Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 10 Juli 2012

Apakah Ilmu Gaib Sama Dengan Spiritual?

I Ketut Sandika


Kemunculan banyaknya perguruan di Bali yang mengikrarkan dirinya sebagai perguruan yang ahli dalam kekuatan gaib menjadi hal yang menarik diwacanakan. Kemunculan perguruan ini berlatar belakang dari kehausan manusia akan sensasi dari sebuah kekuatan yang ada di luar diri. Keingintahuan manusia sesungguhnya sebagai daya pendorong yang kuat untuk manusia berkeinginan mengenal, mengetahui bahkan merasakan daya kekuatan itu yang sering kita sebut kekuatan gaib. Menjelaskan tentang terminologi “gaib”, sangat susah kita mendefinisikannya sebab gaib merupakan sesuatu yang undefinitely (tak terdefinisikan).
Mengingat susahnya menterminologikan kata gaib, maka banyak orang yang salah kaprah memahami kekuatan gaib itu. Sehingga terkadang kekuatan gaib diidentikkan dengan kedigjayaan, kawisesan dan celakanya memiliki kekuatan dan sekaligus mengenal dunia gaib, seseorang sudah merasa sakti. Kesaktian selalu diidentikkan pula dengan kawisesan, sehingga dengan kekuatan itu seseorang dapat mengungguli lawan dalam segala hal. Hal yang demikian menyebabkan banyak masyarakat yang mendalami ilmu gaib sekaligus menenggelamkan dirinya dalam dunia gaib hanya untuk tujuan dengan kualitas yang rendah. Menjamurnya perguruan yang berbau gaib di Bali tidak lepas juga dari pemahaman tentang kekutan gaib yang keliru.
Advaita Vedanta (filsafan non dualisme) berpandangan bahwa gaib adalah kekuatan kreasi dari Brahman yang menutupi seluruh jagat raya ini. Kekuatan ini dipersonifikasikan sebagai sakti dari Brahman yang menutupi kesejatian dari semuanya. Vedanta lebih mendekatkan pada pemahaman, bahwa gaib lebih dekat dengan maya. Demikian hebatnya kekuatan gaib, sehingga menutupi realitas sejati dari semuanya ini. Kekuatan gaib ini pulalah menyebabkan ilusi semesta beserta isinya, sehingga munculnya sekat dan pembatas esensi dari realitas duniawi. Dan materi terbentuk dari tumpangan fenomena yang berulang-ulang, dimana materi itu sesungguhnya adalah “sama” secara esensi. Yang Menyebabkan materi itu berbeda akibat dari kekuatan gaib yang menutupi segala substansi material. Sama halnya ketika kita melihat ular pada seutas tali pada senja hari. Seutas tali kita kira ular akibat dari pengulangan tumpangan fenomena, yang dikelirukan oleh kekuatan gaib tersebut.

Kekuatan tersebut adalah kekuatan yang nyata dalam ketaknyataan, sama ketika melihat fatamorgana di gurun pasir. Kekuatan itu akan menjadi daya pencerahan, jika kita memahami dengan baik apa yang eksis dan non eksis di dunia ini. Di Bali kekuatan gaib diidentikan dengan dimensi dunia niskala, suatu dimensi alam yang tak terlihat tetapi diyakini ada. Sesungguhnya konsep tersebut sejalan dengan filsafat advaita di dalam memahami realitas yang dapat dilihat dari dua sudut pandang, yakni yang tanpa bentuk dan berbentuk. Yang berbentuk ini adalah tidak nyata, sebab nantinya akan kembali kepada tidak berbentuk, dan tak berbentuk itulah sesugguhnya tetap eksis. Namun orang Bali masih rancu memahami dimensi ruang niskala dan niskala masih dipahami dalam perspektif kaca mata klenik, sehingga hal yang niskala atau gaib menjadi sangat dekat dengan hal-hal yang berbau mistis.

Sesungguhnya mempelajari ilmu gaib atau hal-hal yang bersifat mistikisme secara fundamental adalah untuk mengetahui yang benar-benar nyata di balik ketaknyataan ini. Melalui laboratorium diri, seseorang hendaknya menyelami, mengerti dan memahami bahwa fenomena duniawi yang dapat kita indra melalui pengindraan ini adalah bersifat sementara. Bukan sebaliknya belajar ilmu gaib justru pohon keegoan tumbuh subur dalam diri. Kawisesan yang didapat dalam mempelajari ilmu gaib adalah efek rendah yang akan menghambat seseorang untuk mendapatkan pencerahan rohani. Seseorang yang terbuai dalam kekuatan itu justru akan menjadi terikat oleh kekuatan gaib tersebut, sehingga segala sesuatu selalu diidentikkan dengan kekuatan gaib. Sakit karena tidak bisa menjaga dengan baik kesehatan diri, dikatakan “kesalahang niskala” (dihukum dunia niskala).

Kekuatan gaib sebagai kreasi Brahman inilah yang harus dapat disingkap untuk menemukan yang benar-benar nyata di balik delusi dan melepaskan diri dari keterikatan. Penyingkapan inilah yang hendaknya dituju bagi para penekun ilmu gaib, sehingga pada akhirnya akan sampai pada pemahaman yang benar. Pengkeliruan pemahaman terhadap kekuatan gaib justru akan menjadi racun yang mematikan bagi pohon kesadaran. Kekutan gaib yang nirbatas ini dapat dijadikan alat untuk menyingkap delusi yang menutup Sang Diri sejati. Keluarkanlah duri yang ada dalam tubuh menggunakan duri yang sama, demikian pula di dalam menyingkap kerudung gaib yang menyebabkan kita terbelenggu, kekuatan gaib inilah adalah sarana yang tepat.

Mendalami dan mengenal kekuatan gaib untuk pencapaian kualitas diri yang lebih baik itulah spiritual. Demikian pula, mendalami kekuatan gaib untuk penyadaran akan Sang Diri sejati itulah yang disebut spiritualis. Tidak serta merta orang belajar ilmu gaib dapat dikatakan spiritualis, jika masih dalam dirinya ada motif akan uang, kemasyuran, kesaktian, kekebalan, anti senjata, anti ilmu hitam, anti santet dan sejenisnya. Kesidhian (kekuatan) yang didapat dari menekuni ilmu gaib sesungguhnya adalah penghambat seseorang untuk mencapai kesadaran, dan kesidhian itu hanyalah bagian terkecil dari efek kekuatan gaib. Sedangkan bagian yang terbesar dari kekuatan itu adalah ketika kekuatan gaib itu mampu melenyapkan kebodohan (avidya), sehingga akan muncul kesadaran kosmis.

1 komentar:

  1. suatu perjalanan spritual yang murni akan menuju Brahman bukan menuju kegaiban..
    Kebangkitan Hindu,

    BalasHapus