Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Sabtu, 27 Oktober 2012

BHAIRAWA-BHAIRAWI DAN JEJAK TRADISINYA DI BALI

I Wayan Miasa

Menurut maknanya “bhairawa” berarti menakutkan atau mengerikan. Bhairawa merupakan salah satu perwujudan Dewa Siwa dalam aspek peleburan dengan perwujudan yang sangat menyeramkan. Bhairawa juga dikenal dalam berbagai bahasa dengan berbagai sebutan, misalnya: Bhairava (Sanskrit), Bheruji (Rajasthan), Vairavar (Tamil) dan bila semua kata tersebut dihubungkan aspek Dewa Siwa, maka makna kata Bhairawa berarti “peleburan”.

Bhairawa sering dilukiskan dengan perwujudan fisik dengan atribut-atribut yang menyeramkan seperti memakai ular sebagai: anting-anting, kalung, gelang tangan, gelang kaki, serta memakai tali suci yang disebut “yajnopavita”. Selain itu ada juga atribut lainnya, seperti memakai kulit harimau sebagai alas tempat duduknya, sabuk dari untaian tengkorak manusia dan sebagai persembahan yang paling cocok untuk Bhairawa adalah “cicing selem”. Dan dalam beberapa hal, Bhairawa sering dilukiskan dengan perwujudan makhluk yang memegang beberapa kepala manusia dan ditunggui oleh anjing di sampingnya.

Asal mula Bhairawa
Seperti telah disebutkan diatas bahwa Bhairawa merupakan perwujudan yang paling menyeramkan dari dewa Siwa sebagai “penghancur” atau “pelebur”. Mengenai kemunculan tentang Bhairawa ini ada beberapa cerita yang berkembang dilingkungan masyarakat pemeluk Hindu.

Menurut cerita masyarakat Hindu di daerah Rajasthan, Tamil Nadu dan Nepal bahwa kemunculan Bhairawa berkaitan erat dengan penghukuman Dewa Brahma. Pada jaman dahulu bercakap-cakaplah Dewa Wisnu dengan Dewa Brahma. Dewa Wisnu bertanya, siapakan Sang Pencipta alam semesta ini. Dengan angkuhnya Dewa Brahma menyuruh Dewa Wisnu untuk menyembah Dewa Brahma, karena Dewa Brahmalah sang pencipta tertinggi di alam semesta ini. Hal inilah yang membuat Dewa Siwa marah sekali dan menghukum Dewa Brahma dengan memenggal salah satu dari lima kepala Dewa Brahma. Sehingga kepala Dewa Brahma masih tersisa empat.

Atas perbuatannya itu, Dewa Siwa dianggap bersalah karena memenggal kepala salah satu kepala Dewa Brahma dan Dewa Siwa pun dikutuk menjadi “gegendong” dengan membawa mangkok dari tengkorak Dewa Brahma dan “Bhairawa” ini disebut “Kapalin” atau gegendong dengan mangkok dari tengkorak. Dan sejak itu sang Bhairawa terus meraung dan menari, dengan bernampilan seperti orang gila dengan wajah hitam. Dia juga terus mengganggu upacara para “sadhu”, juga mengambil istri-istri para “sadhu” tersebut sehingga “lingga” sang Bhairawa dikutuk dan “lingga” ini jatuh dan berubah menjadi pilar api yang membara.

Sang “Kapalin” terus meminta-minta dan menari. Pada suatu saat tibalah Dia di kediaman Dewa Wisnu, dimana kehadiran sang “gegendong” dihalang-halang sang penjaga pintu Dewa Wisnu, yang bernama Visvaksena. Karena menghalangi sang Bhairawa, maka sang penjaga pintu disiksa dengan trisula sampai mati. Kemudian Dewa Wisnu menyambut sang Bhairawa dengan memberikan sang Bhairawa darah dari kepala Dewa Wisnu, sang pemelihara alam semesta. Dan hal tersebut membuat sang Bhairawa senang. Dia terus berjalan, menari serta membawa mayat Visvaksena dan mangkok yang penuh berisi darah dari Dewa Wisnu. Akhirnya sang Bhairawa dengan mangkok dari kepala Dewa Brahma ini mencapai kota suci yang disebut Varanasi atau Benares, dan segera setelah sampai di daerah tersebut sang “Kapalin” dibebaskan dari kutukan Dewa Brahma.

Menurut cerita bahwa Bhairawa memiliki delapan perwujudan, seperti “Kala”(hitam), “Asitanga” (berbibir hitam), “Sanhara” (penghancuran), “Ruru”(cicing borosan), “Krodha”(kemarahan), “Kapala”(tengkorak), “Rudra”(badai), dan “Unmatta”(kekejaman).

Lingga yang Bersinar (Jyotirlingga)
Seperti diceritakan diatas bahwa “lingga” sang Bhairawa dikutuk oleh para “Sadhu”, yang mana “lingga” tersebut jatuh ke bumi yang berubah menjadi “lingga yang bersinar”. Setelah “lingga” sang Bhairawa dikutuk, ia memunculkan “lingga” baru lagi dan sang sadhu mengutuknya lagi. Menyadari bahwa “lingga” yang dikutuk tersebut milik Dewa Siwa maka sang sadhu membujuk Dewa Siwa agar beliau tenang. Dewa Siwa menjawab sebagai berikut:

“Dunia ini tidak akan menemukan kedamaian sampai ditemukan sebuah tempat untuk “lingga”(phallus) beliau ditemukan. Tidak ada tempat yang bisa memegang phallus beliau kecuali Dewi Gunung atau Parwati. Jika sang Dewi mau memegangnya maka semuanya akan tenang”.

Untuk memenuhi keinginan Sang Bhairawa tersebut maka Dewa Brahma langsung menyuruh para sadhu untuk memerciki phallus itu dengan “tirta”, membuat sebuah tempat berbentuk “vagina” (yoni) dan disertai dengan lambang sang Dewi. Selain itu doa-doa dikumandangkan, persembahan dengan diiringi musik, juga mengucapkan “Engkaulah asal sumber alam semesta”. Tenangkanlah Dirimu dan jaga alam semesta ini!

Seiring waktu, Bhairawa berkembang sesuai dengan keadaan daerah masing-masing pengikut Bhairawa tersebut, misalnya “Kapalika” atau Bhairawa dengan mangkok dari tengkorak, yang pada awalnya diberi persembahan berupa “cicing selem” kemudian di beberapa wilayah digambarkan sebagai Bhairawa yang bermandikan abu dari upacara pembakaran mayat, meminta persembahan dengan pengorbanan manusia, dan lain sebagainya.

Orang-orang menyembah “Bhairawa Kapalika”, gegendong dengan mangkok tengkorak karena para pemuja ini percaya bahwa dengan memuja sang Bhairawa ini mereka akan diberikan kekuatan magis yang luar biasa oleh Sang Bhairawa dan para pengikut Kapalika menganggap bahwa Bhairawa adalah Tuhan dari semua dewa (pencipta, pemelihara dan pelebur).

Para pengikut Kapalika memang berpenampilan yang sangat seram, memiliki kekuatan magis dan senang mempersembahkan manusia sebagai korban suci. Prabodha Chandrodaya melukiskan pengikut Kapalikas sebagai berikut:

“Kalung dan perhiasannya dari tulang-tulang manusia, tinggal di abu pembakaran mayat, makan dengan mangkok dari tengkorak manusia, melihat dengan mata mendelik…. Setelah berpuasa mereka minum cairan yang keluar dari kepala brahmana, mempersembahkan otak, paru-paru, daging serta darah segar yang mengalir dari kerongkongan untuk sang Bhairawa.”

Selain pemujaan terhadap Bhairawa, ada pula pemujaan terhadap “shakti” dari bhairawa dan para pengikutnya memuja aspkek feminine dari Bhairawa yang terkenal dengan sebutan “Bhairawi”, sebagai “Ibu Shakti” dan di Bali sering disebut Dewi Durga.

Bhairawa di Nusantara
Menurut sejarahnya, bahwa di Nusantara ini pernah berkembang ajaran Bhairawa terutama pada jaman kerajaan Singosari. Pada saat itu para pengikut Bhairawa melakukan pemujaan terhadap Bhairawa dengan melakukan “Pancamakarapuja”, versi kiri, yaitu dengan melaksanakan panca Ma: Mada, yaitu berupacara dengan mabuk-mabukan; Maudra atau menari hingga jatuh pingsan; Mamsa, yaitu makan daging bangkai, mayat dan minum darah; Matsya, yaitu makan ikan sepuas-puasnya; Maithuna, yaitu berpesta sex secara berlebihan.

Pelaksanaan acara tersebut biasanya dilakukan di Kuburan atau “setra” pada saat tilem atau bulan mati. Pada jaman itu pemujaan terhadap Bhairawa yang dilakukan raja Kertanegara adalah Bhairawa Kalacakra untuk mendapatkan kekuatan atau kesaktian. Hal ini ditujukan untuk melindungi kerajaan dari serangan raja Cina, yaitu Kaisar Khu Bhi Lai Khan yang menganut Bhairawa Heruka. Sedangkan Patih raja Singasari, Kebo Parud menganut Bhairawa Bima guna mengimbangi kekuatan Raja Bali.

Pada jaman tersebut pelaksanaan ajaran Bhairawa lebih banyak bersifat politis untuk mendapatkan kekuasaan, kharisma, kesaktian, agar para penguasa atau para bala pasukan disegani oleh lawannya. Pada jaman raja Dharma Udayana Warmadewa dan Gunapriyadharmapatni merupakan jaman berkembangnya ajaran ini, seperti tentang adanya pemujaan terhadap Bhairawi atau Dewi Durga yang mana pada jaman tersebut pemujaan dilakukan oleh Calon Arang dengan tujuan mendatangkan penyakit di kerajaan Airlangga. Pada jaman tersebut para pengikut Calon Arang melakukan upacara dengan berpesta pora di atas mayat-mayat dengan maksud agar kemauannya dikabulkan oleh Dewi Durga.

Sedangkan di Bali terutama pada masa Kebo Parud, kita bisa melihat perjalanannya sejarahnya di daerah Pejeng. Di sana ditemukan arca Bhairawa setinggi 360cm dengan fostur tubuh yang gagah, berdiri diatas tengkorak manusia. Dilihat dari posisinya, bisa dikatakan bahwa posisi semacam itu merupakan perwujudan Dewa dalam keadaan Krodha atau marah, sehingga orang sering menyebut arca tersebut Siwa Bhairawa.

Selain Arca Siwa Bhairawa, di Bali juga ditemukan arca-arca raksasa yang mirip dengan arca Siwa Bhairawa di pura Kebo Edan. Di pura tersebut terdapat banyak arca yang memiliki atribut-atribut seperti pada arca Siwa Bhairawa. Sehingga bisa dikatakan bahwa Pura Kebo Edan merupakan salah satu bukti peninggalan tentang jejak Bhairawa di Bali pada abad XIII.

Setelah abad XIV perkembangan ajaran Bhairawa semakin berkurang. Hal ini disebabkan oleh karena berkembangnya pola pikir manusia, dan juga banyak ritual-ritual yang dilakukan bertentangan dengan nilai kesopanan manusia, seperti melakukan seks seperti layaknya binatang, makan daging bagaikan harimau, dan lain sebagainya.

Sisa-Sisa Upacara Bhairawa Zaman Kini di Bali
Walaupun praktek persembahan ala Bhairawa telah ditinggalkan pada abad XIII, namun pengaruh persembahan ala Bhairawa masih bisa kita rasakan dalam kehidupan masyarakat Bali saat mereka melakukan yadnya, misalnya dalam upacara mereka masih memakai persembahan daging mentah, ada persembahan darah lewat “sambleh”. Begitu juga mengenai makanan yang dibuat saat berpesta ada persembahan “lawar” yaitu campuran sayur dengan daging ditambah darah mentah dari binatang. Hal semacam ini mirip dengan pemujaan yang dilakukan oleh pengikut Kapalika pada suku bangsa Dravida. Walaupun tradisinya hampir mirip dengan masyarakat kita di Bali, namun suku bangsa Dravida pengikut Bhairawa Kapalika tidak mengakui adanya sistem kasta.

Dan dalam perkembangan selanjutnya Bhairawa dan Bhairawi melahirkan para Bhuta-bhuti, serta makhluk-makhluk yang menyeramkan lainnya. Para Bhuta-bhuti ini merupakan aspek kemarahan atau krodha. Kelompok dari aspek ini adalah makhluk-makhluk yang mencerminkan kemarahan seperti raksasa, yaksa, naga, yatudhana dan pisaca dan golongannya sering disebut krodhawangsa.

Sedangkan menurut Lontar Bumi Kamulan disebutkan sebagai berikut, karena kesalahan sang Dewi Uma maka beliau dikutuk oleh Dewa Siwa dalam wujud lima Bhairawi, yaitu Sri Durga, Raji Durga, Suksmi Durga, Dahri Durga dan Dewi Durga. Dari masing-masing Durga inilah terlahir berbagai jenis makhluk menyeramkan seperti Kalika-kaliki, Bhuta Dengen, Jin, Setan, Bragala-bragali, Bebai, dan sebagainya.

Walaupun para pengikut Bhairawa-Bhairawi melakukan pemujaan dengan cara yang kurang biasa dalam jaman yang beradab ini, tetapi tujuan pemujaan mereka juga untuk mencapai Tuhan. Para pengikut ajaran ini percaya bahwa pada jaman Kaliyuga ini tidak mungkin mengikuti ajaran Weda seperti jaman Kertha, Treatha dan Dwapara yuga. Mereka percaya bahwa inilah jalan yang cocok dengan untuk jaman Kali.

Mengenai cocok atau tidak cocoknya mengenai ajaran tersebut pada jaman ini, kita harus pandai memilih sesuai dengan desa, kala, patra, apakah hal semacam itu diterima di lingkungan jaman modern ini atau tidak agar kita nanti tidak disebut “menyimpang.” Suatu harapan bagi kita semua, mudah-mudahan dalam berspiritualitas kita bisa beradaptasi sesuai dengan keadaan jaman. Om Shanti Manggalam.

1 komentar:

  1. ANDA PUTUS SEKOLAH / KULIAH ?!
    MEMBUTUHKAN IJAZAH UNTUK BEKERJA ATAU MELANJUTKAN SEKOLAH / KULIAH ?!
    INGIN MERUBAH MASA DEPAN MENJADI JAUH LEBIH BAIK ?!
    ATAU ANDA MEMBUTUHKAN DOKUMEN PENTING LAIN ?!
    KAMI JASA PEMBUATAN IJAZAH SIAP UNTUK MELAYANI DAN MEMBANTU KESULITAN ANDA UNTUK MEMENUHI DOKUMEN DOKUMEN PENTING YANG ANDA BUTUHKAN.
    PELAYANAN KAMI PROFESIONAL KARENA KAMI AKAN MEMBERIKAN BUKTI, BUKAN SEKEDAR JANJI.
    DOKUMEN YANG KAMI SEDIAKAN AMAN - TERDAFTAR DAN TIDAK AKAN ADA MASALAH DIKEMUDIAN HARI KARENA UNTUK KEAMANAN LEGALITAS KAMI BERANI MENJAMIN.
    RAHASIA IDENTITAS PEMESAN AKAN KAMI PASTIKAN AMAN DAN TERJAGA .
    AMAN UNTUK MELANJUTKAN JENJANG PENDIDIKAN.
    AMAN UNTUK MELAMAR KERJA.
    AMAN UNTUK TEST CPNS.
    AMAN UNTUK MASUK TNI / POLRI

    . DAFTAR HARGA IJAZAH SEKOLAH / UNIVERSITAS :
    IJAZAH SD : 4.000.000
    IJAZAH SLTP : 4.000.000
    IJAZAH SMU : 4.000.000
    IJAZAH D3 : 6.000.000
    IJAZAH S1 : 8.000.000
    IJAZAH S2 : 16.000.000



    UNTUK INFORMASI LEBIH JELAS SILAHKAN ANDA KIRIM PERTANYAAN MELALUI EMAIL : 085736927001.ku@gmail.com .
    ATAU SMS KE : 085736927001.

    KAMI AKAN BERUSAHA MELAYANI DENGAN SEPENUH HATI KARENA KEPERCAYAAN YANG ANDA BERI AKAN MEMBANGUN KINERJA TERBAIK KAMI.


    www.pembuatanijazah.blogspot.com


    www.jasapembuatanijazahpalsu.blogspot.com

    BalasHapus