Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 24 Mei 2011

Pura Pasek Agung Serangan

Laporan Nyoman Suamba

Pura Camara yang terletak di Desa Pakraman Serangan, berada di lingkungan banjar Ponjok memiiki berbagai macam keunikan. Dalam struktur pura tersebut terdapat pelinggih utama berbentuk Prasada menyerupai genta/bajra yang erat kaitannya dengan Genta yang di-sungsung oleh warga Balem Batan Poh, Sanur. Selain pelinggih utama, terdapat banyak pelinggih-pelinggih sebagai prasanak Ratu Agung, yaitu pelinggih-pelinggih tersebut terdiri dari pelinggih dari berbagai klan, salah satunya yaitu pada pelinggih dari Ratu Pasek terdapat sebuah pesamyangan sebagai tempat memuja leluhur. Keunikan yang terdapat pada pelinggih Ratu Pasek Agung Serangan adalah saling berkaitan antara Pura Pasek Agung Serangan dengan pura-pura yang ada di Bali


Menurut I Wayan Pimpin Astra dari Banjar Tengah, dalam cerita sejarah Pulau serangan yang dikenal dengan nama Pulau Mas secara niskala pada sekitar abad ke X-XI jaman raja Bali Kuno (kerajaan Dharma Udayana Warmadewa) Pulau Serangan dulunya adalah merupakan gundukan pasir yang tanpa penghuni. Lama-kelamaan mungkin karena kehendak Hyang Parama Kawi, di pulau yang kecil tersebutlah menjadi stana dari hyang dewata. Dari cerita-cerita tua yang hidup diperkirakan pada abad 16-17 hanyutlah seorang manusia terhempas di pesisir pulau yang tidak berpenghuni, kemudian orang tersebut tinggal sendirian. Seiring berjalannya waktu datanglah orang-orang Bali daratan dan pada saat itu beliau-beliau bertemu dengan orang yang dulunya hanyut tersebut, ditengah pulau yang sunyi dan angker. Lalu beliau-beliau bertanya dan menceritakan panjang lebar tentang keberadaan beliau-beliau itu. “Salah satu orang Bali daratan itu berasal dari Tegal Denpasar dapat kami perkirakan adalah leluhur kami,” ujar Pimpin.

Setelah sekian lama menetap di pulau yang sunyi dan angker tersebut akhirnya mereka sepakat membuat pura pusat persembahyangan di Serangan, yaitu Pura Penataran Dalem Camara dengan Pura Penyawangan kawitan dari masing-masing warga keturunannya. Di areal Pura Camara itulah dibangun pelinggih Pura Penyawangan Ratu Pasek Agung Serangan.

I Wayan Pimpin Astra, yang juga mantan Pramuwisata (guide) ini mengatakan, dengan semakin bertambahnya waktu, leluhurnya datang dari Tegal membangun tempat tinggal dan mendirikan merajan keluarga sebagai tempat memuja leluhur dan bhatara kawitan. Tahun demi tahun semakin banyaklah orang yang datang dan tinggal di sana kemudian bersama-sama membangun suatu pura keluarga (paibon) salah satunya Pura Paibon Pura Pasek Agung Tegal Serangan. Pujawalinya pada Buda Cemeng Warigadian dan Buda Cemeng Klawu yang bertepatan pada rerahinan Betara Sedhana yang juga erat kaitannya dengan piodalan di Pura Tegal, Denpasar yang diperingati tiap enam bulan sekali.

Pimpin yang akrab dengan dunia niskala menambahkan, rerainan tersebut juga bertepatan dengan perayaan yang dilaksanakan di Pura Prapat Payung Serangan di mana Pura Prapat Payung tersebut merupakan sungsungan jagat. Di sana bersthana Ratu Gede Macaling.

Pura Pasek Agung juga erat kaitannya dengan Pura Karangasem Tuban, pura yang berstatus sungsungan jagat ini dalam babad sejarah Bali diceritakan pada saat dewata yang bersthana di Gunung Agung dan di Lempuyang luhur melakukan Yoga, lahirlah putra –putri beliau untuk dijadikan sungsungan masyarakat Bali. Dari kekuatan yoganya, dewata yang dari Gunung Agung melahirkan dua putra yang bernama Ida Bhatara Gana dan Ida Bhatara Manik Gni,. Sedangkan dari yoganya Ida Bhatara di Lempuyang Luhur melahirkan lima putra yang disebut Panca Tirta, di antaranya Ida Bhatara Mpu Gni Jaya, Ida Bhatara Mpu Semeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, dan Mpu Bradah. Setelah sama-sama dewasa, putra dari Hyang Bhatara Gunung Agung yakni Bhatara Manik Gni kawin dengan Ida Bhatara Gni Jaya inilah yang melahirkan Pasek Sapta Rsi, yang menurunkan warga Pasek, Bendesa dan lain-lain.

Dan di Pura Paibon Pasek Agung Serangan beliau berdua (Ida Bhatara Gnijaya dan permaisuri I da Bhatara Manik Gni) bersthana. Beliaulah di-sungsung di Pura Paibon Pasek Agung Serangan sebagai Ida Bhatara Ratu Kawitan, sedangkan Hyang Ibu di-sungsung oleh Pasek Agung Tegal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar