Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 18 Desember 2012

Berlakulah Sebagai Dewa Kuwera Dalam Memimpin

Ida Ayu Tary Puspa

Hindu mengenal Dewa sebagai manifstasi Tuhan di alam ini. Pemujaan kepada para dewa ditujukan untuk ista dewata. Sebagai penganut Hindu, kita percaya pada para dewa dan kita boleh menghadirkan dewa yang ingin kita puja dalam sembah kita. Dewa adalah sinar Tuhan. Hal ini sesuai dengan konsep beragama Hindu yang mengenal bahwa monotheisme itu menyatakan, bahwa kita mempercayai hanya satu Tuhan, sedangkan para dewa adalah sinar suci Beliau.

Dalam konsep kenotheisme, umat Hindu percaya bahwa pada masa terentu ada dewa tertinggi yang dipuja. Agni pernah menjadi dewa tertinggi, kemudian Indra pun pernah menjadi dewa tertinggi dan akhirnya kita mengnal Tri Murti sebagai dewa tertinggi. Dalam Hindu, masing-masing dewa dikenal sesuai manifestasinya. Seperti halnya Dewa Kuwera di lain sisi disebut pula dengan Kubera, diyakini sebagai Dewa kekayaan. Dalam Dewata Nawa Sanga posisi Dewa Kuwera ini adalah sama dengan Wisnu, yaitu di utara. Kenapa demikian, dalam memelihara alam semesta beserta isinya termasuk manusia, maka kehidupan tidak dapat dilepaskan dari harta yang sering diidentikkan dengan kekayaan. Dipeliharalah artha itu untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya sesudah diperoleh dalam jalan dharma. Siapa pun di dunia ini ingin hidup yang layak, kaya artha. Akan tetapi kita tidak boleh lupa dan serakah bahkan takabur bila disesatkan oleh harta karena semua sumber itu berasal dari Sang Hyang Widhi
.
Sang Hyang Widhi telah mengatur segalanya termasuk peran dewa kekayaan (Kuwera). Siapa yang mendapatkan kekayaan mesti pula mendermakannya, karena itu kita tidak boleh kikir karena kekayaan itu adalah titipan Tuhan dan hanya orang-orang terpilih yang dipercaya Tuhan untuk diberikan mengelola kekayaan itu. Peran Dewa Kuwera ini adalah sebagai penuntun, agar manusia dapat mengelola kekayaannya dengan baik. Kita memiliki dewa kekayaan yang patut dipuja termasuk kaya hati yang baik dan kaya rohani yang baik yang bukan hanya berorientasi kepada materi semata.

Kalau kita telah memiiiki dewa kekayaan, lantas kenapa kita memuja dewi kekayaan dari umat lain. Perlulah umat Hindu mengetahui, bahwa kita memiliki dewa yang mesti dipuja untuk mendapatkan kekayaan yang datangnya tidak tiba-tiba atau simsalabim. Namun untuk memperoleh kekayaan adalah dengan usaha keras, dengan bekerja (Karma Yoga).

Secara tradisi lokal umat Hindu di Bali mempercayai kehadiran seorang dewi yang dapat menuntun jalan terbaik untuk mendapatkan kekayaan dengan bekerja keras adalah Dewi Sri Sedana atau di tempat lain disebut pula dengan Dewi Rambut Sedana. Beliau adalah seorang Dewi. Kenapa memuja seorang dewi sebagai Sakti? Apakah ada kaitannya dengan manusia dengan figur wanita yang selalu dikaitkan dengan harta dan tahta? Perlu perenungan lebih dalam. Perempuan atau di sisi lain dia disebut juga dengan wanita diharapkan memiliki kekayaan rohani yang pantas untuk melakoni kehidupan sebagai seorang bendahara dalam keluarga dan kasir yang baik, maka wanita akan dapat menjalankan peran-perannya dalam swadrma dalam sektor domestik. Hal ini merupakan realitas kehidupan, karena segala urusan rumah tangga termasuk kebutuhan lain-lain dibidani oleh wanita dalam kedudukannya sebagai seorang istri atau seorang ibu.

Umat Hindu di Bali lebih mengenal Dewi Sri Sedana yang dipuja terutama oleh mereka yang bergerak dalam perdagangan, tetapi secara umum umat Hindu di Bali memujanya terlebih ada peringatan khusus yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali terhadap dewi ini yang perayaannya dilakukan pada budha cemeng Klau. Bisa dipastikan bahwa mereka yang bergerak dengan harta atau uang pada hari pemujaan terhadap Dewi Sri Sedana akan menggelar upacara seperti Bank, LPD menyelenggarakan ritual khusus sebagai penghomatan terhadap Beliau.

Dalam wujud yang terkecil, sebuah sarana upacara berupa banten sayut, dapat diwujudkan dalam banten beralaskan tamas berisi pisang, jajan uli, jajan begina, kacang-kacang dan dilengkapi pula dengan bantal tape banten serta tebu dan sampian nagasari serta canang sari. Yang unik adalah dalam tamas itu disertai dengan tipat bagia, tipat sari, dan tipat dampul. Apa makna persembahan tersebut? Segala sesuatu dimohonkan agar kita hidup dengan mempersembahan dan mensyukuri anugerah-Nya agar pendapatan yang kita peroleh di jalan dharma dapat medampul atau mepunduh ‘terkumpul’ dapat mesari dan dapat mendatangkan kebahagiaan. Kebahagiaan hidup baik di dunia ini dan nanti dalam dunia akhirat tentu diharapkan oleh setiap umat Hindu sesuai dengan tujuan agama Hindu adalah moksartham jagadhita ya ca ithi Dharma.

Persembahan berupa banten sesayut sri sedana seperti terlihat pada gambar.

Sejalan dengan itu, siapa itu Dewa Kuwera yang dikatakan sebagai dewa kekayaan dalam Veda dan dinyatakan pula sebagai bendahara sorga? Kalau dirunut dalam kepemimpinan menurut Asta Bratha, maka kita akan menemukan nama dewa ini selain nama Dewa Indra, Surya, Waruna, Candra, Yama, Bayu, dan Agni. Dalam ajaran kepemimpinan menurut Astabrata sebagaimana nasihat Rama kepada Wibisana setelah Rahmana gugur, maka Wibisana-lah yang akan menjadi pemimpin di Alengka. Rama kemudian menasihati Wibisana agar dapat menjadi pemimpin besar dengan kemauan besar dan menjadikannya besar, sebab perjalanan sebuah Negara tidak akan dapat dilepaskan dari sejarah pemimpin-peminpinnya. Muncullah Kuwerabrata sebagai seorang pemimpin harus dapat melakukan brata ibarat Dewa Kuwera. Yang dimaksudkan adalah menggunakan uang dan kekayaan Negara untuk meningkatkan kemakmuran rakyat. Hal itu merupakan sebuah tantangan karena kalau sudah berurusan dengan uang menjadi sebuah masalah yang riskan, karena pengendakian diri harus kuat. Selaia dengan alur, aturan yang sudah diterapkan jangan sekali-sekali menggunakan kekayaan Negara untuk kepentingan pribadi. Kalau untuk kemakmuran masyarakat itu merupakan kewajiban oemimpin yang harus dilakukan. Dengan bercermin pada Dewa Kuwera, maka penggunaan uang harus sesuai dengan aturan dan sesuai dengan peruntukannya. Andai pemimin dapat bercermin pada kepemimpinan Dewa Kuwera niscaya tidak akan terjadi korupsi di Negara ini karena ternyata para koruptur tidak pernah takut kepada dewa apalagi kepada Tuhan. Mereka lupa saat dilantik dan diambil sumpah jabatan yang disaksikan oleh rohaniwan agama masing-masing. Dewasa ini para koruptur lebih takut kepada KPK dibandingkan dengan Tuhan walau di departemen yang terdiri dari para orang suci sekalipun. Inilah zaman kali sangara dan purwa sangara kata penyair yang seorang raja dan penyair yang seorang wiku, yaitu Ida Pedanda Made Sidemen dan Cokorda Mantuk ring Rana yang sudah lebih dulu menggambarkan zaman Kali Yuga ini dimana manusia berburu dan memburu harta demi kepuasaan hasrat atas dorongan kama.

Mencari harta boleh, bahkan wajib asalkan mencarinya selalu dalam jalan dharma. Dalam Hindu untuk menjalankan empat tujuan hidup apa yang dikenal dengan Catur Purusa Artha dengan urutan dharma, artha, kama. Dan moksa dewasa ini justru terbalik dengan urutan yang pertama adalah arta, kemudian disusul oleh kama, dharma, dan moksa. Sebagai manusia yang dilahirkan utama, maka kita tidak boleh menyalahkan zaman apalagi larut dalam zaman, dengan makhluk yang paling sempurna jika dibandingkan dengan binatang dan tumbuhan, kita mesti dapat menggunakan akal pikiran dengan penerangan budi. Dengan demikian, maka hidup akan selalu dalam kendali Dharma, dan hidup menjadi berarti bukan dengan menjadi bikul medasi atau bikul mekumis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar