Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 18 Desember 2012

Memuja Dewa Kuwera Melalui Karma Yoga

Ketut Sandika


Hinduisme mengenal empat tujuan kehidupan yang disebut dengan Catur Purusa Artha, yakni dharma (kebenaran, kebajikan), artha (kekayaan), kama (keinginan), moksa (bersatunya roh pribadi dengan roh universal). Dharma disebutkan awal, dengan maksud hendaknya kita meraih artha (kekayaan) untuk memenuhi kama (keinginan) harus bersandar pada dharma (kebenaran), sehingga moksa semasih hidup (jiwan mukta) dan moksa pada saat jiwa meniggalkan ragawi dapat tercapai. Kebebasan sempurna akan dapat dicapai, jika keempat tersebut terpenuhi. Kama tidak akan dapat terpenuhi, jika tidak memiliki artha, demikian pula dharma tidak akan dapat kita jalankan sebagaimana mestinya tanpa artha, baik kama ataupun artha tidak akan mendatang kebahagiaan, jika tidak bersandarkan atas prinsif dharma. Demikian pula, moksa tidak akan tercapai zaman ini, jika dharma, artha dan kama tidak terpenuhi.

Seseorang yang hanya mampu memenuhi dharma dan kama, tanpa artha ia masih belum dapat dikatakan mencapai kebebasan sempurna. Terlebih hidup dizaman ini, dimana artha adalah sebagai sesuatu yang utama untuk memenuhi segala kebutuhan hidup. Merujuk pada empat tujuan hidup tersebut, menandakan bahwa Hindu tidak menganggap kaya atau kekayaan itu adalah jalan sesat. Bahkan dalam Veda, yakni tepatnya dalam kitab artha sastra secara implisit diuraikan tentang bagimana kita mendapatkan dan mengelola kekayaan dengan baik, sehingga dapat mencapai kebahagiaan jasmani dan rohani. Olehnya, Hinduisme memberikan rekomendasi untuk kita mencari kekayaan yang sebanyak-banyaknya (berdasarkan dharma) dan mengelolanya dengan baik untuk kebahagiaan dan kesejahteraan semesta, bersama dengan segala isinya (lokasamgraha).

Teramat sangat pentingnya kekayaan itu, sehingga masyarakat Hindu mengaplikasikannya melalui pemujaan kepada Dewa Kuvera (Kuwera) atau Hindu di Bali lebih sering menyebutnya dengan pemujaan kepada betara rambut sedana. Dewa Kuvera sendiri adalah manifestasi dari Tuhan sebagai Dewa kekayaan atau dewa sebagai bendahara surgawi. Pemujaan umat Hindu kepada Dewa Kuvera adalah sebagai salah satu bentuk hormat dan bhakti umat kepada Dewa Kuvera yang telah melimpahkan kekayaan di alam ini, sehingga manusia dapat menikmati. Perlu diingat, bahwasannya pemujaan kepada Dewa Kuvera sebagai dewa kekayaan tidak serta merta kita mendewakan kekayaan tersebut, dan justru itu akan membawa kita kepada penderitaan. Akan tetapi sesungguhnyalah kita memuja Dewa Kuvera sebagai dewa kekayaan dengan harapan beliau berkenan melimpahkan kekayaan dan sekaligus menuntun agar kekayaan yang kita miliki dapat digunakan untuk tujuan dharma. Dengan kata lain, kekayaan didapat dengan cara dharma dan digunakan untuk dharma itu sendiri.

Lantas, apakah hanya dengan memuja Dewa Kuvera 24 jam, tanpa bekerja kekayaan tersebut dapat diraih? Tidaklah mungkin, bagaimanapun juga untuk meraih kekayaan itu, syarat mutlaknya adalah bekerja atau karma yoga. Sebab pada hakikatnya dengan bekerja pun sesungguhnya kita sudah melakukan pemujaan kepada Dewa Kuvera. Dan, hal itu banyak diraikan dalam mitologi Hindu yang menjelaskan bahwa Dewa Kuvera sebagai bendahara surgawi atau disebut dengan dewa kekayaan akan memberikan kekayaan surgawi jika para dewa memuja melalui dimensi kerja sesuai dengan fungsinya masing-masing. Para dewa saja agar mendapatkan berkah dan karunia dari Dewa Kuvera harus bekerja, apalagi kita sebagai menusia. Selama ini, kita hanya memahami bahwa untuk mendapatkan anugerah kekayaan dari Dewa Kuvera hanya berada di depan arca atau pratima menghaturkan segala bentuk persembahan, tetapi lupa akan kerja atau pekerjaan. Lebih-lebih menghaturkan persembahan dengan cara berhutang, maka justru dewa kekayaan tidak akan berkenan memberikan kekayaan.

Dewa Kuvera merupakan sebuah pencitraan dewata yang mampu memberikan inspirasi rohani kepada kita, jika kita memahami dengan baik maksud dari kemunculan beliau sebagai salah satu aspek Tuhan sebagai dewa kekayaan. Kemunculan citra beliau tersebut secara fundamental memberikan kita pemahaman, bahwa kekayaan akan didapatkan jika sudah melakukan daya usaha atau pekerjaan di bawah rindangnya pohon dharma. Mengecap manisnya madu kekayaan yang didapatkan dari pekerjaan berasaskan dharma, walaupun sedikit akan dirasakan abadi. Dan, justru kekayaan akan menjadi racun, jika didapatkan dengan cara yang tidak benar. Pemahaman inilah sebenarnya yang dimunculkan dalam sebuah citra Dewa Kuvera ataupun betara rambut sedana yang umum dipahami oleh umat Hindu di Bali.

Citra dewa ini tidak mengarahkan kita untuk berkehidupan yang berkencendrungan materialisitis yang ekstrim, mencari kekayaan dengan cara amoral, lebih-lebih mengambil uang rakyat. Citra dewata ini adalah mengajak umat manusia untuk mencari kekayaan melalui karma yoga. Bekerja dengan tidak terikat akan hasil atau hasil bukan menjadi tujuan yang akan menyebabkan kita terikat. Citra Dewa Kuvera memberikan kesan bahwa kekayaan alam, pengetahuan dan kekayaan lainnya akan mengalir, jika kita dapat mengesampingkan hasil dari tindakan apa yang kita lakukan, sebab alam sudah menentukan sendiri, bahwa segala tindakan sudah pasti memiliki konsekwensi yang kita terima. Bagaimana kita bekerja dengan tidak mengharapkan hasil? Jawabannya adalah kondisikan pikiran untuk selalu tidak tertuju pada hasil dari apa yang kita lakukan atau kerjakan. Bekerjalah dengan pengkondisian pikiran mengarah pada Tuhan dalam hal ini dapat diarahkan pikiran kepada Dewa Kuvera.

Dewa Kuvera sebagai personifikasi Tuhan sebagai dewa kekayaan akan selamanya berkenan memberikan karuniannya, jika kita menjalankan dengan baik pekerjaan atau tindakan kita. Ini adalah sebuah hal yang harus kita yakini, sebab kekayaan akan dapat dijadikan tangga menuju moksa, jika sudah mengikuti rule dharma. Mendapat kekayaan melalui kerja (dharma) adalah pesan yang hendak disampaikan oleh sebuah citra Dewa Kuvera. Bekerjalah dan tidak terikat kepada hasil sebagai bentuk pemujaan kepada Dewa Kuvera.

2 komentar:

  1. penjelasan bapak tentang dewa kuvera saya sangat suka akan tetapi saya ingin bertanya tentang catur purusa artha dimana pembagiannya terdiri atas dharma, artha , kama dan moksa. diantara dharma,artha, dan kama yang mana yang harus diutamakan? yang kedua disini dijelaskan tentang dewa Kuvera atau sang hyang rambut sedana, sepintas saya melihat disekeliling saya yang menyembah sang hyang rambut sedana hanya orang-orang yang berkecimpung didunia perdagangan. apakah hanya orang yang berkecimpung didunia itu saja yang dapat menyembah Beliau, dan bagaimana dengan orang yang tidak berkecimpung dibidang itu? Suksma pak ketut

    BalasHapus
  2. Dharma Artha Kama Moksa bukanlah pilihan mana yang utama mana lebih nista. namun menurut saya itu adalah satu kesatuan perjalanan menuju Sang Sumber.
    Saya pikir kesejahteraan adalah dambaan setiap orang terlepas dari profesi masing masing.

    BalasHapus