerasan itu melalui penghancuran.

Bentuk penyeragamanisme adalah bentuk resistensi dari kelompok agama mayoritas yang berkehendak memunculkan idiologi agama sebagai pengganti idiologi Pancasila. Resisitensi mengejawantah dalam bentuk hegemoni kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas, dan hal itu sangat kentara sekali menggerogoti negeri ini. Kelompok yang mayoritas dengan semaunya melakukan beragam upaya untuk menekan yang minoritas. Berbagai bentuk konspirasi dilakukan untuk menekan dan memusnahkan kelompok minoritas dan hukum tidak kuasa untuk mengeliminir, bagaikan macan ompong yang tertidur dalam liang goa kemunafikan. Terlebih kelompok kaum puritan agama mayoritas yang merasa superior dengan dalih dogma agama membenarkan tindakan kekerasan, penghancuran dan pembunuhan. Sebab menurut mereka, jika melakukan penghancuran terhadap kafiranisme konsekuensinya adalah pahala yang besar untuk dapat masuk sorga. Olehnya, mereka tidak akan berhenti menebar ancaman yang serius bagi negeri ini yang berimplikasi pada munculnya beragam konflik yang berbau sara dan penistaan terhadap agama minoritas diberbagai daerah.

Masih segar dalam ingatan, konflik sara yang menimpa umat Hindu etnis Bali di Napal, Lampung Selatan beberapa bulan lalu. Konflik yang bermula dari hal yang boleh dikatakan sepele berubah menjadi amuk masal yang merugikan kedua belah pihak. Tragedi yang persis sama juga menimpa umat Hindu etnis Bali yang berada di Balinuraga Lampung Selatan, sehingga beberapa umat Hindu di sana meregang nyawa. Khusus di Balinuraga, meletusnya konflik berawal dari adanya hembusan isu yang bermuatan provokasi, yakni pelecehan seksual yang pelakukanya adalah pemuda dari Balinuraga etnis Hindu Bali. Sebenarnya isu tersebut adalah tidak benar, yang sebenarnya terjadi justru pemuda etnis Hindu Bali bermaksud menolong dua gadis remaja yang mengalami kecelakaan. Akan tetapi, masyarakat yang non etnis Bali termakan isu provokatif, sehingga eskalasi masa yang besar menyerang dan melakukan pengerusakan terhadap pemukiman etnis Hindu Bali di Balinuraga. Berikutnya, kejadian yang persis sama terjadi di Sumbawa dengan kasus yang hampir sama, yakni lagi-lagi isu pelecehan seksual. Diduga seorang polisi etnis Hindu Bali diisukan melakukan pelecehan seksual sekaligus pembunuhan terhadap seorang wanita. Dimana sesugguhnya kematian itu terjadi akibat kecelakaan yang menimpa oknum polisi tersebut saat mereka berboncengan dengan sepeda motor. Menyimak dari kronologis kejadian itu, memang isu seksualitas adalah isu seksi dihembuskan oleh kelompok tertentu untuk memantik konflik.

Menyimak deretan konflik tersebut, sangat jelas dapat disimak bagaimana hegemoni kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas yang diwakili oleh etnis Hindu Bali. Konflik tersebut tidak saja murni sebuah konflik yang muncul dari masalah kecil, akan tetapi sebuah perhelatan akbar perang idiologi agama, dimana hegemoni agama mayoritas. Tidak menampik kemungkinan, bahwasannya konflik itu berlatar belakang dari berkembangnya paham radikalis yang menyatakan anti dan perang dengan kelompok kafir, dan perang ini bukan tidak mungkin lagi adalah sebuah wujud dari pemaksaan sebuah ideologi agama mayoritas untuk menggantikan idiologi Pancasila. Dengan kata lain, kelompok tertentu menginginkan Negara Kesatuan Indonesaia untuk menjadi Negara berdasarkan ideology agama tertentu. Tapi negara berdasarkan ideologi satu agama tertentu tidak akan dapat terwujud, jika kebhinekaan di Nusantara masih menjadi sandaran. Tidak ada maksud penulis untuk melakukan propaganda agama, atau berspekulasi semata, akan tetapi didasarkan pada realita konflik yang belakangan ini terjadi.

Dapat dilihat bagaimana wajah pemukiman Balinuraga dan Sumbawa ketika terjadi amuk masa. Agama mayoritas dengan leluasa merusak dan menghancurkan tempat suci Hindu, melakukan pengerusakkan dan penjarahan. Konflik tersebut, tidak hanya konflik biasa, akan tetapi adalah sebuah bentuk penghancuran idiologi agama sekaligus penistaan terhadap agama minoritas, khususnya Hindu. Dengan berseru nama Tuhan maha besar dan meneriaki kafir mereka dengan kejam melakukan penghancuran dengan rasa yang tidak berdosa, dan seolah-olah Tuhan mengamini. Perang idiologi ini adalah bentuk metamorfosa dari perang idiologi sebelumnya yang ketika itu dialami Majapahit. Majapahit adalah satu-satunya kerajaan Hindu terbesar di Nusantara mengalami kehancurannya akibat intrik politik berlatarbelakang ideology keagamaan. Yang sudah tentu etnis Bali dengan Hindunya akan menjadi sasaran selanjutnya untuk penghancuran, terlebih Bali yang mayorits Hindu diketehui sebagai benteng pembertahanan Hindu.

Oleh sebab itu, hendaknya menjadi sebuah renungan bagi masyarakat Hindu, lembaga keumatan, pemerintah terkait dan para pemimpin di negeri ini, untuk mencarikan sebuah solusi logis agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali. Munculnya berbagai konflik di negeri ini, menandakan bahwa sikap fanatisme terhadap dogma agama tertentu kian ekstrim. Pemahaman yang salah terhadap konsep agama sangat berpengaruh terhadap kehidupan beragama. Sikap yang apologis, menganggap orang lain yang tidak seiman dengannya sebagai orang kafir yang menurut mereka adalah agama setan. Hal seperti ini tentulah merupakan pandangan yang tidak benar, karena itu perlu diluruskan kembali. Orang yang demikian dalam Hindu, dinyatakan sebagai orang yang memiliki ketumpulan budhi. Budhi ditutupi oleh indria, dan daya diskrminatif (Viveka) mereka pada akhirnya lebur menjadi sifat narsisme massal. Olehnya, masalah dengan frekuensi kecil berubah jadi amuk massa yang hebat. Mengakarnya pola hidup yang demikian dalam setiap individu yang menghuni negeri ini, akan membawa pada tatanan masyarakat yang berkecendrungan anarkis dan berdampak pada hancurnya sebuah tatanan sosial kemasyarakatan. Akan tetapi Hindu memiliki sebuah keyakinan bahwa kebenaran akan selalu menang bukan kejahatan, Satyam Eva Jayate Nanrtam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar