Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 10 Juli 2012

Dharma Manusia

A.A. Gede Raka

Dharma manusia berbeda dengan dharmanya binatang.Tetapi manusia tidak bisa membedakan antara keduanya. Dharma manusia adalah untuk menegakkan asas-asas dari kebenaran, tanpa kekerasan dan kasih sayang. Manusia tidak akan bisa mendapatkan kedamaian dan rasa aman selama ia tidak membuang sifat kebinatangannya. Makan, tidur, merasa takut, dan menghasilkan melahirkan anak adalah hal yang wajar bagi manusia dan binatang. Lalu, apakah dharmanya manusia?

Berfikir bahwa kita adalah umat manusia hanyalah setengan bagian dari kebenaran. Bagian yang lain dari kebenaran terletak pada pemahaman manusia bahwa diri kita bukanlah binatang. Kita harus terus mengingatkan diri sendiri bahwa kita adalah manusia, bukan binatang. Jangan pernah berhenti pada tahap ini. Selidiki lebih lanjut pada tahapan kehidupan yang mana kita berada saat ini, apakah kita sedang menjalani kehidupan seorang Brahmachari, Grihastha, Vanaprastha atau Sanyasin (membujang, berumah tangga, pertapa atau melepaskan diri dari keduniawian). Ikuti dan jalankan dharma sesuai dengan tahapan kehidupan kita masing-masing.

Bila kita membujang, tidak boleh mengikuti dharma orang yang berumah tangga. Akan ada penurunan dalam moral yang akan meningkatkan masalah dan kekacauan apabila manusia tidak mampu melaksanakan dharma yang sesuai dengan tahap kehidupannya.

Manusia sekarang ini tidak mampu memahami dasar dari dharma yang berhubungan dengan masing-masing dari keempat tahapan kehidupan tersebut. Manusia seharusnya tidak membuat kesalahan dengan berpikir, bahwa dharma adalah sama bagi semua orang tanpa mempedulikan tahapan kehidupan mereka. Penyebab dari adharma sekarang ini adalah karena manusia mencoba mengikuti dharma yang tidak sesuai dengan umur atau tahapan kehidupannya. Masing-masing harus mengikutinya dengan tegas Dharma yang sesuai dengan usia dan tahapan kehidupan mereka.

Dharma manusia terdiri dari tiga lipatan. Itu berhubungan dengan tubuh, pikiran, dan Atma-nya. Perbuatan baik, pikiran baik, dan kebahagiaan yang didapatkan karena keperayaan akan Tuhan yang merupakan ekspresi dari tiga lipatan dharma ini. Merujuk pada cahaya yang menerangi ketiga dunia harus dipahami dengan cara ini.

Sama seperti tujuh warna yang terdapat dalam sinar matahari, ada tujuh segi dari dharma. Ini adalah kejujuran, karakter yang baik, perbuatan yang benar, penguasaan indera, penebusan dosa, penolakan akan hal-hal keduniawian, dan tanpa kekerasan. Semua ini segi dari dharma ini telah diletakkan sebagai pelindung individu dan bagi seluruh masyarakat. Ketujuh segi dharma ini telah hadir sejak zaman kuno apakah itu zaman Krita,Tretha, Dwapara, dan Kali Yuga. Akan tetapi, masing-masing zaman atau yuga memiliki praktik yang paling sesuai dengan zaman tersebut. Sebagai contoh, dalam Krita Yuga pelaksanaan spiritual yang paling tepat adalah meditasi; dalam Tretha Yuga pelaksanaannya adalah Yadnya atau pengorbanan; dalam Dwapara Yuga pelaksanaannya adalah upacara pemujaan; dan dalam zaman Kali Yuga ini yang paling tepat adalah pengulangan dari nama-nama suci Tuhan. Dalam zaman Krita juga terdapat pengaruh Kali, jadi dalam zaman Kali ini juga terdapat pengaruh dari Krita, begitu juga zaman-zaman yang lain. Jadi, dalam zaman Kali ini ada orang-orang yang melakukan meditasi, ada orang yang melakukan penebusan dosa, dan ada orang yang melakukan upacara pemujaan. Begitu juga dalam zaman Krita ada orang yang mengumandangkan nama Tuhan.Tetapi pelaksanaan dasar tergantung pada karakter umum dan suasana pada masa itu.

Apakah dharma dari manusia? Derma semata tidak mewakilkan dharma. Derma sedikit berbeda dengan dharma (kebenaran).Tindakan keduniawian yang bersifat sementara tidak bisa disamakan dengan dharma.Dharma dalam pengertian yang sebenarnya merujuk pada sesuatu,yang abadi. Atma Dharma (dharma dari jiwa) melampaui semua tindakan keduniawian. Semua orang harus mengingat asalnya. Ikan lahir di air. Itu tidak bisa bertahan bahkan untuk sekejap tanpa air. Itu hanya akan merasa bahagia bila ia ada di dalam air, tempat asalnya. Apakah sumber asal dari manusia? Manusia merupakan percikan dari Tuhan. Ia berasal dari asas Atma. Lahir dari Atma, manusia harus selalu merenungkan Atma. Jadi, jangan pernah melupakan Atma, sumber asal kita. Percaya pada Atma. Perlakukan Atma sebagai dasar dari hidup .Ini adalah dharma yang harus diikuti oleh manusia. Manusia bisa saja mendapatkan kekuasaan, kekayaan, dan kemakmuran, tetapi tidak satu pun dari mereka yang bisa melindungi dirinya sendiri. Hanya keyakinan pada diri yang bisa menyelamatkan hidup kita masing-masing.
Apakah dharma dari manusia? Sebuah kehidupan pengorbanan yang berdasarkan pada moralitas integritas adalah dharma dari manusia. Bagaimana caranya dharma dilaksanakan? Melalui kemurnian pikiran, perkataan dan perbuatan (Trikarana Suddhi).Umat manusia didasarkan pada harmoni dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Sekarang ini karena tidak ada kesatuan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan di antara manusia, dharma (kebenaran) telah menghilang. Sebagai hasilnya,sains (vijnana) telah kehilangan bentuk aslinya. Kesejahteraan dan kemakmuran bangsa telah dihacurkan. Rasa aman telah menjadi suatu hal yang langka.Moralitas dan integritas telah menghilang. Pemujaan atas dewa kekayaan menduduki tempat yang paling tinggi. Dalam pengejaran kekayaan yang tidak waras ini, manusia kehilangan moralitas dan integritas mereka. Uang yang didapatkan dengan jalan yang tidak jujur tidak akan memiliki arti apa pun.

Menimbun kekayaan tidak akan memiliki faedah. Kekayaan yang didapat dengan cara yang tidak halal, bukanlah milik kita. Ada empat elemen ketamakan yang menunggu untuk mendapatkan kekayaan tersebut.Yang pertama adalah pemerintah. Atas nama pajak dan hukum, pemerintah akan merampas timbunan harta tersebut.Yang kedua adalah api; dengan satu cara atau yang lainnya, api akan menjangkau kekayaan yang didapat dengan cara yang tidak jujur tersebut dan menghancurkannya.Yang ketiga adalah pencuri.Para pencuri akan mengincar harta yang disembunyikan. Mereka akan berusaha mencurinya.Yang keempat adalah penyakit.

Untuk mencabut seseorang dari uang didapatkannya, penyakit membekapnya dan membuatnya menghabiskan uangnya untuk biaya pengobatan. Orang kikir, yang bahkan tidak akan memberikan satu sen pun untuk pengemis, akan mengeluarkan uang untuk dokter dan obat dalam jumlah yang tidak terhitung banyaknya.Ini adalah cara-cara uang yang didapatkan dengan cara tidak jujur akan diambil.

Oleh karena itu, siswa dan pemuda yang merupakan harapan bangsa pada masa depan, harus berusaha dengan keras untuk menghindari mendapatkan uang dengan cara yang tidak jujur. Sebaliknya mereka harus meningkatkan moralitas dan integritas dalam kehidupan professional dan menegakkan dharma melalui kasih dan kejujuran dan melayani bangsa. Hanya dengan cara ini bangsa bisa mengembalikan kehebatan dan keagungannya. Merupakan suatu hal yang mustahil bila seseorang ingin menghapus kebenaran dasar yang tertanam dalam kebudayaan dan tradisi para leluhur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar