Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Sabtu, 27 Oktober 2012

Sejarah Pemikiran Hindu Modern

Oleh I Nyoman Ananda

Pemikiran Rammohan Roy (Bagian 2-habis)

Keberatan-keberatan terhadap Hindu yang diterbitkan pada mingguan Benggali yang disebut ‘’Samachar Darpan ‘’ yang diterbitkan oleh para penyebar agama kristen di Serampore 14 juli 1821. Keraguan disampaikan dalam ajaran Veda, tentang maya, ajaran Nyaya Sastra tentang Tuhan dan ciptaannya, dualisme dalam Samkhya, dan interpretasi dari upacara kurban dalam Mimansa Sastra. Rammohun Roy memberikan jawaban dan mengakui penolakan atas ‘’Samachar Darpan’’ Beliau mempublikasikan sendiri ‘’Brahmunical Magazine’’ (Majalah Brahmunical) yang dalam bagian pembukaannya telah dijelaskan tentang kontroversi/ pertentangan dari dua ekstrak berikut ini:

Sudah menjadi sesuatu yang sangat umum bila dikatakan bahwa Hindu adalah yang paling toleran, bahwa manusia dapat mencapai tingkatan kedewaan dan banyak benda-benda yang mengandung nilai religius. Sehingga tidak dapat dibayangkan ketika saya harus menemukan pendapat, bahwa saya membuat majalah adalah untuk menentang Kristiani, tetapi sesungguhnya saya sangat dipengaruhi oleh suatu keyakinan bahwa setiap orang yang menempuh suatu perjalanan menuju ke sebuah negara yang jauh untuk mengubah suatu opini penduduk dan memperkenalkan apa yang mereka miliki, pada saat itu pula ingin menunjukkan bahwa yang baru pun bisa lebih baik dari yang pertama.

Ekstrak dari jawaban Rammohun Roy pada terhadap keberatan-keberatan penyebar agama Kristiani.

Anda, pada awalnya telah berusaha untuk menunjukkan bahwa Wedanta memang menyatakan bahwa Tuhan itu adalah satu, abadi, tidak terbatas oleh waktu dan masa lalu juga masa sekarang dan masa depan. Tanpa banyak keinginan, melampaui pemikiran setiap manusia, panca indra, hadir di mana-mana dan sempurna pada segala bidang. Tidak ada yang menyerupai keberadaan Beliau, tidak juga jiwa/roh yang biasa disebut dengan istilah “Maya”. Maya memiliki pengertian yang berbeda dengan Tuhan seiring dengan perkembangan nalar dan pengetahuan manusia, sama halnya dengan bagaimana manusia menelaah mimpi.

Bila kemudian Anda menyatakan bahwa adanya pengertian yang berbeda dari maya dan keberadaan Tuhan itu berdasarkan atas doktrin-doktrin yang ada, dapat saya tegaskan bahwa sesungguhnya dalam Wedanta, dunia ini adalah suatu efek atau akibat dari Maya itu sendiri yang keberadaannya dapat dianalogikan dengan seisi alam semesta, yaitu benda-benda serta obyek-obyek alam yang ada; berbeda dengan Tuhan, Beliau adalah sesuatu yang sangat abadi yang justru menjadi penggerak dari benda-benda duniawi yang ada tersebut. Sehingga segala sesuatu di bumi ini dapat digerakkan dengan teratur, tidak berbenturan antara yang satu dan yang lainnya. Seperti contohnya matahari yang dapat bersinar dengan terang, sepertinya digerakkan oleh satu kekuatan yang sangat besar. Sinarnya dapat menjadi penerang di bumi ini untuk semua makhluk ciptaan-Nya. Seperti yang direfleksikan oleh matahari meskipun tanpa sinar yang pantas untuk mereka, muncul suatu hubungan yang saling kait mengkait secara erat. Sebenarnya segala sesuatu itu telah diatur oleh Tuhan. Seolah-olah, semuanya dapat mempunyai jiwa di mana benda-benda yang mempunyai jiwa tersebut membentuk suatu kealamiahan, sifatnya dapat menjadi baik ataupun buruk. Tuhan adalah keabadian dan jiwa adalah sesuatu yang dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor keduniawian.

Hal ketiga yang Anda sebutkan adalah merupakan suatu doktrin yang menampilkan kesempurnaan pandangan mengenai Tuhan dan keberadaannya jauh dari jangkauan manusia. Pandangan inilah yang menggambarkan juga bahwa jiwa dan Tuhan itu adalah sesuatu yang berbeda. Saya setuju akan pandangan ini, karena tidak mungkin keberadaan Tuhan disamakan dengan jiwa, karena kalau disamakan jelaslah bahwa Tuhan itu sifatnya tidak sempurna dan mudah dipengaruhi.

Sati
Laporan dari konferensi kedua antara para kelompok pembela dan yang bertentangan dengan adanya kepercayaan pembakaran hidup-hidup seorang perempuan yang baru saja menjanda. Kalkuta, 1820

Konsep dari pembela menyampaikan alasan mengapa wanita harus menjalani ketentuan ini bilamana suaminya telah meninggal dunia. Hal ini didasarkan pada konsep dimana seorang wanita mempunyai kedudukan yang lebih rendah dari seorang laki-laki dan ia haruslah tetap setia pada suaminya kendati ia harus ikut dibakar hidup-hidup untuk ikut bersama suaminya. Ada anggapan bahwa ini dijadikan pembenaran agar wanita tidak melakukan pengkhianatan. Agar mereka dapat tenang menjalani upacara ini, wanita harus diikat terlebih dahulu.

Penentang menyatakan bahwa alasan untuk hal tersebut tidaklah sesuai dengan hukum alam yang telah ditakdirkan kepada keadaan seorang wanita. Sangatlah merupakan suatu perbuatan kriminal bila hal tersebut terus dipertahankan. Ini benar-benar merupakan perbuatan keji dan kejahatan pada suatu makhluk hidup yang mengakibatkan penderitaan besar bagi mereka.

Wanita secara umum disebutkan mempunyai kelemahan, dibandingkan dengan seorang laki-laki dari segi kekuatan dan energinya. Dengan pendapat inilah yang menjadi dasar dalam suatu masyarakat, tidak ada sedikit pun kebaikan/jasa yang telah diciptakan seorang wanita. Tetapi akan sangat berbeda jadinya bila konsep pemikiran kita dilandasi oleh keadilan. Kapan persamaan kesempatan akan diperoleh wanita bila secara terus menerus dipandang dengan menggunakan pandangan umum bahwa wanita lebih rendah dari seorang pria. Tidak adanya kesempatan yang diberikan secara adil menunjukkan sikap yang kurang berpendidikan dari seorang pria.

Hal kedua adalah kesepakatan yang telah menjadikan wanita tampak begitu tidak diberi keadilan dalam menjalani kehidupan dan harus dibakar di samping jasad suaminya yang telah meninggal dunia dengan meninggalkan rasa ketakutan yang mendalam.

Hal ketiga, tentang halnya sifat layak dipercayanya kita harus melihat dulu dari berbagai kenyataan yang mempunyai hubungan dengan siapa sebenarnya yang lebih sering berkhianat, apakah pria atau wanita. Jika kita lihat begitu banyak wanita, baik di desa maupun kota yang dikhianat oleh kaum pria, bahkan bisa dihitung dengan rasio satu berbanding sepuluh bahwa wanita lebih banyak dikhianati oleh pria.

Hal keempat, betapa seorang pria dapat menikahi lebih dari satu wanita. Pria menikah bisa dengan dua atau tiga wanita. Bahkan bisa saja sampai lebih dari itu yaitu sepuluh, bahkan lebih. Bisa dibayangkan bila wanita yang ditinggal meninggal oleh suaminya harus juga ikut dalam ketentuan yaitu harus dibakar hidup-hidup.

Kelima, pengetahuan yang sifatnya virtual menunjukkan adanya ketidakadilan. Ketidakadilan makin menjadi-jadi, apapun artinya penderitaan dan tekanan yang dirasakan oleh seorang wanita. Bila seorang pria dapat menikahi, bahkan sampai 15 kali, karena mereka memiliki uang, dan hanya mengunjungi istrinya sesekali saja tanpa menjalankan kewajiban sebagaimana layaknya seorang suami. Masih diantara para wanita, mereka akhirnya hidup secara mandiri tanpa diberikan jaminan kehidupan material dari suami mereka. Malah mereka mendapatkan segala bentuk bantuan dari saudara laki-laki mereka atau ayahnya. Kalaupun akhirnya diajak hidup bersama suaminya, kaum wanita juga mendapatkan prilaku yang sangat tidak masuk akal, bahkan secara kasar dapat dikatakan diperlakukan seperti binatang. Apa yang dapat saya tangkap dari semua hal tersebut adalah bahwa kaum wanita hidup dalam penderitaan terasa tanpa diberi kasih sayang yang kemudian membawa mereka pada kematiannya.

Di India, hal seperti ini terus berlanjut, terutama di Bengali dimana janda yang dibakar hidup- hidup ini dianggap sebagai suatu yadnya (pengorbanan). Hal ini tidak mendapat dukungan dari pemerintahan Raja yang diagungkan William Cavendish Bentinck, karena hal ini dianggap sebagai suatu hal yang tidak manusiawi/tidak masuk akal. Karena dalam petisi yang Anda sebutkan, hal ini sudah sangat tidak sesuai dengan hukum alam, juga prinsip-prinsip pemerintahan yang baik. Sebagai negara yang masih bernaung di bawah Inggris, sudah seharusnya setiap peraturan dibuat dan disetujui oleh parlemen di negara Anda. Dari surat yang ditujukan kepada James Munro Mac Nabb, 6 Maret 1820 meminta agar dirinya memberikan pandangan tentang Suttee dan ini disampaikan pada Lady Hastings, wanita yang sangat berpengaruh di London.

Saya sangat berharap hal ini bisa dihentikan karena ini sungguh merupakan suatu kekejaman luar biasa yang akan memberikan pandangan sangat buruk, juga bagi pengakuan hukum di seluruh India, di setiap propinsi yang ada di India.

Pendidikan
Dari surat yang disampaikan pada Yang Mulia William Pitt, pemimpin Amherst.

Yang terhormat Tuanku,
Dengan segenap kerendahan hati ingin saya sampaikan tentang orang-orang asli India yang merasakan bahwa aturan yang ada sekarang ini terasa berasal dari tempat yang sangat jauh, baik bahasa, sastra, tingkah laku dan adat-istiadatnya, juga segala macam ide yang ada merupakan hal yang baru dan terasa aneh bagi mereka. Jadi belum dapat dipahami sepenuhnya oleh mereka, sebagaimana mereka memahami tentang apa yang mereka dapati dari nenek moyangnya. Hal inilah yang tampaknya dapat membawa suatu sikap apatis sehingga seharusnya dibuat suatu rencana yang bertujuan untuk memberikan mereka pengetahuan yang cukup tentang apa yang seharusnya mereka ketahui. Juga hal ini dapat menjadi penunjang bagi mereka untuk memajukan apa yang selama ini belum mereka ketahui.

Pendirian sekolah Sanskrit di Calcutta menunjukkan keinginan yang keras dari pemerintah untuk memajukan pendidikan orang-orang asli India yang tentu saja harus disikapi dengan rasa syukur dan harus ada keinginan untuk memajukan diri sendiri sehingga kepandaian dan intelegensi akan mengalir di setiap kesempatan.

Juga ketika akan didirikan sekolah seminar yang saya yakin akan banyak berguna, bila dilengkapi dengan pengetahuan real seperti Matematika, Ilmu Alam, Kimia, Anatomi, dan sebagainya. Saya sangat yakin untuk mendirikannya tentu memerlukan dana yang tidak sedikit. Tetapi saya yakin hal ini dapat disebut sebagai langkah maju bagi masyarakat India untuk dapat mengembangkan ilmu pengetahuan seperti di Negara-negara Eropa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar