Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kamis, 26 April 2012

Gubernur Bali Tak ke Napal, Bantuan Diserahkan di Bandar Lampung

Laporan Made Mustika

Gubernur Bali Made Mangku Pastika memang sempat ke Lampung. Namun dia dan rombongannya hanya sampai di Bandar Lampung, ibukota Provinsi Lampung. Dengan demikian Gubernur Pastika dan rombongan tak pernah menginjakkan kaki di Dusun Napal, Desa Sidowaluyo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan. Bantuan yang dibawa Gubernur Bali berupa dana Rp 654 juta untuk korban dusun Napal diserahterimakan di Bandar Lampung Penjelasan itu disampaikan Ketua Posko Korban Napal yang juga Ketua PHDI Kecamatan Sidomulyo Wayan Gunawan kepada Raditya di rumahnya pada akhir Februari 2012 lalu. “Saya sendiri yang pergi ke Bandar Lampung untuk menerima bantuan dari Gubernur Bali,” tutur Gunawan.

 Tentang alasan Mangku Pastika tidak jadi ke Napal tidak diperoleh informasi jelas. Menurut informasi yang diperoleh Gunawan, Gubernur Bali beralasan biar tidak ada kesan pilih kasih sehingga kunjungan ke lapangan dibatalkan. Pilih kasih bagaimana? Selain mendapat bantuan dari Gubernur Bali, posko korban Napal juga menerima bantuan-bantuan dari lain pihak. Misalnya dari Pemkab Lampung Selatan sebesar Rp 1,2 milyar, dari Bali Post Group Rp 99 juta, Pemkab Tabanan Rp 91 juta, Pemkab Badung Rp 150 juta, Badan Ekskutif Mahasiswa (BEM) se-Bali Rp 140 juta, dan dari umat Hindu baik yang ada di Lampung maupun yang di luar Lampung. Akan tetapi semua bantuan itu tidak diterima langsung oleh posko Napal. Sebagian ditampung oleh PHDI Provinsi Lampung. Seperti bantuan dana dari BEM se-Bali dan dari Pemkab Badung serta umat Hindu dari seluruh Nusantara yang totalnya mencapai Rp 510 juta menyangkut dulu di PHDI Provinsi Lampung, lalu didrop ke PHDI Lampung Selatan. Hanya pakaian bekas layak pakai yang dihimpun PHDI Provinsi Lampung yang disalurkan langsung ke Napal. Jumlahnya cukup banyak sehingga harus diangkut dengan satu bus. “Pakaian bekas itu sudah disampaikan langsung kepada kami.

 Namun uangnya masih tersendat sampai di PHDI kabupaten. Dana yang Rp 510 juta lebih itu diminta untuk memilah menjadi dua, yaitu untuk ekonomi kerakyatan (non-fisik) 75 persen, dan 25 persen lagi baru dimanfaatkan untuk perbaikan fisik,” kata Gunawan mengutip rekomendasi yang dikeluarkan PHDI provinsi. Walaupun rekomendasi itu hanya bersifat harapan, tetapi bagi PHDI Kabupaten Lampung Selatan rekomendasi tersebut dimaknai sebagai kebijakan yang harus dijalankan. Sementara posko korban Napal mengharapakan agar 100 persen bantuan diturunkan dananya untuk perbaikan rumah. Kesepakatan belum tercapai menyangkut skema pembagian tersebut. Ada perbedaan pendapat di antara mereka. “Karena ada perbedaan tersebut sehingga dana itu belum sampai di tangan kami,” ucap Gunawan saat dihubungi dari Bali pada 12 Maret 2012. 

Lalu bagaimana hubungan antara masyarakat keturunan etnis Bali dengan warga Lampung paska deklarasi damai pada 27 Februari 2012 yang dilaksanakan di Desa Kota Dalam, Kecamatan Sidomulyo? Apakah deklarasi itu mampu menutup luka hati masyarakat. Apakah dendam berhasil dikubur? Tidakkah di kemudian hari meletus lagi? Banyak pertanyaan lain yang mungkin bisa diajukan. Terhadap segala pertanyaan itu, Gunawan menyatakan optimis terjadi rekonsiliasi dan hubungan harmonis seperti sebelumnya akan terwujud kembali. “Paska deklarasi damai, hubungan masyarakat sudah baik seperti biasa dan tidak ada permusuhan lagi,” katanya melalui sms membalas pertanyaan Raditya. Ayah tiga orang anak ini termasuk sosok yang berjiwa optimistik dalam menyikapi perbedaan etnis. Sementara itu Made Supini (32) yang sehari-hari berjualan aneka minuman serta keperluan-keperluan lainnya, juga merasa terpukul akibat kerusuhan massa itu. Pasalnya warungnya yang berukuran 7 x 3,5 meter persegi juga dibakar massa. 

Kerugian yang dialami memang relatif sedikit. Yakni sekitar Rp 15 juta. Beruntung dia, suami, dan dua anaknya memperoleh bantuan dari pemerintah dan para dermawan. Sehingga terkumpul uang sekitar Rp 7 juta. Lalu dia meminjam lagi untuk bisa mendirikan warung kembali. Sebab kalau dia lama tak jualan, maka dapurnya dikhawatirkan tak mengepul. Tempat dia berjualan persis di utara Pura Puseh, hanya dipisahkan oleh jalan raya. Warung yang dibangun kembali itu, dindingnya dibuat dari gedek dan atapnya dari seng, sehingga biayanya relatif murah. Itulah siasat Made Supini untuk keluar dari prahara. Sama seperti Wayan Gunawan, Supini punya optimisme sendiri dalam menghadapi hari-hari ke depan. Walaupun kedua orangtuanya berasal dari Bali, namun dia dan suaminya dilahirkan dan dibesarkan di Lampung. Mereka mengaku sebagai orang Lampung. “Maaf ya bahasa Bali saya jelek,” katanya malu-malu. Seperti halnya pedagang Hindu di Bali, di salah satu sudut warungnya itu ditempelkan tempat menghaturkan canang. Selain Supini, warung lain yang sudah rampung adalah milik Wayan Budi Arsana. Walau demikian, warungnya itu masih kosong karena untuk membeli barang-barang tentu butuh modal besar. Warung milik Arsana memang lebih besar dibandingkan milik Supini dan ditembok batako. Selain itu dia harus mengutamakan perbaikan rumahnya yang dibakar massa ketimbang membeli barang-barang dagangan. Perbaikan rumah tentu memerlukan biaya besar. Dari semua rumah yang dibakar di Napal, tak satu pun yang telah selesai pemugarannya. Hal itu dijelaskan Wayan Gunawan pada pertengahan Maret 2012 lalu, ketika Raditya memasuki persiapan cetak. Ya, semoga warga Napal tabah menghadapi cobaan dan dapat menarik hikmah dari kejadian buruk itu. Ya, semoga. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar