Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 26 September 2012

Melangkah dari Kecerdasan Spiritual Menuju Pembebasan


I Nyoman Musna

Tatkala kesadaran Atma melebur dengan kesadaran Maha Agung
Maka yang tersisa hanyalah kebahagiaaan tanpa batas
(musna)

Di setiap perenungan akan muncul pertanyaan untuk apa Sang Pencipta memberi kecerdasan setiap insan kehidupan? Apakah hanya untuk mempermudah melakukan kehidupannya, ataukah kecerdasan itu ada memang sebagai pelengkap dari proses penciptaan. Adakah suatu kecerdasan yang dapat membebaskan diri dari proses penciptaan menuju ke keabadian? Pertanyaan seperti itulah yang sering menghantui diri di setiap perenungan kapan dan dimana perenungan itu dilakukan.


God Spot
Telah diketahui bahwa kecerdasan yang sudah diperkenalkan oleh para ahli psikologi seperti Kecerdasan Intelektual atau Intelligence Quotient (IQ) pertama kali dilontarkan oleh Alfried Binet, seorang psikolog Perancis pada awal abad ke-20. Seterusnya jelang akhir abad ke-20 oleh Daniel Goleman memomulerkan Kecerdasan Emosional atau Emotional Quotient (EQ). Manusia dianggap cerdas bukan hanya dari kemempuan inteketual semata, akan tetapi perlu memiliki hati nurani yang bersih (Positif filing better than positif thanking). Kemudian di tengah derasnya arus globalisasi, EQ dirasa belum cukup. Maka muncullah Kecerdasan Spiritual atau Spiritual Quotient (SQ) di abad ke-21 atas hasil riset Danah Zohar (Harvard University) dan Ian Marshall (Oxford University). Bahwasannya di dalam otak manusia ada yang namanya God Spot Daerah ini dianggap sebagai pusat spiritual (spiritual center) yang letaknya di antara jaringan otak dan saraf yang memintal jalinan makna pengalaman hidup.

Dengan adanya kecerdasan seperti itu, apakah akan menjamin bagi setiap insan kehidupan meraih kebebasan, mengingat tujuan hidup setiap insan adalah kelanggengan abadi (immortality). Kebahagiaan abadi melalui kesadaran supra, kedamaian abadi, itu semua hanya kata-kata indah dalam melukiskan sebuah nikmat kesadaran abadi. Permasalahan dan pertanyaan yang mungkin muncul pada diri kita, apakah kita cukup hanya terpuaskan dengan kata-kata indah itu? Apabila jawabnya tidak, maka hendaknya jangan berhenti sampai di sana. Teruskan langkah menuju ke kesadaran yang lebih dalam serta alami, bukan sekedar berteori. Seperti halnya hendak melihat bulan. Menghadaplah ke atas lihat bulan di langit, bukan di tempayan yang berair, karena bulan yang tampak pada tempayan itu hanyalah bayangan belaka.

Tujuan hidup pada dasarnya adalah menyadari adanya lapisan jiwa (Atma) yang lebih tinggi disebut Diri sejati yang bersemayam di dalam diri, dan mengintegrasikan diri itu dengan alam sadar kita setiap hari. Ketika kesadaran kita sudah melewati kesadaran materi dengan kecerdasan IQ dan EQ, maka selanjutnya menuju kesadaran jiwa (Atma) melalui kecerdasan SQ. Dari kesadaran diri sebagai Atma maka menuju ke kesadaran Agung Parama Atma. Kesadaran Atma merupakan kereta kencana untuk ditumpangi agar sampai pada kesadaran hakiki (dari kesadaran transenden ke imanen). Tuhan dalam diri kita hanya terwujud apabila kita mengharuskan diri kita kepada pengendalian. Tuhan bekerja dalam diri tetapi ini memerlukan usaha supaya Dia bersinar kesegala penjuru. Demikian tertuang dalam Upanisad-upanisad Utama. Demikian pula halnya Atma yang ada pada setiap makhluk. Bagai mentega ada dalam susu, seperti api yang tersembunyi pada kayu.

Kecerdasan Spiritual
Kecerdasan Spiritual sampai saat ini dipandang sebagi kecerdasan yang paling tinggi. Dari kecerdasan spiritual yang bersinar cemerlang, tidak jarang ditemukan pengetahuan yang sulit dicerna dengan kecerdasan yang lain (IQ dan EQ), mungkin bisa kita sebut pengetahuan universal (univers of knowlages). Pengetahuan semacam ini dikenal dengan Wahyu yang sering di terima oleh para mahayogi. Ketika kecemerlangan cahya spiritual berkembang memenuhi cakrawala pikiran dan hati nurani, maka bunga cinta kasih universal akan mekar menebar kedamaian, ketentraman, kebahagian serta kebijaksanaan. Kesadaran dan cinta kasih universal terus bertumbuh, kemudian berkembang menuju kesadaran cinta kasih Maha Agung.

Kondisi seperti ini akan bisa terjadi apabila kesadaran diri sang Aku sebagai jiwa (Atma) dapat melebur kepada kesadaran sang AKU (Maha Agung). Inilah saat Samadhi yang dialami bagi sang meditator (great unity). Keadaan ini dapat diumpamakan bagi air hujan yang telah menyatu dengan air laut. Tak ada lagi pemisahan mana air hujan, yang tampak hanyalah kilauan air laut di samudra luas. Tiada lagi batas-batas pemisah antara “Aku-Kamu”, tiada lagi sekat–sekat penghalang, tiada lagi nama, rupa, dan agama. Hanya penyatuan dengan yang Maha Agung, luas, dan sempurna. Yang dapat dirasakan hanyalah kebahagian di atas kebahagian (unlimited happiness). Kemudian pada saat seperti ini japa yang dilantunkan merupakan mantram sangat pingit, yaitu “Aham Brahman Asmi.” Demikian selanjutnya, apabila kesadaran ini dapat terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari, maka akan mampu mengaktualisasikan nilai-nilai dalam pilosofi “Tatwam Asi” dan “Vasudewa Kutumbakam”.

Jalan menuju kesadaran kebebasan hanya akan dapat ditempuh apabila mampu melepaskan diri dari keterikatan material (maya) menuju kesatuan yang hakiki (absolut), melalui kesadaran dan Kecerdasan Spiritual (SQ). Hanya keterikatan pada sang Maha Agung-lah akan mampu kembali kepadaNYA, sementara keterikatan kepada yang lainnya (maya) patut di Yadnya-kan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar