Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 19 September 2012

Tuhan dalam Persepsi Masyarakat Hindu di Toraja

Putu Nopa Gunawan

Dalam agama Hindu yang dianggap sebagai agama tertua di dunia, telah membahas masalah Ketuhanan sejak zaman Veda. Kendati Weda sebagai Kitab Suci Agama Hindu tidak diketahui secara pasti kapan diwahyukan, tetapi diantara para ahli ada yang memperkirakan 2.400 Sebelum Masehi. Menurut keyakinan umat Hindu bahwa Weda adalah sabda Brahman bersifat Anadi Ananta artinya tidak berawal dan tidak berakhir, sehingga Weda diyakini sudah ada sejak Brahman atau Tuhan Yang Maha esa ada.

Sedangkan dalam Lontar-Lontar di Bali tuhan digelari Bhatara Siwa. Adapun Sang Hyang Widhi Wasa, pada mulanya adalah sebutan Tuhan dalam pandangan masyarakat Hindu di Bali, tetapi sekarang sudah menjadi istilah umum bagi umat Hindu di Indonesia yang dipadankan maknanya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sang Hyang Widhi Wasa artinya “Yang menakdirkan” dan / atau “Yang Maha Kuasa”.

Akibat dan konsep Agama Hindu yang demikian, maka tak jarang bagi orang yang tidak memahami secara utuh mengambil kesimpulan-kesimpulan yang keliru. Max Muller, misalnya, pernah menganggap bahwa konsepsi Ketuhanan Hindu adalah Natural Politheisme, tetapi kemudian menyebutnya sebagai Henotheisme (Kathenoisme) yaitu keyakinan terhadap adanya Dewa tertinggi pada suatu masa digantikan kedudukannya oleh Dewa yang lain sebagai Dewa tertinggi.

Masyarakat Hindu Alukta dan etnis TorajaBarat di Kabupaten Marnasa sampai saat ini masih “sering dianggap” sebagai penganut Animisme dan Dinamisme, walaupun secara formal telah menyatakan dan diterima sebagai bagian integral Hindu di Indonesia sejak 40 tahun silam. Keyakinan ini dinyatakan bagian integral Hindu di Indonesia sejak Tahun 1964, Akibatnya, banyak umat Hindu di daerah ini, terutama di bawah tahun 1980-an, melakukan konversi religius, beralih ke agama lain terutama Agama Kristen.

Sumber ajaran Ketuhanan dalam masyarakat Hindu Etnis Toraja Barat disebut Sukaran Aluk. Kata “Sukaran” bisa berarti ukuran, patokan, dan pedoman/tuntunan, sedangkan Aluk berarti: Ajaran Agama, kewajiban, sopan santun/norma-norma, atau aktivitas; tergantung konteks kalimatnya. Segala aktivitas agama bersumber dan berpedoman pada sukaran aluk. Jika tidak, maka dianggap utte’kaialuk yaitu secara harfiah berarti melangkahi aturan agama (aluk) yang maksudnya melanggar aturan agama.

Sukaran Aluk diyakini pemeluknya sebagai wahyu Puang Matua. Menurut Bero bahwa salah satu ciptaan Puang Matua adalah Sukaran Aluk. “Kumombong Tosanda Sangka‘na untampa lalanna aluk, kumombong pemali sanda saratu”. Artinya: lahirlah Beliau yang paling sempurna (baca Puang Matua/Tuhan) untuk menciptakan aturan agama (Aluk), membuat larangan agama (pemali) yang demikian banyak dan lengkap atau sempurna (Ungkapan Sanda Saratu’ artinya harfiahnya: serba seratus).

Karena Sukaran Aluk adalah wahyu dan PuangMatua yang merupakan sumber kebenaran tertinggi maka kebenarannya pun tak diragukan lagi. “Tumompa sanda salunna (dibuat aturan yang sempurna), Kumombong Sanda Tonganna (diciptakan dengan kebenaran yang sempurna), demikian keyakinan umat Hindu terhadap Sukaran Aluk. Karena itu, anggapan-anggapan yang keliru bahwa apa yang menjadi keyakinan umat Hindu di Kabupaten Mamasa yang lazim dikenal Aluk To Matua adalah bukan agama wahyu tetapi kebudayaan manusia semata, dalam arti, agama buatan manusia, tentu tidak beralasan. Hal yang sama juga pernah dialami masyarakat Hindu pada umumnya. Karena itu, Wiana berpendapat bahwa orang yang berpendapat demikian sesungguhnya ada dua kemungkinan. Pertama, tidak mengetahui apalagi memahami, dan kedua menghina agama Hindu.

Sukaran Aluk sebagai sumber ajaran Agama yang dipedomani masyarakat Hindu etnis Toraja Barat yang begitu luas, dalam konteks upacara, pada dasarnya diklasifikasikan menjadi lima bagian. Kelima bagian tersebut diistilahkan Aluk Limo Raidanna yang terdiri dari: (1) Aluk Bannne Tau, (2) Aluk Pandanan Lettong, (3) Aluk Pa ‘taunan, (4) Aluk Rambu Solo, dan (5) Aluk Manuk A’pak.
Kadang-kadang istilah Aluk dalam konsep ini disebut Pemala, walaupun keduanya memiliki makna yang berbeda. Pemala lebih identik dengan upacara yadnya, yaitu bentuk pelaksanaan kongkrit dan Aluk. Menurut Mas Putra bahwa upacara adalah pelaksanaan yadnya sehingga disebut upacara yadnya.

Selanjutnya Sukaran Aluk yang terurai menjadi Aluk Lima Randanna seperti di atas masih disederhanakan lagi menjadi dua kategori, yaitu: (1) Aluk Rambu Tuka, dan
(2) Aluk Rambu Solok. Empat bagian dalam Aluk Limo Randanna yaitu Aluk Banne Tau, Aluk Pandanna Lettong, Aluk Pa ‘taunan, dan Aluk Manuk A’pak, semuanya dikategorikan kedalam Aluk Rambu Tukak. Sedangkan Aluk Rambu Solok berdiri sendiri. Nampaknya kedua pembagian tersebut didasarkan pada bagaimana sikap manusia di dalam menghadapi kenyataan hidup di dunia berdasarkan keyakinan agama. Aluk Rambu Tuka’ merupakan gambaran sikap manusia yang penuh dengan suka cita di dalam berhubungan dengan yang dipercayainya. Sedangkan ketika manusia mengalami suasana bathin yang berduka cita maka hubungan manusia dengan yang dipercayainya disebut Aluk Rambu Solok, upacara yadnya yang berhubungan dengan kematian.

Demikian, yang menjadi sumber ajaran Ketuhanan dalam masyarakat Hindu Etnis Toraja Barat di Kabupaten Mamasa adalah Sukaran Aluk. Ferdinandus (2002) berpandangan bahwa Sukaran Aluk pada hakekatnya berisikan ajaran-ajaran dasar yang secara umum seperti yang ada dalam rumusan Panca Sradha. Di dalam Ajaran-ajaran tersebut nampaknya memperlihatkan fase-fase pemikiran manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, sama seperti apa yang terlihat dalam Agama Hindu pada umumnya di Indonesia. Menurut I Gede Sura, Kitab Veda memiliki berbagai-bagai fase perkembangan pemikiran keagamaan. Dalam Veda terdapat perwujudan tanda-tanda politheisme, politheisme yang diorganisir, henotheisme, monotheisme, dan monoisme. WHD No. 450 Juli 2004.

Bagi masyarakat Hindu Alukta di Kabupaten Mamasa di dalam memahami Tuhan tentu menggunakan tradisi dan budaya mereka sendiri yang kesemuanya bersumber dari Sukaran Aluk. Tuhan diapresiasi sebagai Puang Matua. Di samping Puang Matua, juga dikenal istilah Dewata yang jumlahnya sangat banyak sesuai dengan fungsinya. Puang Matua diyakini ada dengan sendirinya atau dengan kata lain tidak pernah dilahirkan ataupun melahirkan. “Apa dadi ria puang matua lan silopakna tana kalua” atau lebih lengkapnya “apa dadi ria Puang Matua lan ba’tangna langi”, kumombong ria Deata lan silopakna padang kalua’, Puang tang didadian, Deata tang dikombongan. Kalimat Puang Matua tang didadin yang artinya Puang Matua tidak dilahirkan menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat Hindu di Kabupaten Mamasa bahwa Tuhan itu diyakini tidak dilahirkan tetapi ada dengan sendiriNya. Selain digelari Puang Matua, Tuhan dalam keyakinan masyarakat Hindu Alukta etnis Toraja Barat juga sering disebut Bhatara Tua dan Puang Takumombong.

Demikian juga Dewata, menurut keyakinan Umat Hindu Alukta, diciptakan seperti adanya manusia yang dalam kutipan di atas disebut “Deata” (Bahasa Toraja Barat: Dewata) tang dikombongan. Disini tentu ada perbedaan istilah antara Dewata dalam masyarakat Hindu di Bali dengan apa yang diyakini dalam masyarakat Hindu Alukta. Di Bali (dalam sumber tertulis) Dewata diartikan sebagai dewanya para dewa yang pengertiannya sama dengan Tuhan sedangkan dewa adalah bagian dan atau manifestasi dari Tuhan. Walaupun demikian, sesungguhnya secara gramatikal bahasa Sanskerta, kedua kata ini mempunyai pengertian yang sama. Dalam konsep Sukaran Aluk Dewata adalah mahkluk ciptaan Puang Matua. Menurut Bero, seorang tokoh agama Hindu Alukta di Toraja Timur Puang Matua menciptakan para Dewata untuk memelihara semua ciptaannya di dunia.

Dewata ini diyakini jumlahnya sangat banyak. “Dewata ponno padang” demikian dikenal dalam sastra tutur masyarakat Hindu Alukta yang arti harfianya alam semesta ini dipenuhi dengan Dc’wata. Adapun Dewata yang banyak itu, antara lain : Dewata To Mepatama Lino (Manifestasi Puang Matua sebagai pencipta), Dewata (To) Merandanan, manifestasi Puang Matua ketika sebagai pemelihara, Dewata Wai yaitu dewata yang menguasai air, Dewata Pare yaitu Dewata yang menguasai padi, Dewata (To) Masagala yaitu menifestasi Puang Matua sebagai pelebur, Dewata Nawang, yang menguasai angkasa, Dewata Api yaitu Yang menguasai api, Dewata Reu yakni Dewata yang menguasai tumbuh-tumbuhan (istadewata bagi peternak), Dewata Litak (Dewa Prthiwi), Dewata To Mesalangga (Dewata yang mengatur pergerakan bumi termasuk gempa bumi), Dewata Pangngalak (Dewa penguasa hutan, dan lain sebagainya).

Dari sekian banyak manifetasi Puang Matua yang disebut Dewata, nampaknya disederhanakan lagi menjadi tiga azas yang sebenarnya tunggal. Ketiga pengelompokan dimaksud disebut Dewata Titanan Tallu, Puang Matua Tirindu Lalikan; artinya tiga azas yang tak terpisahkan. Ketiga azas ini kurang populer bagi masyarakat Hindu Alukta etnis Toraja Barat khususnya bagi yang awam tetapi besar kemungkinan terdiri dari unsur; Puang Matua, Ampo Padang dan Simbolong Padang yang identik dengan Tri Murti.
(Diambil dari kmhdi.org)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar