Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 10 Juli 2012

Pentas Calonarang Bebrak Berlin, Jerman

Pementasan drama tari ‘Calon Arang’ yang ditampilkan mahasiswa dari Universitas Hindu Indonesia berhasil memukau ribuan masyarakat Jerman di Taman Dunia atau Garten der Welt Marzan, Berlin. Dinginnya udara Berlin yang hanya sekitar 12 derajat Celsius tidak menyurutkan minat warga Jerman untuk menyaksikan ‘Calon Arang’, kata Sekretaris III-Penerangan, Sosial dan Budaya KBRI Berlin Purno Widodo kepada ANTARA London, Selasa, 7 Mei 2012 silam. Dikatakannya dalam cuaca mendung tersebut tidak kurang dari seribu orang berdesakan ingin melihat dari posisi terdepan menyaksikan jalinan cerita dalam suatu dialog dan gerakan tari memikat diiringi gamelan Bali yang dinamis nan mistis
Tabuhan gamelan Bali yang memang menghentak dan terdengar seperti sensasi magis, ditambah wangi dupa dan taburan bunga-bunga sesaji menambah semarak acara Balinese Temple Fest yang diusung Perhimpunan Masyarakat Hindu Indonesia di Berlin. Nyama Braya Berlin bekerjasama dengan pihak pengelola Taman Dunia Berlin serta didukung Kedutaan Besar Indonesia di Berlin serta Kementerian Agama RI yang mendatangkan 61 Mahasiswa Universitas Hindu Indonesia untuk menunjukkan keelokan dan keagungan budaya Bali kepada masyarakat Jerman.
Purno Widodo mengatakan pentas Drama Tari Calon Arang merupakan sajian pamungkas dari acara Balinese Temple Fest yang diselenggarakan di Taman tersebut. Sebelumnya berbagai tarian Bali seperti tari Kebyar Duduk, Jauk Manis hingga Legong Keraton dipertunjukkan dan mendapat sambutan meriah dari pengunjung taman. Dua hari sebelumnya berbagai tarian tersebut juga dipentaskan di Museum Etnologi Berlin.
Dubes RI untuk Republik Federal Jerman dalam sambutannya yang dibacakan Kuasa Usaha ad Interim Diah Rubianto menyambut baik acara yang bukan hanya dinilai sebagai pertunjukan budaya, tetapi juga merupakan bagian dari diplomasi guna memperkokoh pondasi persahabatan dua masyarakat yang berbeda latar belakang budaya tersebut. Tepat 60 tahun yang lalu Indonesia dan Jerman secara resmi mengikat diri memasuki babak baru dalam satu hubungan diplomatik dan membangun jembatan untuk mempromosikan rasa saling pengertian dan mengembangkan semangat kerja sama. ”Saya merasa sangat senang bahwa berbagai upaya tersebut membuahkan hasil dengan dilangsungkannya acara budaya seperti yang disaksikan hari ini,” kata Dubes Pratomo.

1 komentar:

  1. Rare Angon Nak Bali Belog berkunjung, wah calonarang di Eropa, biasanya ada bagian "mengundang" leak ... bagaimana hal itu ? belum diceritakan di artikel ini, pateh minah sekadi di setra di Bali ???, inggih suksma antuk artikelnyane

    BalasHapus