Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kamis, 26 April 2012

Ke Napal Lampung Main Layangan dan Mendongeng

Laporan Switi Maryam

Mingu ini kembali pulang ke kampung. Kampungku yaitu Dusun Napal Desa Sidowaluyo, Kecamatan Sidomulyo - Lampung Selatan. Dusun yang merupakan tempat terjadinya konflik antara warga Lampung etnis Bali dengan warga Lampung etnis Lampung, tanggal 24 Januari 2012 silam. Kemudian, dua Hari setelah Perayaan Sivaratri berlangsung, 8 hari sebelum Hari Raya Galungan. Dan hari itu merupakan hari tergelap bagi dua warga yang bertikai, Napal dan Kota Dalam. Ada 78 rumah rusak parah. Rumah-rumah dijarah dahulu sebelum dibakar. Ada dua Pura, yaitu Pura Desa dan Pura Dalem ikut dirusak dan dibakar. 

 Sedikitnya, 300 kepala keluarga mengungsi ke rumah saudara yang jauh dari lokasi dan banyak pula yang memilih tinggal di ladang – ladang mereka. Dengan kondisi apa adanya saat itu dan perbekalan yang sangat terbatas. Berhari-hari mereka di pengungsian dengan kondisi jiwa yang tertekan, takut dan gelisah. Sekarang kondisi sudah berangsur-angsur pulih. Pihak yang bertikaipun sepakat untuk berdamai. Dan bertekad untuk menjaga kondisi tetap kondusif. Semua pihak ikut membantu memulihkan Napal. Baik dari Pemerintah Daerah Provinsi Lampung, Pemda Kabupaten Lampung Selatan, Ormas, Parisada dan Wanita Hindu. Bahkan Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika, berkesempatan hadir di Perayaan Kuningan di Pura Way Lunik – Bandar Lampung untuk memberikan bantuan dari Pemprov Bali untuk Napal. Hanya saja tidak sempat ke lokasi kejadian di karenakan kesibukannya. Pembangunan fisik sudah mulai di lakukan. Warga yang sebelumnya tinggal di tenda-tenda di halaman rumahnya, sudah mulai memperbaiki dan menempati rumahnya kembali. Yang punya ladang, sawah sudah mulai beraktivitas kembali. Anak-anak sekolah yang sebelumnya diliburkan selama dua minggu pun sudah mulai kembali belajar. Hari ini kami hadir di Napal.

 Wanita Hindu Kabupaten Lampung Selatan bekerja sama dengan Sanggar Dongeng Dakocan mengusung tema ’Fly for Brotherhood’. Khusus untuk anak Napal. Karena secara tidak langsung, mereka merupakan korban terbesar dalam kerusuhan ini. Bermain adalah dunia anak. Dengan bermain, seorang anak dapat mengeksplorasi kreatifitas. Dan mendongeng adalah salah satu metode bermain bagi anak dengan cara yang paling lengkap. Cara paling efektif bagi anak untuk dapat menerima apa yang disampaikan. Menangkap pesan moral yang akan di rekam anak sampai ia tumbuh dewasa. Dongeng mengajarkan anak tentang kebaikan dan keburukan, serta memberikan nilai-nilai dari sebuah cerita. Secara psikologis, mendongeng dapat mengasah intelegensia anak karena anak lebih cepat daripada melalui pesan verbal yang di sampaikan langsung. 

Bersama 75 anak korban kerusuhan, kami berbagi cerita. Mendongeng, bernyanyi dan melakukan permainan. Di pandu oleh Ivan, Iin, Dudi (Dakocan), Widi, Wayan Rusmitini (WHDI Lamsel), Suwarti (Ibu Kepala Sekolah SD Napal), dan Gede Purnadhita. Ada hadiah doorprize juga. Berupa boneka dan alat – alat tulis. Bersama-sama membuat layang-layang perdamaian dan menerbangkannya. Suasana hangat dan penuh tawa. Ceria khas anak-anak. Saat ini kami berusaha menghibur mereka dari trauma psikis akibat kerusuhan, dengan sebanyak-banyaknya melakukan hal yang menyenangkan. Karena seseorang merekam kejadian dalam hidupnya dengan dua cara. Yaitu melalui kejadian yang sangat menyenangkan dan sebaliknya, dengan kejadian yang sangat menakutkan. Mudah-mudahan dengan kegiatan ini mereka bisa pulih dari rasa ketakutan. Dan kami tekankan kalau hal ini murni kriminalitas. Premanisme. Tidak ada hubungannya dengan suku apalagi agama. Karena siapa pun yang tinggal di Bumi Ruwa Jurai Lampung, adalah orang Lampung. Bersama membangun Lampung. Dan semua bersaudara. 

 Kegiatan ini akan rutin kami lakukan. Difokuskan pada para wanita dan anak-anak. Semua bantuan sudah dialirkan ke Napal. Pembangunan fisik pun sudah dimulai. Materi bisa diganti dan dicari kembali. Dan semoga trauma bagi siap pun yang mengalaminya bisa terobati. For you Napal, My second home, for my mother, my father, my brother-Sister, n all my kids. (Siti Maryam Sumantra, lahir di Jakarta, 18 September 1977- Menjadi warga Lampung sejak 1999. Ketua WHDI Kab. Lampung Selatan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar