Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 10 Juli 2012

Keberadaan Perguruan Gaib dan Pencarian Ilmu

I Nyoman Tika

Kehidupan beragama Hindu dengan fenomena sosialnya, memang perlu dicermati seiring perkembangan jaman. Tujuannya adalah untuk membantu memberikan prediksi dalam hal penerapan model pembinaan umat Hindu di masa yang akan datang. Kajian saat ini yang hangat adalah menjamurnya perguruan gaib di Indonesia, khususnya di Bali, bak jamur di musim hujan. Apakah yang salah dengan fenomen ini? Benarkah tidak ada masalah? Apakah fenomena ini dapat membantu menguatkan srada dan bhakti kepada Hyang Widhi? Atau malah sebaliknya dapat mengendurkan semangat yadnya masyarakat Hindu, dan menjadi makhluk apatis, kondisi ini sungguh sangat berbahaya. Masih perlu dikaji secara mendalam, paling tidak menjamur perguruan gaib di Bali memendam potensi konflik, sehingga harus ada aksi perekayasaan kultur bagi masyarakat. Jika tidak dicermati dengan matang, alih-alih mendapatkan pencerahan justru dapat menjadi lahan empuk missionaris untuk menggarap umat Hindu, dengan segala macam dalih.
Dalam koridor pembinaan umat, apakah yang menjadi akar penyebab maraknya perguruan gaib di Bali? Paling tidak ada beberapa yang menjadi penyebab, yaitu, (1) dangkalnya pemahaman umat Hindu terhadap aspek ketuhanan dalam kitab suci Wedha, (2) tingkat kompleks kekhawatiran yang berlebihan dari masyarakat Hindu di Bali, karena serbuan pendatang, yang membuat kehidupan tidak berjalan normal, dengan persaingan yang sangat panjang antara pendatang dengan penduduk lokal. (3) Masyarakat Bali sudah tidak percaya lagi dengan peradaban modern yang selalu menginduk ke Barat, (4) Hindu di Bali sudah kehilangan figur kepemimpinan yang mumpuni. Pemimpin agama, birokrasi dan dalam segala aspek bidang belum menunjukkan kebijaksanaan, semua bertopeng, dangkal, dan berlagak seperti “Pedanda Baka, hanya mengisap ‘darah rakyat’ demi uang. Lalu apa solusi yang perlu disodorkan untuk mengatasi itu.

Pertama, penguatan terhadap pengkajian kitab suci dengan segala tafsir kekinian perlu dilakukan dengan segera. Kondisi ini untuk menjawab bahwa Bali yang sangat toleran dengan hal-hal gaib, dengan mudah menerima kondisi itu terjadi. Kultur Hindu yang mentoleransi akulturasi budaya animisme dan dinamisme seakan mendapat tempat di Bali. Artinya masyarakat Hindu belum sepenuhnya menguasai kitab suci Weda. Nalarnya masih dipengaruhi oleh pola-pola keyakinan animisme dan dinamisme. Kondisi ini muncul, karena bekunya analisis terhadap kitab suci. Penguasaan kitab suci sering dimaknai agar mampu mengatasi hal-hal magis, pengetahuan untuk membongkar kitab suci harapan khalayak adalah mendapat kesaktian bukan kebijaksanaan. Pengkajian Weda difasilitasi dengan baik Bhagawad Gita menyebutkan bahwa “Tad viddhi praņipātena, Paripraśneņa sēvayā, Upadekşyanti te jñānam, Jñāninas tattva darśinah (Kejarlah kebijakan itu dengan kerendahan hati, dengan bertanya-tanya dan dengan pengabdian, Orang bijaksana yang melihat kebenaran itu akan memberi petunjuk padamu tentang pengetahuan itu). Artinya mencari kebijaksanaan dalam kitab suci, dan menjadi orang bijaksana.

Kedua, membangun kebijakan pada pemerintah untuk membangkitkan pengetahuan dan stimulus untuk dapat bersaing dalam ekonomi global. Masyarakat Hindu yang ada di Bali saat ini berada dalam ketidakmampuan berkompetisi dengan amukan kultur luar dalam arti membendung deras eksploitasi terhadap kultur Bali dan tanah Bali. Manusia Bali akhirnya terjebak dalam berpikir irrasionalisme, nalar tidak berkembang. Di sisi itu, teriakan cendekiawan Perancis, Rene Descrates, semakin berkurang pengikutnya di Bali. Alasannya, orang tidak lagi percaya terhadap kemampuan nalar sendiri. Seperti Descartes bilang “Tidak akan pernah mau menerima atau menganggap benar sesuatu yang saya tidak tahu dengan jelas itu memang benar.” Artinya tujuan pemikiran Decrates adalah agar manusia tidak terperangkap dengan semua pengetahuan yang salah yang diterimanya selama ini dari luar dan berusaha untuk mencari kebenaran yang pasti dengan nalar yang dimiliki manusia itu sendiri, sehingga tidak ada lagi kemungkinan manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang salah.

Namun ketika manusia berada dalam ruang di bawah nalar, gaib, maka zona yang mempengaruhi manusia adalah bukan nalarnya sendiri, dia mencari ruang yang semakin menjauhkan kemampuan dirinya. Penyebabnya adalah manusia Bali telah jenuh dengan fase modern yang sebenarnya tidak memberikan kebahagiaan yang hakiki pada kehidupan manusia. Manusia masuk dalam perangkap kehidupan yang mendewakan teknologi. Di bingkai itu manusia Bali sudah meninggalkan zaman modern yang semakin membuat dirinya teralineasi.

Mengapa demikian, post Modern menurut Pauline Rosenau (1992) adalah merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janji-janjinya. Juga postmodern cenderung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas, yaitu pada akumulasi pengalaman peradaban Barat (industrialisasi, urbanisasi, kemajuan teknologi, negara bangsa, kehidupan dalam jalur cepat). Prioritas-prioritas modern seperti karier, jabatan, tanggung jawab personal, birokrasi, demokrasi liberal, toleransi, humanisme, egalitarianisme, penelitian objektif, kriteria evaluasi, prosedur netral, peraturan impersonal dan rasionalitas. Serta ada kecenderungan menolak apa yang biasanya dikenal dengan pandangan dunia (world view), metanarasi, totalitas, dan sebagainya.

Artinya, masyarakat kita yang agraris kini masuk ke abad informasi dengan sifat egalitariannya memunculkan fenome shockculture, yang semakin menjemukan. Oleh karena itu masyarakat cenderung mencari pengetahuan dalam ruang yang tidak bersifat rasional. Masyarakat lebih mudah menerima, sebuah ketegangan dalam pemikiran magis, green area, itulah sebabnya Bali adalah wilayah subur kehidupan perguruan magis.

Ketiga, Parisada Hindu Dharma Indonesia harus membuat ruang pengkajian kitab suci secara sistematis dan terukur dengan melibatkan para cendekiawan Hindu secara maksimal, sehingga dapat memberikan penafsiran yang lebih lugas dan kekinian tentang jaran Hindu.

Keempat, PHDI dan pemda harus membantu menyedakan beasiswa untuk mencetak manusia Hindu yang cerdas dalam bidang agama Hindu. pendidikan menjadi salah satu tumpuan untuk mengubah paradigma masyarakat, menuju pencerahan. Om Nama Siwaya.****

1 komentar:

  1. jalankan Dharma Hindu dan lakukan apa yang mesti kita lakukan untuk mencapai Generasi Hindu yang mumpuni.

    kebangkitan-hindu

    BalasHapus