Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 18 Desember 2012

Kuwera Pemimpin Para Yaksha, Penguasa Kekayaan

I Nyoman Suamba

Dalam agama Hindu, Kuwera adalah dewa pemimpin golongan bangsa Yaksa atau Raksasa. Meskipun demikian, ia lebih istimewa dan yang utama di antara kaumnya. Ia bergelar “bendahara para Dewa”, ia disebut juga Dewa Kekayaan. Kuwera merupakan putera dari seorang resi sakti bernama Wisrawa. Ia satu ayah dengan Rahwana, namun lain ibu. Ia menjadi raja di Alangka, menggantikan Malyawan, namun di kemudian hari kekuasaannya direbut oleh Rahwana. Karena merasa tidak sanggup mengalahkan Rahwana, Kuwera pun dengan berat hati menyerahkan tahta.

Sumber lain menyebut, Kuwera adalah putra ketiga Sanghyang Ismaya dengan Dewi Senggani. Ia mempunyai sembilan saudara kandung masing-masing bernama; Bathara Wungkuam, Bathara Tambora, Bathara Wrahaspati, Bathara Siwah, Bathara Surya, Bathara Candra, Bathara Yama/Yamadipati, Bathra Kamajaya dan Dewi Darmanasti. Bathara Kuwera adalah Dewa lambang kebaktian dan kemanusiaan. Ia dilambangkan sebagai bentuk kekaguman dipuja dan dipuji dalam sastra: di antara semua Rudra aku adalah Dewa Siva, di antara para Yaksa dan Raksasa aku adalah dewa kekayaan (Kuvera), di antara para Vasu aku adalah api (Agni) dan di antara gunung-gunung aku adalah Meru. Demikianlah Kuwera dipuji sebagai lambang kekaguman akan kebesaran Tuhan, dan segala perwujudan tersebut hanya memberi isyarat-isyarat tentang kebesaran Tuhan. Kuwera diceritakan bertugas memberi petunjuk, fatwa, pahala dan perlindungan serta pertolongan kepada umat di Arcapada.

Pada jaman Ramayana, ia menitis pada Brahmana Sutiksna, brahmana suci di Gunung Citrakuta/Kutarunggu untuk memberi wejangan ilmu Asthabrata, yaitu ajaran kepemimpinan yang diilhami kebesaran dan keseimbangan delapan unsur alam, kepada Ramawijaya. Sedangkan pada jaman Mahabharata, Bathara Kuwera menitis pada Resi Lomosa, brahmana suci negara Amarta yang dengan setia mendampingi dan memberi nasehat Prabu Yudhistira selama masa pemgembaraan di hutan sebagai akibat kalah dalam taruhan permainana dadu dengan keluarga Kurawa. Bersama Sanghyang Cakra, putra Sanghyang Manikmaya dengan Dewi Umarakti, Bathra Kuwera ditetapkan sebagai juru tulis/pencatat hasil sidang para dewa yang menetapkan lawan-lawan yang akan saling berhadapan dalam perang Bharata yuda antara keluarga Kurawa melawan keluarga Pandawa di tegal Kurusetra.

Bathara Kuwera menikah dengan Dewi Sumarekti, putri Sanghyang Catur Kanaka dengan Dewi Hira, putra Sanghyang Heramaya. Dalam Mahabharata Kuvera disebutkan sebagai putra Bathara Pulastya, sedangkan menurut Uttarakanda, ia adalah putra Sang Wisrawa. Layang Uttarakanda menjelaskan, Begawan Bharadwaja menyerahkan putrinya kepada Sang Wisrawa. Sang Wisrawa tersebut adalah seorang Resi, istrinya bernama Dewi Lokati seorang putri Raja Negara Lokapala bernama Prabu Lokawana, berputra Waisrawana. Sang Wisrawa dan Dewi Lokati adalah sama-sama keturunan Bathara Guru yang kesembilan, atau keturunan Bathara Sambo yang ke delapan. Nama Waisrawana dijelaskan sebagai pemberian Bathara Brahma, pada saat baru dilahirkan, Sang Bathara berkata demikian: “Ike puyutku kta ya, si Wisrawa mara samjna ning bapanya, towi samplah ta rupanya lawan yayahnya, matangnya si Waisrawana ngaran ike puyutku” artinya : “Buyutku ini bapaknya bernama Wisrawa, dan wajahnya sama persis dengan bapaknya, maka si Waisrawana namanya buyutku ini”. Setelah menginjak dewasa, Sang Waisrawana sangat gemar olah tapa. Begitu giatnya bertapa membuat Bathara Brahma terpesona, hingga Bathara Brahma berkenan datang ke pertapaannya. Ketika ditanya oleh Bathara Brahma “mempunyai keinginan apa”, demikian Sang Waisrawana berkata: “Sojar Hyang mami, yan hana karunya Bathara ri pinakang hulun, kumwa juga pintan ra puyut bathara: kalokapalan mwang kadhanapalan ya tikang anugraha rahadyan sanghulun”. Artinya kurang lebih demikian: “Pukulun sesembahan hamba, jika paduka berkenan memberikan anugrah kepada hamba, demikian permohonan hamba: jadikanlah hamba Raja Jagadraya (Lokapala) dan juga menjadi Dewa Kekayaan”. Demikian jawaban Bathara Brahma: “ Udu mangkana pwa kaharepta, astwakenangkwateka pinalakunta. Indra, Yama, Baruna ktang lokapala kapat kami. Aku ta gantyananta kapat ing lokapala. Mwang nihan tang wimana makangaran si Puspaka, ya tiki wahananta, yatanyan padā lawan dewatā”.

Artinya: ”Aduh begitukah keinginanmu, akan kukabulkan keinginanmu itu. Yang berpangkat Lokapala itu adalah Bathara Indra, Bathara Yama, Bathara Baruna, berempat denganku. Engkau gantikanlah posisiku sebagai Lokapala ke empat. dan kereta ini bernama Puspaka, sebagai kendaraanmu, agar engkau setara dengan para dewa”. Setelah berkata demikian dan memberikan kereta bernama Puspaka kepada Sang Waisrawana, Bathara Brahma lalu kembali ke Brahmaloka, sedangkan Sang Waisrawana lalu kembali menghadap sang ayah yaitu Resi Wisrawa. Jadi sejak saat itu yang disebut Lokapala (Raja jagad), yaitu : 1. Bathara Indra, raja para dewa. 2. Bathara Yama, raja neraka (yang menguasai neraka) 3. Bathara Baruna, raja air seisinya (raja samudra seisinya) 4. Bathara Waisrawana (Kuwera), merajai para gandarwa, kinara dan yaksa dan menjadi dewa kekayaan (perhiasan, benda-benda berharga).

Kepada sang ayah, Sang Waisrawana mengutarakan bahwa telah mendapatkan anugrah dari Bathara Brahma, namun sang bathara tidak memberitahukan dimanakah ia harus menetap. Sang ayah, Resi Wisrawa berkata: “Wahai putraku Waisrawana, ketahuilah! Di Langka (Alengka) ada sebuah kerajaan dari emas bertahtakan permata berlian yang berkilauan, bangunan tersebut buah tangan dewa ahli bangunan, yaitu Bathara Wiswakarma. Indahnya kerajaan Langka layaknya khayangan Bathara Indra. Konon dahulu kala, kerajaan tersebut diduduki oleh raja raksasa dengan segenap wadyabalanya. Namun kini kerajaan tersebut telah kosong, sebab seluruh raksasa telah pindah dari Negara tersebut pindah ke dasar pratala (bumi), karena merasa sangat takut kepada Bathara Wisnu. Sebaiknya engkau menempati Negara Langka yang teramat sangat indah tersebut, tentu engkau akan mengalami kebahagiaan”.

Sang Waisrawana melaksanakan apa yang diperintahkan sang ayah. Setelah menghaturkan sembah sungkem kepada sang ayah, Sang Waisrawana pun mengendarai kereta Puspaka menuju Negara Langka (Alengka). Karena kereta Puspaka tersebut dapat melalui apapun menuju tempat yang dikehendaki pengendaranya, juga kecepatan kereta tersebut bagaikan kilatan cahaya, dalam waktu singkat Sang Waisrawana telah sampai di Kedhaton Langka. Di saat Sang Waisrawana telah menduduki kerajaan Langka, banyak dari para yaksa, gandarwa, kinara yang datang dan tinggal di dataran langka, semua mengabdi menjadi rakyat Sang Waisrawana.

Pada jaman dahulu Negara Langka tersebut adalah kedhaton yang dikuasai tiga raksasa bersaudara, putra Sang Sukeça, yaitu: Malyawan, Mali dan Sumali. Karena memiliki watak yang teramat angkara murka, ketiga raksasa tersebut ingin menguasai Suralaya, maka kemudian bertempur melawan Bathara Wisnu. Pada akhirnya Malyawan dan Mali terbunuh dalam pertempuran oleh Bathara Wisnu, sedangkan Sumali serta para wadyabala raksasa yang masih hidup berlarian mengungsi dan bersembunyi ke Rasatala (Dasar Bumi), tak mempunyai keberanian untuk kembali menduduki Negara Alengka, karena merasa takut kepada Bathara Wisnu.

Sang Sumali mempunyai anak putri bernama Kaikasi (dalam pedhalangan disebut Sukesi), dipasrahkan kepada Resi Wiçrawa, berputra empat, yaitu: Daçamukha, Kumbhakarna, Çurpakanakha dan Wibhisana. Setelah keempat putra tersebut menginjak dewasa, mengerti jika kedhaton Langka sesungguhnya adalah milik leluhurnya. Karena hal tersebut, Daçamukha menggugat atau menuntut kedhaton Langka kepada Sang Waisrawana. Oleh saran Resi Wiçrawa, Sang Waisrawana meninggalkan kedhaton menuju wukir (gunung) Kailasa, diikuti para yaksa, gandarwa dan para kinara. Kereta Puspaka pun direbut oleh Daçamukha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar