Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 26 September 2012

Ngaben Massal di Sulawesi Tenggara

Laporan Nang Bagia

Di tengah-tengah kesibukan umat Hindu Sulawesi Tenggara menggelar upacara ngaben bersama (massal), sebuah dharma wacana digelar untuk memberikan pencerahan mengenai makna ngaben tersebut. Untuk menjadikan ritual tersebut semakin dihayati oleh umat, panitia mendatangkan dua pendharmawacana khusus dari Bali, masing-masing Ida Pedanda Gede Nabe Bang Buruan Manuaba yang juga disertai Pedanda Istri dan Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, M Si (Ketua PHDI Bali).

Acara dharma wacana berlangsung pada hari Jumat, 3 Agustus 2012 bertempat di Desa Jati Bali, Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Dengan mengambil tempat di lapangan terbuka (yang dijadikan Bangsal Pengabenan) hadir Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si yang diundang secara khusus untuk memberikan Dharma Wacana seputar makna dan filosofi serta dudonan upacara pengabenan. Pada kesempatan itu, para narasumber juga di dampingi oleh Ida Nak Lingsir dari Jati Bali, yakni, Ida Pandita Mpu Sidhi Prateka bersama istri, Ketua PHDI Provinsi Sultra, DR. Ir. I Ketut Puspa Adnyana, MTP; Ketua PHDI Kabupaten Konawe Selatan, I Wayan Cangker, SE dan Ketua Panitia Pengabenan, I Ketut Widastra, dan Panitia lainnya. Perlu diketahui upacara pengabenan missal ini terhitung berskala besar (Pesertanya banyak) dengan menyertakan 146 sawa yang di-aben.

Sebagai pendengar pada hari itu hadir jajaran Pengurus Harian PHDI Provinsi Sultra, masyarakat Desa Jati Bali, para Yajamana Karya, dan siswa dan mahasiswa. Acara Dharma Wacana dimulai pada pukul 20.00 yang diawali dengan tari Penyambutan, yaitu tari Panyembarama, yang dipersembahkan oleh penari Sanggar Saraswati, Desa Jati Bali.

Setelah itu adalah sambutan dari Ketua PHDI Provinsi Sulawesi Tenggara, DR. Ir Ketut Puspa Adnyana, MTP yang menyambut baik dilaksanakannya kegiatan pengabenan massal ini, yang mana sangat memudahkan umat Hindu di Sulawesi Tenggara, sebagai tanggung jawabnya kepada leluhurnya yang telah meninggal dunia. Beliau juga mengatakan bahwa umat Hindu memiliki potensi yang cukup besar di Sulawesi Tenggara dengan jumlah 200 ribuan jiwa lebih yang menempati 10 dari 12 Kabupaten/Kota dan merupakan penganut Agama kedua terbesar setelah umat muslim, dan kedepannya sangat membutuhkan perhatian serius dalam pembinaan keagamaan. Beliau mengucapkannya banyak terimakasih kepada Ida Pedanda dan istri, juga Ketua PHDI Bali, yang menyempatkan hadir di Sulawesi Tenggara.

Setelah itu waktu diberikan oleh Panitia Pengabenan kepada kedua narasumber untuk memberikan dharma wacana, yang dimulai oleh Ida Pedanda Gede Nabe Bang Buruan Manuaba, di mana beliau mengawali dengan menyapa umat Hindu yang ada di Desa Jati Bali yang mengatakan bahwa Jati Bali adalah kelahiran dari Bali, yang baik dan utama. Beliau juga mengatakan pernah datang sebelumnya ke Sulawesi Tenggara pada Tahun 2008 saat Pesamuan Agung PHDI dan sekarang di Tahun 2012 ini dalam rangka upacara muput pengabenan ini. Beliau menjelaskan tentang filosofi ngaben yang berasal dari kata api yang artinya yajna atau upacara berdasarkan api suci, beliau lebih banyak menggunakan bahasa Bali halus. Dalam upacara pengabenan ini hendaknya tepat guna dan mengenai sasaran, jangan sampai ada niatan tidak baik yang dapat mencemari atau menodai jalannya upacara.

Selanjutnya setelah Ida Pedanda, pada pukul 21.19 waktu diberikan kepada Ketua PHDI Provinsi Bali DR. Drs I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si yang mengawali perkenalan beliau, yang membuat pendengar tertawa terkekeh-kekeh, yang sudah ke empat kalinya datang ke Sulawesi Tenggara dengan tugas yang berbeda.

Dalam isi dharma wacana yang banyak diisi lawakan yang membuat suasana menjadi santai, ia menjelaskan bahwa upacara pengabenan adalah upacara sebagai bentuk pengembalian unsur-unsur Panca Maha Bhuta yang membentuk badan manusia, yang dikembalikan kepada sumber asalnya. Di samping itu merupakan kewajiban sentana-nya untuk mendoakan, sehingga arwah yang meninggal dunia dapat bersatu dengan Brahman. Menurutnya, kegiatan upacara yajna harus dilakukan dengan dasar yang tulus ikhlas, lascarya dan jangan sampai upacara yang sakral dinodai dengan hal-hal yang tidak baik, yang dapat mengurangi kualitas upacara. Diakhir Dharma Wacana beliau berdana punia sejumlah Rp 1.000.000. Kegiatan Dharma Wacana juga dirangkai dengan Dharma Tula dan berakhir pada pukul 00.00, yang ditutup dengan doa oleh Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba. Para peserta nampaknya cukup puas dengan penjelasan para narasumber.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar