Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 19 September 2012

Para Leak pun Ikut Mengusir Missionaris

Konversi agama sudah menjadi kecemasan orang-orang Bali sejak dulu. Pergulatan pemikiran mengenai bagaimana strategi membendung pengaruh missi dan zending (Penyebar agama Katolik dan Protestan) pun sudah dilakukan oleh kaum terpelajar Bali (Hindu) sejak lama. Mereka, meskipun masih berada di bawah kekuasaan Kolonial Belanda bukan berarti tidak hirau dengan apa yang menimpa komunitas mereka (Hindu-Bali). Meskipun demikian lama usia pergulatan pemikiran untuk menemukan format kokoh untuk membangun sradha (keyakinan) umat Hindu, namun toh sampai kini pun berbagai kelompok memiliki penilaian dan pendekatan berbeda di dalam menyusun langkah menangkal konversi agama. Sampai tahun 2012 ini pun, terdapat berbagai golongan yang berbeda pendapat di dalam menyikapi hal ini. Satu pihak mengajukan pendekatan ekonomi dengan menggenjot pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di kalangan umat Hindu untuk meredam meluasnya aksi-aksi konversi agama yang dialami umat Hindu di Bali. Sedangkan kelompok lain berpendapat, ritual yang rumit adalah biang kerok banyaknya umat Hindu beralih agama.

Di dalam buku Nyoman Wijaya yang berjudul “Merayap di Akar Rumput” dipaparkan dengan detail bagaimana pergulatan konversi agama yang terjadi di Bali. Studi sejarah yang ditempuhnya di dalam menyusun buku ini menghasilkan suatu rekam data yang sangat mengagumkan. Pendekatan sejarah mikro yang dilakukannya memungkinkan ia memungut data kecil-kecil secara rajin, sehingga terkumpul fakta sejarah yang komplit dan skupnya luas. Misalnya pada halaman 65-67 ia menuliskan, bahwa pada bulan September 1927 muncul kekhawatiran akan meluasnya pengaruh agama Kristen dan Islam di Bali. Perasaan itu dipengaruhi oleh perkembngan organisasi Al-India Hindu Mahasabha di India.

Organisasi ini bertujuan untuk mencegah meluasnya pengaruh agama Kristen dan Islam dengan melakukan berbagai kegiatan kemanusiaan, misalnya mengumpulkan dana untuk menolong kehidupan orang-orang yang kelakuannya diteladani oleh orang banyak. Perkumpulan ini ingin mengadakan perubahan dalam pergaulan hidup dan agama bangsa India, karena banyak orang yang berkasta tinggi kecewa melihat lingkungan keluarganya yang masih terbelakang dalam kecerdasan dan terkukung oleh adat istiadat kuno, lalu ingkar dengan agamanya, masuk ke agama Nasrani atau Islam. Namun dalam perkembangan selanjutnya, jumlah orang berkasta tinggi yang pindah agama semakin berkurang. Karena itu para penyebar agama Nasrani dan Islam berupaya menarik orang dari golongan rendah, yakni mereka yang dalam pergaulan hidup dan agama selalu tidak beruntung, untuk beralih agama.

Presiden Al-India Hindu Mahasabha, Moonje mengatakan, orang Islam memanfaatkan adat istiadat India kuno perihal “larangan menjamah” orang-orang yang tersisihkan dalam sistem kasta, supaya mau masuk ke agama Islam. Karena itu, Moonje menyerukan agar segala sesuatu yang menjadi penghalang bagi kemajuan bangsa India segera dihapuskan, misalnya larangan perkawinan antara cabang-cabang kasta, larangan makan bersama, dan sebagainya. Orang-orang Hindu konservatif yang sebelumnya mengabaikan nasehat mengenai perlunya perubahan tata cara pergaulan hidup bangsanya, akhirnya mulai sadar arti perubahan itu, sebab di dalamnya menyangkut kedudukan bangsa India dalam politik.

Dengan mengacu pada program itu, seorang intelektual yang memakai nama Surapati (barangkali salah seorang anggota Perkumpulan Surapati, suatu organisasi beraliran kiri yang pernah berdiri di Bali) mengemukakan gagasan untuk mengukuhkan agama Hindu dengan mendirikan organisasi ala Al-India Hindu Mahasabha itu di Bali. Gagasan itu didasari oleh suatu pertimbangan,bahwa di India sebuah negara besar yang mayoritas penduduknya beragama Hindu masih takut melihat perkembangan agama Nasrani dan Islam. Di negeri ini, agama Nasrani dan Islam bagaikan dua buah danau kecil yang berada di sebuah pulau besar, tetapi jika tidak diberikan perlawanan, lama kelamaam mereka akan menjadi semakin membesar. Karena itu, mereka mendirikan Al-India Hindu Mahasabha yang diumpamakan sebagai bendungan dan pematang di pesisir kedua danau itu supaya mereka tidak bisa leluasa memecah belah orang-orang yang beragama Hindu. (Halaman 65).

Di Bali kiranya sudah perlu dibangun bendungan dan pematang seperti itu, karena selain umurnya lebih muda dari yang di India, agama Hindu berada di pulau kecil yang letaknya di tengah-tengah lautan Islam dan Nasrani. Tujuannya tentu supaya lautan tidak sampai menghancurkan pulau yang kecil itu. Salah satu cara untuk membuat benteng pertahanan itu adalah dengan mempertipis perbedaan dalam aturan pergaulan hidup, misalnya dengan menggantikan hukuman selong selama enam tahun dengan denda sebasar 1.50 Gulden bagi seorang jaba yang menikahi seorang wanita dari kasta brahmana. Dengan cara seperti itu, wong Bali dapat dengan satu hati mengemudikan kapalnya untuk bersatu dengan Kapal Jawa menuju pelabuhan Indonesia Zelfbestuur.

Masuknya aspek penyederhanaan kasta dan persoalan politik (gerakan Indonesia merdeka), mengakibatkan persoalan utama yakni upaya mencegah meluasnya pengaruh agama Katolik Roma di Bali kelur dari rel perbincangan. Kelompok konservatif yang diwakili olehRedaktur Bali Adnjana, I Goesti Tjakratanaja, menanggapi usulan pendirian organisasi ala Al-India Hindu Mahasabha itu. Dia menyatakan tidak perlu tergesa-gesa mengikuti suara yang sebenarnya belum patut didengar itu sebab dalam hal pendengaran dan perasaan, sebagian besar bangsa Bali belum setara dengan bangsa India maupun Jawa. Artinya, calon pemimpin bangsa Bali jika dibandingkan dengan India maupun Jawa bagaikan bumi dan langit. Di Bali para calon pemimpinnya hanya lulusan sekolah menengah, paling tinggi OSVIA atau HKS, sehingga belum mampu menjadi pemimpin bangsa, baik menurut cara lama maupun cara baru. Apalagi tingkat perekonomian mereka pun masih rendah.

Dengan posisi seperti itu, menurut Tjakratanaja, kaum terpelajar di Bali hendaknya tidak menyombongkan diri hanya karena sudah bergelar diploma lalu ikut-ikutan merebut bola yang sedang diperebutkan oleh orang-orang di Jawa yang sudah bergelar Mr, Dr.,dan Ir.. kesombongan itu akan mengakibatkan rakyat Bali menderita misalnya ditangkap lalu dibuang ke Boven Digul. Buktinya, sekarang ini para tawanan di Boven Digul kebanyakan adalah para pemuda lulusan sekolah menengah, sementara yang sudah bergelar Mr., Dr.,dan Ir., dengan mudah bisa menghindar dari jeratan hukuman.

Para Leak Mencoba Membunuh Missionaris


Tahun 1931 datang seorang pengajar Injil bernama Tsang To Hang tiba di Denpasar bermaksud untuk menyebarkan Injil. Di dalam usahanya mengkonversi orang-orang Bali menjadi Katolik, Tsang To Hang menempuh cara-cara kasar. Menganjurkan orang-orang membongkar sanggah, sehingga membuat orang-orang tersinggung. (halaman 102). Selain itu ia juga berkata-kata sangat menyakitkan hati orang Bali dengan ucapan, “Better to give all these offerings to the dogs than to bring them to the temple,” lebih baik berikan semua persembahan itu kepada anjing-anjing, daripada membawanya ke pura.

Cara kerja Tsang To Hang seperti ini menjadi pergunjingan di Denpasar. Namun orang-orang tak berani membunuhnya secara langsung, karena takut hukuman Belanda. Namun, sejumlah praktik black magic (Pengleakan) pernah berusaha untuk melenyapkannya. Pada suatu malam Tsang To Hang diserang segerombolan suara menyeramkan, mirip pesawat terbang. Kejadian saat ia menjelang tidur itu membuatnya menggigil ketakutan. Dengan nafas terengah-engah ia melompat dari tempat tidur untuk meminta pertolongan Tuhan. Dengan dada berdebar-debar dan tubuhnya dipenuhi keringat dingin, ia berusaha melakukan perlawanan dengan meminta pertolongan Tuhan. Serangan ini berlangsung selama tujuh malam.(Halaman 103).

Walaupun serangan leak ini gagal mengambil nyawanya, namun Tsang To Hang gagal dalam misinya. Tak satu pun orang Denpasar berhasil ia kristenkan, salah satu penyebabnya adalah berkembangnya Denpasar secara ekonomi dengan dibukanya pelabuhan Benoa. Selain itu pembrantasan buta huruf yang dilaksanakan pemerintah Kolonial membuat orang-orang bertambah wawasannya tentang bahaya-bahaya konversi yang melanda agama Hindu.

(Putrawan).

2 komentar:

  1. Sekarang adalah saatnya pembentukan Al-India Hindu Mahasabha. Bendungan itu kini diperlukan untuk membendung pengkonversian secara terang - terangan yang telah terjadi di Bali

    BalasHapus
  2. jangan harap anda bisa mengkristenkan atau mengislamkan bali kaarena kami pemuda pemuda bali akan menghadang dan menghancurkan anda yang anti hindu

    BalasHapus