Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 18 Desember 2012

Pemujaan Dewa Kuvera untuk Kesejahteraan


Umat Hindu di Nusantara dikenal sebagai pemuja Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa. Namun mereka mungkin akan sedikit kaget bila mereka mendengar tentang pemujaan terhadap dewa lainnya. Hal ini sedikit berbeda dengan masyarakat Hindu di India, di mana masyarakatnya melakukan pemujaan terhadap dewa-dewa sesuai dengan kepentingan dan situasi, kondisi dan keadaan wilayah tersebut. Jatuh bangunnya pemujaan terhadap dewa tertentu dijelaskan dalam buku-buku Purana, misalnya pemujaan terhadap Dewa Kuwera (Kuvera).

Di dalam Atharwa Weda disebutkan, Dewa Kuwera pertama kali muncul sebagai pemimpin dari roh-roh jahat, kegelapan. Brahmana Shatapatha menyebut Kuwera sebagai pimpinan dari para pencuri dan penjahat. Di dalam cerita Mahabharata dijelaskan bahwa Kuwera lahir dari seekor sapi. Pada jaman tersebut Kuwera masih dianggap sebagai assura. Baru kemudian di buku Manusmerti, dia mendapat posisi yang dihormati sebagai pelindung dunia atau Loka-pala.

Menurut beberapa Purana, seperti Gautama Dharmasastra dan Apastamba, bahwa pada awalnya Kuwera adalah seorang manusia. Setelah beberapa waktu akhirnya Kuwera mencapai status kedewataan, dengan sebutan “dewa Kekayaan” dan dewa paling sejahtera. Kemudian Kuwera mendapatkan berbagai julukan, seperti Loka-pala atau pelindung dunia, penjaga arah utara atau Dik-pala, namun juga kadang-kadang dianggap penguasa arah mata angin di timur, seperti yang disebutkan dalam cerita Ramayana. Begitu juga tentang kedudukan Kuwera sebagai dewa baru disebutkan dalam buku Grihyasutra.

Menurut cerita, Kuwera merupakan saudara tiri dari Rahwana, Kumbhakarna dan Wibisana. Dia menjadi penguasa di daerah Alanka dengan istana yang indah serta kegemerlapan. Hal ini membuat Rahwana iri. Untuk mengalahkan Kuwera, Rahwana melakukan pemujaan terhadap Dewa Siwa untuk memohon kekuatan, agar bisa mengalahkan Kuwera. Setelah melakukan pemujaan dan pertapaan yang sulit, akhirnya Rahwana mendapatkan kekuatan untuk menandingi Kuwera dan Rahwana akhirnya bisa mengalahkan Kuwera. Atas kekalahan ini, maka kerajaan dan kendaraan Kuwera, Puspaka Wimana diambil oleh Rahwana.

Kemudian Kuwera meninggalkan Alanka dan mendirikan kerajaannya di Alaka di lembah Himalaya dengan suasana yang sejuk, menawan serta memiliki udara segar dengan bau wangi. Di lembah Mahameru ini Kuwera didamping para gadis-gadis menawan, cantik dan hidup penuh dengan kemewahan dan disana dia dipuja oleh para “sida”.

Seperti disebutkan di atas, bahwa Kuwera memang telah dikalahkan oleh Rahwana, namun dia tetap dipuja sebagai penguasa dari kekayaan material, dan Kuwera sering dilukiskan dengan gambaran bertubuh cebol dan gendut, berkaki tiga, bermata satu yang berwarna kuning atau Ekaksipingala. Hanya memiliki delapan gigi, memakai hiasan permata, membawa kantong uang serta sebuah pentong. Kuwera juga dilukiskan duduk di atas manusia.

Di dalam beberapa Purana, Kuwera dijelaskan bahwa Kuwera memiliki gigi yang rusak, berkaki tiga, memiliki tiga kepala dengan lengan empat, memakai untai permata. Di Tibet, perwujudan Kuwera sering didampingi dengan musang atau “monggos” sebagai pertanda Kemenangan Kuwera terhadap Naga penguasa kekayaan.

Di buku lain seperti dalam Vishnudharmottara purana dijelaskan, bahwa Kuwera merupakan penjelmaan dari Artha atau kesejahteraan, kemenangan, kejayaan. Lebih lanjut dalam Purana tersebut dijelaskan, bahwa Kuwera hanya memiliki mata kiri saja, memiliki dua taring. Shakti dari Kuwera bernama Riddhi, dan sering dilukiskan duduk di pangkuan sebelah kirinya dari Kuwera. Di sisi kanan Kuwera biasanya ada “Ratna-patra (tempat permata), gada atau pentong.

Dalam Agni Purana dijelaskan, bahwa Kuwera duduk di atas kambing dengan sebuah pentong atau gada. Kuwera tidak saja dipuja di agama Hindu, tetapi juga di lingkungan agama Jain dan Buddha. Dalam agama Buddha, Kuwera disebut dengan nama Vaisravana, sedangkan di Jain beliau disebut dengan nama Sarvanubhuti.
Dipuja pada Perayaan Sabuh Mas

Dari buku-buku yang menjelaskan tentang Kuwera dapat disimpulkan, bahwa Kuwera itu merupakan dewa yang juga memiliki posisi yang sangat dihormati, baik dalam Hindu, Jain atau Buddha. Karena Kuwera-lah yang memberika karunia kepada para penguasa untuk mendapatkan Artha atau kekayaan, kemasyuran dan kejayaan dalam kehidupan mereka. Kuwera dipuja bersama-sama dengan Dewi Laksmi terutama pada perayaan Diwali atau Hari Kekayaan yang kemudian di Bali disesuaikan dengan tradisi lokal, sehingga menjadilah hari sabuh mas.

Dihubungkan dengan apa yang dijelaskan dalam buku-buku tersebut, bisa dikatakan bahwa masyarakat Hindu tersebut dianjurkan mewujudkan hidup sejahtera, memiliki harta yang digunakan untuk memenuhi kewajiban sebagai makhluk sosial, religius. Bahkan mengumpulkan harta itu sangat dianjurkan guna menjaga diri, agar bisa hidup sehat, sejahtera sehingga kita bisa hidup nyaman dan damai. Ini juga dibuktikan dalam cerita penjelmaan atau awatara dari Tuhan. Misalnya Sri Rama lahir di keluarga Raja Dasarata yang sangat dermawan, religius, baik budi pekerti, rendah hati dan begitu juga dengan Sri Krishna. Walaupun Sri Krishna lahir di penjara, namun Sri Krishna menikmati masa kecilnya di keluarga Nanda yang berkecukupan. Itu artinya, bahwa hanya dengan hidup berkecukupanlah kita bisa hidup tenang, religius, bisa menolong sesama sepanjang waktu. Hal itu bisa terjadi karena orang tidak khawatir lagi tentang keadaan hidupnya, tidak lagi ada pertanyaan besok saya makan apa, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Material vs Ketidakterikatan

Masyarakat Hindu didorong untuk memperoleh kekayaan tersebut dengan benar sesuai ajaran sastra. Akan sangat ironis bila ada masyarakat Hindu yang malas, tidak mau memenuhi kewajiban hidupnya sesuai dengan kecakapannya, lantas berdalih bahwa orang-orang harus melepaskan ikatan duniawi, dengan tidak mengejar kekayaan, kejayaan, kemasyuran. Pernyataan tentang ketidakterikatan terhadap dunia material sangat sulit dilakukan di jaman sekarang ini, karena manusia jaman sekarang ini memiliki tanggung jawab yang sangat kompleks.

Orang-orang yang selalu berbicara tentang ketidakterikatan, sementara diam-diam mereka masih sibuk mencari kekayaan, pujian serta kemasyuran maka orang semacam ini tidak ubahnya seperti cerita “pedanda baka”. Bahkan ada pepatah asing mengatakan begini “menasehati orang lain minum air, namun dia sendiri minum anggur”, artinya mana ada orang akan percaya tehadap kita, bila ngomongnya saja tentang ketidakterikan sementara dia sendiri sibuk mencari kekayaan material.

Beberapa yogi reformis pernah berkata begini “orang-orang yang menghindari mencari kekayaan dengan alasan ketidakterikatan, mereka itu sebenarnya para pemalas yang bersembunyi di balik kemalasannya. Mereka berlindung di balik jubah yang dikenakannya.” Mereka itu sebenarnya sedang menipu dirinya sendiri. Mungkin pernyataan tersebut ada benarnya, karena sering kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari di mana orang sering berbicara tentang kehidupan tidak terikat, namun dalam kehidupan sehari-harinya sering meminta-minta atas nama Tuhan.

Kehidupan melepaskan ikatan seperti masyarakat Hindu di India itu merupakan hal yang sudah biasa, karena masyarakat India benar-benar melaksanakan tahapan kehidupannya berdasarkan catur asrama, artinya mereka tersebut mengikuti prinsip kehidupan dengan baik. Berbeda dengan masyarakat Hindu Nusantara. Kita di sini belum bisa melepaskan kehidupan kita dari lingkungan sosial. Apalagi di Bali dengan tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan yang kental dengan prinsip menyamabraya, di mana kita tidak bisa hidup acuh tak acuh dengan keluarga, tetangga serta lingkungan sekitar kita. Warga Hindu Bali umumnya tidak mudah melepaskan tanggung jawabnya terhadap keluarganya, lingkungan sekitarnya, dan lain sebagainya. Walaupun secara teori kehidupan seseorang telah mencapai tahap wanaprasta misalnya, namun dia tetap saja akan melakukan kerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, agar tidak tergantung pada orang lain atau setidaknya tidak membebani orang lain.

Oleh karena sistem kemasyarakatan kita berbeda, maka pola pemujaan juga berbeda. Mungkin bagi beberapa orang beranggapan bahwa kita hanya perlu memuja Tuhan saja, namun hal tersebut agak sulit diterapkan di Bali karena tatanan beragama di Bali terlahir proses adaptasi yang panjang dan semua disesuaikan dengan pola masing-masing wilayah. Masyarakat kita dari dulu sudah bijak menyesuaikan pemujaannya walaupun kelihatan mereka itu seperti kolot namun kebijaksanaannya sangatlah luar biasa. Begitu juga tentang pemujaan terhadap Kuwera, walaupun kita jarang mendengar tentang pemujaan tersebut, namun sebenarnya masyarakat kita telah memuja Kuwera dengan gaya Bali, seperti yang telah disebutkan di atas. Mereka tidak memuja Kuwera secara langsung, namun mereka mengenal adanya upacara Sabuh Mas, yang jatuh pada hari Selasa wuku Sinta dan pemujaan Ratu Rambut Sedana yang dirayakan pada hari Buda Cemeng Klawu.

Umat Hindu juga perlu memilah dan memilih mendengarkan ceramah-ceramah tentang pembebasan diri dari ikatan material. Bisa saja sang penceramah berbicara tentang ketidakterikatan terhadap materi, namun untuk mendengarkan ceramahnya kita harus membayar. Oleh sebab itu, puja sajalah setiap dewa yang bisa mendorong kita menuju kehidupan kita ke arah kesejahteraan, seperti dengan memuja Kubera.
(Wayan Miasa)

3 komentar: