Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 26 September 2012

Riset Modern Mengenai Spiritualitas

Nyoman Mider Adnyana

Berdasarkan kajian filosofi dan sain baru terungkap, bahwa pada dasarnya dalam semesta bertabiat berpartisipasi (Wheatley, 1999, Skrbina, 2001) sehingga memberi ruang eksistensi manusia dan alam berada dalam satu kesatuan dan filosofi hubungan manusia dan alam adalah hubungan spiritual. Filosofi ini membawa pada sesuatu tentang adanya aspek spiritualitas yang berperan dalam keberhasilan membangun konsensus. Secara spesifik ada proposisi, bahwa ada aspek spiritiualitas yang terkandung di dalamnya.


Penjelasan tentang adanya realitas yang bersifat “metafisik” yang dipelajari sebagai filsafat tentang “yang sebenar-benarnya ada” (Palmquist, 2000, adian, 2002), sampai saat ini telah banyak diungkapkan baik oleh fisika baru (Talbot, 1981, Herbert, 1985, Progogine, 1996, Capra, 1996) ahli kedokteran (Combe, 1993, Chopra, 2002), dan ahli disiplin psikiatri dan psikologis (Ornstein 1972, Suryani & Jensen, 1999, Wilber, 2000, Johar & Marshall, 2001), ahli spiritual barat dan timur (Zukav, 1990, Myss, 1996, Redfield, 1997, Powell, 2003, Lama, 2005, Tolle, 2006) serta individu-individu yang mengalami pencerahan spiritual (Walsch, 2004, Tolle, 2005, Prama, 2006, Jang, 2007). Mereka mengungkapkan bahwa manusia merupakan kesatuan utuh yang terbangun dari badan fisik, mental dan spirit. Mental dan spirit yang dapat terhubungkan dengan alam semesta karena mengandung unsur-unsur yang sama. Dengan mengenali esensi dirinya, manusia akan merasakan kesatuan dengan segala sesuatu di alam semesta.

Kajian Anhorn (2006) baru mengungkapkan, bagaimana spiritualitas digabungkan ke dalam praktik profesional, tanpa ada penjelasan hasil studinya. Jadi untuk menjelaskan adanya aspek spiritualitas yang berperan dalam keberhasilan membangun konsensus membutuhkan satu telaah yang bersifat eksplorasi karena belum ada kajian spiritualitas terkait teori perencanaan sebelumnya. Eksplorasi, yang merupakan salah satu tipe penelitian adalah merupakan usaha menyelidiki suatu bidang yang relatif tidak dikenal (Grobberaal, 2000 dalam Van Dew Valt, 2006). Sanderock (2006) mengenali topik spiritualitas dalam perencanaan merupakan salah satu penting, karena dunia perencanaan merupakan dunia spirit kemanusiaan yang dalam sehari-hari harus bermakna dalam menciptakan masa depan dunia yang lebih baik.

Wilayah spiritualitas yang dikaji dalam buku-buku sangatlah luas. Dimensi spirit itu sendiri bukanlah dimensi materi, spirit itu merupakan sesuatu yang ada namun tidak dapat dihadirkan secara fisik. Penelitian dalam bidang ini masih sedikit karena masih penuh kontroversi untuk dikaji secara alamiah, karena terkait dengan masalah subyektivitas untuk menjadi fakta empirik. Namun demikian, ada beberapa penemuan ilmiah yang mengungkapkan fenomena adanya aspek spiritualitas manusia. Pasiak (2002), yang berlatar belakang pendidikan kedokteran menyingkapkan anatomi otak dan seluruh kemampuan otak hingga menjelaskan manusia mempunyai otak rasional, otak intuitif, dan otak spiritual.

Intelegensi Spiritual

Pada akhir tahun 1990-an ditemukan fakta ilmiah tentang adanya intelegensi spiritual dalam diri manusia terkait dengan kebutuhan untuk memaknai hidupnya, sehingga dapat berevolusi dan bertahan hidup. Perangkat intelegensi manusia ini yang telah ditemukan oleh pakar neuronsains, terletak dalam lobus temporal otak dan dinamai sebagai Titik Tuhan (Zohar and Marshall, 2001 dan 2004). Dengan perangkat ini menurut Zohar and Marshall (2001), spiritualitas manusia dapat muncul karena otak manusia sanggup melakukannya.

Sejak tahun 1977, sekelompok peneliti dari Priceton, Amerika, telah melakukan sebuah tes yang terus-menerus untuk mengetahui apakah peristiwa-peristiwa sadar dalam skala besar mempunyai efek pada sensor elektronik berupa random number generator yang terletak ditempat-tempat berbeda di bumi. Beberapa peristiwa besar, seperti saat pemakaman Putri Diana dan ketika menara kembar WTC rubuh, telah membuat kegiatan generator itu menjadi korelasi. Tim peneliti itu menafsirkan hasil-hasil penelitian sebagai bukti adanya medan makna dan medan kesadaran yang berskala dunia dan adanya interaksi antara medan makna dan medan materi.

Dari hasil penelitian ini, Zohar dan Marshall (2004) melihat kemungkinan besar ada medan makna dan medan kesadaran bersama. Teori Carl Gustaf Jung, seorang psikiatri asal Swiss, mengenai “Ketidaksadaran Kolektif” juga menjelaskan ada sebuah lapisan-bersama dari kehidupan mental kita yang berisi makna-makna, yang merupakan asal dari mimpi kita, tema-tema universal dan simbol-simbol, yang berulang-ulang dalam mitos-mitos dari banyak budaya (Rohmann, 2002, Zohar dan Marshall, 2004). Contoh yang menunjukkan hal ini adalah tentang penemuan dari para ahli yang meneliti tentang mitos-mitos kuno. Mereka menemukan bahwa masyarakat telah membuat kodifikasi terhadap perasaan ketuhanan yang muncul dalam bentuk norma-norma spiritual dan sosial, ritual-ritual dan etika sosial dan kodifikasi tersebut dalam catatan jung berlanjut menjadi rujukan-rujukan utama dalam kehidupan (Pasiak, 2002). Jung juga menganggap bahwa “Ketidaksadaran Kolektif” ini yang disimpan dalam bentuk arketip-arketip universal, mendasari pengalaman telepati diantaranya individu-individu dan fenomena synchronity dari peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak berkaitan tetapi memiliki kaitan makna, yaitu suatu peristiwa meaningful coincidence (Redfield, 1997, Losier, 2007).

Jadi sesungguhnya keseluruhan kehidupan manusia digerakkan oleh makna dan nilai. Penelitian garis perkembangan spiritual Fowler (Wilber, 2006) adalah mengungkapkan pertanyaan tentang apa yang menjadi kepedulian dalam hidup manusia. Kemampuan memaknai pengalaman hidup manusia merupakan isi sentral dalam perkembangan spiritual manusia dan kemampuan ini akan merupakan sebuah eksplorasi spiritual ke dalam dirinya.

Lebih dalam lagi, Zukav (2007) menggambarkan bahwa pengalaman atas makna dan tujuan hidup adalah bagian dari pengalaman atas kekuatan otentik yang berkembang pada seseorang. Zukav mendefinisikan kekuatan otentik ini adalah sebuah persekutuan personality dengan jiwa/soul-nya. Jadi kemampuan memaknai dan mendeskripsikan tujuan hidupnya merupakan indikasi seseorang atau kelompok telah terhubungkan dengan spiritnya yang merupakan esensi atau jati dirinya yang otentik. Makna dan tujuan hidupnya yang telah dialami tentu dapat diungkapkan secara verbal melalui bahasa yang dikuasainya. Dari perspektif ini, aspek spiritualitas seseorang dapat diperiksa atau dicocokkan terhadap suatu daftar gambaran kualitas seseorang yang terhubungkan dengan spiritnya.

Kesadaran Lucid

Dari sudut ilmu sosial, keberhasilan membangun konsensus menyiratkan adanya suatu tingkah laku atau tindakan individual orang-orang dan beberapa teoriwan, bahkan percaya bahwa hubungan-hubungan yang paling penting membentuk tindakan ini terjadi di bawah radar makna atau kesadaran individu (Hoch, 2007). Seseorang yang telah mengenali spiritnya melalui latihan-latihan tertentu dapat memasuki kesadaran transendental. Menurut Parikh (2001), selama meditasi dengan mata tertutup, yang dikenal sebagai keterampilan penting untuk engelola kesadaran, individu dapat sadar tentang dirinya yang murni atau dikatakan individu tersebut berada pada keadaan transendental. Namun dalam keadaan mata terbuka, dalam kesadaran yang serupa individu dapat menjadi sadar akan dirinya dan diri murininya dan juga sadar terhadap obyek yang lain dalam tingkat absolut yang kasar. Kesadaran ini disebut kesadaran lucid.

Kesadaran lucid dapat bergeser ke arah kesadaran kreatif, yaitu ketika individu dapat menyadari kesadaran halus dari objek atau orang lain. Pada keadaan ini individu akan merasakan objek lain apa pun tidak hanya sebagai entitas absolut yang terpisah namun juga sebagai sebuah manifestasi energi yang merupakan debominator yang sama dari segala sesuatu. Memasuki kesadaran kosmik, individu akan merasakan alam semesta sebagai sebuah jejaring yang salin terhubungkan. Ego diri melarut dalam kesadaran kosmik dan mengalami realitas pada semua tingkatan dalam semua manifestasinya.

Ketika manusia mengenali dan menyatu dengan esensi dirinya maka hidupnya akan dipenuhi pengalaman yang berkekuatan otentik (Zukav, 1990). Hal ini ditandai ketika manusia tahu, bahwa dia hidup untuk sebuah alasan dan bahwa apa yang dia kerjakan adalah alasan itu sendiri, maka pribadinya dipenuhi dengan entusiasme, kegembiraan dan bersyukur. Segala sesuatu menjadi penuh makna (Zukav, 2007). Spirit itu mempunyai intelegensi tersendiri (Zohar and Marshall, 2001) yang bekerja diotak spiritual untuk mengenali dan menyuarakan kebaikan-kebaikan.
Ulasan mengenai nilai-nilai spiritual ini cukup beragam. Fry (2003 menungkapkan salah satu karakter pribadi yang spiritual mempunyai kapasitas cinta yang altruistik. Bentuk cinta ini terwujud dalam sikap yang mempunyai nilai-nilai kebaikan, kemauan memaafkan, integritas, empati/rasa kasihan, kejujuran, kesabaran, keberanian, kepercayaan, kerendah-hatian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar