Penerbit PT Pustaka Manikgeni

Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765

Selasa, 14 Februari 2012

Makna Spiritual Kelahiran Krishna

Sri Sri Ravi Shankar

Krishna termanifestasi begitu saja; ia tak pernah lahir. Namun, kita merayakan kelahirannya! Krishna terlahir dari Devaki dan Vasudeva. “Vasu” berarti “nafas” – prana, dan “Devaki” berarti “tubuh”. Kansa mempenjara Devaki dan Vasudeva. “Kansa” berarti “ego”. Kansa (ego) adalah kakak Devaki (tubuh). Jadi ego mempenjara tubuh dan nafas.
“Ananda” (kedamaian) terlahir dari penyatuan tubuh dan nafas, dan karena itulah kenapa Krishna disebut Nandalala. “Nanda” atau “ananda” berarti kedamaian – perwujudan kedamaian, perwujudan pengetahuan, perwujudan ketakterbatasan/infinitas. Di dalam tubuhmu yang kecil, kamu bisa merasakan ruang tak terbatas ini.

Di dalam gambar-gambar, Krishna selalu “diwarnai” biru. Juga, Shiva selalu digambarkan dalam warna biru. Kamu tahu kenapa mereka diperlihatkan dengan cara itu? Karena warna biru mengindikasikan bahwa tubuh ini transparan; tubuh ini seolah-olah tak ada di sini. Ini tidak merujuk pada fisik tubuh luar, namun yang ada di dalam, yang tak lain adalah infinitas. Apa saja yang tak terhingga selalu direpresentasikan oleh warna biru – maka langit biru, dan samudera biru. Biru menggambarkan yang agung dan yang besar. Ia menggambarkan kedalaman yang begitu besar…dan ia menggambarkan kedamaian itu, Pribadi itu – jiwa.

Jiwa tak pernah “lahir”; ia ada di tingkat kesadaran lain. Ia tercipta ketika pikiran, prana dan tubuh menyatu, dan inilah yang kita lakukan ketika kita berlatih Hollow and Empty Meditation (Meditasi Kosong dan Lowong – salah satu tehnik mendalam yang diajarkan pada Pelatihan the Art of Living). Kita ajak pikiran ke sana kemari…dan tiba-tiba, kita merasakan ruang. Kita merasakan bahwa di dalam tak ada apa-apa, hanya ruang – ruang murni. Ruang sudah selalu ada di sana – namun, biasanya kamu tak pernah merasakannya.

Saat Krishna lahir jam 12 tengah malam di penjara, semua pengawas dan penjaga lelap tertidur. Sekarang, siapa sesungguhnya penjaga saat itu? Siapa penjaga saat ini? Mereka adalah mata, hidung, telinga, lidah dan kulit – panca indera adalah lima penjaga yang selalu membuatmu ada di “luar”, yang senantiasa membuatmu sibuk, sehingga kamu tak melihat langit yang tak terbatas yang sesungguhnya ada di dalam. Lima indera ini selalu membuatmu sibuk dengan “dunia luar” – kamu melihat ini atau melihat itu, kamu mendengar ini atau kamu mendengar itu, kamu membaui ini, mengecap itu, kamu menyentuh ini, dan seterusnya. Kamu senantiasa sibuk dengan dunia luar, dan penjaga tak mengijinkanmu masuk; mereka tak mengijinkanmu mengalami Dirimu!

Jadi, ketika semua penjaga tertidur, Krishna lahir. Sebab saat semua penjaga tertidurlah prana bisa meresap, dan memunculkan kedamaian itu, kebahagiaan itu ke seluruh atmosfir. Vasudeva (prana) membawa bayi itu ke kota lain bernama Gokul. Krishna diselundupkan di tengah malam karena Kansa (ego) pasti akan membunuhnya. Sama halnya seperti seseorang yang tengah merasakan kedamaian, dan kedamaian itu sendiri menjadi “perjalanan” egonya. Ini akhirnya menghancurkan infinitas, kebahagiaan dan kedamaian. Jadi untuk melindungi Krishna (kedamaian, infinitas dan kebahagiaan), Vasudeva (prana atau nafas) membawanya menyeberangi sungai cinta (sungai Yamuna adalah simbol cinta). Sekarang, Vasudeva membawa Krishna ke Yasodha. Infinitas terlahir dari yoga dan meditasi. Tetapi, yoga sendirian tak mampu menanganinya. Maka bhakti ( pengabdian tulus, cinta) dibutuhkan untuk membesarkannya. Yashoda adalah simbol dari bhakti, simbol dari shraddha, simbol dari keyakinan.

Vasudeva membawa si bayi Krishna di dalam keranjang, diusung di kepala, harus menyeberangi sungai Yamuna membawa si anak ke Gokul. Saat itu tengah hujan, dan saat menyeberangi sungai, air mulai menaik dan semakin tinggi. Yamuna (cinta) naik dan naik sampai sekilas bisa memandang infinitas. Ia kemudian menyurut untuk bersentuhan dengan keheningan, bersentuhan dengan kedamaian. Itulah sebabnya ketika seseorang memainkan musik, di sana juga dia “naik ke atas” dan kemudian “turun ke bawah” – bak sungai Yamuna. Bukan saja bernyanyi yang penting; nyanyian, sendirian, tidaklah cukup. Seseorang bisa saja terus bernyanyi, namun di antara lelaguan, mesti ada secarik momen sepi, kedalaman, merasakan kedamaian infinitas. Ini sangat penting. Banyak group hanya menyanyikan bhajan semata , satu disambung yang lain. Mereka menyanyi dengan baik – seperti sedang berlomba, namun mereka tak berhenti, merasakan ruang di antara bhajan.

Di Gokul, Yashoda tengah tertidur bersama bayi perempuannya ketika Vasudeva datang dan menukar putrinya dengan Krishna, di tengah malam. Dia membawa bayi perempuan bersamanya dan meninggalkan Krishna di rumah Yashoda, di mana ia kemudian dibesarkan. Jadi hanya bhakti (pengabdian tulus) yang bisa membuat ananda (kedamaian) bertumbuh pada kita. Yashoda adalah simbol dari shraddha – keyakinan dan pengabdian tulus.

Pada diri Krishna, ada kelahiran dari semua kualitas yang ada pada tubuh manusia, yang ada pada jiwa. Pada Krishna, kamu bisa melihat kepribadian total dari semua sudut. Ia multi-dimensi. Krishna adalah pemekaran penuh dari semua potensi manusia. Kamu bisa melihatnya duduk menyepi seperti Buddha, dan kamu bisa melihatnya menari. Kamu bisa mendapatinya di medan perang, dan kamu bisa mendapatinya sebagai teman paling setia; kamu bahkan bisa menemuinya sebagai seorang anak yang sangat nakal. Pada Krishna, pribadi – keberadaan – telah mekar penuh dari setiap sudut.

Diterjemahkan dari salah satu booklet wejangan Yang Mulia Sri Sri Ravi Shankar (Pendiri the Art of Living Foundation) berjudul Krishna – Absolute Joy oleh I Gusti Raka Panji Tisna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar