Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 14 Februari 2012

Lebih Baik Membangun Padma Bhuwana Dalam Diri

Ida Ayu Tary Puspa

Acara dalam agama Hindu merupakan salah satu dari tiga kerangka agama Hindu selain tattwa dan susila. Dalam bahasan tentang acara termasuk di dalamnya adalah tempat suci. Tempat suci bagi umat Hindu disebut pura walaupun di Hindu Nusantara ada pula kelokalan mereka menyebut dengan istilah yang berbeda, tetapi secara umum tempat bersembahyang umat Hindu disebut pura.
Pura dalam bahasa Sanskerta pada mulanya berarti sesuatu yang dikelilingi oleh tembok. Pura kemudian bermakna benteng, kota, kerajaan, istana. Dalam bahasa Jawa kuna tidak jelas perbedaan antara pura dengan puri. Dalam bahasa Bali pura berarti tempat suci sedangkan puri berarti istana raja.

Bila merunut sejarah tentang tempat suci yang ada di Bali, maka yang mengajarkan tentang mendirikan pura pertama kali adalah seorang pujangga sekaligus seorang Maharsi, yaitu Mpu Kuturan sekitar abad XI. Disebutkan pada masa pemerintahan Airlangga di Jawa Timur (1019-1042) datanglah Mpu Kuturan ke Bali. Beliau mengajarkan perihal membuat parahyangan atau kahyangan desa, baik yang disebut Sad Kahyangan maupun Kahyangan Jagat. Bali pada waktu itu diperintah oleh Raja Marakata yaitu anak kandung Raja Airlangga.

Pada zaman Bali Kuna dalam arti sebelum kedatangan dinasti Dalem ke Bali istana raja disebut Keraton atau kedaton. Semenjak dinasti Sri Krsna Kepakisan di Bali istana raja tidak lagi disebut Kedaton melainkan Pura. Penggunaan nama pura sebagai istana raja seperti misalnya Keraton di Samprangan disebut Linggarsapura, Keraton di Gelgel disebut Swecapura, Keraton di Klungkung disebut Semarapura, di Badung disebut Bandanapura, dan di Mengwi disebut Kawyapura.

Nama pura sebagai rempat suci dipakai setelah dinasti Dalem yang berkeraton di Klungkung. Kata pura yang berarti istana raja ketika itu diganti dengan puri. Selanjutnya kata pura dipakai sebagai istilah untuk tempat suci.

Selain Mpu Kuturan, maka ada seorang pendeta suci dari Jawa Timur yang banyak jasanya dalam penyebaran agama Hindu termasuk mendirikan tempat suci adalah Dang Hyang Nirartha yang datang ke Bali pada abad XIV. Tempat suci yang beliau dirikan terbangun dari Purancak sampai Watuklotok. Di samping itu beliau juga mengajarkan membuat pelinggih Padmasana sebagai stana Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Berdasarkan fungsi dan karakterny, maka pura dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu: (1) Pura yang fungsinya sebagai tempat suci untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi dan para Dewa seperti Pura Kahyangan Tiga dan Kahyangan Jagat. (2) Pura yang fungsinya sebagai tempat suci untuk memuja roh suci leluhur seperti pura paibon, panti, dadia, dan pedharman.

Berdasarkan filosofinya Kahyangan Jagat dkelompokkan berdasarkan konsepsi. (1) Konsepsi Rwa Bhineda, yakni Pura Besakih dan Batur. Pura Besakih sebagai purusa dan Pura Batur sebagai Pradana. (2) Konsepsi Catur Loka Pala yang dikaitkan dengan empat kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi yang disebut Cadu Sakti. Yang termasuk dalam konsepsi ini, yaitu Pura Lempuyang di timur, Pura Batukaru di barat, Pura Pucak Mangu di utara, dan Pura Andakasa di selatan. (3) Konsepsi Sad Winayaka yang ada hubungannya dengan sad kretih (Sad Winayaka=kelompok enam Dewa, Sad Kretih= enam jenis prakerti yadnya. Kahyangan tersebut adalah Besakih, Lempuyang Luhur, Gua Lawah, Uluwatu, Batukaru, dan Pusering tasik.

Ketiga jenis konsepsi yang melatarbelakangi secara filosofis pendirian Kahyangan jagat di Bali, akhirnya menjadi satu konsepsi yang dinamakan konsepsi Padmabhuwana, diwujudkan dalam sembilan kahyangan jagat di Bali. Dalam penggabungan tiga konsepsi itu terlihatlah bahwa: Pura Besakih dilandasi oleh konsepsi Rwa bhineda dan Sad Winayaka. Pura Lempuyang Luhur dilandasi oleh konsepsi Catur Loka Pala dan Sad Winayaka. Pura Batukaru dilandasi oleh konsepsi Catur Loka Pala dan Sad Winayaka.
Padma Bhuwana yang mencakup sembilan Kahyangan Jagat di Bali meliputi: Pura Besakih pada arah timur laut, Pura Lempuyang pada arah timur, Pura Andakasa pada arah tenggara, Pura Goa Lawah pada arah selatan, Pura Luhur Uluwatu pada arah barat daya, Pura Batukaru pada arah barat, Pura Pucak Mangu pada arah barat laut, Pura Batur pada arah utara, Pura Pusering Tasik pada arah tengah.
Itulah Padma Bhuwana yang ada di Bali dengan landasan konsepsinya. Lantas ada yang berkeinginan untuk menciptakan Padma Bhuwana Nusantara dengan menempatkan pura yang ada dari Sabang sampai Merauke. Sepertinya ingin menyatukan Nusantara seperti sumpah palapa dulu, mungkinkah?
Masalah ini tentu berbeda lokasi termasuk manusianya yang mendiami pulau-pulau tersebut karena mereka memang heterogen. Walaupun ada umat Hindu yang mendiami dan ngemong pura tersebut tentulah dari jumlah yang tidak begitu banyak, karena Hindu adalah minoritas di tanah air ini. Kalau hal tersebut ingin diwujudkan dengan mengesampingkan pura tertentu dengan umatnya, tentu hal itu sangatlah tidak adil dan bijaksana karena tidak mengakomodasi kepentingan seluruh umat. Apa jadinya konsep yang berubah-ubah dan belum ada ketetapan, dan mengesampingkan seperti Prambanan yang diperuntukkan kegiatan ritual umat Hindu di Jawa Tengah yang semestinya menjadi wakil pura di tengah? Sedangkan yang diusulkan adalah pura lain yaitu Kutai?

Selain itu umat Hindu di Pekanbaru pun protes karena bukan pura di Pekanbaru yang mewakili Padma Bhuwana, melainkan pura di Batam. Oleh karena menuai protes, maka digantilah lagi Pura yang diusulkan menjadi bagian Padma Buwana seperti akhirnya Kutai yang sebelumnya diposisikan berada pada arah tengah justru diganti dengan pura di Palangkaraya. Pura di Batam tidak jadi diusulkan dan diganti dengan Kuil di Medan, mungkin maksudnya agar umat di Pekanbaru tidak protes.

Daripada umat Hindu bergolak karena merasa terpinggirkan akibat pura yang mereka sungsung tidak dinominasikan dalam Padma Bhuwana Nusantara bagaimana kalau menempatkan Padma Bhuwana dalam diri sehingga kita selalu merasa dekat dengan para ista dewata yang berstana di masing-masing pura itu termasuk menyembah Beliau yang tertinggi, yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan bhakti yang tulus semoga Ida Sang Hyang Widhi dan para Dewa akan selalu ada di hati kita dan kita selalu merasa dan terpanggil untruk menyembah Beliau. Menempatkan Beliau di dalam diri kita bukan berarti kita tidak akan menuju Beliau pada hari-hari tertentu. Itu adalah jalan sosial kemasyarakatan yang bisa dilakukan oleh umat Hindu pada saat ada ritual seperti odalan, tentu umat akan pedek tangkil ke pura tersebut.

Penulis, Dr. Dra. Ida Ayu Tary Puspa, S.Ag., M.Par, Sekretaris Pasca Sarjana IHDN Denpasar


1 komentar:

  1. JIKA ANDA BTUH AGKA GHOIB/JITU 2D.3D.4D YG DI JAMIN TEMBUS 100% DI PTARANG SGP/HKG SILAHKAN SJA ANDA TLP KY bayu DI NO 085 378 038 999 TRIMAH KASI






    JIKA ANDA BTUH AGKA GHOIB/JITU 2D.3D.4D YG DI JAMIN TEMBUS 100% DI PTARANG SGP/HKG SILAHKAN SJA ANDA TLP KY bayu DI NO 085 378 038 999 TRIMAH KASIH






    JIKA ANDA BTUH AGKA GHOIB/JITU 2D.3D.4D YG DI JAMIN TEMBUS 100% DI PTARANG SGP/HKG SILAHKAN SJA ANDA TLP KY bayu DI NO 085 378 038 999 TRIMAH KASIH

    BalasHapus