Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Sabtu, 27 Oktober 2012

Pesamuhan Madya PHDI Bali Berjalan Lancar

Laporan Putrawan

Pada 25 Agustus 2012 lalu, PHDI menggelar acara Pesamuhan Madya yang diikuti berbagai komponen PHDI Bali, seperti pengurus walaka, paruman sulinggih, dan berbagai undangan. Dalam pesamuhan madya tersebut tercetus berbagai hal berkaitan dengan berbagai persoalan penting yang perlu mendapat perhatian oleh PHDI Bali dalam merancang program kerjanya selama setahun ke depan.

Ketua PHDI Bali, Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, Msi, pada acara pembukaan itu mengatakan, PHDI Bali terus berbenah untuk meningkatkan kualitas kinerjanya, sehingga kehadiran PHDI Bali semakin dirasakan di tengah-tengah ,asyarakat. Lebih-lebih dengan rampungnya gedung PHDI Bali yang baru yang cukup representatif di dalam menunjang operasional harian maupun berbagai kegiatan yang berkaitan dengan aktifitas keumatan lainnya.

Dalam acara rapat-rapat komisi, berbagai masalah dibahas, salah satunya tentang memfungsikan kearifan budaya lokal dalam praktek agama Hindu. Di antaranya disebutkan, bahwa dalam konteks pelaksanaan Agama Hindu, warga Hindu etnis Bali mestinya tidak pada tempatnya mengekspor budaya Bali untuk dilaksanakan oleh warga Hindu etnis lain. Memfungsikan atau memberi interpretasi baru terhadap kearifan budaya Bali dalam praktek kehidupan warga Hindu di Bali agar mampu merespons perkembangan jaman. Contohnya, Upacara “Tumpek Bubuh” jangan berhenti pada menghaturkan sesajen kepada tumbuhan. Kearifan lokal itu supaya berfungsi dalam upaya pelestarian lingkungan. Contoh lain, pemanfaatan berbagai puspa dan satwa dalam upacara Hindu di Bali supaya diberi interpretasi agar warga Hindu membudidayakan atau paling tidak ikut melestarikan puspa dan satwa itu.

Masalah lain yang mendapat sorotan adalah tentang konversi agama. Masyarakat Hindu di Bali lebih mengutamakan adat-istiadat daripada mendalami ajaran agama. Adat-lah yang dijunjung tinggi, sementara ajaran agama yang tidak sesuai dengan adat (meskipun benar), disisihkan. Masyarakat umat agama lain yang melihat kenyataan ini, menilai agama Hindu sebagai “agama kuno” atau bahkan “bukan agama” yang perlu dicerahkan. Maka terjadilah usaha-usaha konversi agama.

Melihat kenyataan tersebut, maka Sabha Walaka PHDI Bali melalui Komisi Keagamaan dan Lintas Umat (Lintas Iman) mengusulkan beberapa hal, di anataranya Internalisasi dan Aktualisasi Nilai-nilai Agama. Penghayatan (internalisasi) nilai-nilai agama Hindu, dirasakan semakin menurun dalam kehidupan masyarakat modern sekarang ini. Masyarakat cendrung berpikir pragmatis, lebih melihat “tampak luar” suatu wujud atau usaha, daripada melihat makna yang terkandung di dalam wujud atau usaha itu. Pragmatisme seperti ini bukanlah ciri ajaran Hindu. Oleh karena itu penghayatan ajaran agama melalui “Pendidikan Keagamaan” dari tingkat Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi perlu dilakukan. Pendidikan Keagamaan ini juga akan berdampak pada terserapnya guru-guru agama Hindu tamatan Pendidikan Tinggi Keagamaan Hindu. Bahkan pendidikan tinggi dari segala jurusan, karena ajaran Hindu meliputi seluruh jurusan yang dipelajari manusia dewasa ini.

Setelah penghayatan (internalisasi), maka srada (kepercayaan) dan aktualisasi (pelaksanaan) akan menyusul kemudian. Srada dan aktualisasi ajaran-ajaran Hindu akan menjadi lebih kuat, apabila umat telah memahami: kenapa harus berbuat demikian, apa dasarnya, apa keuntungan dan tantangannya.

Hambatan dan Peluang
Namun, untuk mewujudkan pendidikan keagamaan ini PHDI terkendala masalah “dana” dan “ahli”. Tenaga ahli bisa dipenuhi dengan pendidikan lanjutan bagi ahli-ahli bidang non Hindu, dengan mengaitkan keahliannya itu dengan ajaran Hindu. Diperlukan kesadaran dan kemauan yang keras untuk itu.

Dana juga tidak sulit diatasi, jika seluruh elit umat Hindu mau “jengah” membela agamanya. Tentu diperlukan profesionalitas dan kejujuran dalam pengelolaan dana ini. Tetapi para elit kita harus ingat, bahwa membela Hindu bukan hanya berarti membela agamanya, tetapi juga membela “perdamaian, persaudaraan, rasionalitas dan universalitas”. Karena hanya Hindu satu-satunya agama, yang sejak awal sudah mengajarkan dan mendambakan terwujudnya nilai-nilai universal tersebut. Karena itu pula agama Hindu disebut “sanatana dharma”, kebenaran yang abadi, kebenaran yang universal.
Pesamuhan Madya ini juga mengkritisi dan membahas etos kerja umat Hindu. Pengetahuan agama yang telah memberi obor (motivasi) patut lebih dihayati, melalui tahapan-tahapan kesadaran yang disampaikan tokoh-tokoh agama dan akan dirasakan memberikan manfaat yang luar biasa. Melalui penghayatan ajaran agama, umat Hindu akan memiliki daya dorong (motivasi) yang jauh lebih baik dan meyakinkan untuk memberikan kepuasan dan kebahagian kepada orang lain. Landasan motivasi berani berbuat, karena telah yakin baik dan benar, sebaliknya takut berbuat karena dinilai buruk dan salah. Dari penghayatan ini, disadarilah bahwa nasib itu ada di tangan diri sendiri, sukses (surga) harus diperjuangkan bukanlah hadiah dan juga gagal (neraka) yang dialami bukan hukuman tetapi hasil dari karma.

Mampu memotivasi diri melalui penghayatan terhadap ajaran agama Hindu yang telah diyakini dengan kemulian ajarannya memberikan keharmonisan hati dan membebaskan diri dari rasa takut dan kecurigaan. Timbulnya kepercayaan dan keyakinan bahwa yang menentukan hidup dan mati berada dalam kekuasan Tuhan. Apabila ajaran Agama Hindu dihayati secara mendalam dan betul-betul dijadikan motivator dalam berlomba-lomba mencapai kesejahteraan, berbuat baik, dan mensyukuri sebagai manusia adalah mahkluk yang paling sempurna. Semua ajaran Agama Hindu yang dipaparkan di atas merupakan implementasi dari teori motivasi yang akan memberikan keteguhan hati dan memberikan solusi terhadap masyarakat atau generasi muda yang kurang semangat dalam memperjuangkan atau mengelola peluang ekonomi yang ada. Motivasi berprestasi ialah dorongan dari dalam diri untuk mengatasi segala tantangan dan hambatan dalam upaya mencapai tujuan. Ciri orang yang mempunyai need of achievement tinggi adalah kesediaannya untuk memikul tanggung jawab sebagai konskuensi usahanya untuk mencapai tujuan, berani mengambil resiko yang sudah diperhitungkan, bersedia mencari informasi untuk mengukur kemajuannya dan ingin kepuasan dari yang telah dikerjakannya.

Setelah memiliki etos kerja dan need of achievement maka akan tumbuh semangat bekerja keras pantang menyerah untuk menjalankan suatu kegiatan usaha melalui manajemen berdasarkan spiritual, bahwa kerja adalah persembahan kepada Tuhan dan hasilnya buah dari persembahan. Untuk mencapai keberhasilan atau keuntungan sudah tentu melibatkan dan mempekerjakan karyawan, dan harus diperlakukan secara manusiawi (bermartabat) niscaya akan terjadi hubungan kerja yang harmonis. Dengan suasana kerja yang harmonis, akan menimbulkan semangat kerja yang tinggi, sehingga dapat menghasilkan produktivitas yang tinggi pula dan akhirnya perusahaan dapat menghasilkan keuntungan untuk kesejahteraan karyawan, keluarga, dan masyarakat sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Vivekananda menyatakan, bahwa mati adalah sebuah keharusan, tapi milikilah cita-cita yang pantas untuk dibayar dengan kematian dan adalah lebih baik untuk mati demi cita-cita yang mulia bagi kehidupan. Persiapkan dirimu untuk bekerja, bekerja! Jangan berlambat-lambat – saat kematian semakin dekat dari hari ke hari. Jangan duduk bermalas-malas dan berkhayal bahwa sesuatunya akan berjalan sendirinya kelak, nanti saja bekerja. Ingatlah tiada yang dapat diselesaikan dengan cara yang demikian.

Kekuatan dan hal-hal yang besar akan menghampiri kalian dengan sendirinya. Persiapkan dirimu untuk bekerja dan kau akan mendapati bahwa kekuatan yang maha dasyat itu akan mengampirimu sedangkan kau sendiri akan merasa kesulitan untuk menerimanya. Bahkan pekerjaan-pekerjaan yang dianggap tidak berarti , yang dilakukan demi orang lain, akan memunculkan kekuatan dari dalam diri. Tidak hanya itu dengan memikirkan kebaikan-kebiakan kecil bagi orang lain pun akan menumbuhkan secara perlahan kekutan singa dalam dirimu.

Hasil dari setiap pekerjaan adalah pencampuran antara perbuatan baik dan buruk. Dalam setiap perbuatan baik selalu ada pengaruh-pengaruh buruk di dalamnya. Kita harus berkecimpung dalam pekerjaan-pekerjaan yang akan menghasilkan jumlah kebaikan yang lebih besar. Bekerjalah sampai mati – aku akan mempercayaimu, dan apabila kelak akupun harus pergi, semangat akan bekerja bersama-sama denganmu. Hidup ini datang dan pergi, artha, kehormatan, kesenagan hanyalah untuk beberapa saat. Adalah jauh lebih baik menemui kematian di atas medan bhakti sambil menyiarkan kebenaran daripada mati di atas pembaringan meringkuk seperti cacing.

Pesamuhan ini akhirnya menelorkan berbagai keputusan yang tertuang dalam program umum dan khusus. Dalam program umum di antaranya dicantumkan peningkatan kerjasama dengan MUDP serta penguatan dan revitalisasi PHDI Bali dengan menjalin kerjasama denga pihak ketiga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar