Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 19 September 2012

Subak di Persimpangan Jalan

I Nyoman Tika

Keprihatinan saya , kini tidak menyendiri, ketika subak dianggap sebagai warisan budaya dunia yang pernah ada, sehingga wajib dilestarikan. Subak, sistem irigasi di Bali ini mendapat pengakuan dari Unesco, PPB beberapa waktu silam, penghargaan itu, bukan tanpa alasan. Subak dengan perangkatnya dianggap memiliki outstanding universal values. Jadi memiliki nilai budaya yang luar biasa, yang masih bisa ditunjukkan bukti-buktinya sebagai kultur hidup yang diikuti oleh masyarakat adat di Bali. Subak adalah sistem kehidupan yang terus bertahan dalam keterdesakan fragmatisme budaya sebagai living monument

Di dimensi itu, izinkan saya bertutur, saya sendiri lahir dari budaya subak. Kehidupan saya, akrab dengan lahan pertanian yang subur, musim tanam dan padi menguning adalah pemandangan yang setiap saat saya temui ketika kecil. Setelah menanam padi, ayah saya, sebagai pekaseh- keliahang tempekan Subak itu, memasang tanda dari janur, lalu ada upacara nangluk, ngerasakain, ngusab dan terus melakukan upacara biyu kukung dan ngelinggihang betara seri, di gelebek (jineng). Artinya Subak sarat dengan nilai riligius dan yadnya. Suatu rangkaian upacara yang secara kontinyu dilakukan untuk memuja, artinya petani selalu berdoa dan harapannya kepada Tuhan sebagai pencipta alam raya, agar panennya berhasil, hama berkurang dan panen bisa melimpah. Doa yang tulus sering dilantunkan kepada Hyang Widhi, tanpa jemu-jemunya. Keikhlasan dan ketulusan petani ini sangat menarik kita kaji, kemurnian petani dengan sistem subaknya adalah tatanan pembelajaran prilaku beragama dengan konsep: learn to do.

Petani dengan subaknya, bahkan masyarakat intelektual, dan bukan juga kelompok masyarakat “jnatum” tetapi ada di wilayah “ prawestum” sebuah konsep penyatuan diri pada Hyang Widhi dengan kesadaran “total serender.” Namun saat ini subak memang terjepit. Alasannya adalah subak berdiri di budaya agraris dan sosialis religius dan berbenturan dengan informasi, sehingga subak semakin terdesak dan bisa jadi usang, bila kita menatapnya saat ini. Artinya semakin terpinggirkan dengan mengamuknya kehidupan kapitalis yang terus menohok dalam masyarakat Bali modern. Subak. Diparalelkan dengan konsep Alvin Tofler berada di gelombang I. Subak mendukung tanah yang subur harganya mahal, namun kini ketika gelombang dua dan ketiga melanda dunia ini, maka besarnya modal menentukan nilai tanah itu. Subak digerus dan dialeinasi karena sudah tidak cocok lagi ada, karena tidak meningkatkan nilai ekonomi pemiliknya. Akibatnya pola hidup fragmatis yang semakin menggejala dengan mudah menjual sawah, agar tidak bisa menjadi petani, sebab ekonomi petani saat ini, lebih-lebih petani penggarap termasuk kelompok terendah dari sesi pendapatannya. Komunitas semakin merosot di Bali, tanpa bisa dikendalikan oleh siapa pun, subak berdiri sendiri, dan pemerintah Bali belum kelihatan berpihak pada kehidupan petani dengan subaknya. Subak kian terjepit. Alasannya adalah (1) pembanguanan yang membutuhkan lahan produksi, dan lahan perumahan. Celakanya pemerintah belum maksimal mengatur tata peruntukan untuk pemukiman, sehingga tidak sedikit sawah-sawah yang subur menjadi kompnen penting yang tergerus dan lenyap tanpa ada yang membelanya.

(2) Alih fungsi lahan pertanian, disebabkan juga budaya baru generasi Bali, yang memandang pertanian adalah sektor yang tidak menjajikan.
Ya , tidak menjanjikan karena pola pertanian saat ini masih menggunakan pola bertani 30 tahun silam, sehingga pertanian tidak menguntung dari segi ekonomi. Ada komentar yang menyedihkan, “Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau hanya jadi petani. Lulusan S1 pertanian aja lebih memilih jadi kameramen TV, pegawai bank, dari pada jadi petani? Artinya, eksistensi subak memang sangat mengkhawatirkan, dan ke depan bisa jadi menjadi “bagian sejarah” yang sengaja ditinggalkan oleh pendukungnya, karena tidak memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Lalu, subak menjadi fosil budaya. Oleh karena banyaknya alih fungsi dan irigasinya yang mati, orang ramai-ramai menjual sawah mereka, Pura Ulun Suwi sudah banyak yang tidak memiliki sawah, dan mati suri, karena tidak mampu melakukan upacara dan ngusaba di pura tersebut.

Kehidupan di Bali jauh berubah, dan orientasi manusia Bali saat ini adalah, bagaimana mendapatkan uang, ketika sistem subak tidak memberikan masukan secara ekonomi yang memadai maka disana akan segera sawah tidak lagi ditanami padi, namun semuanya berubah menjadi tanaman beton. Walaupun demikian, solusi yang bisa diusulkan seiring dengan pengakuan Badan PBB terhadap Subak, maka sebagai komunitas yang hidup di Bali wajib mempertahankanya dengan beberapa jalan. Pertama, pengaturan pengalihan fungsi lahan, dengan pembangunan kelahan-lahan yang tidak produktif, kalau perlu bangunan bertingkat lebih tinggi, yang selama ini tidak bisa dilakukan di Bali dapat mulai dipikirkan untuk bisa diterapkan.

Kedua, langkah-langkah strategis yang diperlukan meng-upgrade bagi lokasi-lokasi yang padat pemukimannya. Fasilitasi pembentukan subak-subak gede (subak agung). Selain itu, pemerintah hendaknya melibatkan subak dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan izin penggunaan air sungai dan konversi sawah untuk penggunaan non-pertanian.

Menggalang kemitraan subak dengan lembaga atau instansi non-subak. Pendidikan dan latihan dalam berbagai bidang bagi pekaseh atau prajuru subak. Misalnya, manajemen jaringan irigasi, kewirausahaan, administrasi, manajemen, agrobisnis, konservasi sumber daya alam. Langkah lain yang diperlukan dalam mempertahankan subak yakni pelayanan pengelolaan lebih ditingkatkan. Pelayanan informasi pasar. Memfasilitasi pemberian status badan hukum. Memfasilitasi pengembangan subak menjadi lembaga irigasi yang berorientasi agrobisnis dengan tetap menjaga air, kehidupan sosial religius masyarakat setempat

Ketiga, mensinergikan antara pertanian dan pariwisata sehingga keduanya bisa beriringan. Di beberapa tempat di Bali sudah dilakukan seperti Desa Wisata Kertalangu, Jatiluwih, dan Tegalalang. Tinggal bagaimana mengelalolanya dengan serius sehingga Subak dapat dilestarikan sekaligus menguntungkan dari segi bisnis pariwisata.

Keempat, penguasaan teknologi lemah, keterbatasan informasi pasar, pengetahuan dan keterampilan dalam bisnis dan posisi tawar petani sangat lemah. Kelemahan lainnya, menurutnya, subak belum berstatus badan hukum, masalah koordinasi antarsubak dalam lingkungan sistem irigasi yang menggabungkan beberapa subak. Tantangan subak ke depan, menurut Sutawan, terjadi liberalisme perdagangan hasil pertanian. Berkurangnya minat kaum muda untuk bekerja sebagai petani. Beban finansial dari petani karena adanya management transfer. Berkurangnya lahan sawah berigasi karena alih fungsi. Konflik pemakaian air meningkat.
Om nama siwaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar