Penerbit PT Pustaka Manikgeni

Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765

Selasa, 10 Juli 2012

Gangga Pratistha di Pantai Padanggalak


Sebuah perhelatan upacara yadnya bertajuk “Gangga Pratistha” digelar di campuan Pura Windu Segara, pantai Padanggalak, Kesiman, Denpasar pada 17 Juni 2012, tepat di hari perayaan Banyu Pinaruh. Gangga Pratistha adalah sebuah upacara tradisi Hindu khas Bali, yaitu ritual air suci (melukat), namun, Gangga Pratistha bersifat lebih akbar (Mahutama).Upacara ini diselenggarakan oleh Geriya Bang Swarga Manuaba bersama sisya geriya untuk mengemas tradisi melukat (Penyucian diri) supaya nantinya biasa membawa semangat kebersamaan dan universalisme. Gangga Pratistha adalah melukat dengan disertai upakara banten bebangkit dan sulinggih yang munggah untuk muput berjumlah tujuh pendeta. Universalisme yang hendak disemai adalah diharapkan pada masa mendatang “Gangga Pratistha” menjadi brand ritual khas Bali, yang bisa diikuti oleh segala lapisan usia, bangsa, suku, bahkan diharapkan wisatawan asing banyak
Ida Pedanda dari Geriya Bang Swarga Manuaba, JL. Muding Indah III/3, Kuta Utara, Badung ini menyebutkan, upacara Gangga Pratistha ini bisa diikuti oleh semua kalangan, bahkan yang masih berada di dalam kandungan pun bisa disucikan lewat upacara ini.

Penyelenggaraan Gangga Pratistha secara khusus pada hari Banyu Pinaruh baru pertamakalinya diadakan dan ke depannya direncanakan menjadi kalender ritual tetap dengan melibatkan semakin banyak komponen. Pada 17 Juni 2012 itu, para peserta sudah nampak memenuhi pantai Padanggalak, tepatnya di campuan Pura Windu Segara, Kesiman sekitar jam 6.30. Kamum laki dan perempuan,m tua muda, dengan pakaian sembahyang membawa sebuah pejati, dua buah kwangen dengan punia sukarela. Mereka secara antusias mengikuti upacara melukat Ganagga Pratistha, di mana masing-masing peserta diguyur seluruh tubuhnya oleh pendeta, sebagai bagian dari prosesi upacara sakral itu.

Tak kurang dari ribuan peserta hadir pada acara pagi itu hingga matahari di timur semakin meninggi. Ida Pedanda Bang Buruan pada beberapa hari sebelum acara ini digelar mengatakan, Bali sudah memiliki upacara penyucian diri yang khas Bali. Jika di India ada Kumbhamela, maka di Bali dikenal istilah upacara melukat. Nah, untuk lebih menggemakan upacara lokal ini ke tingkat global, maka dikemaslah upacara melukat yang lebih besar dan diberi nama “Gangga Pratistha.” Selain itu, dengan tingkatan upacara melukat yang lebih besar memungkinkan banyak umat yang terlibat, ribuan atau puluhan ribu melukat secara bersamasama. Dengan demikian akan semakin terjalin rasa persaudaraan sesama umat maupun sesama peserta yang berasal dari bangsa lain. Sedangkan dari sisi kesucian, hasrat untuk meningkatkan kesucian yang dilakukan secara bersama-sama akan memperkuat vibrasi dari ritual itu, daripada dilakukan sendiri-sendiri.

Swamiji dari Sri Ranggam Ikut Mepuja
Sebagai sebuah acara yang diperuntukkan memeiliki gaung internasional, maka hal ini sudah terbukti dengan ikutnya seorang Swamiji (Rsi) dari India melantunkan doa-doa saat upacara dilangsungkan di pantai Padanggalak. Dewanatha Acharya Swamiji juga disediakan bale pawedan tersendiri sebagai tempatnya mepuja. Kehadiran beliau ke Bali adalah dalam rangkaian acara World Hindu Summit yang digelar pada 9-12 Juni 2012. Kemudian beliau diberi informasi, bahwa Ida pedanda Gede Nabe Bang Buruan Manuaba bersama sejumlah pendeta lainnya akan memimpin upacara penyucian Gangga Pratistha pada 17 Juni 2012. Untuk mengetahui upacara apa yang dimaksud, maka pada Kamis, 14 Juni 2012, Swamiji berkesempatan berkunjung ke Geriya bang Swarga Manuaba, di Jalan Muding Indah III/3, Kuta Utara, Badung. Swamiji yang datang ditemani oleh Prabu Sundara kemudian mendapat penjelasan mengenai Gangga Pratistha, sehingga Swamiji menyatakan kesediaannya ikut memimpin upacara yang dipimpin tujuh pendeta tersebut.
Swamiji dari Sri Ranggam Temple ini menyatakan ketertarikannya berpartisipasi menyukseskan festival air suci ala Bali, sehingga semakin terjalin interaksi positif dan persaudaraan yang semakin kental antara budaya Hindu Bali dengan budaya Hindu India. Ini sesuai dengan amanat World Hindu Summit untuk semakin mempererat persaudaraan inter umat Hindu maupun dengan masyarakat global dalam rangka merealisasikan spirit Hindu yang bersifat satyam, siwam, sundaram.

(Putrawan)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar