Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 19 September 2012

Jangan Bersedih Hadapi Kematian, Ngaben tak Perlu Besar

Laporan Made Mustika

Di pagi hari yang cerah, Minggu 24 Juni 2012, sebuah tenda berukuran 3 x 3 meter persegi terpasang di depan rumah di Jalan Anggrek No 15 Singaraja. Beberapa orang dengan pakaian adat tampak lalu lalang. Jumlah mereka tak lebih dari 15 orang. Makin bertambah waktu, makin banyak yang datang. Sampai pukul 08.00 akhirnya terkumpul sekitar 50 orang. Karena rumah itu relatif kecil dan tak memiliki halaman luas, sebagian kerabat dan undangan disediakan kursi duduk di pinggir jalan.
Karena demikian kondisinya, kendaraan roda empat untuk sementara dilarang melintas. Namun orang-orang yang berjalan kaki atau mereka yang naik sepeda motor leluasa berlalu-lalang membelah jalan tersebut. Pecalang Banjar Adat Kaliuntu, yang diminta bantuannya mengatur lalu-lintas, sama sekali tak memperlihatkan wajah angker atau garang. Mereka tampak kalem dan ramah kepada semua orang yang mau melintas. Jika saja mereka yang berkumpul itu tidak memakai pakaian adat Bali, maka orang-orang yang melihatnya mungkin akan mengira sedang ada arisan. Padahal yang terjadi tuan rumah adalah upacara pengabenan.

Ya hari itu, mayat Nengah Sumbrig, 80 tahun, diaben di setra (kuburan) Kaliuntu-Singaraja. Jika merujuk pada kebiasaan masyarakat Hindu di Bali, Sumbrig yang meninggal bertepatan dengan Hari Raya Pagerwesi, semestinya dibawa ke Desa Pikat, Klungkung, sesuai tempat kelahiran dan tempat pemujaan keluarga (merajan). Namun anak angkatnya memutuskan seluruh rangkaian upacara ngaben diselesaikan di Singaraja saja. Semasih hidup Sumbrig terpaksa mengangkat keponakannya sebagai anak angkat karena dari perkawinannya tak ada keturunan yang lahir. Sementara suaminya mengawini wanita lain sebagai istri kedua dan mereka hidup tentram di Pikat. Saat diaben, suaminya datang ke Singaraja.

Untuk itu, anak angkat almarhum mengontak Yayasan Pengayom Umat Hindu (YPUH) Singaraja guna menyelesaikan ritual ngaben sederhana, sebagaimana yang diniatkan mendiang. Gayung bersambut, YPUH menyanggupi membantu. Karena tujuan dan komitmen pendirian YPUH memang untuk meringankan beban umat Hindu, khususnya dalam hal urusan kematian/pengabenan. Sesaji yang dibuat amat sedikit dan tidak ribet. Bantennya itu tak sampai memenuhi satu meja belajar seukuran standar di sekolah-sekolah.

Pukul 08.30 persiapan untuk membawa mayat ke setra dikerjakan tuan rumah dan dibantu anggota YPUH. Sebelum dilakukan ritual memandikan mayat (nyiramang), yang dipimpin oleh Ida Mpu Sri Dharma Adnyana dari Kelurahan Beratan, terlebih dahulu disampaikan pencerahan (dharmawacana).

Ketua YPUH Jro Mangku Sedana Wijaya dalam kesempatan itu menegaskan bahwa perjalanan sang roh setelah meninggal sepenuhnya ditentukan oleh karma almarhum saat masih hidup. Bukan oleh besar kecilnya upacara (banten). Itu adalah dasar keyakinan agama Hindu sebagaimana disabdakan dalam beberapa kitab suci. Mengenai banten yang sederhana, didasarkan atas kitab Bhagawadgita, Sarasamuscaya, dan Lontar Yama Purwana Tatwa. Ketiga rujukan itu hanya mempersyaratkan upacara yang amat sederhana.

“Kalau sorga dan neraka ditentukan oleh besar-kecilnya banten, tentu hanya orang-orang kaya saja yang punya kaplingan di sorga. Sedangkan bagi kita yang miskin hanya akan kebagian nerakanya saja,” katanya.

Urusan kematian bagi umat Hindu di Bali, ujarnya, sering menimbulkan masalah ikutan yang terkadang lebih besar, seperti layaknya penyakit komplikasi. Menurut pengamatannya, ada banyak keluarga Hindu di Bali yang memunculkan konflik baru setelah melaksanakan ritual. Ada yang tak akur, bahkan ada yang membagi sanggah (pemujaan keluarga) setelahnya. Sehingga ritual yang dilaksanakan bukannya membawa santhi atau kedamaian, tetapi perpecahan dan perseteruan keluarga. YPUH hadir untuk meringankan umat sekaligus membuat bangga menjadi umat Hindu. Kehadiran YPUH bukan terbatas untuk warga Buleleng saja, tapi untuk seluruh umat Hindu di Bali dan Nusantara.

Selesai Ketua YPUH memberikan paparan soal tujuan organisasinya, giliran Dr. Gde Made Metera, pengawas sekaligus penasehat YPUH, yang memberikan dharmawacana. Mengawali penjelasannya, Metera menguraikan tentang lapisan-lapisan tubuh manusia. Badan manusia terdiri dari tiga lapisan. Lapisan pertama disusun oleh lima elemen dasar dunia material yakni Panca Mahabutha, lapisan kedua meliputi pikiran, emosi, dan nafsu. Lapisan terakhir adalah roh (atman). Jika seseorang meninggal, maka sang roh melompat meninggalkan badan kasarnya. Ajaran Hindu menjelaskan, sang roh akan menuju tempat yang sesuai dengan karmawasana-nya.

Bagi keluarga yang ditinggalkannya, sesuai etika Hindu, hendaknya mayatnya diurus agar mampu mempercepat proses atman kembali kepangkuan Tuhan, entah nanti dapat sorga atau neraka, hukum karma yang berlaku.

Kalau konsep roh itu dipahami dengan jelas, maka janganlah larut dalam kesedihan dan merasa terbebani bila menghadapi kematian. “Sebab Bhagawadgita menyatakan, setiap yang dilahirkan pasti akan mengalami kematian. Maka dari itu, terimalah kematian itu sewajarnya. Memang sulit untuk mempraktekkannya, tapi itulah penegasan kitab suci kita,” ujanya.

Mengurus badan kasar yang ditinggalkan roh itulah yang disebut sebagai ngaben. Sudah tentu, katanya, tugas utama untuk melaksanakan ngaben adalah anak-anak atau keluarga dekatnya. Namun jika keluarga tak mampu, maka umat Hindu yang lain wajib membantunya. Sebab kita pada dasarnya adalah bersaudara dan sederajat. Kita adalah satu keluarga besar. Masyarakat, khususnya umat Hindu, semestinya tak ada yang mempersoalkan penguburan atau pengabenan anggota keluarganya. “Sebab ayah-ibu kita yang utama adalah Hyang Widhi. Jadi semua umat Hindu hendaknya merasa sebagai satu saudara. Apakah saudara-saudara yang hadir di sini sanggup melaksanakan prinsip persamaan dan persaudaraan itu? Apakah saudara-saudara juga sanggup menolong umat Hindu yang menghadapi masalah dan kesusahan?” Demikian Metera bertanya kepada para hadirin. Spontan dan serempak hadirin memberikan jawaban sanggup.

Metera menambahkan, dalam Hindu diajarkan Trikaya Parisuda yang meliputi pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik. Namun dalam pelaksanaannya Trikaya Parisuda itu sering melenceng. Misalnya ucapan seseorang sering tidak selaras dengan pikiran dan tindakannya. Ada orang berpidato bagus, menganjurkan untuk saling menyayang dan mengasihi satu sama lain, namun giliran ada keluarga yang hendak mengubur mayat, dihadang di tengah jalan. Atau bilamana ada umat yang tidak sanggup membayar iuran adat, mereka dilarang sembahyang di pura.

Sebuah kejujuran telah diungkap Metera secara telanjang. Mudah-mudahan umat Hindu sedikit demi sedikit menyadari kelemahannya selama ini. Wacana ini jangan ditanggapi secara emosional.

Ya, YPUH telah memberi contoh nyata. Bagaimana menyikapi zaman dan apa yang mesti diperbuat demi kelangsungan dan kejayaan Hindu. Ritual pengabenan jasad Sumbrig, yang dikomando YPUH pun hanya memakan waktu separuh hari. Pukul 13.00 seluruh rangkaian upacara dapat diselesaikan dengan sentosa. Ya, semoga kesederhanaan ritual menjadi pilihan sadar bagi sekalian umat Hindu. Sehingga tak ada kesan menjadi Hindu itu sulit dan penuh beban.

2 komentar:

  1. Semoga YPUH bisa menyentuh ke banjar-banjar. Seiring dengan waktu umat akan mengerti dan bs mengamalkan. Umat hindu biasax cepat nurut dan patuh kepada atasan/sesepuh adat. Sehingga umat tdak sampai utang d koperasi/LPD hny tuk ngaben. Suksma. mataramelectric.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Kontak person YPUH dong..sangat memberi harapan

    BalasHapus